
" Maafkan saya, tuan wirya. Karena keadaan istri saya yang sedang hamil muda, kami harus undur diri."
Ucap denish mengulurkan tangannya berjabat tangan.
" Oh..., baiklah tuan denish. Terima kasih atas kehadiran anda."
" Terima kasih juga telah mengambil sampah yang selalu mengganggu."
Bisik denish.
Wirya memicingkan matanya menatap tajam tak mengerti apa yang dikatakan denish.
" Percayalah, kau akan menyesal. Bagaimana mungkin seorang wirya teledor memilih pasangan?"
Wirya sadar perkataan denish ditujukan pada rachel.
" Kami permisi, nona rachel. Mudah- mudahan cepat menyusul."
Bisik zea.
" Terima kasih, nyonya denish. Doakan yang terbaik untuk kami."
Rachel merasa kesal dengan ucapan zea yang cenderung menyudutkan nya.
Denish melingkarkan tangannya di pinggang zea, satu tangannya menelepon vans.
Dua pasang mata tampak menatap tajam pada denish dan juga zea yang meninggalkan pesta itu. Salah satu nya meremas gaun mewahnya, terlihat tampak kesal dengan pandangan matanya.
" Awas kau! Aku akan menyingkirkanmu dari sisi denish. Denish hanya milikku."
Gumam rachel dalam hati.
Sedangkan wirya bersikap biasa saja, namun terlihat senang saat mengetahui kebenaran kalau denish memiliki pasangan lain. Dengan kata lain, wirya berhasil memperebutkan rachel menjadi miliknya.
Perjalanan yang tak menempuh waktu berapa lama, menjadikan suasana menjadi canggung.
Baik zea maupun denish tak mengatakan sesuatu selama dalam perjalanan.
" Terima kasih, vans."
" Selamat malam, nyonya."
Zea tersenyum mengangguk pelan.
Entah mengapa hati denish melunak melihat zea yang begitu sopan menghargai bawahan nya.
"Non...,non sudah pulang? Mbok akan siapkan makanan."
" Tidak perlu, mbok. Kami sudah makan, mbok istirahat saja."
" Baiklah, non."
Zea menghentikan langkahnya mendengar suara mbok ijah.
Zea melepas gaun mewahnya di kamar mandi dan mengguyur tubuhnya yang sangat lelah, setelah menghapus riasan wajahnya.
Hanya memakai bathrobe, zea keluar dari kamar mandi menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil.
__ADS_1
Tak menyadari denish yang berada di dalam wardrobe, ane terkejut melihat denish bertelanjang dada hingga menjatuhkan handuknya.
" Hah...."
Zea memalingkan badannya, tak ingin melihat atau pun terpesona lebih lama lagi dengan tubuh six packs kotak kotak seperti roti sobek itu.
Ingin rasanya mencubit roti sobek tersebut, namun zea sadar kalau hanya impian semata.
Denish menyunggingkan sedikit senyum, muncul ide jahil mengerjai istrinya.
" Kau malu? Malu melihat tubuh sexy suamimu?"
Bisik denish di depan daun telinga zea.
Tak sampai disitu saja, denish sengaja meraba bagian bawah zea yang hanya mengenakan bathrobe.
Juga mencium leher jenjang zea dari belakang, satu tangan lagi melingkar di perut zea.
Getaran hebat merasuk dalam jiwa zea, yang tak pernah ia rasakan. Ingin mendesah merasa takut dan malu, tetapi setiap sentuhan jari jemari denish yang lincah bahkan tangan yang semula melingkar di perut beralih menyusup disela-sela bathrobe zea membuatnya mengeluarkan suara *******.
Ingin bersuara menolaknya, namun tangannya terasa kaku tak mampu bergerak. Seakan terhipnotis belaian kasih sayang denish, mulut zea tak mampu bicara.
Denish meraih tangan zea menggenggamnya secara perlahan. Saat bibir denish terus menerus mengecap leher jenjang zea, tangan zea bergerak meremas tangan denish.
Senyum kecil terukir diwajah dinginnya, mengetahui kalau zea menikmatinya. Dengan cepat denish membalikkan tubuh zea, mencium, *******, menyesap bibir manis yang pernah dirasakannya bahkan menjadi satu candu tersendiri.
Zea masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal ulah dari denish. Tangan denish meraih tangan zea dengan sangat cepat dan kilat menarik tangan zea, menyentuhkannya pada suatu bagian dibawah sana yang telah bangun.
Bahkan hingga membuat zea tercengang membelalakkan matanya menyentuh sesuatu tanpa pembatas apapun.
Bisik denish melepaskan tangan zea dan berlalu meninggalkan zea di wardrobe mininalis milik denish.
Zea terkulai lemas duduk dilantai setelah apa yang dilakukan denish bahkan atas apa yang baru saja disentuhnya.
Detak jantung zea berpacu kencang, meskipun angin tornado berhembus sangat cepat menggulung apa yang ada disekelilingnya tak mampu menahan zea yang merasakan sesuatu yang lain.
" Astaga, apa tadi? Apa kepunyaannya?"
" Apa dia sudah tidak waras? Menyuruhku menyentuhnya."
" Bagaimana dia tahu aku mengatakan hal itu? Apa jangan jangan pria itu menaruh cctv di kamar ini?"
" Tapi tidak mungkin, pasti mbok ijah yang memberitahunya."
" Dasar."
Zea bergegas memakai piyamanya, membaringkan tubuhnya yang lelah bersandirawa malam tadi.
" Hah,...tidak. Kenapa aku harus memikirkanya?"
" Tapi baguslah dia bukan seorang guy. Hihihi...."
" Dasar tak waras."
Zea yang terlihat sangat lelah tertidur pulas di ranjang king size yang ditempatinya selama ini.
Denish keluar dari kamar mandi mengambil piyama yang akan dipakainya. Denish tersenyum melihat zea meringkuk tertidur sangat lelap.
__ADS_1
" Kau seperti bayi. Bagaimana mungkin bibir judes milikmu berubah menjadi lembut saat seperti ini."
"Kau benar benar sudah membuatku gila."
Denish merengkuh zea ke dalam pelukan nya dan juga dalam satu selimut yang sama.
Kehangatan yang dirasakan pada kedua insan itu, dikeheningan malam yang begitu sunyi dan tenang.
Zea seperti bermimpi berada di pelukan seorang yang sangat mencintainya. Tersenyum melontarkan kata cinta, denish mengerjapkan matanya ketika mendengar zea mengigau.
Seperti terbakar rasa cemburu, denish menatap tajam pada zea yang tersenyum manis tetapi kedua matanya masih terpejam.
Ketika denish akan bangun dari tidurnya, zea menggenggam erat tangannya. Entah apa yang di impikan zea hingga menangis tersedu sedu, tetapi juga tersenyum manis.
Dengan menyangga kepalanya dengan satu tangannya, denish membiarkan mimpi zea selesai dan kembali tenang. Setelah melihat tak ada pergerakan bahkan zea perlahan melepas pegangan tangan nya, denish tersenyum devil entah apa yang akan dilakukannya.
Tangan denish mulai bergerilya menyusup disela sela piyama zea, suara ******* zea lolos terdengar dari bibir zea saat tangan denish bermain manja di kedua squisynya.
Denish semakin terpancing memainkan perannya mengerjai istrinya yang terlihat menikmatinya.
Namun dering telepon genggam milik dwnish yang bergetar memaksanya berhenti bermanja disana.
Denish memilih keluar dari kamarnya ke ruang kerjanya, membiarkan zea tidur lebih lama lagi.
Beberapa telepon dari nenek maupun rekan bisnis menanyakan tentang berita yang beredar, membuatnya mengernyitkan dahinya.
Beberapa notif pesan masuk tak dihiraukan denish, memilih membuka layar laptopnya melihat berita sosial media link chanel yang di kirimkan vans.
" Bagus, setidaknya tak ada para ulat yang datang mengganggu."
Gumam denish dalam hatinya.
Zea terbangun dari tidurnya dan entah mimpi apa yang menggangunya, hingga tersengal-sengal mengatur nafasnya.
" Hah..., aku cuma mimpi. Syukurlah."
Gumam zea.
Tersadar kancing piyamanya terbuka, zea mengerutkan keningnya. Seakan bertanya apa yang telah terjadi padanya? Bagaimana mungkin zea lupa mengacingkan kancing piyamanya?
" Tidak mungkin aku lupa mengancingkannya. Lalu...?"
Gumam zea dalam hati.
" Jangan-jangan,...? Tidak..., tidak..., tidak. Tidak mungkin terjadi."
" Tapi..., bagaimana kalau benar?"
" Aaaa...."
Zea kembali tidur menutup wajahnya dengan bantal yang ada disampingnya.
Merasa tak percaya apa yang terjadi, bahkan diluar kendalinya.
"Sayang, kau sudah bangun?"
Bersambung🙏😊
__ADS_1