Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Drakula pagi


__ADS_3

Raina merasa sedikit sesak saat tak sengaja mendengar pertengkaran tante dan suaminya. Tak menyangka sangat miris kehidupan yang dijalani tantenya, bahkan jauh dari kata mesra.


Kedatangan raina sebenarnya ingin memberitahu tentang obat peluruh kandungan yang dicampurkan nya ke dalam jus yang diminum zea. Namun justru mendengar pertengkaran tante dan suami tantenya om daryo.


"Apa kau sudah puas?"


"Aah a..., savana. Sejak kapan kau berada disini?"


"Sejak kau berada di depan kamar kedua orang tua ku."


"Oh..., aku hanya ingin berbicara dengan tante."


"Lalu...?"


" Sepertinya suasana kurang baik. Jadi..., besuk saja."


" Jika kau sudah mengetahuinya lebih baik segera tinggalkan rumah ini! Jangan membuat suasana semakin kacau."


Ucap savana berlalu meninggalkan raina yang diam membisu menatapnya, tak memberi kesempatan padanya untuk menjawab pernyataannya. Menutup pintu dengan sangat keras hingga membuat raina sedikit ngilu merasakannya.


Raina memilih kembali ke kamarnya setelah sedikit berbicara dengan savana yang tampak tak menyukai kehadirannya.


"Savana sepertinya tak menyukaiku ada disini."


" Tapi kenapa? Aku ini sepupunya, tapi seolah seperti orang lain."


" Tante juga, kenapa bertengkar dengan om? Kasihan sekali tante kalau hidup harus tertekan."


"Hah..., yang benar saja. Kalau hidup di antara keluarga ini."


Raina berbicara sendiri berjalan mondar mandir tak tentu arah. Bahkan sedikit sesak saat saudara sepupunya mengatakan hal demikian padanya.


"Bagaimana ini? Apa aku harus bertahan disini mengikuti permintaan tante? Atau aku pergi saja."


"Sepertinya tak mudah menyingkirkan gadis itu."


"Ah..., tidak. Jangan sebut namaku raina jika tidak bisa mengalahkanmu gadis kampung."


Entah jiwa apa yang merasuki raina hingga tak mudah menyerah mengalahkan lawannya. Raina memutuskan berbaring dikamarnya setelah berdebat dengan dirinya sendiri bahkan tak menyangka akan mengalami kondisi sesulit ini.


Menjelang pagi zea rupanya sudah membuka matanya, seperti kebiasaannya bangun pagi membersihkan diri lalu menyiapkan pakaian denish sebagai tugas baru dalam hidupnya saat ini. Entah sejak kapan zea mulai menyukai tugas itu meskipun sedikit jengkel dengan denish bahkan rasa tak percaya padanya masih tetap menyelimutinya.


Bukan tanpa alasan zea menaruh kecurigaan pada denish, sehari di rumah kediaman angkasa beberapa peristiwa bahkan hal yang tidak mengenakkan terdengar di telinganya. Zea melihat denish yang masih terlelap mendekati sosok pria yang telah menjadi suaminya.


" Kau tampan sekali saat tidur seperti ini."


Gumam zea lirih menyentuh hidung mancung milik denish lalu menggigit jarinya sendiri.


" Hidungmu yang mancung bak keturunan orang turki semakin menawan dengan bola mata coklat yang kau miliki."


Senyum mengembang diwajah zea, tersirat kebahagiaan didalamnya.


" Tapi sayangnya..., suka sekali menyombongkan diri."


" Suamimu tampan, banyak gadis yang menyukainya, kaya raya. Huh..., menyebalkan."


Zea mencebirkan bibirnya menirukan apa yang dikatakan denish padanya. Setelahnya zea meninggalkannya menuju ruang wardrobe yang lumayan cukup besar disamping kamar mandi. Beberapa langkah kemudian zea menoleh ke arah jam dinding lalu melihat ke arah suaminya yang hingga kini belum bangun.


" Eh..., kenapa kau belum bangun? Nanti terlambat ke kantor."


Gumam zea kembali mendekati denish.


" Heh..., bangun! Bangun sudah siang! Kau tak ingin ke kantor?"


Ucap zea menggoyang- goyangkan lengan suaminya.

__ADS_1


"Ih..., tidur apa pingsan?"


"Bangun!"


"Hah..., kenapa tak bangun? Jangan- jangan mati lagi."


Mendadak zea khawatir dengan denish yang tak kunjung bangun, menjulurkan tangannya merasakan nafas denish.


"Masih ada, tapi... kenapa tak bangun juga?"


"Aa..., aku tahu dia hanya pura- pura."


Gumam zea dalam hatinya. Zea tersenyum jahil berniat mengerjai denish.


"Bangunnn....! Kebakaran."


Namun setelah zea berteriak keras disamping telinga denish mengira akan bangun, rupanya dugaannya meleset. Denish tetap saja tak bangun, dan entah kenapa membuat zea sedikit khawatir.


"Denish..., sayang..., bangun!"


Zea kemudian menempelkan telinganya di bilah dada denish merasakan detak jantung denish.


"Bilang saja kau ingin di peluk."


Suara denish membuat zea terkejut tanpa persiapan jatuh duduk dilantai karena keterjutannya.


"Aaa... a."


Zea ternganga mendengar suara denish yang begitu tiba- tiba hingga membuatnya terjatuh duduk di lantai. Denish mengedipkan sebelah matanya pada zea yang masih ternganga lalu mencium kilas bibir zea yang membuatnya kecanduan akan ranumnya bibir peach milik zea.


"Kau tak ingin memberikan morning kiss untuk suamimu?"


Sadar akan rayuan denish, zea menyipitkan matanya menggeleng cepat seperti menahan kekesalan dalam hatinya.


" Sayang sekali...., orang setampan diriku tak mendapatkan morning kiss dari istri tercintanya."


"Baiklah, tidak mengapa. Mungkin dia masih malu mengakui ketampanan suaminya."


Denish berlalu meninggalkan zea yang masih duduk diam membisu duduk dilantai.


"Aaaa...., dasar buaya. Suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan."


Zea kesal menggerak- gerakan kakinya dilantai, lalu bangun ke ruang wardrobe mengganti bathrobe yang dikenakannya dengan pakaian rumah miliknya yang berada di sebelah pakaian denish.


"Istri tercintanya? Tunggu..., tunggu..., tunggu. Apa maksud istri tercintanya? Apa dia sudah gila?"


Gumam zea.


" Bagaimana mungkin mencintai orang dalam sekejap?"


"Dasar buaya darat. Apa dia mengira aku akan percaya begitu saja?"


" Kau salah besar, tuan. Jika mengira aku sama dengan gadis lainnya."


Zea masih berbicara sendiri di deoan cermin besar di depannya, tak menyadari denish berada di ujung pintu menyilsngkan kedua tanganya ke bilah bidang dadanya dengan tubuh bersandar di tembok tersenyum memandang ke arahnya.


"Kau...? Sejak kapan berada disana?"


Zea yang baru saja menyadari denish sedang tersenyum menatapnya melalui cermin yang berada di depannya, segera mengambil bathrobe kembali mengenakannya. Kebiasaan zea yang mengganti baju melepas handuk nya menjadikan boemerang sendiri baginya. Rupanya kebiasaan itu belum juga hilang, seakan melupakan status yang disandangnya sebagai seorang istri.


"Sejak kau mengenakan satu persatu pakaian dalam mu."


Ucap denish dengan santainya bahkan sangat acuh dengan pandangan tajam zea padanya, berjalan menuju tempat dimana zea meletakkan semua pakaian kantornya. Denish pun dengan sengaja mengenakan semua pakaian itu di depan zea.


"Kau..., Kenapa memakai pakaian disini?"

__ADS_1


Ucap zea dengan nada kesal memalingkan wajahnya membelakangi denish lalu secara bersamaan hendak mengambil pakaiannya yang berada di atas sofa, namun ternyata zea menarik kemeja yang akan dipakai denish. Tarik- menarik pun terjadi hingga membuat zea sangat kesal mengira denish sengaja mempermainkannya.


"Sayang, apa kau berniat memakaikan kemeja untukku? Untuk suami tampanmu ini."


Ucapan denish lantas membuat zea membalikkan badannya menatap geram pada denish yang tersenyum menatap istrinya yang tengah kesal.


"Kau yang sengaja menarik bajuku."


" Tidak. Lihatlah! Yang ada ditanganku adalah kemeja. Jadi..., kau yang sengaja menariknya."


"Tidak."


" Benarkah?"


Denish tersenyum mendekati zea, semakin mendekat hingga membuat zea mundur beberapa langkah. Namun semakin mundur langkah zea terhenti dengan lemari kaca dibelakangnya. Dengan nada sedikit gugup, zea menyangga dada denish yang terus bergerak maju menghimpitnya.


" Kau mau apa?"


" Mau apa? Tentu saja bercumbu dengan istriku."


" Apaa...., ta... ."


Belum sempat menjawab serangan dadakan memghujaninya kembali. Denish mencium bibir ranum zea memberika sedikit ******* padanya, namun tak sampai disitu saja rupanya jemari denish sengaja menyentuh bagian sintal dada zea hingga membuat satu ******* setelah denish melepaskan ciuman tersebut.


Zea berusaha menolak namun apalah daya tenaga zea yang kalah kuat dengan denish membuatnya pasrah menyerah, apalagi tubuhnya juga merespon setiap sentuhan jati jemari denish. Denish memberikan beberapa tanda di leher jenjang zea tanpa disadarinya.


Klik..., klik..., klik..., ceklek...


Sebuah bunyi pergerakan pintu kamar denish rupanya sanggup menghentikan aksi denish, yang sungguh membuat zea kalang kabut dibuatnya.


"Tuan sudah bangun?"


" Ya, bibi ha. Aku sedang memakai pakaian."


Ucap denish menutup mulut zea yang akan mengeluarkan suara desahannya.


" Baiklah. Apa nyonya muda juga sudah bangun?"


" Sudah, bi. Zea sedang memilih pakaian."


Ucap denish yang lebih dulu keluar dari ruang wardrobe.


" Baiklah. Bibi akan menyiapkan sarapan. Apa nyonya muda menginginkan sesuatu?"


" Sayang, kau ingin sarapan yang lain?"


" Tidak. Buatkan segelas susu hangat untukku."


Zea sedikit berteriak dari ruang wardrobe setelah mendengar teriakan suaminya denish.


" Baik, nyonya. Bibi akan buatkan segekas susu hangat."


Ucap bibi ha menutup kembali pintu kamar denish.


Ceklek...


"Sayang, aku menunggu di ruang makan."


" Ya, baiklah."


Setelahnya zea menggerutu kesal tatkala melihat beberapa tanda merah dilehernya.


" Hah..., apa ini? Dasar drakula pagi. Untung saja bibi ha cepat datang, kalau tidak habislah aku."


Zea memoles sedikit foundation menutupi tanda merah di beberapa bagian lehernya. Akibat ulah suaminya yang sangat agresif, zea tak bisa menyalahkan denish karena mereka secara resmi menikah berhak atas dirinya. Kejadian pagi yang sangat kacau mampu membuat zea merasa melayang ke angkasa juga sedikit membuatnya gugup dan cemas.

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2