
" Mbok...,mbok."
Zea rupanya mencari keberadaan mbok ijah setelah denish meninggalkan nya berangkat kerja.
" Iya, non."
" Non membutuhkan sesuatu?"
" Tidak. Hanya ingin mengetahui beberapa hal saja."
" Ada apa non? Mbok jadi deg-degan nih."
" Apaan sih mbok. Orang cuma mau nanya makanan kesukaan denish."
" Oh itu..., mbok kira sesuatu yang penting."
Mbok ijah bernafas lega setelah mendengar apa yang dikatakan zea.
" Tuan muda menyukai semua jenis makanan, non. Hanya tuan muda mempunyai alergi kacang. Usahakan jangan masak yang berbahan dasar kacang tanah ya non."
Zea hanya mengangguk pelan.
Tapi sejenak zea menyunggingkan senyumnya saat tahu kelemahan tuan muda pemaksa yang kini tengah menjadi suaminya tersebut.
" Tuan juga tidak menyukai semua jenis susu."
" Ada lagi mbok?"
" Tidak. Hanya mbok berpesan pada non, tolong jaga tuan muda baik-baik."
Deg....
Detak jantung zea berdegup kencang, seperti merasakan seauatu yang aneh dalam hatinya.
" Maksud mbok ijah."
" Yah, mbok kan sudah tua kapan saja bisa meninggalkan dunia."
" Mbok ngomong apa sih."
" Dulu, nyonya selalu berpesan pada mbok menjaga tuan muda baik-baik hingga menemukan pasangan hidupnya yang bisa menerima sikap dinginnya dan juga mencintainya tanpa memandang harta dan benda."
" Mencintai? Bagaimana akan mencintainya kalau pernikahan atas dasar paksaan?"
Gumam zea dalam hati.
" Nyonya selalu khawatir dengan keadaan tuan muda. Mbok percaya, non adalah takdir untuk tuan muda yang akan menemaninya sepanjang hidupnya."
Ucap mbok ijah meraih kedua tangan zea, menggenggam nya sangat erat. Zea tak mampu berkata apapun dengan pesan yang dipercayakan mbok ijah.
" Percayalah, non. Di balik sifat tuan yang keras, hatinya sungguh lembut."
" Tuan berubah seperti itu karena non rayna yang menghianatinya saat pesta pertunangan mereka."
" Rayna? Siapa dia mbok?"
" Rayna adalah calon istri tuan muda, tapi meninggalkan tuan muda saat pesta pertunangan digelar dan juga pernikahan yang hanya selang jarak satu minggu."
" Sebenarnya non rayna baik, tapi entah angin apa yang membuatnya berubah pikiran hingga meninggalkan tuan muda begitu saja."
"Setelah beberapa hari, diketahui non rayna kabur dengan salah seorang teman atau bisa dibilang sahabat dekat tuan muda."
" Sangat disayangkan sekali, non. Kasihan tuan muda."
" Hah, tragis sekali kisah asmaranya. Ternyata lebih baik nggak punya pacar daripada ditinggal selingkuh. Ini lebih keren, dan seperti drama korea."
Gumam zea dalam hatinya.
Zea sama sekali tak menjawab perkataan mbok ijah hanya mengangguk- anggukkan kepalanya.
Meskipun memgetahui kisah hidup denish tapi zea belum sepenuhnya yakin kakau denish menyukainya.
"Bagaimana dengan keluarga besar angkasa?"
Mbok ijah tak langsung nenjawab pertanyaan zea, hanya sorot matanya menatap bingung pada sosok zea yang sepertinya ingin mengetahui lebih jauh.
__ADS_1
" Kalau itu, non bisa melihat langsung setelah tinggal disana."
Zea mengerutkan dahinya setelah mendengar pernyataan mbok ijah, seperti ada yang disembunyikan.
" Hanya... mbok pesan pada non, jangan sekalipun percaya pada orang orang sekitar selain tuan muda."
" Memang nya kenapa? Apa mereka tidak baik?"
" Tidak, non. Maksud mbok bukan seperti itu, bukankah non harus percaya dengan suami?"
Ucap mbok ijah.
" Tuan muda secara fisik sangat tampan, mapan, bahkan pewaris angkasa group satu satunya. Pasti banyak orang yang menginginkan nya, sedangkan tuan muda bukan orang yang mudah jatuh cinta."
" Pikirkan baik- baik, non!!"
Ucap mbok ijah menepuk salah satu tangan zea.
"Maafkan mbok, non. Mbok tak bisa memberitahu kehidupan dirumah megah itu. Mbok takut non meninggalkan tuan setelah mengetahui banyaknya musuh terselubung yang ada dirumah itu."
Gumam mbok ijah dalam hati, berhenti melangkahkan kakinya menoleh pada zea yang terlihat bingung.
" Mbok yakin, non adakah takdir tuan muda yang akan menemaninya disepanjang suka dan dukanya."
Zea tercengang dengan apa yang baru saja mbok ijah katakan, bukan tak percaya dengan kalimatnya tapi juga karena mendengar denish bukan orang yang mudah jatuh cinta.
Jadi... ? Apa benar denish jatuh cinta padanya? Tapi semudah itukah? Apa sebenarnya tujuan denish menikahinya?"
Zea tak ingin berbesar kepala, bahkan tak semudah itu mempercayai perkataan mbok ijah.
Zea berjalan mondar mandir tanpa arah dan tujuan dikamarnya setelah sedikit berbincang dengan mbok ijah.
Tanpa disadari, ia teringat pesan mendiang ibunya dan juga nico secara bersamaan.
"Kenapa aku ingat dengan nico? Apa aku mencintainya?"
" Hah, entahlah? Mencintainya pun juga tidak ada gunanya, aku bukan seorang yang lajang lagi."
"Rayna...? Secantik apa dia? Kenapa sampai jadi perebutan antara dua lelaki sekaligus?"
" Zea... zea, kenapa kau memikirkan hal seperti itu? Yang tidak ada hubungannya denganmu."
" Lebih baik kau memikirkan dirimu sendiri,dan bagaimana cara berbahagia dengan pernikahanmu? Atau mungkin cara lepas dari tuan muda ini."
Gumam zea memilih mengambil baju renang miliknya.
Zea memakai baju renangnya, pikirannya sedang dalam kemelut antara logika dan keyakinan bahkan takdirpun tak msmpu menyatu menjadi satu.
Zea memilih berendam dikolam renang,meskipun kemampuannya berenang belum begitu sempurna tetapi tak ada salahnya berlatih hingga menjadi seorang yang profesional.
" Non, mau kemana? Jangan bilang non mau menenggelamkan diri lagi!"
" Tidak, mbok. Aku hanya akan berlatih."
" Janji ya, non."
"iya, mbok jangan khawatir!"
Zea tersenyum dengan sijap mbok ijah yang begitu mengkhawatirkannya.
Byurrr....
Zea yang tanpa sepengetahuan denish ataupun mbok ijah belajar berenang kembali mengasah kemampuannya, meskipun awalnya zea tak menyukainya.
Zea tak teegolong lamban belajar berenang, secara cepat mempelajari inti yang beberapa saat lalu dikatakan denish.
Denish merasa tak tenang di dalam ruangan nya, entah kenapa pria dingin itu setelah menikah tak seperti biasanya.
Pria itu sedikit berubah, yang semula gila kerja berbeda dengan sekarang yang sepertinya pulang dengan cepat bahkan merasa tak betah dikantor.
Setelah menelepon mbok ijah denish pergi ke ruang kerja vani karena tak melihat zea diseluruh penjuru cctv, denish mau tak mau meneleponnya menanyakan keberadaan zea.
Denish bergegas meninggalkan ruangan begitu saja.
" Vani, ada meeting penting hari ini?"
__ADS_1
" Tidak, tuan. Hanya beberapa client mengirimkan proposal permintaan kerja sama."
" Baiklah, aku akan pulang. Suruh vans menyiapkan mobilku!"
" Baik, tuan."
Meskipun agak terkejut namun vani secepat kilat menyadari permintaan tuannya, segera mungkin mencari vans ke ruang kerjanya.
" Vans, tuan memintamu menyiapkan mobil."
Vans mengerutkan dahinya, tak mengerti apa yang terjadi dengan tuannya.
" Baiklah."
" Eh..., sepertinya benar perkataanmu. Tuan sedikit berubah."
" Mungkin sebentar lagi akan jarang ke kantor."
Ucap vans.
" Pesona nyonya muda pasti melebihi nona rayna."
"Hahaha...., lebih dari itu. Gadis itu beberapa tingkat dibawah nyonya muda."
" Waow..., amazing!!"
" Sudahlah, aku harus pergi."
" Baiklah, hati-hati!"
"Hem."
Vans meraih beberapa berkas yang belum selesai diperiksa, berniat membawanya pulang. Tuan muda takkan kembali lagi ke kantor jika sudah menyangkut istrinya.
Entahlah, sejak kapan denish mulai jatuh cinta pada istrinya? Benarkah jatuh cinta? Atau hanya berpura- pura saja? Hanya tuan muda itu yang mengetahuinya sendiri.
" Tuan, mobil sudah siap."
" Baiklah, kita pulang sekarang."
" Baik, tuan."
Denish memilih pulang setelah mendengar keterangan mbok ijah melalui telepon, kalau zea berada di kolam renang.
Denish merasa tak tenang kalau gadis itu sudah berada disana, kemungkinan buruk bisa terjadi.
" Vans, mulai malam ini aku akan tinggal dirumah megah itu."
" Apa tuan yakin?"
" Nenek menghubungiku menyuruhku mengajak pulang zea."
" Bagaimana dengan nyonya?"
" Aku yakin, zea bukan orang yang lemah."
Ucap denish.
" Benar, tuan. Nyonya bahkan sangat kuat lebih dari yang anda pikirkan, tuan."
Gumam vans dalam hatinya.
" Baiklah, tuan. Saya akan mempersiapkan kebutuhan nyonya."
" Terima kasih, vans."
" Iya, tuan."
Vans tampak sibuk menghubungi seseorang yang entah siapa dan untuk apa, hanya dia yang mengetahuinya.
Tak berapa lama mereka sampai di paviliun, seperti biasa denish melihat mobil hitam terparkir dipojok jalan buntu sedikitnya membuat tangannya mengepal.
" Brengsek."
Bersambung🙏😊
__ADS_1