Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Banyak pelakor di luar sana


__ADS_3

"Dasar mama tak ada akhlak. Bilang saja kau yang ingin makan, bukan baby. Mana ada baby ingin makan sementara dia masih berwujud janin."


Zea menggerutu kesal pada sania atas permintaan nya.


"Hihihi..., tidak beneran baby. Suer."


Sania terkekeh geli dengan sikap zea yang ternyata sama seperti biasanya.


"Eh..., kau tidak jatuh cinta dengan suami ganteng mu itu?"


Sania mulai menyindir sahabatnya yang memang tak mengenal cowok sejak sekolah.


Zea tampak diam membisu tak mampu memberi jawaban.


"Jangan bilang kau tak tertarik padanya!"


"Apaan sih."


Zea tampak sedikit kesal dengan candaan sania.


"Ayolah, zea! Mau sampai kapan kau menutup hatimu? Masih berharap pada rizal?"


"Rizal? Apa hubungan nya dengan dia?"


"Bukankah dia cinta monyet mu?"


"Tidak. Aku bahkan tertarik padanya."


Ucap zea ketus dan tergolong cuek.


"Lalu...?"


"Tidak, sania. Aku hanya ingin melihat ketulusan dan juga cintanya padaku. Kau tahu kan, aku dari golongan yang tak selevel dengan nya. Aku takut jatuh cinta padanya."


"So..., kau mulai menyukainya?"


Zea mengangguk pelan.


"Aaaa..., baguslah."


"Apanya yang bagus?"


"Yah..., setidaknya jatuh cinta pada suami sendiri. Dari pada jadi pelakor."


"Ih..., amit- amit."


"Hanya..., aku masih bimbang dengan perasaan ku."


"Kenapa?"


"Entahlah?"


"Jangan terlalu kelamaan mikirnya! Banyak pelakor di luar sana. Apalagi tuan muda sangat tampan dan juga mapan, kau tak takut dia diambil orang?"


Deg...


Ucapan sania setidaknya berhasil mempengaruhi pikiran zea bahkan membuatnya membenarkan pernyataan nya.


Dertt.... dert


Bunyi getar ponsel zea membuyarkan lamunan nya. Juga membuat sania sedikit terkejut dan heran.


"Waow..., ponsel edisi terbatas."


Saat zea mengeluarkan ponselnya, sania ternganga melihat teman nya memiliki ponsel keluaran edisi terbatas.


"Ssts..., denish telepon."


Zea meletakkan jari tangan nya ke bibirnya, sedangkan sania tersenyum mengangguk pelan mengerti maksud zea.


"Ya, ada apa menelepon?"


"Hem..., baiklah."


Tampak terlihat zea mengakhiri panggilan telepon miliknya, kedua mata sania mengerjap beberapa kali begitu zea menyimpan kembali ponselnya.

__ADS_1


"Sudah?"


"Em."


"Begitu saja?"


"Memang nya harus bagaimana?"


"Harus bagaimana? Tidak ada panggilan mesra, misalnya sayang begitu."


"Hahahaha..., untuk?"


Zea melebarkan tawa nya saat sania menyuruhnya memanggil mesra suaminya.


"Untuk...? Untuk suami lah. Kata mama rose, seorang pria akan tersentuh hatinya jika wanita bersikap mesra padanya. Dan lama kelamaan pria itu akan membuka hatinya meskipun dia tak mencintainya."


"Bersikaplah mesra meskipun pria itu dingin dan kalahkan sikap dingin itu dengan kelembutan."


Ucap sania memperagakan mama mertuanya pada zea.


"Mama rose? Siapa dia?"


"Mama mertuaku. Lain kali akan ku kenalkan padanya, tapi tentunya jika suamimu mengijinkanmu keluar rumah."


"Nah..., sikap mesra itu juga bisa digunakan untuk meminta ijin. Hihihi."


Entah sejak kapan sania yang cenderung cuek dan juga tegas berubah menjadi seorang yang lembut juga manja, bahkan sikapnya berubah cenderung keibuan.


"Huh..., berlaku untukmu saja. Sudahlah, lain kali kita mengobrol. Denish sudah datang menjemputku."


"Baiklah, nyonya denish angkasa."


"Nyonya denish angkasa? Dan kau nyonya carlos... ."


"Damian, nyonya carlos damian."


"Cih..., berlagak sudah menjadi nyonya."


"Hahahaha..., o tentu."


Sedangkan di luar pintu tampak denish dan vans baru sampai di lobby, namun ketika tak melihat keberadaan zea denish langsung naik ke atas dimana carlos damian tinggal.


Belum sempat memencet bel, carlos damian mengerutkan dahinya tampak sedikit gusar dan khawatir melihat tuan muda angkasa di depan pintu rumahnya. Kekhawatiran tampak jelas diwajahnya, apalagi istrinya yang sedang mengandung buah hatinya. Carlos tak kan sanggup kehilangan keduanya jika harus berurusan dengan angkasa group.


"Tuan muda angkasa..., apa saya tidak salah lihat?"


" Tidak."


"Apa anda membutuhkan sesuatu atau ada hal yang harus saya kerjakan?"


"Tidak."


"Lalu...?"


"Kau lupa menawarkan ku singgah di rumahmu?"


"Oh..., saya hampir melupakan nya. Maafkan atas keteledoran saya, tuan. Silahkan masuk, tuan muda angkasa!"


Carlos dengan cepat membuka pintu melalui sidik jarinya.


"Hahahaha..Tiidak, terima kasih banyak. Aku hanya bercanda, tolong panggilkan istriku!"


Carlos mengerutkan dahinya mendengar gelak tawa denish tapi setidaknya bernafas lega, karena carlos memang merasa tak ada permasalahan dengan pemilik angkasa group itu.


"Sania sayang..., sania."


"Hem..., ada apa sayang? Kenapa kau berteriak? Ayo masuk! Aku kenalkan dengan zea... ."


Sania terkejut mendengar teriakan suaminya juga karena melihat tuan muda angkasa di depan rumah nya.


"Maksudku nyonya angkasa."


Ucap sania yang setengah berlari menghampiri zea di ruang tengah.


"Siapa sania? Apa suami mu sudah pulang?"

__ADS_1


"Iya, benar."


"Lalu..., kenapa kau tampak ketakutan? Jangan- jangan carlos bersikap tidak baik padamu?"


"Tidak, bukan seperti itu. Ayo cepat!"


Sania tak menjelaskan apapun tapi menarik terburu- buru menarik zea dari ruang tengah.


"Eh..., eh..., kenapa kau menarik ku? Ada apa? Suami mu tak mengijinkan aku berkunjung kesini?"


"Bukan."


Zea tampak sedikit heran mendengar jawaban sania, sekaligus bingung dengan sikap sania.


Zea tercengang melihat denish yang rupanya sudah didepan pintu rumah sania bersama vans dan juga carlos. Pantas saja sania tampak ketakutan ketika masuk kembali ke dalam rumah.


"Sayang, mari kita pulang!"


Zea tersenyum mengangguk pelan.


"Aku pulang dulu, jaga keponakan ku baik- baik!"


"Em, pergilah!"


Zea sedikit melambaikan tangan pada sania.


"Terima kasih, kau telah menjaga istriku."


Ucap denish.


"I..., iya tuan, sama- sama. Terima kasih telah mengijinkan nya mengunjungi ku."


Bagai tersambar petir, baik sania maupun carlos mendengar kata terima kasih dari orang nomor satu itu.


Denish tak menjawab pernyataan sania hanya tersenyum menganggukkan kepalanya, memegang tangan istrinya.


"Bye... zea."


Zea kembali menoleh ke belakang melambaikan tangan nya pada sania.


"Ingat, di luar sana banyak pelakor!"


Zea mengerutkan keningnya mendengar kata pelakor yang nyatanya berhasil mempengaruhi pikiran nya. Sedangkan denish tersenyum melirik istrinya yang terlihat sedikit geram.


Tak berapa mereka sampai di lobby apartemen itu, mobil mewah sudah menunggu di depan mereka. Seperti biasa sang sekertaris membukakan pintu untuk majikan nya.


Mobil melaju kencang menuju tempat dimana denish ingin menghabiskan sedikit waktu bersama istrinya.


Zea menatap ke arah jalan dimana pemandangan itu jarang dilihat zea karena tuan muda angkasa memang tak mengijinkan zea keluar dari rumah.


Salah satu alasan kenapa denish melarang atau tak mengijinkan zea keluar adalah khawatir gadis itu kabur darinya. Ada alasan lain yang juga sangat berbahaya yakni ketakutan gadis itu dalam bahaya.


Pandangan zea tertuju pada jalanan yang sedikit basah terguyur air hujan, tanpa menatap sedikitpun ke arah denish yang tengah membuka layar laptopnya.


Entah kenapa pikiran nya melayang memikirkan perkataan sania, juga tak sengaja melihat pertengkaran dua pasangan muda tak jauh dari mobil yang ditumpangi nya berhenti karena lampu merah menyala.


Samar- samar terdengar pertengkaran itu karena wanita lain, zea mengalihkan pandangan nya pada denish yang tetap tenang serius menatap layar laptopnya.


"Hah..., meskipun di dalam mobil kau tetap sibuk dengan benda itu."


" Tak sekali pun menatapku."


"Apa aku tak menarik baginya?"


"Buktikan sampai sekarang dia tak menyentuhku?"


"Tidak. Bukankah kau selalu menolaknya, zea?"


"Tidak. Bagaimana aku menolaknya kalau dia meminta haknya?"


"Bagaimana pun juga aku ini istri sahnya."


"Jangan- jangan benar kata sania, dia tergoda pelakor di luar sana.'


Wajah zea berubah murung ketika sedang bergelayut di alam pikiran nya, tak menyadari tangan denish menyusup di antara pinggangnya.

__ADS_1


Bersambung🙏😊


__ADS_2