
Malam itu merupakan malam ultimatum ysng sangat berat bagi tejo dan istri nya serta anak gadis yang di miliki nya .
Pemilik perkebunan teh dimana ia bekerja selama ini memberinya peringatan untuk segera melunasi hutang nya jika dalam beberapa hari tidak melunasi nya sebagai jaminan adalah anak gadis nya harus rela menjadi istri ketiganya .
" Bagaimana ini pa ? Kita tidak mungkin memberikan anak kita . Dia masih terlalu muda sedangkan pak broto kan sudah tua ."
Ucap mery pada suami nya .
" Aku tidak rela anak ku menjadi istri pak broto ."
" Lagipula ini salah bapak kenapa masih ngutang pada nya ."
" Begini akibat nya ? "
Omelan mery semakin membuat tejo pusing dan juga tak berkata apa pun .
" Coba kalau papa tak memberikan rumah itu pada nurma , pasti bisa kita jual membayar hutang hutang kita."
Seketika tejo menatap tajam istri nya ingin rasanya menggampar mulut istri nya yang tidak tahu malu itu .
" Heh,,, ma , hutang itu semua karena mama dan venya yang begaya hidup mewah . Sudah tahu papa cuma seorang mandor perkebunan masih tak bisa merubah kebiasaan. "
Ucap tejo.
" Lagi pula itu rumah pribadi nurma dari orang tua nya , bagaimana mungkin aku meminta nya ? Yang ada aku dilaporkan polisi tuduhan merampas milik orang lain."
Tejo semakin kalap dengan perangai istri nya.
" Oh ,,,jadi papa nyalahin mama ? Nyesel mama menikah sama papa yang tak punya apa apa ."
Mery menyahut ucapan tejo secara reflek dan berdiri berkaca pinggang .
" Aku juga nyesel menikah dengan mu seorang model tapi juga kere."
Begitupun tejo yang kesal dengan sikap istri nya.
" Kalau begitu kita bercerai saja , mama akan cari pria yang lebih kaya ."
" Ya,,,ya,,,, ya,,, silahkan ! Aku juga senang tak mikirin hutang lagi dan pasti nya anak mu lah yang akan membayar hutang mu . Kau pikir atas nama siapa kalau bukan nama venya."
Ucap tejo memicingkan mata nya pada mery.
" Apaa,,,, jadi kau mengatasnamakan venya ? Dasar ,,,,."
" Huahem,,,,,.Ma,,, pa,,ada apa sih ribut ribut malam seperti ini ? Malu di dengar tetangga ."
__ADS_1
Veny yang yang semula tidur terbangun mendengar suara berisik kedua orang tua nya .
" Venya,,,, . Ini papa mu bikin ulah lagi ."
Tejo tak menanggapi istri nya memilih masuk ke dalam kamar nya .
" Hah,,, mama dan papa sama aja . Apa tidak bisa tidak bertengkar sehari saja ? Venya pusing dengar nya."
" Venya , apa kamu tahu hutang hutang di tempat pak broto atas nama mu ?"
Venya berbalik pada mama nya menatap dengan kesal nya .
" Memang venya yang kasbon dengan pak broto . Memang nya uang dari papa cukup untuk biaya hidup venya ? Biaya kuliah , ke salon ,pakaian ,uang jajan , bahkan untuk makan di restoran saja tidak cukup."
Ucap venya meninggalkan mama nya .
Derrr,,,
" Hah,,, dasar materialistis."
Mery tak menyangka sifat material nya menurun pada putri nya .
" Bagaimana ini ? apa aku harus minta tolong pada ayah nya venya ? Apa dia mengakui kalau venya anak nya ? "
Gumam mety .
" Menikah dengan aryo yang sekarang jauh lebih baik dan juga dia ayah kandung nya venya dari pada dengan tejo ."
" Baru menikmati kekayaan nya sebentar sudah di pecat , fasilitas kantor di cabut semua."
" Mery ,,,mery ,, sial bener hidup mu ."
Mery berbicara sendiri diruang tengah meskipun suami dan anak nya meninggalkan nya sendiri di dalam kamar.
" Bagaimana ini ? Venya akan menikah dengan pak broto . Kasihan sekali kamu nak ."
" Tidak ,,,tidak,,,tidak,,,,ini tidak boleh terjadi . Setidak nya dia harus menikah dengan orang yang lebih kaya ."
" Eh,,,, bukankah tejo punya anak perempuan ? Dia saja yang menikah dengan pak broto , dengan begitu rumah itu aku jual untuk pindah dari kota ini ."
" Tapi bagaimana kalau tejo tidak setuju ? Aku harus merayu nya , laki laki seperti dia hanya butuh sekali goyangan untuk menjinakkan nya . Seperti yang ku lakukan sampai saat ini , terbukti tejo selalu menuruti keinginan ku kalau sudah mendapatkan mau nya."
Ide cemerlang yang muncul di kepala mery yang memang patut di acungi jempol bahkan wanita itu yang mempengaruhi tejo untuk membenci istri nya.
" Pa,,,,."
__ADS_1
Tejo tak menjawab panggilan istri nya karena terlalu kesal dengan sikap mery membiarkan nya berbicara semaunya dan memilih untuk tidur .
" Paaa,,,, maafin mama ."
Lagi lagi kata itu yang selalu didengar dari mulut mery saat dia mengulangi kesalahan yang sama .
Tak mendapat jawaban dari suami nya , mery melancarkan aksi nya seperti biasa membuat sang suami klepek klepek pada nya .Kalau sudah seperti ini , tejo tak mungkin menolak nya bahkan hingga dini hari keperkasaan tejo belum juga kendor sedikitpun .
Tetap memompa istri nya hingga membuat istri nya menikmati setiap sentuhan tejo. Meskipun usia mereka sudah tergolong paruh baya namun masih seperti anak muda.
Itu lah yang membuat tejo bertahan selama ini dengan mery karena dia mampu mengimbangi kegiatan sexual nya yang sedikit menyimpang begitu pun dengan mery.
" Pa, bagaimana kalau kita ambil saja velya dari nurma ?"
Tejo tak berpikir ide istri nya masuk akal .
"Untuk apa ? Kamu kan tahu kondisi keuangan kita sedang nggak baik. Nambah beban saja."
Ucap tejo.
" Eh,,, papa jangan begitu . Kita bisa memanfaatkan nya mencari uang untuk melunasi hutang hutang kita atau juga bisa untuk menggantikan venya."
" Jika nurma tak mau memberikan velya kita bisa meminta rumah yang mereka tempati dan kita jual ,pa."
Senyum sumringah muncul menghiasi wajah tejo yang mengangguk tersenyum .
Ide buruk yang dikatakan mery terbukti bisa mempengaruhi jalan pikiran tejo dan menyetujui nya begitu saja.
" Kau benar ,,,, memang istri ku yang paling cerdas."
Ucap tejo .
" Tapi bagaimana kalau nurma menolak nya ?"
" Gampang , serahkan saja pada mama."
" Baiklah besuk kita pergi ke rumah nurma. Sekarang kita tidur dulu , bangun tidur aku ingin satu ronde lagi ."
Ucap tejo.
" Hah,,,, dasar kakek buaya ."
Umpat mery dalam hati nya.
Mery merasa menang telah berhasil mempengaruhi tejo suami nya menuruti permintaan nya. Mery akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan nya .
__ADS_1
Bersambung 😊🙏