Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Sarapan pagi


__ADS_3

Zea yang memegang kepalanya yang terasa pusing menoleh samping kanan kiri seperti mencari seseorang namun tak menemukan nya.


" Selamat pagi nyonya."


" Pagi. Maaf, anda?"


" Oh maaf, perkenalkan saya bibi ha. Saya kepala pelayan yang mengurus seluruh isi kediaman angkasa."


" Saya juga pelayan pribadi tuan muda denish."


Ucap bibi ha membungkukkan setenhah badannya.


"Salam kenal bibi ha."


Zea tersenyum pada bibi ha saat memperkenalkan diri. Bibi ha tercengang dengan tingkat kesopanan zea padanya, meskipun hanya seorang pelayan.


" Bibi ha, apa denish maksudku suamiku sudah pergi?"


" Tuan muda sudah pergi sejak pagi, nyonya."


" Sarapan nyonya sudah siap."


" Terima kasih bibi ha. Sampaikan maaf zea pada seluruh keluarga karena tidak hadir dalam sarapan pagi."


" Baik, nyonya. Bibi akan sampaikan."


" Aduh..., kepalaku pusing sekali."


" Apa nyonya baik- baik saja? Bibi akan membantu nyonya."


" Tidak, bi. Terimakasih, zea hanya pusing sedikit."


" Baiklah kalau begitu. Bibi akan ke bawah menyiapkan sarapan, jika nyonya butuh sesuatu bisa memanggil saya. Tekan tombol intercom nomor lima."


" Terima kasih bi."


Zea terhuyung- huyung ke kamar mandi setelah berbincang sejenak dengan bibi ha. Bibi ha tidak memberitahu apapun hanya membawakan sarapan untuknya.


Setelah berendam agak lama dengan air hangat membuat badan zea lebih segar bahkan seakan bersemangat kembali. Melihat sarapan yang dibawakan bibi ha, zea mengerutkan dahinya bahkan membuatnya sedikit merinding. Beberapa menu makanan sangat mewah tersaji di depan nya yang seumur hidupnya belum pernah dimakannya.


" Apa aku seorang putri? Banyak sekali menu sarapan? Ingin menyantapnya tapi tak mampu tak ingin menyantapnya tapi ingin."


" Hah..., melihat makanan saja dilema apalagi melihat suamiku dengan perut six packs nya."


" Hem..., rasa ingin menyobeknya lalu memakannya."


"Tapi semua hanya mimpi."


"Bagaimana mungkin aku mendekatinya? Apalagi tinggal ditempat mewah ini?"


"Serasa seperti dalam mimpi, tapi inilah takdirmu zea. Jika tidak bisa memiliki setidaknya mempertahankan yang ada."


" Entahlah? Tapi kurasa ini salah. Hah..., jalani saja zea, mungkin ini takdir tuhan untukmu."


Zea yang berbicara sendiri menyantap sarapannya, mencicipi sedikit demi sedikit hidangan yang tersedia. Tentu saja dengan cara makan ala sultan atau bisa dibilang milioner.


Seseorang mengawasi zea melalui kamera pemantau cctv terkejut dan kagum melihat cara makan zea yang seperti itu. Tak menyangka sama sekali, zea bisa menyesuaikan sikap dimana berada saat ini.


Sebuah senyum tersungging di kedua sudut bibir orang tersebut yang tak lain adalah suami zea yakni denish angkasa yang dalam perjalanan menemui seseorang.

__ADS_1


Di ruang makan keluarga angkasa.


" Ha, apa denish dan zea belum bangun?"


Nenek salamah orang pertama yang menanyakan keberadaan cucu tersayangnya.


" Tuan muda sudah pergi sejak pagi, nyonya besar. Sedangkan nyonya muda sarapan di kamar."


Ucap bibi ha.


" Cih..., baru datang di keluarga angkasa sudah absen sarapan."


Ucap sinta sedikit menyindir juga memperlihatkan rasa tidak sukanya pada zea.


" Hah, kak denish sudah pergi? Pagi sekali."


Tanpa sadar raina ikut menimpali perkataan bibi ha tanpa disadari sebuah tatapan tajam mengarah padanya.


" Nyonya muda menyampaikan salam maafnya atas ketidakhadirannya dalam acara sarapan pagi, nyonya besar. Nyonya sedikit tidak enak badan."


" Apaa... tidak enak badan?"


Nenek salamah tercengang mendengar penjelasan ha padanya.


" Ha, kau sudah memanggil dokter?"


" Nyonya besar, nyonya muda sedikit kecapekan. Apa nyonya tak ingin segera mendengar kabar baik?"


Nenek salamah mengerti apa yang dimaksud dengan bisikan bibi ha.


"Aku mengerti. Ha, jaga baik- baik kesehatan nyonya mudamu! Berikan makanan yang bergizi untuknya dan jangan sampai kelelahan."


" Jaga baik- baik? Tidak mungkin kalau gadis miskin itu hamil"


Gumam sinta dalam hati.


" Baik, nyonya. Saya akan ke atas memeriksa keadaan nyonya."


Bibi ha pamit setelah sarapan pagi keluarga angkasa sudah siap dan juga sudah menyelesaikan tugasmya diruang makan.


Tak berapa lama kakek suryo datang ke ruang makan dimana semua anggota keluarga sudah lengkap meskipun rima dan juga daryo tak berada di rumah. Dua orang itu sering melewatkan kebersamaan keluarga dan entah kemana mereka pergi tidak satu pun keluarga yang mengetahuinya.


Bahkan istri daryo sinta pun tak begitu mempedulikan nya, apalagi rima yang memang menghabiskan waktu di luar rumah.


"Selamat pagi, pa."


Orang yang berbasa- basi menyapa adalah sinta istri daryo.


" Hem. Suamimu tidak pulang?"


" Tidak, pa. Mas daryo ada sedikit urusan."


Tak menjawab pernyataan sinta, suryo hanya mengangguk meraih secangkir kopi yang diberikan salamah padanya.


" Salamah, aku tidak melihat kehadiran cucu menantu pertama keluarga ini. Denish tak memberitahu untuk datang pada saat sarapan pagi?"


"Zea tidak enak badan."


" Tidak enak badan? Lalu denish?"

__ADS_1


" Iya, mungkin kecapekan atau juga karena bekerja keras. Denish sudah berangkat pagi- pagi sekali."


Ucap salamah mulai menyantap sarapannya.


"Hah..., kecapekan sampai tak sarapan bersama keluarga. Apa seperti ini tingkat kesopanan cucu kebanggaan?"


"Lah..., baru sehari sudah kecapekan tinggal turun saja. Sengaja kayaknya, pa."


Seperti biasa sinta akan jadi provokator setelah rima, namun rima sedang tak ada dirumah jadi sinta berkesempatan menjadi yang pertama.


"Sinta, kau tidak ingat saat pertama kali datang ke rumah ini? Kau tidak pernah hadir selama sepekan dalam sarapan keluarga."


Ucap nenek salamah membuat semua orang tercengang, apalagi kakek suryo yang tidak bisa berkata apapun karena ucapan salah menusuk tepat dijantungnya.


" Apa kau melupakan hal itu? Bahkan dengan angkuhnya kau selalu membawa sarapanmu ke kamarmu."


Deg...


Ucapan nenek salamah menghentikan aktivitas sinta menyantap sarapan paginya, bahkan makanan tersebut seakan tertahan di kerongkongannya.


"Huk..., huk."


Sinta tersedak batuk mendengar sindiran telak ibu mertuanya.


" Tante, minum!"


"Raina yakin tante tak seperti itu."


Raina memberikan segelas air minum pada sinta, namun bukan menghilangkan batuknya tetapi membuatnya semakin menjadi hingga membuat sinta harus pamit undur diri.


Raina menatap heran pada tantenya yang pergi begitu saja tanpa bicara menjelaskan perkataan nenek salamah padanya.


"Cih..., baru segitu saja sudah pergi."


Ucap nenek salamah.


Sedangkan savana maupun vania memilih segera pergi agar tak terlibat dalam amukan singa betina keluarga angkasa. Mereka yang sudah hafal bagaimana nenek salamah mengeluarkan taringnya, memilih bergegas pergi meninggalkan ruang makan.


Raina kembali menatap heran dengan sepupunya dan juga putri kedua angkasa, vania yang juga pergi secara tiba- tiba.


"Apa ucapan nenek benar? Masa iya tante sinta seperti itu?"


Gumam raina dalam hatinya.


"Nak, makanlah!"


Mirna mengerti kecanggungan raina berusaha menenangkannya. Dengan sedikit gugup, raina tersenyum canggung dan juga terpaksa bergabung dengan ketegangan diruang makan akibat ulah tantenya.


" Rencanaku mendekati kak denish bisa gagal kalau tante bertindak ceroboh."


Gumam raina dalam hati.


"Bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkan kak denish?"


"Kesempatan ini tidak boleh gagal."


Raina tersenyum sinis saat masih berada di meja makan hingga tak menyadari seseorang sedikit menatap keanehan wajah raina.


Sarapan pagi yang hanya beberapa orang saja, usai setelah kakek suryo bergegas meninggalkan meja makan berjalan menuju paviliun belakang yakni sebuah rumah kecil yang sering digunakan sebagai tempat bersantai atau pun tea time dari rumah utama.

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2