Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Cicilan 2


__ADS_3

"Aaa... ."


Hampir saja zea jatuh jika tangan kekar denish tak sigap meraih tubuh mungil zea saat tersentak kaget mendengar suara denish yang tiba- tiba muncul di belakangnya.


"Rupanya kau tak sabar membayar tunai?"


Lagi- lagi denish mengedipkan sebelah matanya menggoda zea yang tengah berada di depan kamar mandi.


" Bayar tunai? Apa maksudmu?"


" Pura- pura tidak tahu atau lupa kewajiban?"


Deg...


Detak jantung zea tidak sedang baik- baik saja, bak tengah berada ditengah- tengah club malam mendengarkan suara hentakan dj memutar lagu nya. Begitu juga yang saat ini zea rasakan, tak mengira denish akan menanyakan hal itu padanya.


"Mengagumi ketampananku? Tentu saja, aku memiliki wajah tampan dan juga kekayaan yang tak habis tujuh turunan.'


Zea memicingkan kedua matanya menatap jenuh atas ucapan denish dengan bangga memuji dirinya sendiri.


"Ih..., najis."


Brukk....


"Auww..., denish..., awas kau!!"


Denish yang semula menopang beban tubuh zea secara tiba- tiba menjatuhkan nya begitu saja.


"Maaf, sayang. Tubuhmu terlalu berat dan sepertinya kau harus diet."


Ucap denish yang hanya membalikkan wajahnya lagi- lagi dengan tatapan penuh mengejeknya.


" Kau... ."


Zea berlari hendak membalas perbuatan denish namun sayang, kakinya terpeleset hingga jatuh menimpuk denish saat denish membalikkan badan nya. Denish ikut terjatuh menopang beban tubuh zea yang tanpa persiapan mendapat dorongan tangan zea yang terpeleset akibat ketidak hati- hatian nya.


Cup...


Kedua bibir mungil zea mengecup tepat dibibir denish, meskipun awalmya denish tercengang mata membulat namun satu kesempatan kecil tidak disia- siakan denish.


Denish meraih tengkuk zea menahan nya sedikit lama, memberi ciuman romantis pada zea. Zea yang awalnya menolak mencoba meronta dari lengan kekar denish, entah mengapa mengikuti alur cerita yang ada.


"Nyonya, bangunlah! Atau kau ingin mencicil yang lainnya."


Bisik denish tepat ditelinga zea. Seakan terpesona dan terbuai alunan irama musik, zea tak menyadari jika ia masih di atas tubuh kekar denish.


"Atau kau masih menginginkan nya?"


Lagi- lagi zea tercengang dengan ucapan suaminya.


"Tidak. Amit- amit."


"Amit- amit tapi menikmati. Bibir bisa berkata bohong tetapi tidak pada bahasa tubuhmu yang selalu merespon."


Zea kalah telak dengan setiap ucapan denish, yang langsung melompat dari tubuh kekar denish.


"Dasar sialan. Kenapa aku terpesona segala sih?"

__ADS_1


"Pria dingin itu jadi semakin melonjak."


Gumam zea dalam hati.


"Nyonya angkasa..., apa kau masih melanjutkan lamunan mu? Suami mu sudah lapar, nyonya."


Zea menghela nafas kasar bangun dari duduknya, dengan wajah cemberut berjalan mendekati troly makan menyiapkan nya untuk denish.


Zea masih terlihat kesal masih menyelimutinya hingga berpengaruh dengan raut wajah cantiknya terlihat sadis saat tengah menahan amarah.


"Sayang, kau tak makan?"


"Bukankah kau menyuruh ku diet?"


Denish mengerutkan dahinya mengalihkan pandangan nya dari piring yang berisi makanan menatap istrinya secara intens. Entah mengapa denish menyukai sikap kesal yang kekanak- kanakan zea hingga menariknya ke atas pangkuan nya.


"Hahahaha..., ayolah sayang. Aku hanya bercanda."


Ucap denish dengan tawa nya.


"Aaak... !"


"Sayang, makanlah! Atau kau ingin membuat suamimu kelaparan menemanimu diet?"


Tak mendapat reaksi dari zea yang nasih kesal dengan ejekan nya, denish rupanya harus menggunakan sedikit simpati padanya.


Zea menggeleng pelan yang membuat denish sedikit mengerutkan dahinya. Dan rupanya dia masih kesal dengan ejekan nya.


"Kau ingin aku mengganti seluruh pekerja di dapur?"


"Memangnya kenapa?"


"Bagaimana mungkin? Aku yang memasaknya sendiri. Apa kau sudah mencicipinya? Kenapa bilang tidak enak?"


"Menurutmu?"


Zea meraih sendok yang ada ditangan denish lalu mencoba mencicipi masakan nya sendiri.


"Em..., enak kok. Hei... tuan, apa kau sudah memakan nya? Kenapa bilang tidak enak? Kau tidak tahu aku khusus memasak untukmu? Tak menghargai hasil karya orang lain."


Mulut mungil zea yang bicara panjang lebar membuat denish sedikit senyum simpul. Semakin lama tak kuasa menahan hasrat pada bibir mungil yang bicara tanpa henti itu.


"Aaa... ."


Denish kembali meraih tengkuk zea menariknya agar lebih dekat lalu mencium bibir mungil zea bahkan memberi sedikit sesapan dan *******.


Hah..., lagi- lagi zea tak dapat menolaknya bahkan gadis itu semakin berani merespon setiap pergerakan denish.


Ceklek...


Zea mendorong denish ketika pria yang telah menjadi suaminya itu akan melanjutkan yang lebih dalam lagi, mendengar bunyi pintu kamar mereka terbuka.


Seorang wanita paruh baya tercengang melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya seumur hidup nya. Bagaimana tidak, denish selama ini menutup diri dan kaku bahkan seperti gunung es melakukan hal ekstream di depan nya.


Sadar dari lamunan nya, nenek salamah diam terpaku di depan pintu. Rasa khawatir tengah menyelimutinya, bukan memikirkan hal kptor tapi hanya untuk berjaga.


"Sayang, apa nenek mengganggu?"

__ADS_1


"Tidak, nek. Masuklah!"


Ucap denish santai seolah tak terjadi apapun hingga zea membelalakkan kedua matanya melihat sikap denish yang begitu acuh. Bahkan tak peduli atas apa yang terjadi, baru saja mereka kepergok berciuman di depan nenek.


"Hah..., gunung es ini santai sekali meskipun kepergok nenek."


Gumam zea dalam hati.


"Nak, ha bilang kalian makan di kamar. Kenapa tidak turun? Apa kau sedang sakit?"


Satu pertanyaan yang terlontar dari mulut nenek salamah ditujukan pada zea yang tengah duduk diam membisu menahan malu.


"Zea sedang tidak enak badan, nek."


Ucap denish membuat zea tercengang ingin mengeluarkan suaranya namun tertahan dengan mata denish yang menatap tajam seperti mata netra elang.


"Apaa..., kau tidak enak badan? Kenapa tidak bilang pada nenek?"


" Nenek akan memanggil dokter."


" Ah..., tidak nek. Zea hanya kecapekan saja setelah menari balet."


Ucap zea khawatir nenek akan memanggil dokter. Satu hal yang membuat zea gelisah bukan karena dokter tetapi jarum suntik yang selama ini menghantuinya.


"Menari balet? Jadi kau menyukai tarian itu?"


Zea mengangguk pelan dengan ucapan nenek salamah membenarkan ia menyukainya.


"Pantas saja, badan mu sangat ramping sangat ideal."


"Hah..., nenek bilang begitu. Tapi tidak suamiku yang menyuruhku diet."


Zea sedikit melirik denish yang terlihat acuh meskipun nenek salamah ada disana.


"Apaa...., denish kau tidak sedang bercanda kan?"


"Tidak, nek. Denish hanya bercanda saja, lihatlah! Denish akan menyuapinya hingga semua makanan habis."


"Apaa..., semuanya? Apa dia sudah gila?"


Gumam zeadalam hatinya.


"Baiklah kalau begitu, nenek tidak akan mengganggu kalian."


Ucap nenek salamah terlihat bersemangat dengan raut wajah tampak bahagia.


"Oh ya..., segera buat cicit untuk nenek. Semangat!!"


Zea melongo mendengar permintaan nenek salamah. Permintaan yang sangat sulit dikabulkan zea mengingat ia hanya status istri yang disandangnya.


"Baiklah, nek. Sampai nanti."


Ucap denish tersenyum nengedipkan sebelah matanya.


"Baiklah? Apa dia sudah gila? Memberi harapan kosong."


Gumam zea dalam hati.

__ADS_1


Nenek salamah hilang dibalik pintu, sementara zea masih terbang dengan alam lamunan nya.


Bersambung🙏😊


__ADS_2