
Semua sudah menunggu di meja makan tinggal zea yang datang sedikit terlambat karena pandangannya melihat sesuatu yang tak lazim.
"Apa nyonya muda angkasa tidak bisa datang tepat waktu?"
Ucap sinta saat melihat zea datang menghampiri mereka.
"Nyonya muda? Apa maksud mama? Siapa gadis itu?"
Daryo yang tidak bertemu dengan zea menanyakan kejelasan dari ucapan istrinya sendiri.
" Kau terlalu sibuk di luar hingga tak memperhatikan kejadian penting dirumah ini."
"Oh... maafkan aku sayang, aku bekerja untukmu."
Dengan sedikit manja dengan sinta sedikitnya membuat rima mencebirkan bibirnya.
"Cih..., di depannya bersikap mesra dibelakangnya seperti monster."
Gumam rima dalam hati.
"Tidak ada alasan untuk pemilik rumah datang tepat waktu."
Kata- kata denish seperti menusuk seluruh penghuni kediaman keluarga angkasa. Tak satu pun orang berani bergerak bahkan bicara ketika denish sudah mulai mengeluarkan suaranya. Tak terkecuali kakek maupun neneknya, karena semua orang tahu kalau pemilik rumah adalah denish angkasa.
"Sayang, sepertinya mereka tidak menghormatimu sebagai nyonya rumah. Apa aku perlu melakukan sesuatu?"
Deg...
Perkataan kedua yang semakin menusuk jantung semua orang membuat suasana semakin tegang. Zea hanya tersenyum menggelengkan kepalanya menatap wajah arogan suaminya.
"Makanlah! Bukankah kau menyukainya?"
Ucap denish memberikan makanan kesukaan zea di atas meja.
"Dasar wanita kampung. Seharusnya aku yang diperlakukan seperti itu oleh kak denish.''
Gumam raina di dalam hati.
"Dasar wanita urakan. Sepertinya seseorang ada dibalik sikapnya yang seenaknya."
Gumam rima di dalam hatinya.
"Apa mungkin papa dibalik semuanya? Tidak mungkin. Papa tak mungkin mengorbankan posisinya hanya demi menantu nya itu."
Gumam rima yang masih bergelayut dengan pikirannya.
"Aduh..., mama ini buat masalah saja."
Gumam daryo dalam hatinya.
Sementara keluarga yang duduk ditempat masing- masing tak bereaksi sedikitpun. Namun ketika savana yang baru saja datang akan duduk di tempatnya, mengerutkan dahinya saat melihat raina sudah duduk disana.
" Raina, seharusnya kau duduk disamping mama bukan ditempatku."
Ucap savana.
" Mama yang menyuruhnya, savana. Duduklah disamping mama!"
"Baiklah, kali ini saja. Tapi tidak untuk lain kali."
Ucap savana dengan sedikit kekesalannya.
Sinta seolah tak mengindahkan peringatan denish atau mungkin ada satu rencana dan dukungan dibalik sikapnya yang seperti itu.
Savana yang tak banyak berkata memilih diam dan juga menuruti permintaan mamanya. Savana memang tak ingin berdebat sedikitpun atau menyuarakan suaranya, karena sejak kecil kasih sayang sinta dan daryo yang tak seimbang membuat gadis itu sedikit pendiam.
Zea yang merasakan sedikit kengiluan dengan suasana yang mencekam, apalagi saat suaminya mengeluarkan suaranya tak sedikitpun berani mengeluarkan suara. Diam hening hingga makan malam selesai dan juga meninggalkan tempat masing- masing. Tak ada yang berbeda dari hari- hari sebelumnya bahkan nenek salamah tak mengeluarkan suara saat mendengar nada marah dari cucunya sendiri.
Di kamar sinta.
"Ma, kenapa mama berbicara seperti itu? Mama membuat suasana menjadi tegang seperti ditahanan."
Ucap daryo pada istrinya.
"Mama hanya sedikit kesal."
" Kesal...? Kenapa juga mama menyuruh raina duduk di tempat duduk savana? Mama seolah tidak tahu perangai denish."
__ADS_1
"Mama lupa kalau seluruh rumah dan aset- aset angkasa atas namanya?"
"Papa tak ingin terjadi lagi seperti ini. Jangan membuat ulah! Jika mama tak ingin di usir dari rumah ini."
" Loh..., loh..., kok jadi mama yang disalahin. Papa itu pergi sesuka hati jadi tak menghiraukan mama. Lagi pula mama sudah ijin papa untuk mendekatkan raina dengan denish."
" Apaaa...., apa mama sudah gila? Bagaimana mungkin mama melakukan hal yang ceroboh?"
"Papaku tidak mungkin bersikap sembrono seperti mama, papa yakin itu hanya alasan mama."
"Tapi pa...., jika kita terus- terusan seperti ini kapan kita akan menguasai rumah ini?"
" Waktu yang akan menjawab, papa sedang berusaha mengalihkan sebagian aset atas nama kita. Mama bertindak sembrono, bagaimana kalau denish curiga? Bisa- bisa kita di usir dari rumah ini."
Daryo sangat kesal dengan sikap istrinya yang rakus dengan harta kekayaan keluarga angkasa, bahkan menguasai seluruh harta pribadi yang dimiliknya.
" Apalagi mama membawa raina ke rumah ini tanpa persetujuan papa."
"Semua mama lakukan untuk kita. Semula untuk menjodohkan raina dengan denish agar kita mudah menggenggam denish, tapi di hari yang sama ternyata denish membawa gadis yang di anggap istrinya."
Ucap sinta dengan kesalnya membanting diri di tempat tidur.
"Denish tidak semudah itu digenggam apalagi dengan seorang raina yang punya watak yang sama dengan mama.'"
"Hah..., memangnya kenapa kalau punya watak yang sama dengan mama? Seperti watak papa baik saja."
Daryo meninggalkan istrinya sendiri di kamar, memilih berendam di kamar mandi. Pulang ke rumah serasa seperti neraka baginya, tak urung kalau ia selalu memilih diluar rumah. Bersenang- senang wanita cantik bahkan dengan para kekasih gelapnya jauh lebih membuatnya bersemangat daripada dirumah yang harus berdebat dengan istrinya.
Setelahnya daryo ke lantai bawah dimana ada sebuah mini bar yang juga menyimpan beberapa minuman beralkhohol. Daryo duduk di balkon ruang mini bar tersebut menikmati minumannya di dalam heningnya malam. Sebuah suara mengagetkan daryo yang duduk menyendiri disana.
"Kau belum tidur?"
" Papa mengangetkan saja."
" Sepertinya kau sedang bertengkar dengan istrimu?"
"Benar sekali. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan wanita seperti itu?"
Ucap daryo.
" Apa kau sudah gila? Lihat saja, jika kau sampai menceraikannya papa tidak akan mengakuimu."
Ucap suryo yang terdengar sangat marah dengan perkataan putranya.
"Semua karena papa, aku menikahi wanita tak ada gunanya itu."
Ucap daryo menegak sedikit minuman ditangannya.
"Kalau tidak karena scandalmu papa tidak akan menyuruhmu menikah dengan nya. Jangan bertindak gegabah! Atau semua akan terbongkar. Apa kau mengerti?"
" Tapi dia membuatku pusing pa. Yang ada di kepalanya hanya uang dan uang. Apa dia tidak memiliki cara menyenangkan ku?"
" Kau bisa menyenangkan dirimu sendiri tanpa harus disenangkan nya."
Suryo meninggalkan daryo sendiri tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Sedangkan daryo hanya mampu menahan kekesalannya dan juga menghela nafas panjangnya. Bukan tidak mungkin suryo tidak mengetahui apa yang dilakukan daryo diluar sana dan juga apa yang diperbuat selama ini.
"Dasar wanita sialan."
Gumam daryo lirih.
Di kamar denish.
Zea duduk termenung di bawah sinar bulan redup menyinarinya, termenung memikirkan yang didengarnya beberapa jam yang lalu, bahkan saat makan malam. Bulu kuduknya berdiri ngeri bahkan merasakan ngilu disekujur tulang belulangnya saat mendengar denish bersuara. Entah apa yang terjadi di rumah itu? Sepertinya memang denish pemegang kuasa atas rumah itu, tapi mengapa sang kakek seolah tak menyukainya. Bukan tidak mungkin tersimpan rahasia tertentu di antara mereka.
Nenek salamah juga bersikap biasa saja tak menghiraukan ucapan kakek bahkan cenderung acuh. Dari penglihatan zea antara satu dan satu yang lain seperti berebut memperebutkan satu posisi di rumah ini.
Zea menghela nafas panjangnya sedikit terkejut saat sebuah tangan melingkar di bahunya, memeluknya dari belakang. Yah, siapa lagi kalau bukan suaminya denish angkasa. Seorang pria pemaksa yang beberapa minggu memaksanya menikah dengannya. Sejenak zea teringat dengan sahabatnya sania, bagaimana kabarnya? Apa dia baik- baik saja? Apa terjadi sesuatu dengannya? Dan entah mengapa pikiran buruk menghantui pikirannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan sayang? Kenapa belum tidur?"
" Sayang...? Hei..., ingat tuan kau hanya menaksa menikah denganku untuk mengubah statusmu. Jangan bilang perkataanku salah?"
" Hahahaha...., bagaimana mungkin seorang nyonya angkasa bisa berpikir seperti itu?"
"Aaa..., apa yang kau lakukan? Turunkan aku!"
Zea sedikit berteriak ketika denish menggendongnya dari kursi tempat duduknya.
__ADS_1
" Tidak."
" Aku akan berteriak."
" Teriaklah sesuka hatimu! Kamarku kedap suara."
" Kalau begitu aku akan menggigitmu."
" Gigitlah! Aku akan semakin tertantang menjinakkanmu."
" Aaaa...., buk..., buk. Turunkan!"
Zea berteriak kesal memukul punggung denish yang menggendongnya seperti memanggul beras.
Bukk...
Denish melempar tubuh zea diranjang tempat tidur, lalu mengunci pergerakan tubuhnya. Zea menatap lekat- lekat manik mata yang kini tengah menatap bola matanya, tersimpan sebuah kasih sayang padanya.
"Teduh sekali bola matanya. Terasa nyaman saat berada di dekatnya."
Gumam zea dalam hati.
"Kau mengagumi ketampananku?"
Baru saja memujinya dalam hati, kata- kata narsis yang keluar dari mulut denish membuatnya sedikit gerah dan kesal.
"Cih..., percaya diri sekali.'"
Gumam zea lirih mengalihkan pandangan matanya menoleh kesamping.
"Hahahaha..., tentu saja. Kau tidak akan percaya banyak gadis- gadis mengagumi suamimu di luar sana."
Gumam denish membaringkan tubuhnya ke samping zea.
" Lalu...,kenapa kau memilih menikah denganku? Menikah saja dengan para gadis itu."
" Hahahaha..., sungguh? Kau mengijinkannya?"
Zea semakin kesal dengan sikap denish yang sengaja menggodanya.
" Tentu saja, tapi setelah kita bercerai."
Ucap zea tersenyum memalingkan tubuhnya membelakangi zea.
" Bagaimana jika aku tidak mau?"
"Kalau begitu urungkan saja niatmu menikah dengan gadis- gadis itu."
" Hahahaha..., kau cemburu sayang?"
"Tidak."
" Benarkah? Lalu..., kenapa kau bilang urungkan saja niatku menikahi gadis lain?"
"Itu..., karena."
Zea berpikir sejenak menelaah perkataan nya sendiri merasa menyesal bahkan sedikit kesal terjebak dalam lingkaran pertanyaan denish.
"Karena apa?"
" Karena kau suamiku dan aku tidak ingin di madu."
"Hahahaha..., sama saja."
"Sama saja? Tidak."
Muach...
Saat zea membalikkan tubuhnya merasa kesal dengan denish, sebuah serangan tiba- tiba menyambar bibir mungilnya. Kecupan disertai sedikit ******* kecil membuat detak jantung zea menari- nari.
"Pengantar tidur. Selamat malam my lovely wife."
Ucap denish setelah mengakhiri ciuman nya, lalu mengecup kening zea. Sedangkan zea tak mampu berkata apa pun selain diam membisu.
Denish meraih zea ke dalam pelukannya setelah menarik selimut mereka. Zea mendongakkan kepalanya menatap wajah denish yang terlihat lelah memejamkan kedus bola mata yang disukainya. Lalu menyentuh pelan bibirnya sendiri dan tersenyum.
Bersambung😊🙏
__ADS_1