Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Mengetahui kebenaran


__ADS_3

Zea yang telah segar kembali, merasa perutnya sangat lapar. Mencari sarapan atau membuat menu sarapan yang disukainya.


" Pagi, non. Non sudah sehat?"


" Pagi, mbok. Iya mbok, zea sudah sehat."


" Syukurlah. Non ingin sarapan apa? Biar mbok buatin.''


" Tidak perlu, mbok. Zea bisa sendiri."


" Baiklah, kalau perlu sesuatu panggil mbok!"


" Iya mbok."


Zea membuat roti bakar dan juga segelas susu hangat, seperti yang dimakannya selama ini.


" Non, dimana baju basahnya? Tidak ada di kamar non."


" Bukankah mbok sudah membawanya?"


" Belum, non. Mbok baru saja ke kamar non."


Ucap mbok ijah.


Zea menahan roti yang dikunyahnya, merasa sedikit curiga bahkan sedikit tak percaya.


" Lalu..., siapa yang mengganti baju basah zea?"


" Tentu saja tuan muda, non. Siapa lagi? Masa mbok mau mengganti baju non, mana kuat mbok mengangkat non."


" Huk...huk...huk."


" Aduh, non. Minum non!"


Mbok ijah menepuk tengkuk zea saat tersedak mendengar penjelasannya.


Jadi..., denish yang mengganti pakaiannya. Hah, berarti dia sudah melihat tubuhnya yang polos.


Pikiran zea yang semula penuh dengan pertanyaan, terjawab sudah. Bahkan bulu kuduknya sedikit berdiri mendengar pernyataan mbok ijah.


" Ah sudahlah, non. Mungkin sudah dibawa tuan ke belakang."


Ucap mbok ijah berlalu meninggalkan zea dimeja makan.


Zea tak kuasa menghabiskan sarapannya, memilih membawanya ke kamarnya.


Menutup rapat pintu kamarnya, tak percaya kenyataan yang ada. Zea meraba detak jantungnya yang tak aman, berdegup sangat kencang.


" Hah..., jadi yang mengganti baju denish. Suamiku sendiri."


" Aduh..., mau ditaruh dimana mukaku."


Gumam zea menutup wajahnya dengan bantal.


" Zea..., zea. Ini akibatnya kau bertindak ceroboh."


" Aaaaa....."


" Pantas saja, sikapnya berubah. Huh..., ternyata ada udang dibalik batu."


" Tapi kalau sudah melihat semuanya, kenapa tak menyentuhku?"


" Zea..., goblok kamu. Bagus, berarti kamu masih perawan."


" Aaaa......, kenapa semua itu terjadi?"


Zea kembali menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.


" Tunggu..., tunggu..., tunggu. Apa dia lelaki normal? Jangan-jangan dia seorang guy."


" Kamu ngomong apa sih zea? Bagus tak terjadi sesuatu denganmu."


Gumam zea berbicara pada dirinya sendiri.


" Tapi ..., sebelum berangkat ia bilang tak akan melakukan lebih dari itu. Berarti dia lelaki normal."


" Menjagaku saat aku tak sadar."


" Aaa..., perfect husband."


Entah jiwa apa yang merasukinya, perbedaan pendapat antara hatinya terlihat jelas.


Zea tersenyum memeluk bantal berguling ditempat tidur. Rasa yang datang secara tiba tiba tak terduga, tak pernah dirasakannya dengan nico. Meskipun beberapa hari dekat dengannya namun rasa yang ada dalam hati tak seperti saat ini.


" Zea... zea apa nasibmu akan berubah?"


Gumam zea berhenti berguling menelungkupkan badannya memeluk guling.


Denish yang telah sampai dikantor, tak seperti biasanya datang terlambat. Beberapa berkas yang diberikan vani, sedikit membuatnya sibuk dan pusing. Entah mengapa denish memikirkan gadis itu, gadis yang telah menjadi istrinya. Yang membuat jantungnya berdegup kencang dan tak berhenti memikirkannya.

__ADS_1


Gadis itu memiliki keberanian berdebat dengannya, sikap yang tak dimiliki siapapun. Salah satu keunikan yang membuatnya tertarik padanya.


" Aku sudah gila, kenapa pikiranku hanya ada namanya?"


Gumam denish.


" Bahkan bayangan wajah judesnya muncul dimana-mana."


Denish menyalakan cctv di layar ponselnya, senyum mengembang tampak jelas diwajahnya yang dingin. Yang tak pernah terlihat selama ini, wajah kaku dan dinginnya memiliki aura lain di kantor miliknya.


Denish terkekeh pelan memutar kursi kebesarannya berulang kali, tanpa menyadari vans yang datang membawa berkas penting mengerutkan dahinya.


Vans tak pernah melihat senyum maupun tawa denish seperti saat ini, ada rasa bahagia dan lega dihati vans. Tuan muda yang selama ini bersikap dingin tak pernah sekalipun tersenyum bahkan tertawa, berubah sejak kehadiran nyonya muda.


Seorang sarjana akuntasi mampu meluluhkan dinginnya hati denish.


" Mudah-mudahan ini awal yang baik."


Gumam vans dalam hati.


Vani mengeryitkan dahinya saat melihat vans diam membisu dan juga presdir yang duduk membelakangi mereka.


Vani menyenggol siku vans, menggerakkan dagunya seolah bertanya apa yang telah terjadi. Vans hanya meletakkan jari telunjuknya dibibirnya, menyuruh vani untuk tidak bersuara.


Secara perlahan tanpa mengeluarkan suara, mereka berjalan keluar dari ruangan denish.


"Kau sudah membuatku gila."


Ucap denish tanpa menyadari kehadiran kedua asistennya di ruangannya.


" Hahaha...., aku sudah jatuh cinta padamu."


Suara tawa yang mengagetkan hampir saja membuat mereka ketahuan sedang berada di ruangan presdir.


" Hah..., hah..., hah. Hampir saja, sepertinya tuan sedang bahagia."


Ucap vani.


" Benar, aku melihat sorot matanya sangat bahagia. Dan mungkin sebentar lagi akan bucin."


" Bucin...? Bagaimana mungkin? Presdir tak menunjukkan tanda tanda punya kekasih."


Vani tak percaya dengan ucapan vans.


" Belum saat nya."


" Jadi..., presdir sudah mempunyai kekasih?"


" Aaa..., syukurlah. Berarti aku tidak akan lagi bertengkar dengan para pembuat onar."


Vans mengangkat kedua bahunya, sementara vani kembali ke ruangannya.


" Sayang...,sayang. Kau sangat menggemaakan, bagaimana mungkin mbok ijah akan mengganti baju mu?"


" Hahaha..., aku tidak akan melepaskanmu meskipun pria itu mencoba mengambilmu dariku."


Gumam denish mengepalkan tangan nya sendiri saat melihat sisi lain dari cctv yang mengarah pada jalan utama.


Beberapa orang berdatangan, entah apa yamg mereka lakukan mbok ijah tampak sedikit bingung dan juga mengerutkan dahinya. Mencoba menghubungi vans, menanyakan maksud dan tujuan orang-orang itu datang ke paviliun.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, vans terlebih dahulu datang membawa beberapa paperbag yang entah apa isinya.


" Mbok, apa nyonya belum bangun?"


" Ih... aden,mengagetkan mbok. Kebetulan aden datang, mereka mau ngapain datang kesini? Takut tuan muda marah, den."


Ucap mbok ijah.


" Tenang saja, mbok! Tuan muda yang menyuruh mereka datang. Malam nanti tuan muda harus menghadiri acara, tuan ingin nyonya berdandan cantik dan perfect."


Vans menjelaskan maksud kedatangan mereka , meskipun berlagak seperti seorang waria namun sejatinya mereka seorang peofesional dalam bekerja.


" Oh... begitu.''


Mbok ijah menganggukkan kepalanya.


" Dimana nyonya?"


" Nyonya masih dikamar, den. Jam segini masih tidur, sebentar lagi ya den."


" Hah, baiklah."


Menunggu terasa membosankan namun tidak bagi para nona cantik yang bertugas make over nyonya denish angkasa.


" Hoahem....."


Zea keluar dari kamarnya memegang sebuah bathrobe dan juga handuk ditangannya.


"Nona sudah bangun?"

__ADS_1


" He'em. Mereka siapa mbok."


" Mereka datang atas perintah tuan muda, nyonya."


Ucap vans.


" Perintah denish? Untuk?"


Zea sedikit tercengang mendengar semua permintaan denish.


" Ini... nyonya muda angkasa? Cantik, natural, perfect."


Ucap salah seorang yang merupakan pimpinan mereka.


"Ayo sayang, kita mulai bekerja!"


" Siap."


" Kalian mau apa?"


"Maaf, dimana kamar nyonya?"


Zea tercengang ketika melihat dua orang memegang tangannya, salah seorang menanyakan keberadaan kamar zea.


Zea masih dalam keterkejutannya, menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah kamarnya.


Orang orang itu membawa zea ke dalam bathup, berendam sejenak dengan aroma relaxasi dan juga memakai lulur ditangan maupun sebagian badan dengan lulur tertentu agar tubuh zea sedikit beraroma.


Tiga puluh menit acara mandi dan berendam, dua orang lain nya membersihkan kuku jari tangan maupun kaki lengkap manicure pedicure.


Mengeringkan rambutnya yang memang sudah lurus, sedikit memberi vitamin dan sebagainya.


Zea hanya diam membisu tak berkata apapun, meskipun sebenarnya ingin bertanya tapi merasa sedikit takut.


Zea tampak sangat lelah dengan apa yang mereka lakukan pada tubuhnya hingga zea tertidur pulas.


Entah berapa lama zea tertidur, seseorang membangunkan zea. Memintanya memakai gaun dan perhiasan yang telah disiapkan vans.


"Waow..., perfect. Apa nyonya berani menggunakan highheel? Atau flat saja?"


Ucap salah seorang dari mereka.


" Ini terlalu tinggi. Dengan gaun seperti ini akan menyusahkanku berjalan. Tapi jika memakai yang flat, aku akan terlihat pendek di depan suamiku."


Ucap zea yang membuat pimpinan mua tersebut mengerutkan dahinya.


" Bagaimana nyonya tahu? Apa nyonya memiliki pengalaman modeling?"


Ucapnya.


" Tidak, hanya sedikit."


Jawab zea tersenyum menunjukkan giginya.


" Apa tidak ada highheel lainnya? Yang tidak terlalu tinggi?"


" Ada nyonya. Silahkan, mana yang anda pilih?"


Pimpinan mua menawarkan beberapa highgeel yang tidak terlalu tinggi.


" Yang ini saja."


Pilihan jatuh pada rose gold, warna dasaran gold dan juga sedikit blink blink warna rose akan tampak serasi dengan gaun yang dipakai zea.


" Waow... perfect. Nyonya cantik sekali, tapu ada yang kurang."


Nancy mengambil kotak perhiasan yang diberikan vans padanya, memasangkan nya di leher dan juga telinga.


" Tuan, nyonya sudah siap. Kami permisi."


Ucap nancy.


" Okay, terimakasih. Honor akan ku transfer ke rekening mu dan juga bonusnya."


" Terima kasih, atas kemurahan hati tuan."


Mereka pamit meninggalkan paviliun setelah bertemu dengan vans.


Zea ragu-ragu keluar dari kamarnya namun mendengar panggilan vans, zea memberanikan diri keluar dari kamar.


" Waow...., perfect. Tuan akan terpana melihatnya."


Gumam vans dalam hati.


" Apa nyonya sudah siap?"


" He'em."


Vans mempersilahkan zea berjalan dan juga membukakan pintu mobil, mengantarkan zea ke acara pesta dimana denish telah berangkat terlebih dahulu.

__ADS_1


Pintu kaca mobil yang sedikit terbuka membiarkan udara masuk menyapanya. Sudah sekian lama zea terkurung di paviliun, ini kali pertama zea keluar paviliun meskipun ditemani asisten pribadi denish.


Bersambung 😊🙏


__ADS_2