
"Ciee..., romantis nya. Sering- sering begitu den, biar kayak romeo dan juliet."
Ucapan mbok ijah membuat semburat merah dipipi zea, sekaligus menghela nafas panjangnya.
Denish mendudukkan zea di kursi meja makan, mengambilkan makanan untuknya juga hendak menyuapinya.
"Aaak... ."
" Aku bisa makan sendiri."
Ucap zea ketus mengambil sendok dari tangan denish.
" Tapi kau sedang sakit."
" Sakit? Non sakit apa?"
Mbok ijah tersentak kaget membalikkan badanya kembali menghampiri ane.
"Tidak, mbok. Hanya terkilir saja, tadi terjatuh di kamar mandi."
Ucap zea pada mbok ijah. Mbok ijah menunduk lalu melihat sebelah kaki zea yang membiru akibat terpeleset di kamar mandi.
"Sudah di urut, non."
"Sudah, mbok."
"Sudah...? Siapa yang mengurut?"
Zea tak menjawab melainkan menggerakkan dagunya ke arah denish. Mbok ijah tersenyum melihat sepasang suami istri yang malu- malu menyebutkan nama pasangan nya.
"Oh..., rupanya non terkilir. Mbok kira karena tuan sudah berubah romantis."
Gumam mbok ijah lirih meninggalka meja makan.
"Up..., hahaha."
Zea tersedak hampir saja menyemburkan makanan yang ada di mulutnya mendengar gumaman mbok ijah.
"Orang seperti dia mana bisa romantis."
Gumam zea lirih yang terdengar ke telinga denish mengerutkan dahinya menghela nafas panjang.
"Vans... ."
"Iya, tuan. Anda membutuhkan sesuatu?"
"Tidak. Tapi..., panggil dokter untuk memeriksa kaki nyonya!"
" Baik, tuan muda."
Vans berlalu meninggalkan denish yang berdiri di ambang pintu.
Zea mencoba berdiri setelah menyelesaikan makan malam nya, namun kembali terjatuh karena rasa sakit yang dirasakan nya.
"Auww..., sakit."
"Sayang..., kau tidak apa- apa."
Denish yang tengah memegang ponselnya berlari menghampiri zea yang merintih kesakitan, lalu menggendongnya ke sofa ruang tengah.
"Non..., non tidak apa- apa?"
Mbok ijah menghampiri zea yang merintih kesakitan.
"Tidak, mbok. Hanya saja sedikit sakit saat berdiri."
Ucap zea.
"Itu namanya bukan sedikit, non. Buktinya non tidak bisa berdiri, mbok ambil kompres dulu."
"Hihihi..., iya mbok."
Namun tak berapa lama vans datang bersama dokter seperti perintah denish.
Zea mencengkeram tangan denish ketika melihat seorang dokter datang bersama vans.
Denish seketika mengalihkan pandangan nya pada istrinya yang sedikit gemetar ketakutan melihat kedatangan dokter.
"Selamat malam tuan muda, apa yang bisa saya bantu hingga malam- malam seperti ini mengundang saya?"
"Malam dokter, zea..., maksudku istriku terkilir pada bagian pergelangan kaki."
Ucap denish.
"Istri...? Sejak kapan orang sombong ini punya istri? Kenapa aku tidak mengetahuinya?"
Gumam dokter itu dalam hatinya. Seorang dokter yang tak lain adalah teman kuliah sekaligus sahabatnya semasa kuliah.
"Atau jangan- jangan istri sewaan? Apa ini hanya untuk mengelabuhiku? Atau sekedar mengejekku?"
"Dokter..., dokter."
__ADS_1
"Iya..., tuan muda. Saya akan memeriksa kondisi nyonya."
Beruntung dokter rama tidak gugup dan dapat segera menguasai jiwanya yang baru saja terbang ke alam lamunan.
Dokter hendak memeriksa keadaan kaki zea namun saat mulai mendekat, zea mencengkeram erat lengan denish dengan kedua tangan nya.
"Tenanglah! Dokter hanya memastikan kondisi kakimu. Dan aku tidak akan meninggalkan mu."
Ucap denish menepuk- nepuk tangan zea. Zea mengangguk pelan menatap suaminya lalu melihat dokter yang memeriksa kakinya.
"Siapa dokter ini? Apa aku pernah mengenalnya? Kenapa menatapku seperti itu?"
Gumam zea dalam hati.
"Sepertinya ada pergeseran pada pergelangan kaki, nyonya. Saya akan memberikan resep pereda nyeri dan juga obat keseleo untuk nyonya."
Ucap dokter rama.
"Sebaiknya nyonya banyak beristirahat dan usahakan jangan terlalu banyak bergerak."
"Jika dalam tiga hari kondisi kaki nyonya tidak membaik, segera lakukan x- ray untuk mengambil langkah selanjutnya."
"Baiklah dokter, terima kasih."
Rama mengerutkan dahinya mendengar ucapan terima kasih dari denish yang seumur pertemanan nya tak pernah ia dengar.
"Sama- sama, tuan. Saya permisi tuan dan nyonya, selamat malam."
Dokter rama beranjak pergi meninggalkan paviliun setelah menyerahkan resep pada denish.
Denish memberikan resep tersebut pada vans untuk menebusnya di apotik terdekat.
"Hei vans...., sejak kapan tuan mu punya istri? Kenapa pria sombong itu tak memberitahuku? juga mengundangku?"
Ucap dokter rama sewaktu melihat vans menyusulnya dari belakang.
"Atau jangan- jangan istri sewaan?"
"Jaga bicara anda, dokter! Jika tuan mendengarnya, anda bisa..., keck."
Jawab vans memperagakan orang menggorok leher dengan jarinya.
Dengan cepat secepat kilat, dokter rama menggelengkan kepalanya bergidik ngeri, tak bisa di pungkiri sisi lain dari denish memang sudah diketahui orang bahkan kalayak umum.
"Lalu..., siapa nona itu?"
"Nona...? Nyonya zeavelia denish angkasa, dokter rama."
"Jadi..., memang benar istri denish? Sejak kapan? Kenapa dia tak mengundangku dalam acara pernikahan nya? Atau jangan- jangan hamil duluan?"
"Waah..., hebat kau denish. Tapi aku ucapkan selamat telah berhasil move on dari rayna."
Tak menanggapi celotehan dokter rama, vans menyalakan mesin mobilnya meninggalkan dokter rama yang tengah asyik berbicara sendiri.
" Hei..., kenapa kau meninggalkan ku? Tidak sopan."
Rama setengah berteriak pada vans yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobilnya.
"Dokter..., anda membuang waktuku. Aku harus ke apotik menebus obat bukan melayani ocehan anda."
"Kau..., asisten dan tuan nya sama saja."
Umpat dokter rama kesal dengan sikap vans.
"Dokter, saya mendengar umpatan anda. Dan saya bisa adukan anda pada tuan muda, maka anda tak akan dapat slip gaji."
Ucap vans yang kembali memundurkan mobilnya menanggapi ocehan dokter rama juga mengedipkan sebelah mata padanya.
"Kau...., awas kau!! Jika sekali menelepon ku, aku tidak akan mengangkatnya."
"Eh..., tapi bagaimana dengan gajiku? Rumah sakit tempat ku bekerja milik denish, aaa... sial."
Umpat rama menendang ban mobil nya sendiri.
"Siapa yang kau umpat?"
Deg...
Suara lengkingan denish membuyarkan konsentrasinya, berharap ia hanya bermimpi mendengar suara denish. Dengan sangat hati- hati dan bersiaga, rama membalikkan badan nya mencari arah sumber suara.
"Hihihi..., bukan siapa- siapa. Aku pulang dulu."
Ucap dokter rama terburu- buru membuka pintu mobil.
"Hei..., dokter. Tak mengucapkan selamat untuk ku!"
"Selamat...? Untuk apa?"
"Yah..., sudahlah. Itulah sebabnya kau menjadi jomblo akut."
Denish membalikkan badan nya berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Eh..., eh..., tunggu!"
Entah mengapa jiwa kepo dokter rama bergejolak dan juga meronta ingin tahu lebih dalam lagi, menutup kembali pintu mobilnya dan berlari mengejar denish kembali.
"Jadi benar dia istrimu?"
" Hem."
"Kau tidak sedang menipu semua orang kan? Aku tahu pasti kau ingin mengalihkan isu dari publik kan?"
Denish mengerutkan dahinya mendengar beberapa pertanyaan dokter rama.
"Apa maksudmu? Pengalihan isu? Lihatlah!"
Denish menunjukkan bukti berupa certificate of marriage pada dokter rama. Dan dokter rama mengambilnya dari tangan denish, lalu melihatnya dengan seksama.
"Asli. Jadi..., kau benar- benar sudah menikah? Oh..., my god."
Denish menganggukkan kepalanya.
"Astaga..., aku tak menyangka kau telah move on dari rayna. Baguslah, aku ikut senang meskipun stempel jomblo akut berpindah padaku."
"Hem, bagus kalau kau sadar."
"Tentu saja, tapi... dimana kau menemukan gadis itu? Maksudku zea."
Ucap dokter rama mengikuti arah langkah denish juga ikut duduk di sofa ruang tamu.
" Di suatu tempat yang tidak pernah ku bayangkan sama sekali."
"Dimana? Jangan bilang gadis yang bekerja di klub malam?"
"Benar..., dia kerja di tempat carlos."
"Hah..., jadi hanya dapat sisa?"
Dokter rama membelalakkan kedua matanya mendengar jawaban denish.
"Bukan sisa, tapi masih bersegel."
"Dari mana kau tahu dia masih bersegel?"
"Karena aku menyelidikinya."
"Baguslah. Untung bukan sisa, kalau sisa aku akan menghina mu seumur hidupmu. Aku pulang dulu."
Denish sedikit mengerutkan dahinya pada jawaban dokter rama. Kalau bukan teman nya, denish sudah pasti menimpuk kepala dokter rama atas ucapan nya.
"By the way..., selamat atas pernikahan mu dan berhasil nya move on dari rayna."
Ucap dokter rama saat hendak meninggalkan ruang tamu, namun kembali membalikkan badan nya dan menghampiri denish.
"Move on dari rayna?"
Gumam zea yang mengintip dari ruang tengah.
"Jadi dokter ini teman nya denish."
Zea masih memperhatikan kedua orang itu.
"Rupanya bukan cuma keluarga yang tahu kisah mereka, bahkan teman nya pun mengetahuinya."
Gumam zea.
"Seperti apa rayna sebenarnya? Kenapa dadaku jadi sesak?"
Entah mengapa ada rasa nyeri seperti sayatan pisau di dadanya.
" Eh..., tapi aku tidak yakin kau berhasil move on. Jangan- jangan kau hanya memanfaatkan nya?"
Ucap dokter rama menunjuk wajah denish dengan jari telunjuk nya.
"Tidak. Aku terpesona pada pandangan pertama."
Deg...
Detak jantung zea berdegup kencang bahkan lebih dari yang dibayangkan nya. Hingga tanpa sadar menyentuh dadanya memastikan kalau ia baik- baik saja.
"Saat bibir sintalnya menyentuh bibirku, seperti tersengat lebah."
"Cih..., sebegitunya. Lalu bagaimana dengan rayna? Kau sudah berhasil move on darinya?"
"Tentu saja, kau tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama?"
Ucap denish memeluk bantal sofa di bilah dadanya.
"Sangat menggairahkan.''
"Auwww.... ."
Bersambung🙏😊
__ADS_1