Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Morning kiss


__ADS_3

Malam sedikit larut, setelah selesai membereskan sisa makanan, zea berbaring di sofa merasa lega pekerjaan nya telah selesai.


" Sayang, ... ."


Denish memanggil zea yang tampak kelelahan membereskan kekacauan kamar nya berbaring di sofa, menepuk ranjang tempat tidur di samping nya.


Zea mengerutkan dahinya melihat sikap romantis denish yang membuatnya meleleh, tapi juga berubah menyebalkan saat kejahilannya menghampirinya. Zea tak menggubris panggilan denish sama sekali, memilih memejamkan kedua bola matanya.


Denish tersenyum simpul dengan sikap istrinya, menghampiri gadis itu lalu menggendongnya secara tiba- tiba.


"Aaa..., kau mau apa?"


"Mau apa? Tentu saja memberi kehangatan padamu."


Kedipan mata denish membuat zea bergidik ngeri bahkan pikiran kotor nya menerawang jauh ke angkasa.


"Tidak..., tidak..., tidak. Aku tidur disofa saja."


Zea meronta ingin turun dari gendongan denish, namun tangan kekar denish tak mampu dilawan zea.


"Sayang, apa kau takut? Bukankah kita suami istri?"


Deg...


Detak jantung zea berdegup kencang setelah mendengar pengakuan denish. Kata- kata ampuh yang membuatnya menyerah, juga membuatnya tak bisa berkutik sama sekali keluar dari mulut denish. Zea hanya mampu menahan nafas dan juga menahan gejolak dalam hatinya. Rasa was- was, cemas dan khawatir tentu saja ada. Bahkan rasa takut pun menyelimuti hatinya.


"Tidak."


"Lalu..., kenapa kau menolak tidur dengan ku?"


"Hah..., bukan seperti itu."


"Lalu..., seperti apa?"


Denish tak bersikap lembut saat meletakkan tubuh zea melainkan melemparkan nya ke ranjang empuk milik mereka.


"Aaaa... ."


"Dasar serigala berbulu domba."


Gumam zea lirih.


"Kau ingin aku menjadi serigala berbulu domba? Baiklah, aku... ."


"Bukankah kau seorang serigala? Baru saja bersikap lembut, tapi kau juga membanting tubuh ku. Meskipun di kasur, tetap saja merasa sakit."


Gumam zea membalikkan tubuhnya membelakangi denish.


"Jadi..., maksudmu aku harus seperti ini."


Denish memeluk tubuh mungil zea yang membelakanginya menyematkan tangan nya di perut zea.

__ADS_1


Sedikit bergetar hati zea, bahkan gugup juga rasa khawatir menyelimutinya ketika denish bersikap mesra padanya. Zea hanya mampu menghela nafas panjang tanpa mampu menolak nya.


" Tidur sayang, aku lelah. Besuk aku akan memberikan mu sesuatu."


Ucap denish sebelum matanya tertutup rapat.


"Sesuatu? Apa?"


Ucap zea membalikkan badan nya menatap denish yang sudah memejamkan matanya.


"Penasaran?"


"Kau harus membayar mahal jika ingin mengetahuinya sekarang."


Ucap denish membuka kedua matanya menatap netra mata zea yang rengah menatapnya.


"Membayar mahal? Maksudmu dengan uang? Bagaimana aku bisa membayarnya kalau kau hanya mengurungku dirumah?"


Gumam zea sedikit kesal membalikkan badan nya kembali membelakangi denish yang kemudian berpindah posisi terlentang yang semula menyamping memeluknya.


"Tidak, bukan dengan itu. Tapi..., dengan ini."


Denish kembali memeluk zea dari balik punggungnya menyentuh pelan bagian perut zea.


"Apa...?"


"Tentu saja menenuhi permintaan nenek."


"Tidak."


"Tidak...?"


"Ya..., bagaimana mungkin aku mengabulkannya sementara tak ada cinta di antara kita? Lagi pula kita menikah karena satu insiden dan juga atas paksaan mu."


Ucap zea menarik selimutnya, sementara denish menghela nafas panjang kembali memindah posisinya terlentang dengan satu tangan dibagian bawah kepalanya sebagai bantalan.


"Bagaimana mungkin aku memberikan nenek cicit kalau tak ada perasaan antara kita? Bisa saja cuma akal licikmu menghamiliku lalu meninggalkan ku. Orang kaya seperti kalian bisa mempermainkan orang kecil dengan uang."


Ucap zea dengan nada sedikit sewot.


"Bukankah kau yang memaksaku menikahimu? Kalau tidak karena kejadian itu aku tak kan mengenal yang namanya cinta."


Ucap denish memejamkan matanya.


"Hei..., apa maksudmu? Kau yang menculikku, mengurungku beberapa hari, lalu mengancamku atas nama sania."


Zea bangun dari tidurnya menunjuk ke arah wajah denish. Zea melihat wajah tenang dan tampan saat tertidur membuatnya sedikit bergetar dan juga gugup.


" Itu hanya alasan saja."


"Alasan...? Maksudmu?"

__ADS_1


" Kau yang memulai terlebih dahulu, menabrakku dan juga menyentuh bagian sintalku."


Zea mengerutkan dahinya mengingat kejadian apa yang menjadi jawaban denish. Setelah beberapa saat, zea mengingat saat baku kejar dengan para pria berbaju hitam yang mengejarnya lalu menabrak seorang laki- laki hingga menyentuh bibir sintal laki- laki tersebut.


"Jadi..., kau?"


Zea menutup mulutnya dengan satu tangan dan satu tangan menutup bagian dadanya.


"Coba rasakan apa yang terjadi disini? Saat kau menyentuhnya."


Ucap denish menarik satu tangan zea meletakkan nya didadanya.


"Tidak merasakan apapun."


Zea sedikit malu membalikkan badan nya kembali tidur membelakanginya menarik selimut dengan wajah yang sedikit tersipu malu.


Zea merasa ada sedikit harapan bahwasanya pria yang telah menjadi suaminya itu menyimpan perasaan padanya. Namun zea tak boleh lengah dengan setiap kata- katanya apalagi rayuan nya. Bekerja di dunia modeling membuatnya tahu dan mengerti tentang pria hidung belang, mana yang tulus dan juga modus.


"Hah..., sepertinya aku harus bekerja keras meyakinkan istriku."


Kata- kata denish membuat zea tersenyum tersipu malu meskipun tak terlihat oleh denish.


Kedua pasangan suami istri itu terlelap setelah beberapa saat berpindah posisi, apalagi zea yang terlihat gusar seperti tak nyenyak tidur. Setelah denish merasakan beberapa kali gerakan zea, denish menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukan nya hingga gadis itu merasa nyaman saat berada di dalam pelukan nya.


Zea menggeliat beberapa kali namun tak menyadari kalau berada didalam pelukan denish dan juga satu kaki menimpa sebagian tubuh denish.


"A... ."


Zea menutup mulutnya saat menyadari yang terjadi melihat wajah tampan suaminya yang masih tertidur tanpa bergerak sedikitpun.


Zea perlahan bangun meninggalkan tempat tidur namun kembali lagi berjongkok dilantai melihat wajah tenang denish. Jati tangan zea bergerak menyentuh dahi denish lalu turun menyentuh hidung mancung denish.


"Kau terlihat tampan saat tertidur."


"Kau mengagumi ku?"


Mata zea membulat sempurna saat melihat kedua mata denish terbuka juga bibirnya membuka suara.


"Tidak."


Ucap zea sewot berdiri hendak meninggalkkan denish namun tangan nya tertahan oleh denish yang kemudian menarik tubuh zea hingga jatuh tepat diatas tubuhnya. Zea terkejut tak bisa memberi perlawanan hanya mengikuti alur saja. Denish menahan tengkuk zea mencium bibir merah milik istrinya, memberi sedikit sesapan dan juga *******.


"Mornimg kiss, sayang. Mulai sekarang kau harus memberikanku morning kiss jika tidak... ."


Mata denish mengedip- edip pada zea.


"Hah... ."


Zea terperanga ternganga tak percaya dengan apa yang didengarnya juga dilihatnya. Sekilas rasa sesal datang menghampirinya saat kejahilan nya datang melihat wajah suaminya tang tertidur pulas berujung petaka baginya.


Bersambung🙏😊

__ADS_1


__ADS_2