Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Unboxing


__ADS_3

Zea tak sengaja mengeluarkan suara ******* nya saat denish bermain- main disana. Setelah puas dengan kesenangan nya, denish pun kembali meninggalkan nya saat dalam mode on. Zea menatap lelaki itu yang berjalan ke arah pintu dimana ruang kerjanya berada.


Meskipun zea juga berharap menjadi istri yang sempurna untuk suaminya, tetapi zea tak mungkin mengakui perasaan nya begitu saja.


"Hah..., dasar laki- laki."


"Eh..., ponsel baru? Untuk siapa? Untuk ku kah?"


Zea tak sengaja melihat sebuah ponsel tergeletak di ujung sudut meja rias nya.


"Eh..., pakai sandi wajah ku?"


Setelah mencermati ponsel keluaran terbaru yang ada di sudut meja, zea menghela nafas panjang yang mana ponsel limited edition itu hanya memiliki tiga kontak saja.


"Ada kontak sania. Hihihi..., aku ingin menelepon nya."


"Pasti perutnya sudah membuncit."


Zea menekan tombol panggil pada kontak yang bertuliskan sania, yakni sahabat masa kecilnya itu.


"Hallo."


"Heh..., ini aku lah zea."


"Tega sekali kau melupakan ku?"


"Iya. Bagaimana dengan perutmu? Sudah membuncit? Aku ingin mengusap perutmu."


"Ingin juga merasakan hal yang sama."


Sepasang mata yang tengah menatapnya tersenyum padanya tanpa disadari zea yang tengah berbaring di tempat tidur.


"Bagaimana rasanya ya?"


"Hihihi..., aku takut."


" Yah... Dia memang beberapa kali mencoba mendekatiku, tapi setelah mode on dia pergi begitu saja."


"Apaa...., aku yang harus merayu nya? Tidak. Seperti tak punya harga diri saja, masa perempuan harus merayu lelaki?"


"Ingin seperti mu, suami mu bersikap romantis."


"Eh..., tunggu tunggu tunggu! Bagaimana kalau dia penyuka sesama jenis?"


Dahi denish mengerut ketika mendengar sang istri sedang membicarakan nya dengan teman nya.


"Tidak, aku tidak melihatnya secara langsung tapi dia selalu pergi saat sudah mode on."


"Aaaa...."


Zea terkejut hingga berteriak saat merasa sebuah tangan menyentuh salah satu bagian tubuhnya. Dan denish dengan cepat menutup sambungan telepon itu saat tepat berada di atas tubuh zea. Gadis itu tercengang merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ia mengira denish tidak akan kembali ke kamar hingga berani berbincang dengan sania melalui sambungan telepon.


Rupanya denish sangat geram dengan zea saat membicarakan nya dengan sahabat nya yang mengira kalau dia penyuka sesama jenis.


"Kau mengira aku penyuka sesama jenis?"


Deg...


Detak jantung zea berdegup sangat kencang ketika pertanyaan yang sama dilontarkan denish persis seperti yang dikatakan nya pada sania.


"Hihihi..., tidak. Aku hanya bercanda."


"Bercanda?"


"He'em."


Sekali lagi denish meninggalkan zea dalam keterkejutan nya, berjalan menuju arah pintu kamar.


Zea mengerutkan dahinya saat melihat denish mengunci pintu tersebut.


"Aaa..., habislah aku. Apa yang akan dia lakukan?"


Gumam zea dalam hati.


Tak berkedip menatap denish dari ujung kepala hingga ujung kaki, wajah denish yang tampak dingin bahkan terlihat sangat marah.


"Mau apa dia?"

__ADS_1


"Jangan- jangan dia akan membunuh ku, tidak tidak tidak."


"Bukankah aku istrinya? Tidak mungkin dia akan berbuat seperti itu."


"Lalu..., apa yang akan dilakukan?"


Belum sempat zea sadar dari seluruh lamunan nya, denish sudah berada di atas tubuhnya.


"Aaa..., kau mau apa?"


Ucap zea yang terkejut dengan pergerakan denish.


"Mau apa?"


Denish mendekatkan wajahnya tersenyum devil pada wajah zea hampir tak ada penghalang sama sekali.


"Tentu saja membuktikan aku penyuka sesama jenis."


Ucap denish mengedipkan sebelah matanya tersenyum devil.


"Tidak..., aku hanya bercanda."


"Bercanda?"


"He em, sania yang bilang begitu."


Gumam zea lirih.


"Sania? Kau mau membuktikan nya?"


Deg...


Kegugupan zea membuat nya bicara sembarangan hingga tak sadar membahayakan sahabatnya sendiri.


"Tidak tidak tidak, aku yang salah. Jangan apa- apakan dia! Kasihan keponakan ku dalam perutnya."


Ucap zea mengalungkan kedua tangan nya ke leher denish.


"Jadi..., kau sudah siap?"


"Sudah siap apa?"


"Tidak, bukan begitu."


Zea tak sempat melanjutkan kata- katanya saat denish membungkam bibir mungil miliknya.


Detak jantung zea berdegup kencang merasa sedikit tak karuan, bahkan seperti pacuan kuda saat menerima serangan tiba- tiba dari denish. Bukan hanya ciuman panas saja, tetapi kali ini tangan denish menyentuh lembut salah satu benda kenyal tanpa penghalang apa pun disana.


Zea memang belum sempat memakai pakaian nya setelah melihat sebuah ponsel tergeletak di meja rias.


Beberapa kali zea mengeluarkan ******* syeitan saat denish mengalihkan permainan nya pada dua squisy zea.


Tak berhenti sampai disana saja, seakan terbuai dengan sentuhan dan belaian sang suami zea tak menyadari bathrobe itu sudah terbuka lebar.


Seketika zea menutup dada nya terutama kedua squisynya dengan satu tangan nya dan tangan yang lain menutup bagian sensitif lain nya.


"Kenapa ditutupi? Aku sudah melihat semuanya, bahkan mencicipinya."


Ucap denish sedikit tersenyum yang sebenarnya membuat wajah zea merona menahan malu.


''Boleh?"


Zea menatap tajam ke arah manik mata denish yang saat ini tengah menatap nya dengan sangat lekat yang kini tengah meminta ijin padanya.


Beberapa saat zea bergulat dengan alam pikiran nya, memilih jawaban antara ya dan tidak. Zea teringat beberapa kata yang di ucapkan sahabatnya hingga membuat kesadaran nya kembali.


"Banyak pelakor di luar sana."


Seketika zea mengangguk pelan menatap manik mata dan wajah sang suami yang terasa lekat dengan nya.


Kode jawaban yang diberikan zea membuat denish sedikit tersenyum dan bersemangat mendengarnya.


"Aku takut."


Kedua tangan zea memegang kedua lengan denish yang tengah bersiap dengan mode on miliknya.


"Aku akan pelan."

__ADS_1


Denish kembali mencium bibir mungil zea yang memberikan sensasi berbeda padanya, tapi kali ini zea ikut menikmati setiap sentuhan yang diberikan denish.


Bibir zea tak mampu mengeluarkan suara hanya mampu menahan sakit mencakar punggung denish, saat denish menembus batas miliknya. Bahkan keluar airmata di kedua sudut mata zea.


Denish membenamkan diri sejenak menyeka air mata tersebut membiarkan sang istri merasa tenang dan nyaman.


Menunggu beberapa waktu denish berhasil melakukan unboxing pada gadis yang mencuri hatinya saat pandangan pertama. Ketika zea menghindari kejaran anak buah denish, tak sengaja menabrak denish dan mencium kilas bibir denish.


Semula denish mengira zea seorang laki- laki jadi- jadian hingga membuatnya marah dan geram tapi ternyata seorang wanita yang tengah menyamar menjadi laki- laki.


Zea tak berdaya terkapar ditempat tidur setelah mendapat serangan denish yang berrtubi- tubi hingga membuatnya tertidur kembali.


Denish tak henti- hentinya tersenyum menatap wajah lelah istrinya yang rupanya menjaga mahkota miliknya untuknya. Sejak saat itu denish bertekad menjaga gadis yang telah menjadi istri sepenuhnya itu.


"Terima kasih, kau memberikan mahkota mu untuk ku."


Gumam denish mencium pucuk kening zea yang tengah tertidur pulas.


"Aku berjanji akan menjagamu dari bahaya apa pun."


Setelah itu, denish meninggalkan sang istri yang tengah tertidur pulas menyelimuti gadis itu agar terhindar dari dingin nya ac yang saat ini menyala.


Denish membersihkan diri lalu berniat mengambil beberapa makanan untuk zea dan juga dirinya yang merasa lapar.


"Tuan, dimana non zea? Kok sendirian?"


"Di kamar mbok, masih tidur. Tolong siapkan beberapa makanan untuknya!"


"Masih tidur? Tumben jam segini masih tidur? Biasanya non sudah bangun."


"Semalam tak bisa tidur, kakinya terasa nyeri."


"Oh begitu. Tapi tidak demam kan tuan? Bibi khawatir non akan demam."


"Tidak, mbok. Zea baik- baik saja."


"Hah..., syukurlah."


Mbok ijah berlalu menyiapkan beberapa menu makanan yang diminta denish yang saat ini tengah menikmati sarapan paginya meskipun agak terlambat karena olahraga paginya.


Mbok ijah membawa nampan berisi makan kesukaan zea, berlalu melewati denish yang sedang menyantap makanan nya.


" Mbok, biar denish yang membawanya."


"Tapi tuan belum selesai sarapan nya."


"Tidak apa- apa."


"Baiklah, tuan."


Mbok ijah meletakkan nampan tersebut disamping denish, tak sengaja melihat warna merah di leher panjang denish.


Mbok ijah mengerutkan dahinya khawatir terjadi sesuatu dengan tuan nya.


"Eh..., leher tuan kenapa? Alergi?"


Wajah denish mendadak pucat pasi setelah mendengar mbok ijah menanyakan bekas merah di lehernya. Denish mengingat zea sempat menggigit lehernya saat bergulat bersamanya.


"Tidak, mbok. Mungkin gigit nyamuk."


Denish mempercepat laju makan nya tak ingin mendapat pertanyaan yang lebih intim dari mbok ijah.


"Gigit nyamuk? Tapi kenapa melebar? Jangan- jangan tuan ada gejala alergi."


"Tidak, mbok. Nanti juga hilang sendiri."


Ucap denish meninggalkan ruang makan membawa nampan yang berisi makanan.


"Ih..., mbok kayak nggak pernah muda saja."


Ucap mang kasim yang tiba- tiba ada dibelakang nya.


"Pernah muda?"


Deg...


Detak jantung denish berdegup kencang saat mang kasim menyinggung hal tersebut, bukan berarti mereka tidak tahu hal yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


Bersambung🙃🙏


__ADS_2