
Zea tertatih tatih berjalan ke arah pintu setelah mendengar bunyi bel beberapa kali berbunyi .
Ceklek,,,
" Ta raAaaaaa,,,,, ."
" Sania ,,,."
" Zea,,,,."
Mereka berpelukan sangat lama hingga zea melupakan sesuatu yakni tak menyuruh sahabat nya masuk ke dalam rumah nya.
” Sania , masuk dulu !"
”Baiklah ."
Sania pun masuk ke dalam rumah zea berkeliling melihat lihat keadaan rumah zea bahkan masuk ke dalam kamar zea.
Sedangkan zea memilih membuat minuman segar untuk mereka bahkan memanaskan makanan sisa tadi siang untuk mereka berdua dan membiarkan sahabatnya melihat rumahnya yang sama seperti dulu.
" Masih tetap sama ."
" Bahkan kau masih tetap memajang photo kuno bersamaku ."
Ucap sania sedikit bersikap melo seakan ingin menjatuhkan airmata nya namun menahan nya tetapi saat melihat kado dari sania yang berupa boneka tertata rapi di ranjang zea , jatuh juga air mata nya.
" Sania,,,, sa,,,,kau ,,,."
Belum sempat bertanya apa yang terjadi ketika melihat sania menangis , sania terlebih dahulu memeluk nya terisak dalam dekapan nya .
" Hei,,, ada apa ? Apa kau punya masalah ?"
Zea mengusap pelan kepala sania menenangkan sania dari entah masalah apa yang kini menghantui nya hingga menangis tersedu sedu.
Zea mengajak duduk sania di ruang tengah dimana sudah ada beberapa cemilan dan minunan di sana.
" Aku tidak menyangka , kau masih menyimpan kado dari ku ."
Ucap sania .
" Kado ,,,? Maksud mu boneka teddy bear dikamar ku ?"
Sania mengangguk pelan tanpa menjawab pertanyaan zea .
" Jadi kau menangis karena itu ?"
Sekali lagi sania mengangguk pelan saat zea melontarkan pertanyaan pada nya.
Bukk,,,
__ADS_1
" Aduh,,,."
Sania harus merasakan bogem yang dilayangkan zea setelah membuatnya khawatir.
" Hah,,,, .aku kira ada masalah apa ? ternyata hanya itu."
Zea menepuk jidatnya sendiri tak mengerti tentang sahabat nya tersebut .
" Lalu ,,,kenapa kau tiba tiba berada di depan rumah ?"
Sania tersenyum dengan pertanyaan yang zea lontarkan pada nya.
" Hihihi,,, Cerita nya gue inget rumah loe ada disini tapi gue ragu , loe masih tinggal di sini apa nggak ?"
Sania terkekeh geli dengan kejelian zea yang tak berubah sama sekali persis waktu mereka masih sekolah lanjutan pertama.
" Nah , kebetulan loe kirim pesan jadi gue tanya dimana loe tinggal ? Loe bilang masih dirumah yang sama jadi gue turun nyamperin loe."
Zea melongo mendengar penjelasan sania.
"" Cih,, kenapa nggak langsung ketuk aja ? "
" Hihihi,,,."
Sania terkekeh geli melihat reaksi zea.
Zea menceritakan kehidupan nya setelah sania pergi dimana rasa kesepian menghantui nya begitupun dengan sania yang merasakan apa yang zea rasakan yakni hanya punya orang tua tunggal .
Bahkan tentang pekerjaan zea pun sebagai photomodel harus pupus karena ibunya yang tidak menyetujui nya dan kini hanya kerja sebagai kasir di toko . Sania menyayangkan sikap ibu zea terlihat begitu egois .
" Oh,,,shitss,,, udah jam segini , zea gue harus pulang karena gue harus kerja. Maklum lah hidup sendiri harus kerja keras banting tulang ."
Ucapan sania seakan menjadi sindiran monohok pada zea.
" Kerja ,,,? Malam gini ?"
" He' em . Gue kerja sebagai maneger club malam , memang sih pasti dicap jelek oleh masyarakat."
Ucap sania.
" Termasuk kau pasti berpikir negatif . Siapa yang nggak piktor coba ? Jam malam saat para karyawan pulang gue baru berangkat dini hari baru pulang ."
" Gue sih nggak peduli omongan orang lain toh aku juga nggak ngrecokin hidup mereka , yang penting duit nya."
Ucap sania memberi isyarat lewat jari jari tangan nya disertai senyum yang mengembang.
" Lumayan lah zea tapi resiko nya gede. Meskipun kita nggak nglakuin hal hina tapi karena ditempat yang hina jadi hina."
Zea mengerti apa yang di katakan sania dan tak menganggap sania bagian hina seperti apa yang orang orang itu pikiran.
__ADS_1
" Baiklah, aku pergi dulu . Kalau butuh bantuan jangan lupa telepon aku !"
Kata terakhir yang di ucapkan sania sebelum pergi dari rumah zea .
Zea hanya melambaikan tangan nya tak mengantar sania sampai ke mobil nya karena sania melarang zea mengingat kaki zea masih cidera.
Zea menggelengkan kepala nya melihat sania yang tak pernah berubah sama sekali .
Zea masuk ke dalam rumah menutup pintu bahkan mengunci nya seperti apa yang di pesan nico untuk selalu mengunci pintu .
Zea membereskan ruang tengah dengan beberapa gelas kotor dan piring kotor bekas zea maupun sania makan disana .
Tak sengaja zea melihat sebuah amplop putih di bawah tupperware snack yang ada di meja tersebut.
" Apa ini ,,,? Siapa yang meletakkan disini ?"
Zea membuka amplop putih tersebut terkrjut melihat isi nya yang berupa lembaran uang kertas .
"Hah,,, uang ? Siapa yang meletakkan disini ? Sania ? Nico ?"
Terselip selembar kertas putih di dalam nya , zea melihat tulisan tangan sania .
" Zea,maaf aku tak bermaksud merendahkan mu . Sebagai seorang sahabat , aku wajib membantu mu . Percayalah ! Aku memberi uang hasil kerja ku sebagai manager bukan jual diri . Aku tahu kau sedang membutuhkan banyak biaya untuk ibu mu . Lain kali aku akan membantu mu karena aku belum gajian , hihihi ."
Zea menitikkan air mata memeluk lembaran lembaran uang kertas pemberian sania . Ia tak tahu bagaimana harus berterima kasih pada nya, bahkan mereka saja baru bertemu siang tadi.
Uang yang segitu banyak meskipun masih kurang tapi lebih dari cukup sebagai seorang sahabat .
" Hah, sepuluh juta ? Terima kasih sania meskipun aku tak mengharapkan bantuan mu tapi kau memberiku banyak bantuan ."
Ucap zea.
" Setidaknya uang ini dan tabungan ku cukup untuk biaya dp rumah sakit perawatan ibu."
" Aku tidak tahu harus bagaimana berterima kasih pada mu ."
Zea melanjutkan membereskan sisa sisa makanan dan juga plastik plastik cemilan di depan televisi.
Zea seperti nya melupakan sesuatu ,yah amplop coklat yang ia temukan di bawah ranjang tempat tidur ibu nya .
Namun zea memutuskan membersihkan diri terlebih dahulu setelah seharian pengap dengan udara luar dan juga keringat.
Zea meletakkan amplop tersebut di meja belajar nya lalu mengambil shower menyegarkan diri dari seluruh kepenatan nya.
Tak berapa lama zea meraih kembali amplop coklat itu , penasaran apa yang tengah disembunyikan ibu nya.
" Hah,,,,,."
Bersambung 😊🙏
__ADS_1