
"Aaa..., sialan. Kau dengar sendiri raina, akan ada generasi penerus."
" Itulah sebabnya, kenapa tante menyuruhmu cepat- cepat datang?"
"Jika sampai generasi penerus itu lahir, kita tidak akan mempunyai kesempatan lagi."
Ucap sinta yang terlihat marah saat mereka sudah berada dikamarnya.
"Tenang tante! Raina ini seorang dokter, tahu mana yang boleh dimakan dan tidak pada ibu hamil."
" Serahkan saja pada raina."
Ucap raina tersenyum licik yang entah apa yang akan direncanakannya.
"Ingat raina, jangan bertindak gegabah! Jika rencanamu gagal, maka kita sendiri yang akan bertanggungjawab. Apa kau mengerti!"
" Raina tahu tante, yang penting kita sudah dapat dukungan dari kakek. Raina pastikan tidak akan gagal."
" Baiklah, tante percaya padamu."
Sinta maupun raina tengah merencanakan sesuatu yang entah apa yang akan mereka lakukan.
Sementara zea berbaring ditempat tidurnya, memikirkan apa yang dikatakan nenek salamah dan juga teringat apa yang dikatakan kakek suryo. Zea tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dirumah ini, apa yang akan dua lakukan? Dan kepada siapa akan berpihak?
Pikiran zea melayang jauh ke angkasa bahkan sulit dibayangkan, zea dapat merasakan kerumitan antara anggota keluarga. Namun pada siapa akan mengatakan isi hatinya. Kekacauan yang mengisi pikirannya membuat zea terlelap ke alam mimpi.
Meskipun sepasang mata selalu mengawasinya, tanpa sepengetahuannya dan tanpa disadari sebuah senyum mengembang di wajah dingin denish.
Ketika sore menjelang matahari terbenam di ufuk barat, semua pelayan tengah sibuk mempersiapkan makan malam. Sebuah suara cetar menggelegar seperti biasa menghiasi ruang dapur yang mana para pelayan sibuk dengan tugas masing- masing.
Yah, siapa lagi kalau bukan rima menantu kedua keluarga angkasa yakni ibu dari vania angkasa. Rima selalu membuat ricuh saat wanita paruh baya yang gila sosialita itu berada dirumah.
"Bagaimana sih jam segini belum selesai masak? Jam berapa makan malam?"
Gumam rima sedikit kesal.
" Aku harus istirahat dengan cepat jika tidak, besuk akan ketinggalan pesawat.'"
"Dimana vania? Kenapa belum pulang jam segini?"
"Aku harus meneleponnya."
Rima mendongakkan kepalanya saat melihat seseorang yang belum pernah ditemui bahkan dikenalnya, menuruni anak tangga. Meskipun memakai baju yang sederhana karena bentuk tubuh mungil zea dan juga kecantikannya tetap saja terlihat menawan.
"Eh..., siapa dia? Aku belum pernah bertemu dengannya."
"Pasti bukan orang sembarangan, bisa tinggal di kediaman angkasa."
Gumam rima.
Saat yang bersamaan bukan tidak mungkin satu kebetulan ketika rima akan membuka mulutnya, bibi ha terlebih dahulu menyapa zea yang baru saja turun ke bawah.
"Selamat sore, nyonya muda. Anda membutuhkan sesuatu?"
" Sore, bibi ha. Tidak, hanya ingin memasak sedikit masakan. Apa aku boleh ke dapur?"
" Tentu, nyonya muda. Silahkan!"
Bibi ha melihat rima yang ternganga ketika bibi ha menghampiri zea yang tak lain nyonya muda angkasa.
"Nyonya rima, anda sudah pulang?"
"Hem. Siapa dia bibi ha? Dan kenapa kau memanggilnya nyonya muda?"
Ucap rima yang masih acuh tak acuh dengan penghuni baru keluarga angkasa.
"Tolong jaga bicara anda nyonya rima! Nyonya zea adalah nyonya muda keluarga angkasa istri tuan muda denish."
__ADS_1
"Hah..., istri denish. Mati aku! Jika gadis ini mengadukan sikapku pada denish, bisa- bisa jatah bulananku dikurangi."
Gumam rima dalam hati.
"Halah..., aku tidak peduli. Yang memberi uang bulanan mas danu bukan denish."
"Sepertinya aku harus hati- hati lagi dengan penghuni baru yang menjadi pemilik kediaman angkasa."
Gumam rima yang masih bergelayut dalam hayalannya.
"Nyonya, ini adalah nyonya rima ibu dari nona vania."
" Halo, tante. Selamat sore."
Zea tersenyum mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan rima selaku salam perkenalan namun rima hanya menyentuh ujung jari zea. Melihat sikap tidak sopan rima, bibi ha yang akan membuka mulutnya mendapat larangan dari zea berupa gelengan kepala.
Rima lantas pergi ke lantai atas ke kamar miliknya setelah mengingat akan menelepon putrinya vania. Sementara zea di dampingi bibi ha ingin memasak sedikit makanan kesukaannya.
Para pelayan yang berada di dapur merasa sedikit canggung dengan kehadiran zea, namun zea meyakinkan mereka untuk bersikap biasa saja.
Zea sengaja memasak kesukaannya sendiri karena sedang merindukan sang ibu. Neskipun hanya ibu sambung toh ibunya yang merawatnya sejak masih bayi.
"Nyonya, apa yang sedang anda masak?"
Zea tersenyum dengan beberapa pelayan yang menyapanya saat berdekatan dengannya.
"Pasti masakan kesukaan tuan muda."
Lagi- Lagi zea tersenyum mendengar jawaban dari salah satu pelayan lain nya.
" Iya, benar. Maaf nyonya, saya tidak berpikir ke arah itu."
"Wah..., ternyata nyonya pandai memasak."
"Baunya harum, pasti enak."
Suara lengkingan bibi ha membuat beberapa pelayan terkejut lalu seketika menjauh dari zea.
"Nyonya, bibi minta maaf atas kelancangan para pelayan."
" Tidak, bibi ha. Mereka hanya mencoba meredakan ketegangan di dapur."
Ucap zea.
"Apa bibi sering memarahi mereka atau menghukumnya? Mereka terlihat takut saat mendengar suara bibi."
Zea yang tengah membereskan masakannya mengerutkan dahinya saat melihat bibi ha.
"Sudah menjadi tugas saya menertibkan para pelayan, nyonya."
"Yah, aku mengerti. Semua karena bibi kepala pelayan rumah ini."
Ucap zea.
"Bi, aku ingin membuat sedikit jus alpukat. Apa bibi bisa membantuku?"
" Tentu, nyonya."
" Terima kasih, bi. Aku akan ke taman memetik beberapa bunga."
"Baik, nyonya. Bibi akan menyuruh salah satu pelayan menemani nyonya."
"Tidak, bibi. Aku akan pergi sendiri."
"Baiklah kalau begitu keinginan nyonya."
Zea pergi ke taman belakang yang sempat dikunjunginya tadi oagi untuk memetik beberapa bunga disana. Entahlah, sejak kapan zea menyukai warna bunga- bunga. Atau mungkin karena suasana kamar denish yang terlalu mencekam dan juga berwarna aura cowok.
__ADS_1
Dari kejauhan raina yang mengawasi pergerakan zea, mengikutinya kemana pergi, dan juga melihat beberapa masakan yang dimasak zea hingga mendengar candaan para pelayan yang mengatakan makanan kesukaan tuan muda, tersenyum mengembang setelah zea meninggalkan dapur.
Bibi ha yang menyuruh salah satu pelayan membuat jus alpukat tampakny tak begitu memperhatikannya. Bibi ha mempercayakan semua pada mereka yang nantinya bertanggung jawab jika terjadi satu masalah.
Sebuah bunyi telepon membuat bibi ha harus meninggalkan dapur sebentar. Raina memanfaatkan kesempatan itu menjalankan rencananya sesuai yang direncanakan dengan tantenya. Memberi sebuah serbuk ke dalam jus alpukat yang diinginkan zea, yang entah serbuk apa itu.
Dari kejauhan bibi ha melihat perbuatan raina dari pantulan cermin kaca yang memang didesign khusus. Merasa tidak ada yang melihat, raina kembali berjalan mengendap- endap seperti maling meninggalksn dapur.
"Apa yang anda lakukan disini nona raina?"
" Apa anda membutuhkan sesuatu?"
" Aaa..., tidak bibi ha. Aku hanya ingin mengambil minuman segar tapi tidak tahu tempatnya. Ku lihat mereka sedang sibuk jadi aku mengurungkan niatku."
"Apa anda menginginkan jus? Saya akan mengambilkan untuk anda."
"Baiklah, bi."
Raina terkejut saat melihat bibi ha membawa jus yang berwarna hijau kehadapannya.
"Ini ..., nona. Minumlah! Pelayan baru saja membuatnya, pasti terasa segar."
Ucap bibi ha menyodorkan segekas jus pada raina.
" Aa..., tidak bi. Aku tidak menyukai, lebih baik aku minum air dingin saja."
" Baiklah, kalau anda tidak menginginkannya."
Raina terburu- buru mengambil gelas lalu mengambil air dingin berlalu pergi sebelum ketahuan atas apa yang dilakukannya.
"Aneh sekali, seorang dokter akan memyukai buah dan sayuran tapi..., sudahlah mungkin dia memang tidak menyukainya."
"Buang jus ini! Buatkan yang baru untuk nyonya muda. Beliau tidak menyukai susu, jangan ada campuran susu di dalam makanan apapun yang disajikan untuk nyonya!"
" Baik, bibi ha."
Salah seorang pelayan mengambil jus yang baru saja dibuatnya lalu membuangnya.
Kepala pelayan ha memang patut diacungi jempol sangat teliti dan hati- hati melayani setiap orang yang ada di kediaman keluarga angkasa.
Zea tampak membawa sedikit bunga ke kamarnya, meletakkan disetiap sudut ruangan yang kebetulan ada vas kosong disana. Namun matanya menatap tajam pada orang yang ada bawah sana seperti ada gerak- gerik mencurigakan disana.
" Siapa mereka? Kenapa masuk ke dalam villa itu mengendap- endap seperti maling?"
"Ada apa sebenarnya keluarga ini?"
"Mungkinkah?"
Belum sempat melanjutkan perkataannya sebuah suara gagang pintu yang terbuka membuatnya menoleh ke arah pintu.
Ceklek...
"Nyonya, tuan muda sudah menunggu dibawah."
" Denish sudah pulang?"
" Benar, nyonya."
" Aneh, kenapa tidak mandi dulu? Aku sudah menyiapkan air hangat untuknya."
Zea tampak mencebirkan bibirnya sedikit merasa heran dengan sikap denish.
" Baiklah, bibi. Aku akan segera turun."
" Baik, nyonya."
Zea kembali melihat seseorang keluar dari paviliun namun bukan orang yang sama dengan yang pertama dilihatnya. Memilih mengabaikan apa yang dilihatnya, zea segera turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Bersambung🙏😊