
"Siapa cucu menantu keluarga angkasa nek?"
Suara lengkingan seorang wanita yang sangat khas tak lain adalah cucu kedua dari keluarga angkasa, vania angkasa.
"Kakak..., akhirnya kau pulang juga."
" Siapa dia? Apa dia pacar kakak?"
" Hai, perkenalkan namaku vania angkasa. Adik dari kak denish angkasa."
Ucap vania mengulurkan tangannya pada zea. Namun zea tak langsung menyambut uluran tangan vania, melainkan menatap denish dengan harap cemas. Setelah mengangguk pelan, zea menerima uluran tangan vania.
"Zea."
" Zea, hanya itu? Tak ada nama belakangnya?"
" Nyonya zea denish angkasa, vania."
" Oh begitu."
Vania tersenyum menganggukkan kepalanya.
" Apaa... nyonya denish angkasa? Jangan bilang kau istri kakakku?"
Zea mengangguk pelan tersenyum pada vania.
" Hah, jadi berita itu benar?"
Sekali lagi zea mengangguk pelan dan tersenyum padanya.
"Sudah..., sudah. Kita masuk dulu, hidangan sudah dingin."
Ucap nenek salamah.
" Vania, ajak kakak iparmu masuk!"
" Baik, nek. Kakak ipar, ayo kita masuk!"
Tangan denish menghalangi tangan vania yang bergerak menyentuh tangan zea.
" Yah, baiklah. Aku tidak akan menyentuh kakak ipar. Dasar protektif."
Ucap vania menjulurkan lidahnya pada denish mendahului kakak ipar maupun denish.
"Salamah, lama sekali. Aku sudah lapar."
Kakek suryo menggerutu kesal dengan istrinya yang ternyata berada di luar menyambut denish tak kunjung masuk ke dalam rumah.
" Denish, cepatlah! Kakekmu sudah tidak sabar."
" Ah... kakek memang tak sabaran."
Vania yang mendahului denish menjawab teriakan neneknya.
" Kakek itu harus banyak diet, penyakit tua akan menggeroti kakek jika tidak mengatur pola makan."
" Kau bukan dokter jangan menggurui kakek."
"Aku seorang dokter kakek."
Ucapan seorang gadis membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.
"Raina..., kau datang juga. Tante sempat khawatir."
Sinta menghampiri keponakannya dengan terburu- buru, khawatir raina akan bicara sembarangan.
"Pa ma, ini raina keponakanku. Orangtuanya sedang tak ada di negeri ini jadi mereka menitipkannya padaku."
"Bolehkan ma pa?"
Ucap sinta berbasa- basi meminta ijin pada kedua mertuanya meskipun ayah mertuanya sudah pasti mengijinkannya karena rasa sayangnya pada suaminya.
" Tentu saja, sinta. Dia boleh tinggal disini."
"Hah, parasit itu pasti akan memakan pohon juga."
__ADS_1
Gumam nenek salamah meninggalkan mereka, meskipun lirih tapi tetap saja terdengar semua orang.
Sinta merasa canggung atas jawaban ibu mertuanya tersenyum tak mempedulikan ucapannya meskipun sebenarmya sedikit cemas.
"Sudahlah, kita ke meja makan. Hidangan sudah hampir dingin."
Hampir semua orang duduk di meja makan, sinta pun sengaja menyuruh raina duduk di sebelah kursi denish namun sebuah suara lantang menahan raina yang hampir duduk ditempat itu.
" Nona, tempatmu bukan disini. Tepat disebelah tantemu atau savana."
Ucap nenek salamah.
" Sayang duduklah!"
Seketika raut wajah raina merah padam tak menyukai sikap nenek salamah, meremas rok bagian bawahnya kesal terhadap nenek. Sinta tahu keponakannya kesal, mencoba menenangkannya dengan bertukar posisi dengan savana.
" Perkenalkan, ini adalah zea istri denish. Dan mulai malam ini akan tinggal disini."
Ucap nenek salamah memegang tangan zea. Zea tersenyum membungkukkan setengah badannya pada semua orang.
" Selamat malam semuanya."
" Zea, nenek akan memperkenalkan seluruh anggota keluarga ini. Mulai dari ujung, kakek suryo suami nenek, paman denish daryo dan istrinya sinta, yang sebelah savana putri mereka."
" Ini adalah mirna istri termuda ayah denish, putra mirna yakni adik bungsu denish raka angkasa tidak tinggal disini. Dan ini vania adik kedua dari istri kedua ayah denish. Rima, mama vania sedang keluar kota."
" Dan nenek adalah nenek salamah."
" Duduklah sayang!"
" Terima kasih, nek."
Nenek salamah kemudian duduk berjalan menghampiri suaminya, duduk disamping kakek suryo.
Acara makan malam di mulai dengan hangat meskipun ada sedikit rasa canggung dan ketidaksukaan atas kehadiran zea maupun raina tak membuat masalah yang besar.
Hidangan penutup telah disajikan semua diam tak bersuara ketika dimeja makan. Denish memang tidak menyukai kebisingan saat berada di meja makan.
Setelahnya mereka berbincang sebentar diruang keluarga dimana mereka bercengkerama setelah acara makan selesai.
" Kedua orang tua zea sudah meninggal, nek. Mereka kecelakaan saat zea masih dalam kandungan. Ibu meninggal setelah melahirkanku, dan orang tua angkatku baru bulan lalu meninggal."
"Hah, jadi kau sudah tak punya orang tua? Sama saja tak punya besan."
Entah mengapa kakek suryo berbicara seperti itu.
"Hust, cucu menantu sedang berkabung. Bicaramu tak sopan, apa bedanya denganmu?"
Kakek suryo terdiam jika sudah berdebat dengan istrinya.
"Itu lebih bagus, kita tak perlu menghadapi drama para mertua yang kadang membuat terpojok."
Vania menyela pembicaraan kaleknya.
" Tapi tak ada pertemuan keluarga, vania."
" Memangnya kakek mau apa dengan pertemuan keluarga? Kakek ini kolot sekali seperti mama."
"Ya, setidaknya kalau ada masalah dengan keluarga kita. Pihak besan akan membantu."
Kakek suryo sengaja menyindir zea yang tidak punya orang tua.
Zea menatap ke arah denish, tetapi lelaki dingin itu dengan mudah menguatkan zea dengan menggenggam erat tangan dan menepuknya.
" Hah, kakek ini menurunkan derajat keluarga kita. Yang ada keluarga kita yang membantu."
" Lagi pula kakek bayangin saja sendiri, keluarga mana yang berani melepas anak gadisnya untuk kakak yang dingin itu."
" Hust. Puk."
Nenek salamah menepuk mulut vania sebelum terjadi petaka padanya atas ucapannya.
" Hihihi..., maaf kak."
" Lagi pula kakek tahu tidak, jika kakek masih mempertahankan harta keluarga mana ada yang mau melepas putra putri mereka untuk keluarga kita? Yang ada sampai setengah umur kita tidak akan menikah."
__ADS_1
Kakek suryo terdiam termenung mendengar suara gadis itu. Cucu keduanya mampu mengimbangi perdebatan mereka meskipun sangat sengit.
" Kakek tahu berapa umur vania? Pikiran kakek sama seperti mama menginginkan keluarga yang kaya terpandamg, alhasil vania tak menikah sampai sekarang. Jangankan tunangan, pacar saja tidak punya."
" Tapi keluarga kita keluarga terpandang, vania."
" Iya keluarga terpandang, kek. Sampai para cucunya tak pernah terlihat memiliki pacar sama sekali."
Ucap vania meninggalkan ruang keluarga.
" Kakek tanya pada savana, apa dia memiliki pacar? Suruh dia cepat bertunangan!"
" Aku...? Kenapa kakak membawa namaku? Kakak saja belum punya pacar. Huh..., menyebalkan."
Savana berlari mengejar vania, kesal membandingkannya dengan yang lain.
Daryo pamit undur diri pada keluarga dan istrinya, ada sebuah urusan yang harus disekesaikannya. Tak menaruh curiga, sinta mengantarkan suaminya ke pintu utama.
" Maafkan, tingkah adik- adikmu zea. Mereka memang seperti itu."
"Tidak apa- apa nek."
" Jangan bersedih sayang! Nenek akan menjagamu sebagai ganti orang tuamu."
Ucap nenek salamah menggenggam erat tangan zea yang tersenyum padanya. Gadis itu sangat tegar tak seperti gadis lainnya murung atau bersedih saat ditinggal kedua orang tuanya.
" Ma, sinta antar raina ke kamar dulu. Dia pasti sangat lelah."
" Baiklah."
" Sayang, istirahatlah! Bawa istrimu ke atas!"
" Baik, nek. Ayo sayang."
Zea tertunduk seperti menahan malu atas sikap denish padanya.
"Segera buat cucu buyut."
Nenek salamah sedikit berteriak pada denish yang memggandeng tangan zea.
Raina maupun sinta yang mendengar teriakan nenek salamah saling pandang, seperti kesal dengan perkataan nenek salamah.
Zea sebenarnya merasa canggung dengan keluarga denish tetapi suaminya mampu meneduhkan kecemasan yang kini tengah melanda hatinya.
"Waow..., kamar yang mewah.''
" Kenapa semua warna lelaki?"
" Kamarku sebelum menikah denganmu, nyonya."
" Bagaimana dengan baju- bajuku? Aku tak membawa baju sama sekali."
" Semua sudah siap di lemari."
Ucap denish menunjuk ke arah ruangan sebelah.
" Hah, kau telah merencanakannya dengan sempurna. Aku akan mandi."
" Kau tidak mengajakku?"
" Tidak."
Zea memicingkan matanya saat denish mengedipkan sebelah matanya.
Zea menghilang dibalik pintu kamar mandi namun kembali lagi setelah melihat pintu kamar mandi tembus pandang.
"Kenapa? Kau ingin mandi bersama?"
" Tidak. Tapi..., pintunya kaca tembus pandang bagaimana aku akan mandi?"
" Entahlah? Pikirkan sendiri caranya. Lagipula ksu adalah nyonya denish angkasa, apa yang membuatmu khawatir."
Perkataan denish memang ada benarnya namun zea tetap saja merasa khawatir.
Bersambung😊🙏
__ADS_1