Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Terbongkar


__ADS_3

Vania masih sedikit merasa kesal dengan kecelakaan kecil yang menimpanya, meskipun tidak membuatnya terluka namun vania harus mengeluarkan kocek untuk memperbaiki mobilnya. Vania bahkan lupa kalau mobil itu mempunyai asuransi polisnya pada saat marah seperti ini.


'' Selamat pagi, nona vania."


" Ya, pagi."


"Dasar pemuda brengsek!!"


" Awas saja kau!"


Vania menggerutu kesal meskipun telah sampai di ruang kerjanya.


"Ada apa kak? Kenapa wajahmu seperti gunting bisa dilipat?"


Ucap savana yang tiba- tiba masuk ke ruangannya.


" Hah..., kau menginginkan sesuatu? Untuk apa sepagi ini kau datang ke ruanganku?"


Tanpa basa basi bahkan sangat jelas tak ingin bertele- tele dengan adiknya itu.


"Hahahaha..., to the point saja. Kenapa tak berbasa- basi dulu? Bertanya bagaimana pagimu?"


Savana tertawa mendengar ucapan vania yang langsung pada intinya.


"Sayang, jangan katakan pada kakak kau ingin pinjam uang karena kakak tidak punya. Begitukah maksudmu?"


" Hihihi..., semakin hari semakin menggemaskan. Tidak, vana tidak pinjam uang. Lagipula vana bukan miskin sekali sampai harus pinjam uang ke kakak."


"Lalu...?"


Vania semakin kesal dengan adiknya yang masih atau sengaja bertele-tele mengulur waktu berbicara dengannya akan membuang waktu miliknya.


"Tidak, hanya... aku ingin meminjam mobil sport milikmu."


"Tidak."


"Tidak? Pelit sekali kakak. Bagaimana kalau kita tukar mobil selama beberapa hari?"


" Tidak."


"Ayolah, kak."


"Jawabanku tetap sama, tidak."


" Aku akan mentraktirmu makan makanan favoritemu."


"Savana, kau sendiri punya mobil sport. Kenapa kau tak memakainya?"


"Mobil vana dibawa mama dan raina, kak. Vana ada janji dengan teman- teman sekolah vana."


"Kenapa tak menukarnya dengan mobil lainnya? Lagi pula seperti baru melihat mobil sport saja, ingin memiliki punya orang lain."


Ucap vania mengambil beberapa berkas dari meja kerjanya.


" Kakak..., seperti tidak tahu mama saja."


" Hah, savana sayang..., kakak bukan tidak mau meminjamkan mobil kakak meskipun itu mobil kesayangan kakak dan juga kau perlu mengingatnya kalau kakak bukan tidak sayang padamu tapi mobil kakak mengalami kecelakaan pagi tadi."


" Bagian depan penyok akibat menabrak pohon, so... kau tahu jawabannya kan?"


"Kalau kau masih bersikeras meminjam silahkan jika ingin memperbaikinya terlebih dahulu."


Ucap vania menyilangkan kedua tangannya ke dadanya dan juga mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


" Kenapa kakak tidak bilang? Tahu seperti itu vana tak kan membuang waktu disini."


Ceklek...


Derrr...


Savana yang semula duduk di kursi berdiri meninggalkan ruangan vania dengan sedikit kesal hingga membanting pintu ruangan vania.


"Hei..., yang harusnya bilang seperti itu aku bukan kau."


Vania sedikit geram dengan sikap savana yang suka seenaknya sendiri jika menginginkan sesuatu.


"Harusnya aku yang kesal, kenapa jadi dia? Banting pintu lagi, dasar savana sinting!!"


Tak ingin memikirkan tingkah adiknya savana, vania melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Beberapa saat kemudian vania mengingat kejadian pagi tadi, lalu membuka sebuah aplikasi dari layar ponselnya melihat rekaman dengan seksama atas kecelakaan pagi tadi.


"Kau masih mengelak tak mengebut, awas jika aku bertemu denganmu."


" Aku harus mengeluarkan kocek memperbaiki mobilku."


" Nasib sial selalu menghampiriku kalau mama ada dirumah."


" Apa jangan- jangan mama kena kutukan?"


" Hah..., vania..., vania, jaman modern masih saja percaya kutukan."


" Dasar bodoh."


Entah mengapa sepertinya vania sedikit kesal dengan kecelakaan itu hingga menyangkutpautkan dengan keberadaan mamanya. Vania memang tidak menyukai mamanya yang seorang pengatur apalagi masalah jodoh. Itulah sebabnya vania enggan mencari pacar atau sosok teman dekat lelaki.


Di kediaman angkasa.


"Sita..., ada apa denganmu?"


Dengan sigap bibi ha membawa sita ke kamarnya meskipun sedikit tergopoh-- gopoh untuk sampai di kamar pribadi sita.


"Minumlah! Apa yang terjadi denganmu? Kau tidak enak badan? Kenapa memaksakan diri untuk bekerja?"


"Tidak, ketua. Perutku tiba- tiba sakit seperti di peras."


" Hah...,kau pucat sekali. Aku akan membawamu ke rumah sakit.''


" Tidak, ketua. Aku hanya butuh beristirahat sebentar, mungkin hanya alergi makanan."


"Alergi makanan? Memangnya apa yang kau makan?"


" Em..., anu..., em."


" Katakan! Jangan katakan kau membeli makanan dari luar?"


" Tidak. Tapi..., salad yang ketua suruh buang saya simpan dan makan. Tapi..., baru saja berapa sendok perutku tiba- tiba mules."


" Apaa..., cepat ikut aku!"


Tanpa basa- basi bibi ha menyuruh sita mengikutinya meskipun tertatih- tatih menahan sakit perutnya mengikuti langkah bibi ha.


"Dimana sisa salad yang kau makan?"


" Masih ada di serambi, ketua."


Bibi ha bergegas setengah berlari mencari dimana sita meletakkan salad yang baru saja dimakannya. Sepertinya bibi ha menaruh kecurigaan pada salad yang dimakan sita kalau nona raina menaruh sesuatu pada salad tersebut. Rasa khawatir mulai melanda hati bibi ha, rasa cemas semakin menghantuinya.

__ADS_1


Salah seorang pelayan lain yang berniat memakan salad yang ditinggalkan sita merasa penasaran kenapa salad itu ditinggalkan di meja serambi belakang.


"Salad siapa ini? Kenapa ditinggal disini? Aku cicipi saja."


"Tunggu!"


" Ketua."


Pelayan tersebut meletakkan kembali sendok salad dari kotak tersebut.


"Berikan padaku!"


"Baik, ketua."


Sita memegangi perutnya menyusul bibi ha, namun beberapa meter tak jauh dari bibi ha ternyata sita tergeletak pingsan tak berdaya.


"Sitaa... ."


"Sitaa... ."


"Cepat bantu aku membawanya ke dalam mobil!"


"Baik, ketua."


Salah seorang pelayan membantu bibi ha membawa sita ke dalam mobil. Bibi menyetir sendiri membawa sita ke rumah sakit dan juga membawa sampel salad ikut bersamanya.


Beruntung sita mendapat pertolongan pertama hingga tak membuat nyawanya melayang akibat memakan salad yang masih di periksa pihak laboratorium.


"Beruntung kamu tidak apa- apa, bagaimana kalau nyawamu melayang?"


Gumam bibi ha setelah mendapat penjelasan dari dokter.


"Sepertinya nona raina benar- benar ingin memperebutkan tuan muda."


" Gadis itu seperti seorang psikopat."


" Aku harus berhati- hati dengannya."


Tak selang beberapa saat petugas laboratorium beserta dokter jaga menghampiri bibi ha, akan memberitahu hasil penelitian zat yang terkandung di dalam salad tersebut.


"Bu, sebaiknya masalah ini dilaporkan ke pihak yang berwajib."


" Makanan itu mengandung zat berbahaya yang bisa menghilangkan nyawa dua orang sekaligus yakni ibu dan janinnya. Apalagi dosis sangat tinggi bereaksi sangat cepat."


Ucap dokter tersebut.


"Beruntung ibu segera membawa putrinya ke rumah sakit jika tidak entah apa yang terjadi."


" Sepertinya orang yang menaburkan obat itu seorang yang kenal dengan medis. Karena tidak sembarangan mengetahui obat itu."


"Terima kasih dokter, saya akan mempertimbangkannya."


" Baiklah, kami permisi."


"Silahkan dokter!"


Bibi ha mempersilahkan dokter pergi setelah menjelaskan hal yang penting padanya. Tangan bibi ha mengepal meremas seakan menahan emosi yang tumpah akibat melihat hasil tes laboratorium.


"Sepertinya anda ingin main- main dengan tuan muda, nona."


Gumam bibi ha dalam hati.


Bibi ha memutuskan pulang ke kediaman angkasa setelah melihat kondisi sita yang ditemani salah satu temannya. Bibi ha harus bersikap hati- hati terhadap wanita yang mencoba mencelakai nyonya mudanya.

__ADS_1


Bersambung🙏😊


__ADS_2