Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Keinginan nenek


__ADS_3

"Ha...."


Bibi ha maupun zea menoleh ke belakang melihat suara yang menegur bibi ha.


"Nyonya besar."


" Nenek."


Baik bibi ha maupun zea sedikit terkejut dengan nenek salamah yang berada ditaman kesukaan devi.


"Sayang, kenapa tidak bilang kalau ingin kesini? Nenek bisa menemanimu."


Ucap nenek salamah menyentuh pelan tangan zea lalu menggenggamnya.


"Zea takut merepotkan, nek. Makanya meminta bibi ha menemani zea."


" Tidak, sayang. Nenek sangat senang bisa menemanimu."


"Terima kasih, nek."


Zea menggandeng nenek salamah mengelilingi sebuah taman bunga yang tersusun rapi bahkan terlihat sangat terawat.


"Kau menyukai taman ini?"


" Iya, nek. Tapi zea lebih suka memasak atau membaca, tak terlalu bisa bercocok tanam hanya sekedar menyukai keelokan bunga- bunga yang bermekaran."


" Apaa... memasak? Kau menyukai urusan dapur sama seperti devi."


" Devi? Maksud nenek mendiang mama?"


Nenek salamah tersenyum menggangguk pelan, namun menyiratkan sedikit kesedihan.


" Nenek tidak boleh bersedih. Apa nenek tahu kalau zea baru saja kehilangan orang tua angkat zea beberapa bulan yang lalu?"


"Sayang, maafkan nenek. Nenek tak bermaksud mengingatkan mu pada kesedihan yang kamu alami."


Ucap nenek salamah menyadari kesalahannya.


"Tidak, nek. Zea sudah terbiasa, nenek jangan khawatir."


" Nak, nenek ada disini. Nenek akan selalu mendampingimu."


" Terima kasih, nek."


Kedua orang yang berbeda usia itu duduk di bangku taman menikmati indahnya bunga- bunga yang bermekaran dengan secangkir teh dan juga beberapa camilan yang sengaja disiapkan pelayan untuk mereka.


Dari kejauhan mirna tergopoh- gopoh sedikit berlari mencari keberadaan ibu mertuanya yang hilang dalam sekejap jauh dari pengawasannya. Hanya karena mirna meninggalkannya membuat salad buah kesukaannya.


" Bu..., i... ."


Mirna berhenti memanggil salamah saat melihat ibu mertuanya tengah berbincang dengan menantunya diselingi dengan tawa lepas yang jarang sekali dilihatnya.


" Nyonya mirna, kenapa berdiri disini? Nyonya tidak ingin bergabung dengan nyonya besar dan juga nyonya muda?"


"Tidak, bibi ha. Aku tak ingin mengganggu kebahagiaan ibu."


Ucap mirna tersenyum bahagia.


" Aku tidak pernah melihat ibu tertawa lepas seperti itu."


" Benar, nyonya. Bibi juga merasa demikian."


" Baiklah, bi. Aku akan kembali ke kamar."


" Silahkan, nyonya."


Mirna tersenyum bahagia setelah melihat kebahagiaan terpancar di sela- sela wajah ibu mertuanya, merasa sedikit tenang. Cucu menantunya membawa kebahagiaan tersendiri untuk nenek salamah.


"Hahahaha..., kau ini bisa saja."


"Nenek tidak tahu zea sangat cuek saat sekolah."


Ucap zea.


"Bahkan zea menakuti mereka dengan berdandan seperti pocong."


Entah percakapan apa yang sebelumnya mereka bicarakan hingga membuat nenek salamah tertawa dengan cerita zea.


" Hahahaha..., lalu bagaimana mereka menyelamatkan diri?"

__ADS_1


"Entahlah, zea kurang ingat. Yang jelas itu pembalasan setimpal untuk kejahilan mereka."


Ucap zea mengingat masa remajanya.


"Apa kau juga akan bersikap seperti itu dengan denish?"


"Tentu saja, apalagi cucu nenek sangat jahil. Nenek tidak tahu, denish menceburkan zea ke kolam renang. Padahal zea tak bisa berenang."


"Hah..., Bagaimana nenek akan segera punya cicit kalau kalian perang dingin?"


" Cicit? Nenek menginginkan cicit dari zea?"


Nenek salamah mengangguk pelan.


" Kenapa tidak minta vania atau savana? Ada raka juga."


"Hah... mereka? Jangankan cicit, pasangan saja tidak punya. Mereka hanya memikirkan pekerjaan dan entah sampai kapan akan memikirkan diri sendiri."


Zea sedikit mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban nenek salamah.


'' Bagaimana aku akan menutupi permintaan nenek? Sedangkan pernikahan ini hanya semu, tanpa dasar cinta, penuh paksaan."


Gumam zea dalam hatinya.


"Satu- satunya alasan menikah dengannya karena sania."


" Bagaimana jika nenek mengetahui kebenarannya?"


" Kasihan nenek, meskipun baru bertemu aku yakin dia sangat baik."


"Nak..., nak..., zea."


" Eh... iya nek. Ada apa?"


Zea gugup terkejut saat sadar dari lamunannya.


"Kau sedang melamun? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan hingga tak mendengar panggilan nenek? Atau kau sedang memikirkan keinginan nenek?"


Zea mencebirkan bibirnya mendengar permintaan nenek salamah.


"Nenek..., zea baru saja menikah. Tanpa pacaran lagi, apa nenek tak bisa memberi waktu sedikit? Setidaknya biarkan zea mengenal satu sama lain."


" Hah..., nenek benar- benar menginginkan cicit?"


Nenek salamah mengangguk pelan.


" Haa...., zea punya ide. Bagaimana kalau menyuruh cucu- cucu nenek menikah?"


" Itu bukan ide, sayang. Mereka tidak memikirkan pasangan apalagi disuruh menikah ."


Nenek salamah menepuk jidatnya mendengar jawaban zea yang tengah tersenyum menunjukkan giginya.


Dari kejauhan tampak beberapa orang tengah mengawasi kedua orang yang berbeda usia tersebut saat bercengkerama dengan akrab di taman yang biasa di kunjungi devi, istri kedua danu angkasa.


"Tante lihat itu, mereka sangat akrab. Bagaimana raina bisa merebut hati nenek? Satu- satunya orang yang dekat dengan kak denish."


" Kenapa menyalahkan tante? Kau sendiri yang datang terlambat, bukankah tante sudah memberitahumu untuk secepatnya datang?"


"Tante..., tante kan tahu raina bekerja di rumah sakit. Tak semudah itu dapat izin."


" Jadi semua salah siapa?"


" Hah..., entahlah?"


"Tenang! Masih ada cara memisahkan mereka. Kita dekati kakek, papa mertua tante yang pasti sangat setuju dengan asal usulmu."


" Tapi..., bagaimana kalau gagal?"


Pletak...


Sinta menyentil jidat raina yang menurutnya terlalu bodoh dalam berpikir meskipun raina seorang dokter.


" Aduh..., sakit tante."


" Itu belum seberapa, kau mau lebih lagi?"


" Tidak..., tidak..., tidak."


" Belum di coba sudah menyerah. Serahkan saja pada tante."

__ADS_1


Ucap sinta.


" Kita pergi dari sini, jangan sampai orang lain melihat kita sedang memperhatikan mereka."


" Em, baiklah."


Raina menggandeng sinta mengerti apa yang diucapkan tantenya tersebut.


Dari sisi lain sepasang mata menatap tajam pada nenek salamah dan juga zea yang tengah bercengkerama sangat akrab.


"Halo, apa kau menelepon ingin memberikan kabar baik untukku?"


"Apaaa...tidak? Jadi kalian tak berhasil menemukan informasi sedikitpun tentang gadis itu?"


"Lalu..., untuk apa kalian menelepon?"


"Mengundurkan diri? Yah, pergilah sejauh mungkin!"


"Brengsek."


"Sialan."


"Bagaimana mungkin semua bisa terjadi?"


"Siapa sebenarnya gadis itu?


"Aku tak kan tinggal diam."


Seseorang yang sengaja melihat keakraban nenek dan menantunya bergegas pergi setelah mendapat telepon dan juga sempat mengumpat kata- kata kasar.


Tak jauh dari sana bibi ha juga melihat beberapa orang yang sempat mengawasi nyonya besar maupun nyonya mudanya.


" Nyonya muda, tampaknya perjuangan akan segera dimulai."


"Bibi harap, nyonya muda sekuat nyonya devi. Meskipun pada akhirnya nyonya devi tak selamat, tapi bibi akan membantu nyonya muda sekuat bibi."


Gumam bibi ha dalam hatinya.


Bibi ha menghampiri kedua majikan beda usia yang tengah berbincang ditaman, memberitahu nyonya besar dan mudanya kalau tuan muda sudah kembali.


Namun denish sendiri telah sampai di taman favorite mendiang mamanya setelah bibi ha memberitahu keberadaan istrinya.


Denish mencegah bibi ha yang akan memberitahu kedatangannya pada mereka.


"Hahaha..., apa kau senakal itu sewaktu sekolah?"


" Tidak, zea tidak senakal denish. A... maksud zea suami zea. Zea bahkan sangat pendiam tak memiliki banyak teman."


" Oh ya? Nenek jadi ingin tahu, bibit seperti apa yang akan kalian berikan pada nenek."


Zea mengerutkan dahinya saat nenek salamah lagi- lagi menyebutkan kata- kata yang membuatnya canggung.


"Tentu saja bibit yang unggul, nek."


Kedua orang itu tersentak kaget dengan suara yang tiba- tiba terdengar di balik perbincangan zea maupun nenek salamah.


"Denish."


"Kapan kembali nak? Kenapa kau meninggalkan istrimu sendiri di hari pertama?"


"Maaf, nek. Denish ada sedikit urusan."


"Baiklah, bisa dimaafkan. Tapi..., kau tidak bercanda dengan ucapanmu?"


" Tentu saja tidak. Iya kan, sayang."


Zea hanya tersenyum kaku mendengar jawaban dari denish, kedua mata zea hampir keluar setelah terang- terangan bahkan mungkin sengaja denish mencium pipi zea di depan nenek salamah.


"Dasar, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan."


Gumam zea dalam hati.


" Sayang, kenapa diam saja? Kau tak mengiyakan permintaan nenek?"


Zea yang merasa agak canggung hanya bisa tersenyum dan juga menganggukkan kepalanya.


" Enak saja, siapa yang mau punya anak darimu?"


Zea melirik tajam pada denish yang tersenyum memeluk neneknya. Denish seakan sadar dan paham dengan tatapan tajam zea, mengedipkan sebelah matanya pada zea.

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2