Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Vania


__ADS_3

Vania tengah memikirkan mobilnya, beruntung pekerjaannya cepat selesai hingga ia berencana pulang lebih awal memperbaiki mobilnya yang penyok akibat insiden kecil pagi tadi.


"Vania.... ."


Langkah vania terhenti mendengar panggilan suara yang tidak asing baginya, sekuat tenaga mengumpulkan keberaniannya dan juga sedikit tersenyum malu membalikkan badannya.


" Eh...e, kak denish. Kakak membutuhkan sesuatu?"


"Apa sekarang sudah jam pulang kantor?"


"Belum kak."


" Lalu..., kenapa kau mengendap- endap di parkiran?"


"Hihihihi..., maaf kak. Vania tidak pulang tapi akan ke bengkel, mobil vania penyok karena menabrak pohon tadi pagi."


"Apa kau tak bisa diam tanpa membuat ulah?"


" Maafkan vania, kak. Vania janji akan lebih baik lagi, tapi kali ini saja ijinkan vania ke bengkel."


Ucap vania memohon pada denish.


"Bagaimana kalau karyawan yang lain melakukan hal yang sama atas apa yang kau lakukan? Apa aku harus memberikan ijin?"


"Hah..., tidak."


"Baiklah, kalau kau sudah mengerti jawabannya."


Denish pergi berlalu meninggalkan vania tentu saja bersama asisten pribadinya vans. Tampak terlihat kekesalan di wajah vania namun apa yang dikatakan kakaknya ada benarnya, apalagi ia seorang president direktur di perusahaan nya sendiri.


Vania akhirnya kembali lagi ke lantai atas dimana ruang kerjanya berada namun langkahnya terhenti ketika melihat sebuah motor yang tak asing baginya. Vania mengingat dimana pernah melihat motor tersebut.


Saat detik terakhir teringat dimana bertemu dengan motor tersebut langkah vania terhenti, tangan vania mengepal dan juga mata yang menyipit mengarah pada motor tersebut.


"Oo..., dia rupanya."


"Untuk apa dia berada di basement parkir gedung angkasa group?"


" Jangan katakan orang itu bekerja di angkasa group."


"Awas kau!! Aku mendapatkanmu."


Vania kembali lagi menghampiri motor yang membuatnya terlibat dalam insiden. Berjalan mondar- mandir berharap yang punya motor itu segera datang ke tempat itu.


Menunggu memang menjenuhkan tapi demi satu pertanggungjawaban vania rela menunggu agak lama, namun gadis sexy bak gitar spanyol itu tak sabar menunggu si pemilik motor datang pergi begitu saja. Namun saat langkah terakhir kakinya melangkah kembali masuk ke dalam gedung angkasa group, terdengar bunyi seseorang menyalakan mesin motornya. Sialnya vania tak mampu berlari karena memakai high heel, namun masih ada cara menghentikan motor tersebut.


"Berhenti!! Stop!"


Vani berada ditengah jalan yang memang satu- satunya keluar dari parkiran basement gedung angkasa group. Vania menodongkan tangannya meminta pengendara motor berhenti.


"Hei nona...., jangan menghalangi jalanku! Aku sedang terburu- buru."


Ucap pengendara motor yang ternyata seorang pria.


"Aku tidak peduli. Kau harus mengganti rugi kerusakan mobilku."

__ADS_1


"Kerusakan mobil?"


Pengendara itu menyipitkan matanya mendengar vania meminta ganti rugi kerusakan mobil. Merasa tidak mengenal vania dan juga mengakibatkan kerusakan mobil orang lain, pengendara motor itu kembali menarik gas motor berniat melajukan motornya kembali.


"Nona, tolong menepilah! Aku sedang terburu- buru."


"Tidak, sebelum kau mengganti kerusakanku."


Setidaknya vania berhasil membuat pengendara motor itu sedikit kesal hingga turun dari motornya berniat menghampiri vania.


"Nona, jangan mengada- ngada! Saya sama sekali tidak mengenal nona dan juga tidak mengerti maksud nona."


Vania merasa agak meradang setelah mendengar pembantahan yang dilakukan pengendara motor tersebut, vania sedikit menyipitkan kedua matanya lalu membuka ponselnya memperlihatkan sebuah video padanya.


"Lihatlah!"


"Oo..., jadi ini yang dimaksud jojo tadi pagi. Hah..., dia yang menanam aku yang menuai."


Gumam pengendara tersebut menghela nafas panjangnya.


"Bagaimana? kau masih mengelaknya?"


" Maaf, nona. Memang motor milik saya tapi bukan saya yang terlibat dalam insiden tadi pagi."


"Jangan banyak alasan. Aku tahu, kau merasa takut bertanggungjawab? Kau pasti tidak mampu membayar kerusakan mobilku."


Ucap vania menyipitkan matanya mendekati wajah pemuda itu hingga satu langkah pemuda itu menggerakkan kakinya ke belakang.


"Tidak, nona. Bukan seperti itu, memang teman saya yang kebetulan memakai motor itu."


Ucapnya menunjuk sepeda motor yang terparkir di tengah jalan.


Vania mengambil kartu nama tersebut meskipun agak ragu.


"Bagaimana aku bisa percaya kau akan mengganti rugi semuanya?"


Ucap vania.


"Jika anda tidak datang, bagaimana kepercayaan itu ada?"


"Baiklah, aku akan terima tantanganmu."


Ucap vania berlenggang meninggalkan pengendara tersebut. Kedua nya tidak mengetahui wajah masing- masing karena vania selalu memakai masker saat diluar. Vania tak ingin disebut mencari popularitas apalagi gelar yang disandangnya sebagai nona angkasa, dengan kecantikannya pasti akan mengundang banyak orang memanfaatkan kedudukannya. Begitu juga dengan pengendara motor tersebut yang masih memakai helm tersenyum melihat gerak jalan vania yang angkuh dan juga terkesan menghindar.


"Ada- ada saja jojo ini. Dia yang berulah, gue yang kena batunya."


Gumamnya kembali menstarter sepeda motor miliknya yang memang dipinjam jojo tadi pagi hingga terlibat sebuah insiden.


Vania kembali ke ruangannya setelah kakaknya memergokinya hendak meninggalkan kantor. Beruntung tak ada satu karyawan pun melihatnya jika tidak pasti vania akan menekuk wajahnya.


Vania memandangi kartu nama yang bertuliskan nama nico samudra pemilik bengkel samudra.


"Seperti pernah mengenalnya? Tapi dimana? Ah..., mungkin saja hanya kebetulan."


Gumam vania.

__ADS_1


Tok tok tok...


Ceklek...


"Hah..., hah..., hah, untung nona belum pulang."


Tak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, sekertaris vania tersengal- sengal mengatur nafasnya yang berat akibat berlari ke ruang kerja vania.


"Ada apa? Kenapa kau tampak ketakutan?"


Ucap vania meskipun sedikit tercengang namun bisa menguasai keadaan.


"Nona, seorang yang bernama tuan ramon datang membuat sedikit kegaduhan di lobby resepsionis."


"Ramon?"


" Benar, nona. Dan beliau mengatakan tidak akan pergi sebelum bertemu dengan nona."


"Hah..., dasar laki- laki brengsek. Untung saja aku sudah putus dengannya."


Gumam vania.


"Suruh dia pergi! Katakan padanya aku sudah pulang! Jika dia menolak, bawa security untuk menyeretnya keluar dari gedung angkasa group."


Vania membalikkan badannya yang saat ini duduk di kursi putarnya membelakangi sekertarisnya.


"E..., eh baik nona."


Sekertaris vania hanya terbengong dan hampir tak menyangka atasannya akan berubah arogan.


"Sejak kapan nona berubah? Biasanya selalu excited."


Gumam sekertaris vania. Seperti yang diketahui, vania tergolong plagirl suka gonta ganti pacar. Sekertaris vania tersebut bergegas meninggalkan ruang kerja vania, menyampaikan apa yang dikatakan vania.


"Hah..., pria hidung belang itu ingin mencari masalah denganku."


"Apa dia pikir dengan datang ke kantor aku akan menerimanya kembali?"


"Kau salah berhadapan dengan orang, ramon."


Vania mengingat kembali kartu nama yang diberikan pemuda itu, cara licik yang diperbuat ramon harus dibalas dengan licik juga.


"Kau beruntung vania, kak denish sudah pulang terlebih dahulu. Jika tidak, habislah aku."


"Tapi kenapa si dingin itu mendadak pulang cepat? Bukankah dia gila kerja?"


"Oo..., aku tahu. Pasti pesona kakak ipar."


"Kakak ipar kau memang terbaik."


Vania kemudian menghubungi salah satu sopir kantor menyuruhnya mengambil kunci mobil dan juga membawa mobil tersebut ke bengkel dimana nico memberikan kartu namanya padanya.


Sementara vania berlenggang pergi meninggalkan ruangannya, vania memang berfikir pulang naik taksi. Laki- laki yang bernama ramon itu pasti menunggunya di depan gerbang pintu parkir.


Setelah berhasil menaiki sebuah taksi yang dipesan oleh resepsionis untuknya, vania melepas kacamata hitamnya memandang jau ke arah pintu keluar parkir gedung basement. Benar saja, laki- laki itu tampak mondar mandir di depan gedung tersebut.

__ADS_1


"Dasar laki- laki brengsek."


Bersambung🙏😊


__ADS_2