Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Terrjatuh


__ADS_3

"Aku dimana?"


"Seperti pernah mengenal tempat ini. Tapi dimana?"


"Eug..., pinggangku seperti tertimpa beban berat."


Setelah melihat ke arah bawah, zea terkejut melihat sebuah tangan melingkar dipinggangnya.


"Tangan siapa ini?"


Dengan gerak sangat pelan memindahkan tangan tersebut, zea beranjak bangun dari tempat tidur.


"Denish?"


Gumam zea dalam hati.


"Sejak kapan aku tidur ditempat tidur? Dan laki- laki ini memeluk ku?"


"Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan."


"Tapi..., tunggu..., tunggu. Bukankah kami dalam perjalanan ke suatu tempat?"


"Ini..., tempatnya? Tidak. Bukankah ini kamar yang ku tempati dulu?"


"Hah..., mengajak ke suatu tempat rupanya kesini?"


Wajah zea berubah murung dan cemberut saat mengetahui kalau denish mengajaknya ke paviliun.Tak seperti yang dibayangkan nya, seperti makan malam romantis diiringi nyanyian lagu cinta atau alunan irama musik kemesraan. Atau bahksn mungkin di sebuah kapal pesiar lalu denish memeluknya dari belakang seperti kisah film tetanic, rupsnya hanya angan- angan pikiran zea saja.


Namun ada sesuatu yang lebih menarik dari itu semua yakni melihat wajah tenang denish yang saat ini masih tidur, tampan berwibawa.


Entah ada angin apa, zea ikut berbaring kembali menatap wajah tersebut. Menyentuh lembut hidung mancung seperti artis bollywood secara perlahan.


"Hidung nya mancung."


"Alis juga tebal hampir menyatu."


"Bibir ini...? Nakal. Sering memanfaatkan kesempatan."


Saat zea menyentuh lembut bibir denish dengan satu jari telunjuknya, denish membuka matanya mengagetkan zea yang tengah menyusuri wajah tampan nya.


Mata zea tercengang menatap dua bola mata elang yang kini juga menatap nya, saling beradu hingga datang kesadaran zea yang seketika membalikkan badan nya membelakangi denish.


"Kenapa? malu? Atau aku yang akan membantu mu?"


Semburat malu terpancar di wajah nya meskipun tak terlihat oleh denish, tetap saja zea merasa malu- malu.


"Kau menyukai ku? Atau mengagumi ketampanan suami mu?"


Baru saja di buat malu dengan sikap nya sendiri, denish kembali membuatnya kesal.


"Cih..., lagi- lagi pria ini menyombongkan dirinya."


Gumam zea dalam hati.


"Zea..., zea..., bagaimana mungkin kau bisa menikah dengan nya?"


"Entahlah? Rupanya dia menipu ku mengatasnamakan sania, tapi bagaimana aku bisa lepas darinya?"

__ADS_1


Lagi- lagi zea berpikir untuk lepas dari genggaman denish meskipun pada kenyataan nya tidak mungkin terjadi. Zea banyak mendengar dari orang- orang sekekilingnya kalau denish bukan tipe yang mudah melepaskan orang lain. Sejenak, ingatan zea terbayang pada kisah masa lalu denish.


"Tapi..., bagaimana mungkin dia membiarkan tunangan nya meninggalkan nya?"


"Apa masalah nya?"


"Oh..., aku tahu. Pasti karena kesombongan nya."


Zea tak menyadari jari jemari denish menyusup di balik baju yang di kenakan nya. Semakin lama bergerak menyusuri bagian tubuh zea yang ternyata sedang bergelayut manja dengan pikiran nya. Zea merasa sentuhan lembut jemari denish, merinding..., ngilu..., tapi seperti memberi candu tersendiri.


"Stop!!"


Zea sedikit berteriak sebelum pikiran nya di penuhi hal yang tidak baik dan juga larut di dalam nya.


"Hem..., Ada apa?"


"Sayang, aku lapar."


Ucap zea membalikkan badan nya menatap wajah datar denish.


"Aku juga."


"Aku akan ke dapur membuat makanan."


Zea beranjak duduk di tenpat tidur, hendak bangun meninggalkan tempat tidur. Tetapi denish menariknya jatuh tepat di dadanya.


"Tapi aku ingin memakan mu."


Bisik denish tepat di telinga zea, semburat merah terpancar jelas diwajah zea yang kemudian bangun dari atas tubuh denish.


Zea sedikit berlari kecil ke kamar mandi sekedar mencuci muka, namun gadis itu rupanya berdiri dibalik pintu menyentuh pelan jantung nya dimana berdegup kencang tak beraturan.


"Hatiku berdebar- debar? Mungkinkah hati ini telah terbuka untuknya?"


"Tapi tidak ada salah nya, seperti yang dikatakan sania. Setidaknya aku jatuh cinta pada suami sendiri."


"Tidak. Tidak mungkin, itu hanya kekaguman saja."


"Kegamuman atau tidak, itu sama saja."


"Aaaa...., zea..., zea. Bagaimana kau tak jatuh cinta pada nya dengan sikap nya yang lembut, setiap perempuan pasti akan jatuh dalam pelukan nya."


Gumam zea memandangi wajah nya sendiri di cermin wastafel kamar mandi.


Denish bergulung- gulung di kasur, rupanya ia juga merasakan hal yang sama yang tidak pernah dirasakan nya sewaktu bersama rayna. Rasa ini sedikit berbeda dan juga sangat menantang, bahkan membuat denish rela melakukan apa pun untuk mendapatkan cinta nya.


Tok tok tok...


"Tuan, makan malam sudah siap."


"Iya, mbok. Terima kasih."


Setelah mbok ijah memberitahu, denish menghampiri istrinya dikamar mandi.


"Sayang, makanan sudah siap."


"I..., iya."

__ADS_1


Bruk...


"Aduh."


Zea gugup mendengar suara denish, karena kegugupan nya itu kemudian menyebabkan konsentrasi nya pecah hingga jatuh ke lantai.


Ceklek...


"Sayang, ada apa?"


"Bagaimana bisa jatuh? Melamun? Atau masih memikirkan suami mu ini?"


Ucap denish melihat istrinya jatuh tersungkur dilantai, lalu menggendong nya duduk di sofa.


"Memikirkan dia? Huh..., sudah tahu jatuh masih saja menggodaku."


Gumam zea dalam hati.


Denish hendak mengambil minyak urut di kotak obat melihat sedikit memar pada pergelangan kaki zea setelah memeriksanya. Namun zea yang tidak mengetahuinya ikut berdiri hingga merasakan sedikit sakit dan saat akan berjalan terjatuh kembali.


Brukk...


"Auw..., sakit."


"Sayang..., kita ke rumah sakit."


"Tidak."


Tampak terlihat jelas diwajah denish rasa khawatir yang berlebihan, wajah datar itu menatap sendu sebelah kakinya yang sakit.


"Tidak? Tapi kau kesakitan."


"Sedikit."


"Baiklah, tunggu disini! Aku akan mengambil minyak urut dikotak obat."


Zea mengangguk pelan.


Tak berapa lama denish datang membawa minyak urut lalu memijat secara perlahan. Meskipun merasa kesakitan, zea menahan hingga *******- ***** sofa. Melihat reaksi zea, denish mengerti kalau rasa sakit yang dirasakan bukan hanya sedikit tapi lebih dari itu.


"Mau makan di kamar?"


Zea menggeeng dengan cepat meskipun kakinya sedikit sakit.


"Baiklah, aku akan menggendongmu."


Zea tak kuasa melawan meskipun enggan tapi apa boleh buat, kakimya memang terasa sakit saat digerakkan.


Mbok ijah dan mang kasim, serta vans tercengang melihat kemesraan tuan muda nya,mereka mengira denish telah berubah bersikap mesra dengan istrinya.


"Rupanya dugaan ku tidak salah."


Gumam vans dalam hati.


"Nyonya memang memounyai tempat di hati tuan muda."


"Bahkan tuan yang di kenal arogan menjadi lembut dengan istrinya.

__ADS_1


Vans masih bergelayut manja fi pikiran nya. Sedangkan mbok ijah beberapa kali menggelengkan kepanya.


Bersambumg 🙏😊


__ADS_2