Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Hampir syok


__ADS_3

" Hei..., tunggu! denish."


Wirya mengejar denish yang telah masuk meninggalkannya sendiri di depan.


"Sayang, kau disini rupanya? Aku mencarimu kemana-mana."


Ucap seorang gadis yang saat ini meletakkan tangannya dipergelangan tangannya.


" Oh...ya, ada apa sayang? Ada sedikit masalah di depan jadi aku memeriksanya."


" Acara sudah siap dan akan segera dimulai."


" Baiklah. Ayo kita ke dalam!"


Senyum sumringah tampak jelas di wajah wirya.


Beberapa kolega dan rekan bisnis menatap denish dengan seorang gadis cantik menggandeng lengannya.


" Siapa gadis itu?"


" Sepertinya pacar tuan denish."


" Benar."


" Cantik sekali."


" Iya, benar. Pasangan serasi."


Bisik bisik santer terdengar antara tamu undangan yang hadir di pesta tersebut.


" Waow..., tak kalah cantik pacar tuan denish."


" Benar sekali, beruntung sekali tuan denish."


" Apa kalian akan melihat pertunjukan hari ini?"


" Iya, benar."


" Ku dengar tuan wirya akan bertunangan dengan nona rachel."


" Dan kabar nya tuan denish dan tuan wirya saling memperebutkan nona rachel."


" Tapi kalau mereka bersaing kenapa tuan denish membawa pasangan lain?"


" Benar itu."


" Kita lihat saja pertunjukannya."


Beberapa pengusaha yang merupakan kolega mereka hanya bisa melihat apa yang terjadi selanjutnya.


" Jangan-jangan nona cantik itu hanya sewaan, tuan denish."


" Iya, siapa tahu simpanan nya?"


" Entahlah, tapi menurutku tidak. Nona ini jauh lebih cantik dari nona rachel."


" Kabarnya mereka sangat dekat tapi kenapa menggandeng wanita lain?"


" Nona rachel juga cantik."


Bisik bisik mereka kian santer bahkan terdengar samar samar ditelinga zea.


" Apaa... sewaan? Simpanan?"


Gumam zea dalam hati.


"Hah..., memang harus ku akui kalau aku tidak cantik."


Zea tampak diam membisu, tampak sedang melamun.


" Sayang, ada apa?"


" Tidak. Hanya sedikit kesal."


" Kesal? Apa orang-orang yang datang di paviliun membuatmu kesal?"


" Tidak. Hanya... aku sedikit mengantuk tapi mereka membangunkanku."


" Bertahanlah sedikit lagi."


Bisik denish yang kemudian mencium pipi zea.

__ADS_1


" Ah..., sayang. Malu dilihat orang."


" Biarkan saja! Tapi aku suka panggilanmu."


Bisik denish.


" Suka? Bukankah kau yang menyuruhnya? Dasar pikun."


Gumam zea dalam hati.


Tampak seorang berjas hitam berjalan menuju altar kecil, memegang mix yang ada di altar tersebut.


" Para hadirin yang terhormat, saya selaku pembawa acara akan memimpin acara ulangtahun yang di adakan tuan wirya ."


"Kami ucapkan terima kasih atas perhatian nya, untuk acara selanjutnya sambutan dari tuan wirya dan juga pemotongan kue."


Prok...prok...prok...


Prok...prok...prok...


Suara tepuk tangan riuh meramaikan suasana yang terlihat begitu mewah dan juga terlalu berlebihan.


" Terima kasih atas kehadiran tuan dan nyonya sekalian, saya mengadakan pesta bukan tanpa alasan tetapi juga untuk mengumumkan satu acara penting."


" Bersamaan dengan acara ulangtahun yang saya adakan, juga untuk mengumumkan pertunangan saya dengan rachel."


Prok....prok...prok....


Prok...prok...prok...


Rachel berlenggang naik ke atas altar mini yang sengaja dibuat pihak eo, memasukkan tangannya di sela lengan wirya. Gadis berparas cantik, putih dan juga sexy bak gitar spanyol itu tersenyum seiring tepuk tangan para tamu undangan.


Gadis itu menemani wirya meniup lilin dan juga memotong kue. Tentu saja, kue pertama akan wirya berikan padanya sebagai calon istrinya.


Setelahnya mereka bertukar cincin memasangkan dijari manis mereka, dan juga menunjukkannya pada tamu undangan yang hadir tanda kepemilikan.


Senyum rachel mendadak hilang saat melihat denish duduk bersama seorang perempuan disampingnya.


" Siapa gadis itu? Apa dia pacar denish? Tidak, itu tidak mungkin."


Gumam rachel yang kembali tersenyum pada tamu undangan.


" Aku yakin denish pasti menyewa seorang gadis datang kemari. Bagus, berarti rencana ini berhasil."


" Hahaha...., denish...denish. Kali ini aku menang."


Rachel masih bergelayut manja di dalam pikirannya bahkan tak menghiraukan tamu undangan yang tersenyum padanya.


" Terima kasih atas perhatian nya, acara selanjutnya berdansa bersama pasangan yang tengah berbahagia."


Ucap pembawa acara tersebut mempersilahkan tamu undangan.


"Kita akan berpamitan."


Bisik denish pada zea yang menegak jus didepan nya.


" Tidak, aku tidak akan mempermalukanmu."


" Tapi...."


" Tidak apa-apa."


Zea mengajak turun ke tempat dansa dimana sebagian lampu telah dimatikan hanya lampu yang menyorot pada pasangan tunangan tersebut.


Denish tak menyangka zea bisa berdansa meskipun sebenarnya ragu tapi keahlian gadis yang telah menjadi istrinya, menang oatut diacungi jempol. Zea memang mempelajari semuanya dari tante ira sebelum terjun ke dunia photo modeling.


Rachel maupun wirya terkejut saat melihat denish dan juga gadis yang disebut sebagai nyonya denish angkasa berdansa.


" Brengsek..., gadis itu juga pandai berdansa. Siapa sebenarnya gadis itu?"


Gumam rachel dalam hatinya.


" Ku akui penyamaranmu patut diacungi jempol,nona. Kau membantu musuh bebuyutanku se perfect ini."


Gumam wirya dalam hatinya.


Acara dansa telah selesai dan penjamuan makanan segera dihidangkan, tampak dari jauh wirya dan rachel menyapa para tamu undangan.


" Kau sangat cantik malam ini."


Bisik denish ditelinga zea yang juga membuatnya tersipu malu.

__ADS_1


" Sayang, kau ingin makan sesuatu?"


"Tidak, menu makanan sangat berat. Aku akan mengambil buah-buahan dan juga sedikit pasta."


" Baiklah, aku akan mengambilkan nya untukmu."


Zea mengangguk pelan.


Denish membawa makanan yang dipesan zea, dan juga minuman yang tersaji di atas meja.


" Makanlah! Kau perlu tenaga yang banyak untuk malam nanti."


Bisik denish.


Zea tercengang menatap tak percaya, hampir saja salah meneguk minuman saat mendengar bisikan denish.


" Sayang..., apa kau sedang melamun?"


Zea sadar dari keterkejutannya, melihat ke arah tangan yang memegang gelas wine.


Zea tersenyum menunjukkan giginya saat denish menatapnya dan memegang gelas wine yang dipegang zea.


" Selamat malam, tuan denish. Apa kau tidak ingin memperkenalkan pasangan anda?"


Ucap rachel yang didampingi wirya.


Denish mengerti arah pembicaraan wanita itu, memicingkan matanya menatap tajam pada gadis yang sengaja bertanya demikian.


" Terima kasih atas kehadiran anda, nona."


Ucap wirya.


Zea tersenyum bangun dari tempat duduknya. Sikap elegan yang tidak pernah denish lihat dirumah, sedikitnya membuat denish tercengang ikut bangun dari duduknya.


" Perkenalkan saya istri dari denish angkasa, zeavelia denish angkasa."


Ucap zea mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan dua orang pemilik acara.


Masih merasa tidak percaya, baik rachel maupun wirya saling berpandangan.


Sadar dari keterkejutan mereka, wirya dan rachel menyambut hangat uluran tangan zea yang tersenyum manis seperti bidadari.


Hampir saja wirya terpesona dengan senyuman zea, kalau zea tak menarik tangannya.


" Selamat ulang tahun tuan wirya dan juga selamat atas pertunangan kalian. Semoga secepatnya menikah dan kami menunggu undangan nya."


Kata telak yang di ucapkan zea semakin membuat rachel mengeram kesal bahkan sempat meremas bagian belakang gaun yang dipakainya.


" Tentu saja, nyonya denish. Kami akan segera mengirimkan undangan nya."


Ucap wirya.


" Silahkan menikmati hidangan dan juga acara kami hingga selesai!"


Wirya menyodorkan gelas wine yang dipegangnya pada zea maupun denish.


Denish mengambil gelas wine di atas meja, tapi tidak dengan zea yang mengambil gelas jusnya.


" Ada apa? Apa nyonya denish tidak menghormati kami?"


Ucapan rachel membuat zea tersenyum menahan tangan denish yang hampir saja mengeluarkan suara.


" Maaf, nona rachel. Jika gelas saya tidak menghormati anda, tetapi saya tidak ingin membahayakan yang disini."


Balasan jawaban yang diberikan zea saat menyentuh pelan perut datarnya membuat keduanya hampir syok.


Bahkan denish sedikit tercengang, namun tersenyum kecil melihat kelicikan istrinya.


" Baiklah, kami mengerti nyonya denish."


Mereka bersulang sebelum menyapa tamu lain. Rachel sedikit geram dengan apa yang terjadi di depan matanya, entah rencana apa yang akan dijalankannya gagal seketika setelah mengetahui denish telah beristri.


" Apa kau ingin sesuatu yang lain?"


" Tidak."


" Kalau begitu kita akan berpamitan."


" Hem, baiklah."


Denish melingkarkan tanganya disela-sela pinggang zea, meskipun agak risih tapi demi menjaga suaminya zea tersenyum menatap denish.

__ADS_1


Denish memang harus mengacungi jempol dengan sikap elegan zea, yang sungguh diluar dugaan. Berbeda saat dirumah terkesan cuek dan pembangkang, didepan orang lain bisa bersikap lembut bak putri khayangan.


Bersambung😊🙏


__ADS_2