
"Daryo..., kau harus segerake rumah sakit."
"Istrimu pingsan keracunan makanan."
"Hei..., dasar pecundang!! Tinggalkan semua kebiasaan mu itu!"
"Atau aku akan mencabut fasilitasmu!"
Suryo memutus sambungan telepon kesal dengan jawaban putranya.
"Dasar anak tak tahu diri. Bagaimana mungkin aku bisa memiliki putra sepertimu?"
"Berbeda sekali dengan danu. Yang lebih menghargai orang tua."
Rasa kesal ditumpahkan nya dengan beberapa kali menggebrak meja kerjanya sendiri.
Lalu ia pergi ke gudang belakang mengerjakan sesuatu yang lebih penting.
Di rumah sakit.
Raina berjalan mondar mandir tak tentu arah setelah mendengar petugas kesehatan menyatakan sinta keracunan. Pikiran nya melayang pada kotak makan yang telah ia beri sedikit serbuk di dalam nya.
"Bagaimana bisa?"
"Jangan- jangan tante memakan makanan yang ada di kotak itu."
"Aaaa...., bisa gawat kalau terjadi."
"Aku gagal mendapatkan berlian, apalagi impian ku menjadi nyonya denish angkasa akan sirna begitu saja."
"Tante..., kenapa bisa makan di dalam kotak itu sih?"
"Aku harus segera pulang memeriksanya, jika tidak bisa gagal semua rencana ku."
Memikirkan yang terjadi membuatnya pusing, raina berniat pulang ke rumah kediaman angkasa setelah menunggu beberapa petugas medis yang tak kunjung keluar dari ruang gawat darurat.
"Aaaa."
"Raina..., bagaimana tante mu? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Rupanya raina menabrak seseorang yang tak lain adalah om daryo suami dari tante sinta.
"Masih di tangani om."
Ucap raina.
" Raina kurang tahu apa yang terjadi, om. Tapi sewaktu raina ke kamar tante, tante sudah tergeletak di lantai."
Raina melanjutkan ceritanya yang merupakan jawaban dari pertanyaan daryo padanya.
"Raina pulang sebentar ya, om. Raina belum sempat mandi tadi, gerah banget."
Ucap raina.
"Hah..., belum mandi saja wangi apalagi kalau sudah mandi."
Gumam daryo dalam hatinya.
"Baiklah, raina. Terima kasih sudah membantu om menunggu tante mu."
"Iya, om. Sudah sepantasnya begitu."
Raina berhasil membuat alasan meninggalkan rumah sakit. Bukan hanya sekedar alasan melainkan ingin mencari bukti kalau kecurigaan nya salah.
Jika memang terbukti sinta makan dari kotak makan tersebut dan ada orang yang mengetahui kalau dia menaburkan sesuatu di atas makanan tersebut, akan membuat nya tersingkir bahkan bisa terancam berada di balik jeruji besi.
Raina dengan cepat memesan taksi online mempercepat tujuan nya sampai di kediaman angkasa. Rasa cemas menyelimuti langkahnya tak sadar hampir saja menabrak sebuah tiang.
"Aaah."
"Raina kau harus tenang. Aku yakin tak ada seorang pun yang melihat kejadian itu."
Gumam raina yang berhenti sejenak menarik nafas dalam- dalam, setelahnya berjalan normal seperti biasa.
Bibi ha secara kebetulan membersihkan kamar sinta yang berserakan dan juga sisa bekas makanan yang ada dikotak makan. Bibi ha mengambil makanan tersebut untuk mengambil sample racun atau bubuk apa yang ditaburkan raina secara sengaja di atas makanan tersebut.
Beruntung bibi ha bergerak dengan cepat sebelum akhirnya bibi ha melihat raina yang mengendap- endap ke kamar sinta.
Raina yang baru saja pulang dari rumah sakit tak langsung mandi seperti yang dikatakan pada daryo, melainkan ke kamar sinta mencari sesuatu yang di inginkan nya. Raina hanya beralasan untuk mengamankan barang bukti yang mungkin saja masih tertinggal.
"Kemana? Kenapa tidak ada? Apa tante memakan habis makanan itu?"
Gumam raina.
"Atau sudah di bersihkan?"
__ADS_1
"Kelihatan nya kamar tante tak sebersih ini sewaktu aku masuk tadi sore."
"Aduh..., mati aku."
"Ah tidak, tenang raina. Mungkin tante sudah memakan habis makanan itu. Dan juga kalau tidak habis pasti sudah dicuci bersih."
"Hah..., leganya. Ini bisa jadi keberuntungan ku."
Senyum lega terpancar di wajah raina tanpa sadar seseorang tengah memperhatikan nya.
"Nona, apa anda membutuhkan sesuatu?"
Deg...
Raina melupakan sesuatu yakni para tamu yang menginap harus mengikuti aturan kediaman angkasa. Dan tentu saja, tanpa ijin pemilik kamar raina dilarang masuk ke kamar pribadi sinta. Ia melupakan hal itu yang bahkan sinta kini tengah berada di rumah sakit.
"Ah..., tidak bi. Aku hanya mencari alat make up yang dipinjam tante saja."
"Alat make up?"
" Iya, kemarin tante meminjam brush. Iya brush raina."
"Tapi kenapa anda disana? Bukankah alat make up ada di meja rias?"
Ucap bibi ha menunjuk meja rias yang arahnya berlawanan dari tempat raina berada.
"Iya, bi. Raina tahu, barangkali tante tak menyimpan nya disana. Karena tadi sudah aku melihat nya tapi tidak ada."
"Benarkah?"
"Iya, bi. Biarlah, lain kali saja raina ambil menunggu tante pulang dari rumah sakit."
Ucap raina berjalan meninggalkan kamar sinta.
"Bagaimana kalau nyonya sinta tidak pulang? Dan tidak selamat? Nyonya sinta punya riwayat penyakit akut."
Deg...
Ucapan bibi ha membuatnya sedikit tercengang bahkan langkah raina terhenti mengingat serbuk itu memang kadar dosis tinggi.
"Apa maksud bibi?"
"Nona tidak tahu? kalau nyonya sinta pernah menderita penyakit lambung."
Deg...
Gumam raina dalam hati.
"Bagaimana kalau yang dikatakan bibi ha benar?"
"Aaa..., aku menjadi seorang pembunuh yang kedua kalinya."
" Bagaimana ini? Aku tak mungkin berdiam diri, yah... aku harus ke rumah sakit memastikan tante baik- baik saja."
"Nona..., nona raina..., nona raina."
"Ah..., iya bi. Ada apa?"
Panggilan serta sentuhan tangan bibi ha membuyarkan lamunan raina. Karena perkataan bibi ha membuatnya memikirkan yang telah terjadi.
"Tidak. Apa anda masih membutuhkan sesuatu? Kenapa anda masih berdiri disini?"
Ucap bibi ha.
"Tidak, bibi. Aku akan pergi ke kamar ku."
Ucap raina sedikit gugup yang ternyata ketahuan sedang melamun. Sedangkan bibi ha kembali merapikan kamar sinta.
Rupamya raina tak tenang setelah mendengar perkataan bibi ha kalau tantenya mempunyai penyakit lama. Setelah membersihkan diri, raina bergegas ke rumah sakit.
Berbeda dengan daryo yang mendapat kabar dari pihak ugd kalau istrinya memang benar j
keracunan makanan. Beruntung sinta segera dibawa ke rumah sakit, jika tidak entah nyawanya bisa tertolong atau tidak. Karena riwayat penyakit lambung yang di deritanya.
Sinta sudah siuaman dan dipindahkan ke ruang rawat inap juga harus dirawat di rumah sakit beberapa hari untuk memulihkan kondisinya serta mengawasi pola makan serta makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Kurang ajar. Apa ha tak mengawasi makanan yang disajikan?"
"Atau bahan makanan yang tersedia?"
"Bagaimana mungkin sinta keracunan makanan?"
"Aku harus memeriksa sendiri ke dapur, kalau perlu memecat chef yang membuat makanan."
Gumam daryo. Sinta masih terbaring lemah tak berdaya dan tak sanggup mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Sudahlah. Bukan salah mereka. Aku yang tidak hati- hati makan."
Ucap sinta lirih.
"Tidak bisa begitu. Nyawamu hampir melayang karena nya."
"Aku juga tidak tahu, setelah makan dari kotsk makan perutku terasa sakit."
"Baiklah. Kau istirahatlah! Aku akan pulang sebentar mengambil perlengkapan mu. Domter mengatakan kau harus menginap beberapa hari disini."
Sinta mengangguk pelan.
Daryo meninggalkan sinta sendiri setelah berpamitan padanya, pulang ke rumah kediaman angkasa. Tempat yang ingin dituju saat sampai dirumah adalah dapur dan juga chef yang memasak makanan itu.
Meskipun hubungan mereka tidak harmonis seperti pasangan lain nya, tetapi daryo tetap menjaga keutuhan rumah tangga nya.
"Bi..., bibi..., bibi."
Dengan setengah berteriak daryo mencari keberadaan bibi ha. Dia hanya ingin membuat perhitungan atas apa yang terjadi pada istrinya, sinta.
"Ada apa tuan? Kenapa anda berteriak seperti itu?"
Ucap bibi ha yang keluar dari dapur karena memang disibukkan dengan urusan makan malam.
"Ada apa? Kau masih bertanya seperti itu setelah istriku mengalami keracunan."
"Apa nyonya sinta baik- baik saja?"
"Baik- baik saja? Sinta hampir kehilangan nyawanya setelah makan dari kotak makan."
"Ganti chef dapur dengan yang baru!"
Dengan nada geram daryo setengah mengamuk di depan dapur.
"Apaa..., diganti? Maaf tuan, apa salah saya sehingga pekerjaan saya di berhentikan?"
Chef dapur yang tak sengaja mendengar percakapan bibi ha dan daryo mendekati keduanya menanyakan lebih jelas.
"Salah kamu? Hebat, sudah mengetahui kesalahanmu tapi masih pura- pura tidak tahu."
Tampaknya daryo semakin geram dengan sikap kedua nya.
"Tapi tuan, saya benar- benar tidak tahu."
"Aku tidak mau tahu, singkirkan dia dari hadapan ku."
Daryo pergi begitu saja tanpa mempedulikan pengakuan kepala chef yang bertahun- tahun kerja di kediaman angkasa.
"Ketua ha."
" Tenanglah! Tidak akan terjadi sesuatu pada pekerjaan mu, kembalilah bekerja."
" Terima kasih ketua."
Setelahnya, bibi ha beranjak menemui daryo yang saat ini bersantai di mini bar meneguk segelas wine.
"Tuan."
" Ada apa bibi ha? Apa kau ingin membeka chef itu? Atau kau ingin mengatasnamakan mama untuk membelanya?"
Ucap daryo dengan garang.
"Tidak, tuan. Sama sekali tidak. Tapi tuan harus melihat ini."
Bibi ha memberikan layar ponselnya pada daryo. Sementara daryo masih belum mengetahui mengapa bibi ha memberikan ponselnya padanya.
Daryo terkejut melihat seorang yang dikenalnya mengambil kotak tersebut lalu menaburkan sesuatu pada makanan tersebut. Tak menyangka dan menduga apa yang dilakukan raina selaku ponakan sinta pada istrinya.
"Apaa..., gadis ini? Ah..., tidak mungkin. Mungkin ia menaburkan garam, mana mungkin keponakan istriku tega meracuni tantenya."
"Lihatlah hasil laboratorium ini, tuan! Saya mengirim sample makanan yang masih tersisa di dalam kotak makan tersebut, dan hasilnya memang terkandung serbuk yang berbahaya."
"Jika orang lain yang memakan nya mungkin hanya akan mengalami sakit perut biasa, tapi nyonya sinta mempunyai riwayat penyakit dalam tuan."
Apa yang dikatakan bibi ha ada benarnya dan juga hasil laporan tersebut tidak mungkin salah, tapi untuk apa raina meracuni istrinya? Kepala daryo berputar keras memikirkan hal itu.
"Bi, kirimkan potongan video ini padaku! Dan jangan beritahu seluruh anggota keluarga apalagi istriku! Dia akan sangat kecewa jika mengetahuinya, juga akan mengganggu kesehatan nya."
Ucap daryo.
" Baik, tuan."
Bibi ha pergi meninggalkan datuo setelah mengirim potongan video tersebut.
Daryo tersenyum tipis memikirkan sesuatu yang ada di depan nya, yakni rencana licik yang ada di kepalanya.
__ADS_1
Bersambung😊🙏