
Vans datang bersama dokter, mengetuk pintu kamar denish.
Tok tok tok...
Tok tok tok...
" Masuk!"
Ceklek...
" Tuan, dokter sudah datang."
" Selamat sore, tuan muda."
" Sore, dokter. Tolong periksa istri saya, dokter!"
" Baiklah, tuan."
Dokter mengeluarkan peralatan medisnya, memeriksa kondisi zea yang pingsan akibat menceburkan diri ke kolam.
" Tuan, tidak terjadi kefatalan dengan kondisi nyonya. Semua baik baik saja, hanya sepertinya nyonya sedang banyak pikiran."
Ucap dokter tersebut.
" Saya hanya akan memberikan resep obat penurun demam dan juga beberapa multivitamin."
Dokter itu juga menuliskan sebuah resep, memberikannya pada vans.
" Baiklah, tuan muda. Saya permisi."
" Terima kasih, dokter."
Dokter tersenyum menganggukkan kepalanya dan juga undur diri dari paviliun denish.
Vans mengantar dokter hingga ke depan pintu paviliun, lalu menebus resep di apotik.
Denish mendekati zea, menggenggam tangannya, juga sempat menciumnya. Rasa iba mulai merasuki jiwa dinginnya dan juga entah perasaan apa yang bergelayut dalam pikirannya.
" Apa aku sebegitu mengerikan hingga kau tak mau menerima pernikahan ini?"
" Apa karena aku memaksa mu? Meskipun sebenarnya jantungku berdegup kencang saat berdekatan denganmu."
Gumam denish dalam hati.
Beberapa saat mbok ijah datang membawa semangkok bubur dan juga obat yang telah ditebus vans, memberikannya pada denish.
Tok tok tok....
Tok tok tok....
Ceklek....
" Tuan, bubur untuk non dan juga obat yang telah ditebus den vans."
" Terima kasih, mbok."
" Tuan, jangan terlalu keras dengan nona! Non zea baru saja kehilangan ibunya."
" Iya, mbok. Denish mengerti."
Mbok ijah keluar kamar tersenyum melihat denish menggenggam tangan zea.
Tak berapa lama, zea sadar dari pingsanya. Denish tampak lega ketika melihat zea membuka matanya. Zea mencoba untuk bangun dari tempat tidur dengan susah payah, tubuhnya masih terasa lemah.
Denish membantu menyangga tubuh zea yang terlihat lemah dan juga terlihat rapuh dengan sebuah bantal dibelakangnya.
Secara perlahan menyuapi bubur yang dibawakan mbok ijah. Meskipun zea tampak ragu menerima suapan dari denish namun satu ucapan denish mampu menggetarkan hatinya.
"Makanlah!"
__ADS_1
Zea tampak diam membisu menatap denish yang terlihat berbeda, tak lagi bersikap dingin apalagi bicara ketus.
"Aku tidak mungkin meracuni istriku sendiri."
Ucap denish.
Deg...
Detak jantung zea berdegup kencang saat denish mengatakan kata istrinya, didepannya. Yah, secara langsung mengakuinya sebagai istri.
Zea membuka mulutnya memakan suapan bubur dari tangan denish sendiri bahkan hingga bubur itu habis.
Setelahnya denish membantu zea minum obat dan multivitamin, membaringkan tubuh lemah zea lalu menyelimutinya.
Zea melihat sikap berbeda yang ditunjukkan denish dari sebelumnya. Semula zea yang acuh membuatnya berpikir, bahwa semua sikap itu hanyalah rayuan dari pria yang menyandang status suaminya itu namun zea tak ingin terpengaruh sedikitpun.
Zea yang terlihat masih lemah, membutuhkan banyak istirahat.
Denish menengoknya sesekali dari ruang kerjanya, juga membuka pintu tersebut tanpa menutupnya kembali.
Denish menyuruh mbok ijah membawakan makan malam ke ruang kerjanya, masih banyak berkas-berkas yang harus diperiksanya melalui email maupun yang telah dibawa pulang vans.
Malam semakin larut, denish masih dengan kesibukannya di ruang kerjanya. Melihat zea yang tertidur pulas namun seperti terlihat menggigil kedinginan meskipun denish telah menurunkan suhu ac dikamarnya.
Denish mendekati zea menyentuh pelan dahinya yang ternyata memang benar, suhu badan zea sangat tinggi. Denish memeriksa suhu badan zea dengan sebuah alat termometer yang hasilnya cukup mengejutkan, yakni suhu tubuh zea yang semakin tinggi.
Denish berinisiatif mengambil kompres dan juga memberi zea obat penurun panas. Denish meninggalkan pekerjaannya, menunggu istrinya yang membutuhkannya bahkan terjaga untuknya.
Beberapa menit berlalu, suhu tubuh zea masih tetap sama, meskipun denish telah memberinya obat dan juga mengompresnya.
Denish melepas tshirt yang dikenakannya, menurunkan daster piyama yang dipakai zea. Memeluk istrinya agar panasnya berpindah ke tubuhnya.
" Panas sekali."
" Maafkan aku sayang, aku akan menjagamu mulai saat ini hingga nyawa ini melayang lepas dari raga."
Setelah mencium pucuk kening zea, denish terlelap memeluk zea. Memeluk tubuh mungil yang saat ini sedang rapuh dan lemah.
" Eughh...., Eughh....."
Beberapa kali zea menggeliat seperti merasa badanya sakit semua, tak menyadari kalau denish mendekapnya sejak semalam.
" Aduh..., kenapa badanku sakit semua?"
" Aku tak bisa bergerak. Apa aku mengalami kelumpuhan."
Gumam zea lirih.
Meskipun bibirnya berbicara namun matanya masih terpejam enggan terbuka.
" Lumpuh? Tidak..., tidak..., tidak. Tidak mungkin."
Zea membuka matanya secepat kilat, merasa ada beban di pinggangnya. Sangat berat dan juga sulit untuk bergerak.
" Hah..., tangan siapa ini?"
Gumam zea dalam hati.
Secara perlahan, zea mencoba untuk bergerak memindahkan tangan tersebut namun dekapan denish terlalu kuat hingga tak kuasa bergerak.
Zea terkejut menutup mulutnya tatkala melihat setengah badanya tak memakai baju, denish sengaja menurunkan daster piyamanya karena suhu tubuhnya yang tingga tak juga turun.
''Apa aku telah melakukannya?"
Gumam zea dalam hatinya.
"Kau sudah bangun, sayang?"
Ucap denish lirih menarik zea lebih dalam je pelukannya.
__ADS_1
" Sayang...? Sejak kapan pria dingin ini memanggilku sayang?"
Gumam zea dalam hati.
Tak ada jawaban dari zea, denish membuka matanya, menyentuh dahinya bahkan meletakkan termometer pada dahinya.
" Syukurlah."
Setelahnya denish kembali merebahkan badannya menarik zea kembali ke dalam pelukannya namun tertahan dengan tangan zea.
" Kau membuatku khawatir sejak semalam."
" Khawatir? Memang apa yang terjadi?"
Gumam zea dalam hati.
Zea menatap tajam denish, tatapan tajam yang penuh mengintimidasi bahkan meminta sebuah penjelasan.
" Ada apa? Kau memerlukan sesuatu?"
Tak menjawab pertanyaan denish, zea menarik daster piyama yang berada di perutnya ke atas menutupi tubuhnya. Bahkan ia tak memakai underware.
Dalam hatinya pasti bertanya, siapa yang memakaikan baju untuknya? membantunya melepas pakaiannya? Apakah mbok ijah? atau mungkin denish?
Pikiran zea melayang terbang jauh ke angkasa, belum juga tentang kejadian semalam. Apa terjadi sesuatu dengan mereka? Otak zea penuh dengan berbagai pertanyaan, merasa tak tenang sebelum mengetahui jawabannya.
" Kau ingin tahu kenapa aku memelukmu?"
Zea mengangguk pelan.
" Hahaha..... Ayolah sayang, kita ini suami istri. Wajar kalau aku memelukmu."
Jawaban denish memang benar, zea tak bisa menolak status tersebut.
" Apa kita melakukannya?"
Ucap zea lirih.
Dengan sedikit ragu dan mengumpulkan keberanian, zea menanyakan kejadian semalam.
" Melakukan apa?"
Zea tak menjawabnya, tetapi sorot tatapan matanya yang tajam setidaknya membuat denish mengerti arah pembicaraannya.
" Hahaha...., maksudmu malam pertama? Apa aku sudah gila? Bagaimana mungkin aku melakukannya saat istriku dalam keadaan sakit?"
" Kau terlalu berlebihan. Suhu tubuhmu mengerikan sejak semalam, meskipun sudah minum obat maupun mengompresmu tapi tak kunjung turun."
" Lalu aku menarik piyamamu turun dan memelukmu agar panasnya pindah ke tubuhku. Jika aku sakit kau yang harus bertanggungjawab."
Ucap denish mengedipkan satu matanya.
Penjelasan denish setidaknya membuatnya lega, lelaki dingin dan kejam ini peduli dengannya dan juga kesehatannya.
" Kenapa? Apa kau ingin melakukannya?"
Deg....
Degup jantung zea berdetak tak karuan saat mendengarnya, bagai pacuan kuda tak berhenti sebelum lomba berakhir.
Secepat kilat denish berada di atas tubuh zea, setengah menindihnya. Satu tangan menopang agar zea tak terlalu berat menahan berat badanya dan satu nya membelai wajah cantuk natural zea.
Denish tergoda mencium bibir zea yang terlihat berwarna peach meskipun tak memakai pewarna bibir. Memberi sesapan dan sedikit *******, untuk pertama kalinya denish melakukannya pada zea bahkan dengan sangat lembut.
Setelah puas dengan ciuaman itu, denish beranjak turun ke leher jenjang putihnya. Bermain main disana meninggalkan sedikit bekas, zea merasa ada gigitan gigitan kecil yang dirasakannya.
Tak hanya disana saja, ternyata denish bergerak turun di tengah belahan gunung. Memberi beberapa kecupan disana, sedikit gigitan kecil meninggalkan bekas. Zea menahan sekuat tenaga, satu sisi tangannya meremas sprei dan satu sisi menyentuh pelan pundak denish.
Meskipun sekuat tenaga menahanya satu ******* lolos dari bibir mungil denish, hingga menyunggingkan senyum di kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
Denish menghentikan pergerakannya berguling ke samping zea lalu mencium pucuk kening nya, denish bangun dari tempat tidur.
Bersambung😊🙏