
Zea ke dapur mengambil cangkir kopi yang tak sengaja dipegang mbok ijah.
Mbok ijah tersenyum memperhatikan zea dengan rambut basahnya.
" Mbok, biar zea yang buatin kopi."
" Ah...,iya non."
Mbok ijah sedikit gugup, tak ingin terlihat melamun oleh zea.
" Mbok melamun ya?"
" Tidak, non. Hanya...."
" Hanya apa?"
" Mbok senang sebentar lagi akan ada penerus keluarga angkasa."
Zea mengerutkan keningnya merasa bingung apa yang dimaksud dengan mbok ijah.
"Maksud mbok? Ada yang hamil dikeluarga angkasa?"
" Ada yang hamil dikeluarga angkasa? Darimana non tahu?"
"Lah..., tadi mbok bilang akan ada penerus berarti ada yang hamil kan?"
" Kenapa berpikir sejauh itu? Tentu saja non yang akan segera hamil."
" Zea...? Bagaimana mungkin?"
" Mungkin saja, setiap hari rambut non basah."
Ucap mbok ijah tersenyum pada zea.
"Aduh..., jadi salah paham."
Gumam zea dalam hatinya.
Zea membuat roti bakar dan juga menu lain nya yakni sandwich, mungkin zea harus mulai belajar atau bertanya pada mbok ijah tentang apa saja yang disukai denish.
" Waow, perfect wife."
" Great, tidak terlalu manis atau pun pahit."
" Roti bakar? Sandwich? Sayang, aku lebih menyukai kau yang menyuapi."
Deg...
Detak jantung zea berdegup kencang kala sang tuan muda ingin bermanja dengan nya, apalagi di depan orang lain.
" Bisa tunggu sebentar! Aku akan cuci tangan terlebih dahulu."
" Hem, baiklah."
Zea membuat salad buah-buahan sengaja untuk menutup makanan membuat tangannya sedikit kotor.
Zea menarik kursi tepat disamping denish namun tangan kekar itu lebih dahulu menarik tubuhnya kepangkuan nya.
" Celanamu bisa kusut jika aku duduk disini, lagi pula bagaimana aku menyuapimu?"
" Tidak masalah, pikirkan bagaimana caranya?"
Zea menghela nafas panjang memikirkan bagaimana menyuapinya .
Yang benar saja, dalam keadaan duduk di pamgkuan nya zea akan sedikit kesusahan menyuapinya. Mau tidak mau zea memakai tangannya agar tak jatuh mengotori jas kerja denish.
Tuan muda satu ini memang sengaja membuatnya lebih dekat lagi dan juga setidaknya akan membuat suasana baru untuknya.
__ADS_1
" Cukup sayang! Aku sudah kenyang."
" Tidak, kau hanya makan tiga suap saja. Bagaimana bisa kenyang?"
" Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan perut kosong."
Ucap zea masih menyuapi denish dengan sandwich.
Mayonise sedikit tercecer dijari tangannya, denish memegang jari itu mengulumnya.
Deg....
Zea merasa ada tegangan listrik menyengat tubuhnya, hawa panas tengah merasukinya.
Menatap tajam hampir ketahuan jika ia sedang melamun, karena sedikit tercengang dengan tindakan denish.
Denish sengaja melihat reaksi zea, juga sengaja memainkan sedikit siasat menjatuhkan lawan.
Entah mengapa sejak bertemu dengannya dan seringnya dapat penolakan dari zea membuatnya semakin gigih mematahkan perkataannya untuk membuat zea jatuh cinta padanya.
"Kenapa tidak suka sayur? Ini bagus untuk kesehatan."
Ucap zea yang seperti anak kecil memakan potongan sisa sandwich hingga sedikit ada sisa di sudut bibirnya.
Tak tanggung tanggung denish mencium sudut bibir kenyal zea, hingga membuatnya sedikit terkejut bahkan membelalakkan matanya.
Tidak sesingkat itu bisa lepas dari denish, denish sengaja memberi sedikit ******* san juga sesapan. Setidaknya sampai tangan zea mendorong bilah dadanya.
" Hentikan! Aku malu."
Gumam zeal lirih menundukkan kepalanya.
" Kenapa menciumku di sembarang tempat? Ada orang lain lagi."
" Jadi kalau mencium mu dikamar kau mengijinkannya?"
" Tentu saja, tidak."
Ucap zea ketus menjawab suaminya itu.
" Hahaha..., lalu kenapa kau marah saat aku memperoleh kesempatan?"
" Ihh..., kau menjengkelkan. Aku tidak mau menyuapimu lagi."
" Kalau begitu aku tidak akan makan."
" Kau... ?"
Zea yang reflek turun dari pangkuan denish menunjuk dengan jari telunjuknya terlihat kesal dengan sikap denish.
" Yasudah kalau tidak mau makan, juga bukan urusanku."
" Tentu saja urusanmu nyonya denish angkasa. Kau adalah istriku."
Ucap denish menarik pinggang zea.
Zea menutup kedua bibirnya dengan kedua tangannya, khawatir serangan tiba tiba akan datang padanya.
" Hahaha..., aku akan berangkat ke kantor. Jangan bersikap terlalu berlebihan, lagipula aku suamimu."
Ucap denish tertawa melihat tingkah istrinya, berjalan menarik pinggang ramping zea mengikutinya hingga ke depan pintu utama.
" Selamat pagi, tuan..., nyonya."
" Pagi vans."
" Selamat pagi."
__ADS_1
Senyum yang sedikit mengembang dari wajah zea membuat denish mengeryitkan dahinya.
" Sayang, kau harus ingat kalau senyum mu itu hanya untuk diriku. Kau mengerti!
Bisik denish tepat ditelinga zea yang mengangguk tercengang mendengar bisikan denish.
Merasa ada celah menjatuhkan lawan, zea sedikit tersenyum tanpa disadarinya denish sudah mencium pipi nya.
Muach...
Lalu mencium kening zea, sebelum benar benar pergi meninggalkan paviliun.
Denish kembali menghampiri zea yang masih diam membisu, mungkin juga bisa dibilang terkejut.
" Kau akan melakukan hal seperti ini jika aku berangkat ke kantor. Kau mengerti!"
Zea mengangguk pelan.
Entahlah, sejak kapan denish mulai menyukai tingkah zea yang terkadang cerewet pembangkang tetapi juga penurut ketika denish menyebutkan kewajibannya.
Ada rasa senang sendiri saat membuat isyrinya cemberut. Benarkah denish sedang jatuh cinta? Atau hanya karena bersamanya setiap hari? Atau mungkin hanya memanfaatkan keadaannya?"
Denish harus mencari tahu jawabannya sendiri dan juga memastikan kalau rayna memang benar-benar menghilang dari hatinya. Meskipun ingatannya masih ada sisa bagaimana caranya menyakitinya.
Senyum mengembang terpancar diwajah denish entah apa yang sedang di pikirkannya. Vans melirik melalui kaca spion memgerutkan dahinya. Vans berharap kehadiran zea bisa mengisi kekosongan hatinya.
Bahkan lebih dari itu bisa menggantikan posisi rayna dan melupakan gadis yang telah menyakiti tuan nya.
" Aku benar-benar sudah gila."
Gumam denish lirih.
" Hah, gila? Siapa yang gila tuan?"
Vans menoleh ke belakang menatap tuan nya.
" Ah, tidak. Tidak ada."
Denish mengelak mengakui perasaan nya pada zea meskipun tak dapat menyembunyikan senyum kebahagiaannya.
Denish masih saja meraba detak jantungnya yang berdebar debar saat bersama zea, namun denish mengingat sejenak orang orang terdekatnya mengingatkan keberadaan rayna dihatinya.
" Yah, aku jatuh cinta pada gadis itu."
Gumam denish dalam hatinya.
" Benarkah?"
" Tapi bagaimana jika rayna kembali? Apakah perasaanku tetap sama?"
" Tidak. Untuk apa memikirkan dia denish? Orang yang telah menghianatimu, membuatmu malu saat hari pertunangan bahkan pernikahan yang dipersiapkan dengan matang dengan persiapan yang sempurna."
"Tapi...? Tidak. Aku punya masa depan sendiri, lagi pula kau sudah menikah denish."
"Setidaknya pikirkan tentang gadis yang kau renggut masa depannya."
Pikiran denish tak tenang meskipun sebenarnya tak yakin dengan perasaan nya, namun denish tetap harus memikirkan kemungkinan akan terjadi sesuatu.
Apalagi banyaknya musuh didalam selimut yang hingga saat ini masih bersembunyi di dalamnya.
Denish masih harus mencari tahu perihal kejanggalan kematian kedua orang tuanya. Apalagi saham warisan hanya tertulis atas namanya dan juga raka.
Tak ada satu pun dari keluarga paman atau bahkan vania yang tertulis dalam wasiat tersebut.
Entah apa yang sebenarnya terjadi? Denish merasa ada yang janggal apalagi neneknya yang tak ingin membahas masalah itu.
Bersambung🙏😊
__ADS_1