
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Entah sejak kapan denish sudah bersandar di bahu zea dan juga menyelipkan tangan nya di pinggang ramping nya.
"Ah..., tidak. Hanya melihat jalan."
"Jalan?"
"Semenarik itu kah jalan yang kau lihat?"
Ucap denish mencari kenyamanan disela bahu zea.
"Apa aku tidak menarik?"
Lanjut denish yang menarik zea ke dalam pelukan nya.
Deg...
Zea mendongakan kepalanya menatap wajah datar dan dingin denish menatap nya yang masih fokus menatap layar laptopnya.
"Kau sangat menarik, tampan dan juga sexy apalagi bagian tubuhmu yang six packs itu, hem..., bikin aku ngiler menggigitnya."
Gumam zea dalam hati.
"Tapi sayang nya, kau sangat sadis.'
"Dan kau juga bukan milik ku sepenuhnya."
Zea masih tak berkedip menatap wajah tampan denish, bergelayut di alam pikiran nya.
"Sudah puas memandangnya?"
Cup...
Denish sadar sang istri tengah memandangnya tanpa berkedip, memanfaatkan kesempatan menggodanya. Ciuman tipis yang disandarkan denish tepat di bibir tipis zea membuyarkan lamunan nya, hingga menunduk malu. Saat zea hendak membalikkan badan nya ke arah samping, denish tak mengijinkan sama sekali bahkan semakin menariknya ke dalam pelukan nya.
"Ih..., dasar genit. Kenapa harus di mobil sih? Kan ada orang, apa dia nggak punya rasa malu?"
Gumam zea dalam hati menyentuh bibirnya dengan jemari tangan nya, menyembunyikan wajahnya di bilah dada kekar sang suami.
Mobil melaju dengan kencang membawa mereka ke suatu tempat yang mana denish ingin mengajak mereka ke suatu tempat makan malam.
Zea merasakan kenyamanan di bilah dada denish saat memeluknya, tertidur pulas merasa kelelahan mengobrol dengan sania siang tadi.
Melihat istrinya tertidur, denish secara perlahan menyenderkan kepala zea di atas pahanya, lalu membuka jas miliknya menyelimuti gadis itu.
"Wajah mu tenang sekali saat tertidur seperti ini."
Gumam denish dalam hati.
Tangan jemari denish tak lantas berhenti disitu saja, bergerak menyusuri seluruh wajah zea menyentuh satu per satu.
"Bibir mungil ini..., selalu pedas kalau sudah mengeluarkan suaranya."
"Entah bagaimana aku bisa jatuh cinta pada mu?"
"Tak ada yang khusus dari mu, tapi kemandirian mu, kepolosan mu membuatku tertarik menaklukkan hatimu."
"Sabarlah, sayang. Aku akan membuatmu perlahan mencintaiku."
"Vans..., kita putar balik ke paviliun. Zea tertidur, aku tak tega membangunkan nya."
Ucap denish.
" Baik, tuan."
"Untuk acara hari ini, katakan pada pemiliknya untuk menyiapkan lain kali."
"Baik, tuan."
Vans menyuruh sopir yang membawa mereka memutar balik ke arah paviliun sesuai keinginan tuan nya. Jarak dengan paviliun tak begitu jauh, tak membuat denish menunggu lama sampai di villa.
Mbok ijah yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, setengah berlari membuka pintu paviliun. Paviliun milik orang tua denish memang jarang ditempati setelah mereka tiada dan hanya sesekali saat denish berkunjung kesana merindukan kedua orang tuanya.
"Tuan..., anda."
"Ssts."
Tepat saat membuka pintu, denish menyuruh mbok ijah diam agar tak membangunkan zea yang tengah tertidur dalam gendongan nya.
Mbok ijah sedikit tersenyum menganggukkan kepalanya mengerti isyarat dari tuan mudanya.
Denish membaringkan istrinya di kamar yang dulu pernah zea tempati saat denish menculiknya. Setelah itu, keluar menemui mbok ijah menyuruhnya membuat makan malam.
__ADS_1
"Mbok."
"Iya, tuan. Tuan memerlukan sesuatu?"
"Tidak. Hanya, akan merepotkan mbok sedikit. Tolong masak untuk makan malam!"
Mbok ijah tercengang mendengar perkataan denish yang lebih menghargai orang lain.
"Nyonya muda belum makan sore tadi."
"Ba..., baik tuan muda."
Sedikit gugup sadar dari lamunan nya, mbok ijah mengiyakan begitu saja tanpa bertanya menu masakan yang ingin disajikan.
Denish kembali ke kamar nya tapi tidak untuk menemani zea melainkan ke ruang kerjanya. Bunyi dering telepon denish membuatnya sedikit mengerutkan dahinya, melihat layar ponsel yang bertuliskan bibi ha.
"Ya, bi."
"Ada apa?"
"Tidak. Zea tertidur saat perjalanan pulang, kami menginap di paviliun."
"Apaa..., dasar brengsek!!"
"Awasi perempuan itu!!"
"Ya, baiklah."
Denish mengepalkan jemarinya mendengar apa yang disampaikan bibi ha padanya. Tak berapa lama denish tampak memencet ponselnya kembali.
"Vans."
"Jalankan rencana itu!"
"Terlalu berbahaya jika terus dibiarkan."
"Klik."
Denish meletakkan kembali ponselnya, namun tak kembali duduk di kursi kerjanya atau menatap layar laptopnya tetapi meninggalkan ruang kerjanya melihat istrinya yang tertidur pulas.
Denish mengusap pelan bagian rambut yang menutupi wajahnya, menyelipkan rambut itu di belakang daun telinga. Denish memutuskan ikut berbaring disamping zea, mengangkat pelan kepalanya meletakkan tangan nya sebagai bantalan kepala zea.
"Aku tak kan membiarkan orang lain menyakitimu."
"Jangankan tubuhmu yang tergores, sehelai rambut pun tak ku biarkan orang lain menyentuhmu."
Kediaman angkasa.
"Aduh..., perutku sakit sekali."
"Apa aku salah makan?"
"Tidak. Aku tak makan apa pun sejak pagi."
"Aaaaaak..., sakit."
Teriakan sinta membuat penghuni rumah merasa sedikit heran, apalagi para pekerja yang secara kebetulan lewat lalu lalang didepan kamar nya tak berani mendekat atau sekedar memastikan keadaan nya. Jangankan untuk masuk, mengetuk pintu saja mereka tidak akan berani. Istri dari putra kedua tuan angkasa itu sangat arogan meskipun dia bukan tuan rumah.
Tak selang berapa lama raina datang dengan senyum yang terus menerus mengembang seolah menerima harta karun yang tak dapat digambarkan. Mengetuk pintu beberapa kali di depan pintu tapi tak mendapat jawaban dari sinta. Raina berpikir kalau sinta tidur sangat nyenyak hingga tak mendengar bunyi ketukan pintu.
Dengan ragu- ragu raina membuka pintu kamar sang tante, meskipun akan mendapat amukan darinya.
"Tante."
"Tante."
"Tan..., tante."
Raina terkejut mendapati sang tante terbaring lemah di samping tempat tidur setelah mencarinya beberapa saat. Raina adalah seorang dokter umum jadi mampu memeriksa kondisi sinta yang lemah lunglai tergeletak di lantai.
"Apaa...., bagaimana bisa?"
Raina berlari keluar dari kamar sang tante meminta bantuan penghuni rumah.
"Tolong..., tolong!"
Tak jauh dari kamar sinta, beberapa pelayan yang lalu lalang berlari ke arah suara panggilan raina.
"Ada apa nona? Anda membutuhkan bantuan?"
Ucap salah seorang pelayan.
"Cepat, tolong panggil ambulan!! Tante sinta pingsan."
__ADS_1
"Apaa...., baik nona.Kami akan memberitahu ketua ha."
Salah srorang pelayan berlari memberitahu bibi ha sedangkan salah seorang membantu raina mengangkat sinta ke tempat tidur.
Tak berapa lama ketua ha datang, juga nenek salamah serta mirna yang baru selesai dengan tea time mereka.
"Ada apa raina? Apa yang terjadi dengan tante mu?"
Ucap nenek salamah.
"Entahlah, nek? Raina melihat tante tergeletak dilantai saat masuk ke kamarnya."
"Ha, kau sudah memanggil ambulan?"
"Sudah, nyonya besar. Sebentar lagi akan datang."
"Baiklah."
Nenek salamah menatap ke arah sinta yang merupakan menantunya itu pingsan tak sadarkan diri.
Mobil ambulance dan beberapa petugas kesehatan sudah tiba beberapa saat setelah bibi ha menelepon, memeriksa keadaan sinta lalu dengan cepat menyuruh yang lain membawa sinta ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
"Kami harus membawa nyonya sinta ke rumah sakit, nyonya."
"Rumah sakit? Apa kondisi nya sangat serius?"
"Benar, nyonya. Sepertinya nyonya sinta keracunan makanan."
"Keracunan makan? Ya, baiklah. Cepat, lakukan yang terbaik!"
"Baik, nyonya."
Setelah memindahkan sinta, mereka membawa wanita nya ke rumah sakit terdekat. Sedangkan raina ikut menemani sinta di dalam mobil ambulance tersebut.
"Ada apa? Kenapa terdengar suara ribut?"
Suryo datang menghampiri sisa orang yang masih disana setelah para petugas membawa sinta ke rumah sakit.
"Sinta pingsan tak sadarkan diri. Petugas kesehatan menyatakan dia keracunan makanan."
Ucap salamah.
"Keracunan makanan? Bagaimana bisa? Ha..., kau tidak sedang bermain api kan?"
Suryo terlihat sangat marah dengan kejadian tersebut.
"Entahlah?"
Nenek salamah berlalu pergi meninggalkan depan kamar sinta.
"Dan kau tak perlu menyalahkan ha. Tanyakan apa saja yang dimakan oleh menantumu yang rakus itu!"
Nenek salamah kembali membalikkan badan nya menatap suryo.
"Kenapa tidak? Ha yang bertanggungjawab atas semua makanan yang disajikan dirumah ini."
"Lihatlah kamar menantumu sebelum menyalahkan orang lain! Semua pekerja mengeluh karena sampah berserakan dimana- mana."
Ucap nenek salamah.
"Bahkan kamarnya seperti kandang babi."
Ucap nenek salamah yang berlalu pergi bersama mirna. Suryo mengerutkan dahinya mendengar pembelaan salamah pada bibi ha.
"Pantas saja, daryo jarang pulang. Karena perilaku istrinya seperti itu, dan tentunya lebih suka dengan daun muda."
Deg...
Degup jsntung suryo berpacu kencang tak menyangka istrinya berkata demikian. Dan juga tak menduga salamah mengetahui kebiasaan buruk daryo.
Suryo memutuskan melihat isi kamar sinta dan daryo seperti yang dikatakan nenek salamah.
"Hah..., bagaimana mungkin aku mempunyai menantu yang jorok seperti ini?"
Gumam suryo.
"Berbeda jauh dengan devi atau mirna."
"Kenapa aku jadi memuji mereka? Ah..., kenyataan nya seperti itu."
"Sepertinya aku harus memperingatkan daryo untuk tidak sering bermain diluar."
Setelahnya suryo keluar dari kamar tersebut setelah menutup pintu dengan keras, menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
Suryo segera menghubungi putranya untuk segera pergi ke rumah sakit karena istrinya yang dinyatakan keracunan makanan.
Bersambung🙏😊