
Zea ketiduran di ruang tengah bahkan sangat pulas tak menyadari kalau nico sudah kembali dari kantor nya . Sengaja membawa makanan untuk zea dan juga menemani nya meskipun hanya sebentar.
" Kau imut sekali saat tertidur, tapi mulutmu judes ketika bangun."
Nico menatap nanar zea yang tampak kelelahan tidur di kasur bulu yang ada diruang tengah.
" Zea,,,, zea ,,, sayang."
Zea tak bergerak sama sekali bahkan semakin meringkuk merasa hawa dingin yang menusuk kulit tulangnya.
Nico memilih menunggu zea bangun, duduk di sofa membuka layar laptop nya mengerjakan pekerjaan yang masih tertunda .
Sesekali melirik zea yang terlihat meringkuk kedinginan nyala kipas yang menyala diruangan tersebut.
Nico melepas jaketnya menyelimuti tubuh bagian atas zea , meskipun tak semua nya tetapi cukup menghangatkan .
Nico tak ingin bersikap lancang masuk ke kamar tanpa ijin apalagi zea sedang tertidur pulas.
" Euggghhh,,,,,."
Tampak zea menggeliat beberapa kali bergerak merubah posisi kesamping kanan kiri .
Sebelum mata nya terbuka , zea masih meringkuk di bawah hangat nya jaket nico.
" Jam berapa sekarang ? Aku lupa menyalakan lampu ."
Zea mendongakkan kepala nya yang masih dalam keadaan berbaring melihat ke atas terkejut dengan hadirnya sosok hitam diatas nya.
" Aaaaaa,,,,, hantu ,,,, tolong hantu ."
" Tolong,,,,."
Gerak reflek zea bangun hendak berlari namun ia seakan melupakan kakinya yang tengah sakit .
" Auw,,,, ."
Zea memegang pergelangan kakinya meringis kesakitan .
" Sakit ,,,?"
Zea mendongakkan kepala nya merasa sedikit gemetar , entah kenapa zea merasa ketakutan tak seperti biasanya ia yang seorang pemberani .
Jauh di lubuk hati zea yang paling dalam tengah bersiap untuk lari dari tempat itu meskipun kakinya sedang sakit namun zea harus menyelamatkan diri .
Pikiran buruk tengah menghantui zea , entah karena kesedihan nya atau mungkin karena zea tak biasa tidur sore .
" Dalam hitungan ketiga aku harus lari , yah lari."
Gumam zea dalam hati nya .
" Satu,,,, dua ,,,,ti,,."
" La,,,,,. Kau,,,? Bagaimana kau bisa masuk ke dalam rumah ?"
Zea setengah tertegun melihat wajah datar nico yang tampak heran dengan sikapnya.
" Apa kau tak ingat pintu rumah mu terbuka ?"
Nico menunjuk dengan jari tangan nya ke arah pintu rumah yang memang terbuka.
Zea mengikuti arah jari yang memang menunjuk ke arah pintu .
" Hingga kau tak menyadari kunci rumah masih ada disana. "
Ucap nico sekali lagi mengingatkan zea.
__ADS_1
" Oh ,,, iya , aku lupa menutup pintu tadi setelah. pak rt pulang."
Zea menyesali kecerobohan nya menundukkan kepala nya.
" Ceroboh . Bagaimana kalau orang jahat datang ? Melihat mu tidur lalu memanfaatkan mu mengambil semua barang barang dirumah ?"
Zea tampak termenung dengan apa yang dikatakan nico dan memang benar apa yang dikatakan nya.
" Barang hilang bisa dibeli lagi , tapi bagaimana kalau penjahat itu memperkosamu ?"
Deg,,,,
Zea tertegun dengan dengan ucapan nico , ia hampir tak berpikir ke arah sana bahkan sama sekali tak memikirkan hal yang begitu penting untuk nya.
" Maaf, aku ceroboh ."
Ucap zea merutuki kebodohan nya sendiri dan menyesali apa yang terjadi.
" Sudahlah ."
" Aaaa,,,. Kau mau apa ?"
" Tentu saja membantu mu . Memang nya mau apa ? Apa pikiran mu sedang kotor ? Menilaiku melakukan hal yang sama ."
Ucap nico melirik zea yang tengah menatapnya .
" Bukan,,,, bukan begitu maksud nya ."
Zea merasa bersalah atas kecurigaannya yang memang apa yang dikatakan nico benar adanya.
" Lalu ,,, apa maksudnya kau mau apa ?"
Zea diam membisu tak bisa menjawab apa yang dikatakan nico pada nya.
Nico mengambil piring dari dapur di rak lemari tempat piring piring tertata rapi, lalu memindahkan lauk pauk beserta nasi ke dalam beberapa tempat yang ia ambil dari dapur.
Zea tampak diam membisu dengan tatapan kosong nya.
"Zea,,,zea ,,,, kau melamun lagi ?"
Zea tampak diam membisu menatap makanan di depan meja nya hampir tak menyangka cowok dingin seperti nya begitu detail memperhatikan nya.
" Eh,,,eh,,, iya . Ada apa ?"
Zea gugup saat sadar dari lamunan nya bahkan saat bryan tersenyum memperhatikan nya.
" Makan ,sayang "
" Iya,,,."
Sesuap dua suap , zea menghentikan tangan nya .Entah apa yang dipikirkan nya tapi ingatan nya hanya pada ibunya dan juga hutang begitu banyak .
" Kenapa ? ingat ibu ?"
Zea menoleh manatap nico yang ternyata mengetahui apa yang ada di otak nya dan sedang dipikirkan nya saat ini.
Zea tak menjawab melainkan hanya mengangguk pelan.
" Zea ,,, jika kamu tidak makan bagaimana kamu bisa sehat dan kerja cari uang untuk ibu mu ?"
Deg,,,,
Sekilas zea menatap wajah nico , menghela nafas panjang nya bahwa apa yang dikatakan nico memang benar .
" Lalu jika kau sakit bagaimana dengan biaya rumah sakit ?"
__ADS_1
" Kecuali,,,."
" Apa,,,,?"
Zea menatap nanar wajah nico yang tampak pasrah menyerah sedikit membuat zea khawatir.
" Kau mau menjadi istri ku ."
Ucap nico mengedipkan salah satu mata nya.
Rasa tak percaya muncul di pikiran zea , bagaimana mungkin laki laki ini bercanda pada saat genting seperti ini .
" Ih ,,,ogah , siapa yang mau menikah muda ? Lebih baik aku kerja cari uang yang banyak ."
Zea mengerucutkan bibir nya yang mungil kecil membuat nico terkekeh geli .
" Kalau begitu ,,,makan !"
Zea menghela nafas kasar nya mendengar nico berkata dengan nada yang sedikit tinggi.
" Kau membutuhkan sesuatu yang lain ?"
" Tidak , terima kasih."
" Aku harus pulang, tak baik berduaan dengan mu disini. Bisa bisa ada godaan jin."
Zea terdiam mendengar perkataan nico.
" Masa jin bisa menggoda sih ."
Celetukan zea terdengar hingga ke telinga nico yang hendak mencuci piring di dapur .
Nico memilih tak menanggapi nya sebelum menyelesaikan pekerjaan nya.
" Nona , menurutmu jika laki laki dan perempuan berduaan di rumah sepi seperti ini tak ada jin ?"
" Aku ini laki laki normal loh bukan gay ."
Ucap nico .
Glek,,,glek.
Zea menelan saliva nya sendiri baru menyadari perkataan nico hingga membuat nya sedikit merinding.
" Sudah lah , aku pergi dulu . Lama di sini bisa di grebek pak rt . Kau mau kita nikah sekarang ?"
Zea menggelengkan kepala nya
"Jangan lupa minum obat nya !"
" Hati hati dijalan !"
Zea yang hanya melongo dengan sikap nico tersadar dari lamunan nya , berteriak kecil pada nico.
" Hem,,."
Nico melambaikan tangan nya meskipun tak membalikkan badan nya.
" Pintu nya jangan lupa di kunci !"
Nico berjalan datar keluar dari rumah zea , memindah kunci yang semula posisi diluar menjadi di dalam lalu menutup pintu rumah.
Dengan tertatih tatih zea berjalan ke arah pintu , mengunci pintu sesuai pesan nico pada nya.
Setelah mendengar perkataan nico , zea merasa sedikit khawatir di rumah sendirian apalagi kaki nya dalam keadaan sakit, tapi zea tak punya pilihan lain.
__ADS_1
Bersambung 😊🙏