Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Unbocing kedua


__ADS_3

Mbok ijah masih berpikir tentang pernyataan mang kasim sementara denish bergegas berjalan dengan cepat telah menghilang dibalik pintu.


Beberapa saat mbok ijah baru mengerti apa yang dibicarakan suaminya, tersenyum lebar menoleh ke arah denish.


"Tuan..., semangat ya!"


"Mau mbok buatin jamu?"


Teriak mbok ijah.


"Yah..., dah menghilang."


"Siapa yang ingin jamu, mbok?"


"Eh... Den vans, ngagetin saja."


"Tuan muda belum bangun, mbok?"


"Sudah, den."


"Belum siap?"


"Sepertinya tidak ke kantor."


"Tidak ke kantor?"


Vans sedikit mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan mbok ijah sembari senyum pada nya. Sang tuan muda orang yang disiplin dan tepat waktu, mustahil absen ke kantor.


"Mereka sedang... ."


Mbok ijah memberikan kode etik melalui jari- jari tangan nya tersenyum menggerakkan alisnya. Semula vans tidak mengerti apa yang dimaksud mbok ijah, namun otak cerdasnya segera bekerja dengan cepat memahami maksud tersebut.


Vans menganggukkan kepala nya beberapa kali lalu duduk di kusi ruang makan, mengambil sedikit cemilan yang dibuat mbok ijah. Tak berapa lama vans mendapat pesan singkat dari tuan muda nya bahwa denish memang tak ingin berangkat ke kantor.


"Hem..., benar kata mbok. Tuan tidak pergi ke kantor."


Ucap vans.


"Nah..., betul kan apa kata mbok."


Mbok ijah tersenyum mengangkat kedua tangan nya berdoa untuk kebaikan sang tuan.


"Mudah- mudahan ini awal yang baik untuk tuan ya, den."


" Iya, mbok. Vans harap juga begitu."


"Biarkan non zea hadir sebagai penyembuh luka tuan muda selama beberapa tahun ini."


"Vans pergi dulu, mbok."


"Iya, den. Hati- hati di jalan!"


"Em."


Vans menghilang dibalik pintu utama setelah berbincang sejenak dengan mbok ijah.


Vans merasa lega dan juga senang ketika mendengar kabar gembira dari mbok ijah. Ia juga berharap tuan muda bisa segera melupakan rayna yang kabur bersama pacarnya saat hari pertunangan.


Di kamar denish.


Denish memeriksa sedikit berkas yang dikirimkan vans melalui email juga dari client yang mengajukan prosedur kerjasama dengan group angkasa.


Merasa sedikit lelah, denish menutup layar laptopnya kembali berbaring disamping istrinya yang masih tertidur pulas.


Beberapa saat memejamkan mata denish ikut tertidur pulas disamping zea, memeluknya dari belakang.


Perut terasa lapar hingga berbunyi keroncongan, zea membuka matanya.


Merasa beban berat menimpa perutnya, zea melihat ke arah perutnya yang mana sebuah tangan melingkar dipinggang nya.


"Berat sekali tangan mu."


Gumam zea yang bergerak secara perlahan menggerakkan tubuhnya dan juga meletakkan tangan denish ke tubuhnya sendiri.


"Tidur pun kau terlihat tampan."


Gumam zea yang mencoba bangun dan duduk disamping denish yang terlelap dalam tidurnya.


"Aduh..., kenapa sakit seperti ini?"


Susah payah zea mencoba untuk duduk meskipun bagian sensitifnya tak nyaman untuk duduk.


"Berapa banyak wanita yang menyukaimu di luar sana?"


Gumam zea.

__ADS_1


"Apa kau tak tertarik dengan mereka? Kenapa justru memilihku? Orang miskin tak punya kemampuan apapun dan juga harta benda apapun."


"Apalagi pasti banyak wanita cantik yang lebih pantas untuk mu. Dari kalangan papan atas, atau kolega bisnismu."


"Hah..., apapun itu aku lah pemenang nya. Hihihi..., nyatanya kau menikahi ku, meskipun aku harus berusaha keras mempertahankan mu dari banyaknya pelakor di luar sana."


Senyum mengembang di wajah denish ketika mendengar celotehan istrinya.


"Aduh..., bagaimana ini aku ingin ke kamar mandi? Memar kaki belum sembuh, ditambah ini juga."


Zea menghela nafas panjang setelah berbicara sendiri.


"Astaga."


Zea menyadari kalau tubuhnya polos tanpa balutan sehelai benang apa pun, saat mencoba menurunkan kedua kakinya ke bawah tempat tidur. Saat itu zea menyingkap selimut tersebut, namun menariknya kembali menutupi tubuhnya.


Selain itu, reaksi mata zea menoleh ke arah sang suami yang ternyata tengah menatap nya.


Wajah zea berubah merah merona menahan malu saat kedua matanya bertemu dengan mata sang suami yang saat ini tengah mengamati gerak- geriknya, menopang kepalanya dengan salah satu tangan nya.


"Aduh..., kenapa dia bangun? Mudah- mudahan tidak mendengar ocehan ku."


Gumam zea dalam hati.


""Butuh bantuan?"


Ucap denish.


"Tidak, aku bisa sendiri."


Zea menarik semua selimut menutupi tubuhnya mencoba untuk bangun, namun dalam hitungan detik zea jatuh tersungkur dilantai.


"Hah..., sok gengsi."


Gumam denish yang bangun melihat sang istri terjatuh. Denish membuka selimut tersebut, menggendong zea begitu saja.


"Hah..., aku sudah melihatnya. Untuk apa kau tutupi?"


Ucap denish membawa zea ke kamar mandi, namun tetap saja zea sedikit malu.


Denish mendudukkan zea di kloset sementara denish mengisi bathup dengan air hangat.


"Aduh..., sakit."


Merasa sedikit nyaman bahkan berangsur lebih tenang, denish meninggalkan zea sendiri di kamar mandi. Tak lama kemudian, denish kembali membawa makanan untuk nya.


Zea hampir terkejut dibuatnya saat tangan lembut denish menyentuh lengan nya sewaktu zea memejamkan mata menikmati atoma terapi dari wangi air relaksasi tersebut.


"Aah."


"Terkejut?"


Zea menganggukkan kepalanya menatap sang suami yang duduk dipinggir bath up menyendok makanan untuknya.


"Aku makan sendiri."


"Tidak, nikmati saja berendam nya!"


Mendapat penolakan dari denish, mau tak mau zea harus menerima setiap suap yang diberikan denish padanya.


"Mau tambah?"


"Tidak, aku sudah kenyang."


"Baiklah."


Zea sempat tertidur setelah denish keluar dari kamar mandi, laki- laki itu membiarkan istrinya berendam memulihkan tenaganya yang telah digempur habis- habisan pagi tadi.


Zea tersenyum saat merasakan sentuhan tangan denish, bahkan sempat mengeluarkan *******. Zea yang masih memejamkan matanya berpikir itu hanya sebuah mimpi hingga saat denish gemas menggigit leher belakang nya.


"Aaa...., sakit."


Mata zea terbuka sedikit terkejut saat merasa sedikit sakit atas gigitan suaminya. Sepertinya ada yang aneh di bath up yang ditempati nya, zea menoleh ke arah belakang yang mana denish sudah duduk memangkunya satu tangan yang lain memegang gekas wine.


"Sejak kapan kau ada disini?"


Ucap zea.


"Sejak kau mengeluarkan ******* mu."


Wajah zea berubah pucat pasi mengingat beberapa saat yang lalu. Zea mengira sentuhan itu hanya di alam pikiran nya membayangkan saat pagi tadi.


"Aduh..., zea zea. Kau kecolongan lagi."


Gumam zea dalam hati.

__ADS_1


"Mau? Menghangatkan tubuh."


"Tidak, aku bisa mabuk."


"Mabuk? Hanya mencoba, bagaimana bisa mabuk?"


"Hem..., aku tidak tahu jenis wine apa itu?"


"Hahahaha...., hanya anggur merah sayang tidak lebih. Kau tidak percaya?"


"Hem."


Zea mencebirkan bibirnya ingin berdiri namun ditahan oleh denish, dengan cepat denish meminumkan seteguk wine itu pada zea.


"Hem...., enak."


Entah berasal dari mana dan berada kadar alkhoholnya, zea merasa wine itu sedikit berbeda dari beberapa wine yang pernah dirasakan nya selama menjadi model.


"Seteguk lagi?"


Ucap zea tersenyum meringis menatap sang suami.


"Lagi? Kau menyukainya?"


Denish mengerutkan dahinya atas permintaan istrinya yang semula menolak, justru meminta lebih. Zea tersenyum mengangguk pelan sedikit malu meminta wine tersebut setelah sempat menolaknya.


Denish hanya menyisakan satu teguk dalam gelas wine ditangan nya setelah itu memberikan nya pada zea.


"Hem..., pelit sekali. Hanya satu teguk?"


"Khawatir kau akan mabuk, hihihihi."


Ucap denish terkekeh pelan menarik sang istri kembali duduk di atas nya membelakanginya. Zea hanya menurut saja bahkan ikut menikmati irama lagu.


"Hah..., kita sudahi saja berendam nya."


Ucap zea menoleh ke arah belakang.


"Kenapa? Aku baru saja menyusulmu."


"Tapi airnya sudah tak panas."


Denish mengerutkan dahinya lalu tersenyum devil sepertinya sedang merencanakan sesuatu.


"Kita hangatkan saja."


"Kita hangatkan? Maksudnya?"


Denish tersenyum mengedipkan sebelah matanya yang membuat zea semula tak mengerti pada akhirnya nenghela nafasnya.


"Tapi..., ."


Ucap zea menundukkan kepalanya.


"Tidak, sebelum mencobanya."


Denish menyuruhnya membalikkan badan zea menatapnya, mengajari zea cara bermain aman hingga gadis itu menyukai permainan itu.


Entah zea yang terlalu bersemangat atau memang keduanya sedang memadu kasih atau mungkin sedang jatuh cinta hingga membuat zea terkapar untuk kedua kalinya.


"Hah..., aku lelah. Badan ku seperti di pukulin."


Ucap zea saat keduanya mencapai puncak ******* ambruk di dada denish.


"Lelah? Itu berarti kau kalah?"


"Tidak, bukankah aku yang memipin? Kau hanya duduk diam."


"Tapi ..., kau sangat hebat."


Bisikan denish membuat wajah zea merah merona sesikit tersipu malu, rupanya suaminya berhasil membuatnya memintanya terlebih dahulu.


"Aku akan membantumu mandi."


Ucap denish menggendong zea ke ruang shower.


"Aku akan menagihnya saat di tempat tidur. Pasti lebih waow."


Bisik denish sekali lagi membuat zea tersipu malu.


" Ah ..., tidak."


Ucap zea tampak lelah tak berdaya mendengar bisikan itu. Namun perasaan bahagia memang tengah menyelimuti zea yang entah perasaan lega memberikan dirinya seutuhnya pada suaminya.


Bersambung🙏🙃

__ADS_1


__ADS_2