
" Zea , tante tahu kamu kuat . Tapi sekuat kuatnya kamu tetaplah anak perempuan yang menginginkan perlindungan . Menangis lah !"
Tante ira memeluknya merasa kasihan dengan zea.
" Tante,,, hiks hiks,,,, hiks ,,,hiks."
Zea terisak tersedu sedu dalam pelukan tante ira bahkan untuk beberapa saat dalam pelukan hangat tante ira.
Nico menghela nafas kasarnya melihat gadisnya sangat menderita seperti ini, ingin rasanya memutus kesedihannya dengan kebahagiaan.
" Sayang, sudah ya. Kau harus pulang , kakimu butuh istirahat ."
" Tapi tante ,,,."
" Zea, ibumu tak kan mampu melihat anaknya yang terluka seperti ini . Untuk itu kau harus cepat sembuh."
Mendengar perkataan tante ira , zea menghela nafas panjang nya bahkan jauh di lubuk hatinya tersimpan rasa sakit yang mendalam.
" Baiklah , zea akan pulang dulu . Tapi tante janji harus cepat memberitahu zea jika terjadi sesuatu dengan ibu ."
" Iya sayang ,pasti."
" Nico, tante titip zea ya !"
" Iya , tante . Kami pulang dulu ."
Ucap nico mengangguk pelan dengan permintaan tante ira.
" Hati hati di jalan !"
" Iya tante."
Nico mendorong kursi roda zea setelah berpamitan dengan tante ira .
Zea yang terlihat sedih dan juga lelah tak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun .
Nico menyadari jika gadisnya bukan seorang yang buruk melainkan gadis yang kuat dan tegar.
Sampai di depan tempat parkir , nico berniat menggendong zea namun zea menolaknya .
" Aku bisa jalan sendiri , malu dilihat orang."
" Malu dengan siapa ? Kau lupa aku siapa ?"
Zea tak mampu berkata apapun ketika melayangkan protesnya bahkan kata kata nya terpatahkan dengan jawaban nico .
Zea menyadari kalau orang yang berada di depannya adalah seorang pemaksa tapi juga sangat perhatian terhadapnya .
Seseorang melihat nico menggendong zea hingga ke mobil mereka tampak mengepalkan tangannya .
Sementara nico mengembalikan kursi roda, zea menunggu nya di mobil . Pandangan zea tertuju pada sosok yang tengah memandang ke arahnya maupun nico . Secara tak sengaja zea melihat kemarahan secara jelas meskipun hanya tebakan zea.
Namun zea tak mau ambil pusing dengan apa yang dilihatnya . Sosok yang dulu sangat dikagumi zea dan juga sangat dihargai zea berubah ketika seseorang datang melabraknya saat itu.
Zea mengingat masa yang dulu pernah dekat dengan nya , selalu memberi suport padanya , menghiburnya saat dalam kesedihan dan bahkan zea sempat menaruh sedikit rasa suka terhadap sosok tersebut.
Namun semua berubah menjadi datar ketika seseorang yang sangat dekat dengan sosok tersebut menghina ibunya bahkan merendahkan martabat zea .
Sejak saat itu zea memasang sikap datar dan dingin terhadap orang yang berusaha mendekatinya.
Zea lebih memilih fokus pada dunia nya bahkan hanya pada pendidikan dan ibunya daripada memikirkan masalah asmara.
" Seat belt ."
Nico melihat zea diam saja menggelengkan kepalanya bahkan nico bisa menebak kalau zea tengah melamun.
Nico bergerak ke samping tepat di depan zea akan menarik seatbelt memasangkannya pada zea namun saat kesadaran zea pulih terkejut melihat nico yang kini berada di depannya.
" Kau mau apa ?"
" Mau apa ? Seatbelt."
__ADS_1
Nico menunjukkan seatbelt yang sedang dipegangnya lalu memasangkannya pada zea.
" Oh,, kirain,,, "
Nico mengerutkan dahi nya ketika zea melanjutkan perkataannya . Secara tiba tiba muncul ide dikepala nya menjahili zea yang baru saja melamun.
" Kau kira mau apa ?"
Nico mendekatkan wajahnya bergerak maju hingga zea menutup mulutnya dengan kedua tangan nya.
" Kebanyakan nonton drakor ,loe."
Ucap nico menyentil kening zea.
" Aow ,,,, sakit ."
" Sakit ya ? Biar loe sadar dari alam hayalan loe."
Ucap nico yang mendengar ringisan kesakitan zea tanpa mempedulikannya memilih fokus menyetir mobilnya.
" Zea, ingin makan apa ?"
" Tidak , aku masih kenyang ."
" Maksudku buat nanti sore."
" Entahlah , serasa tak ingin makan ."
Nico tak menjawab pernyataan zea hanya menghela nafas panjangnya .
Nico mengerti apa yang dirasakan zea pasti sulit untuk menelan sesuatu namun kehidupan terus berlalu dan berjalan .
Sampai di rumah zea , nico membantunya turun dari mobil bahkan menggendongnya sampai ke dalam rumah .
" Zea , aku akan keluar sebentar . Jangan kemana mana ! Jika kau butuh sesuatu telepon aku."
Ucap nico setelah mendudukkannya di sofa .
Sekilas nico melirik gadisnya yang tampak khawatir namun berusaha menutupi nya.
" Kerja sayang."
Nico mengedipkan salah satu mata nya sengaja menggoda zea pergi begitu saja setelah menyentil hidung zea.
"Ih,,, sayang. Sejak kapan lemari es itu bersikap romantis ?"
" Sejak saat ini ,,, dan seterusnya ."
Zea yang semula mengira nico sudah pergi terkejut mendengar suara nya yang muncul dari balik pintu.
" Kau ,,,?"
" Iya sayang , ini aku . Kekasihmu yang selalu ada untukmu. Aku pergi dulu ."
Lagi lagi nico sengaja menggoda zea setelah meletakkan plastik bag yang entah apa isinya di atas meja .
" Apa ini ?"
Zea mulai meraih plastik bag yang ada di depannya , membukanya secara perlahan merasa penasaran dengan isi nya.
" Hah,,,,. Gila ,,, sebanyak ini. Kau pikir aku monster apa ? Cemilan sebanyak ini ."
Zea hampir tak percaya nico akan perhatian sedetail ini ,hingga mengetahui cemilan kesukaan zea.
Zea memilih berbaring di ruang tengah dengan pintu terbuka , menyalakan televisi di ruangan tersebut.
Rasa lelah ternyata mampu membuat mata zea terpejam meskipun otaknya tengah memikirkan ibu nya yang berada di rumah sakit beserta biaya yang harus dibayar nya.
" Permisi ! permisi !"
Sebuah suara mengagetkan zea ketika baru saja zea memejamkan mata nya .
__ADS_1
" Ya ,,,."
Dengan ruangan yang disekat sebuah lemari rak yang berlubang , zea tertatih tatih menghampiri pintu melihat siapa yang datang bertamu.
" Pak rt ,,, ."
" Zea ,,,.Kamu di rumah ? Kebetulan sekali ."
" Mari masuk pak rt !"
Zea sedikit merasa aneh dengan kedatangan pak rt dan juga pernyataannya .
" Pak rt mau minum apa ?"
" Tidak usah zea , ada hal penting yang harus dibicarakan."
Deg,,,
Detak jantung zea berdegup kencang ketika mendengar perkataan pak rt.
"Maksud pak rt ?"
" Zea, ibumu menggadaikan rumah ini dengan nominal yang sangat tinggi di koperasi tempat bapak bekerja. Sebenarnya sudah jatuh tempo untuk melunasi nya tetapi ibumu berdalih belum punya uang lalu hanya membayar bunga saja."
Pak rt memberikan slip pinjaman dari sertifikat rumah yang digadaikan.
Zea tercengang meraih kertas yang ada didepan nya melihat nominal yang tertulis disana.
" Lima puluh juta ."
" Benar zea. Bagaimana ya zea ? Atasan bapak selalu menanyakan perihal pelunasannya ."
" Maaf pak, saya tidak punya uang segitu banyak . Sekarang ibu di rumah sakit , sementara saya hanya kerja di toko yang gaji nya tak seberapa ."
Zea dan pak rt sama sama menghela nafas panjang nya .
" Apa bapak punya solusi lain ?"
" Bagaimana kalau rumah ini di lelang zea ? Tapi uang nya tak seberapa kalau masuk ranah pelelangan ."
" Nggak apa apa pak, lebih baik begitu. Lagi pula saya juga butuh uang banyak untuk biaya ibu di ruang icu."
" Sebenarnya sangat disayangkan kalau dilelang ,zea. Dulu bapak sudah bilang pada ibumu untuk dijual saja tapi beliau tidak mau .Kalau sertifikat sudah masuk pegadaian jalan satu satu nya di lelang ."
Pak rt mengerti keterpurukan kondisi keuangan mereka sangat menyesal berkata demikian.
" Tapi kalau dilelang apa kau punya tempat tinggal zea ? Sayang kalau tidak segera di atasi bunganya membengkak, zea."
" Saya paham, pak. Tidak perlu khawatir , saya punya rumah di perumahan subsidi yang saya beli ."
" Bagus lah kalau begitu , jadi bapak nggak khawatir ."
" Terima kasih ,pak ."
" Kalau begitu bapak pamit dulu , ini buat pegangan kamu ."
Pak rt menyelipkan beberapa lembar uang ditangan zea .
" Tidak ,pak. Terima kasih banyak , selaama ini bapak sudah banyak membantu keluarga kami ."
Ucap zea.
" Zea , sesama manusia harus saling membantu . Sudah ya ,bapak pamit dulu."
Zea tak kuasa menolak pemberian pak rt yang hanya beberapa lembar uang kertas ditangan nya.
Zea hampir tak percaya dengan apa yang ada didepan matanya . Bagaimana mungkin ibunya punya hutang begitu banyak sedangkan tiap bulan zea selalu memberikan uang lebih padanya.
Kepala zea serasa mau pecah memikirkan apa yang terjadi , hampir tak percaya dan menyangka nasib tak baik di sepanjang hidupnya.
Bersambung 😊🙏
__ADS_1