
Denish sampai di pavilun terkejut ketika mendapati mobil hitam yang beberaoa hari yang lalu mengintai paviliun berada tak jauh dari sana .
" Brengsek ,,, laki laki itu benar benar cari mati."
Gumam denish .
Denish berdecak kesal setelah melihat mobil itu , entah mengapa perasaan cemburu menghantui nya .
Denish berjalan ke dalam rumah setelah vans membukakan pintu mobil nya dan juga mang kasim membuka pintu paviliun .
"Tuan baru saja pulang ?"
Mbok ijah menyambut kedatangan denish yang sedikit larut malam .
" Hem,,,."
" Kasihan non menunggu lama. Apa mbok perlu siapkan makanan ?"
" Tidak ,mbok . Terimakasih."
" Oh ya , apa zea sudah makan ?"
" Sudah tuan ,tapi hanya sedikit ."
" Oh ,,, yasudah ."
Denish berjalan menuju kamar dimana zea tidur , jika hari hari sebelum nya denish tinggal di kamar mendiang mama nya tapi tidak hari ini .
Secara perlahan lahan denish membuka pintu dan juga berjalan mendekati tempat tidur zea.
Seorang gadis yang beberapa hari sering berdebat dengan nya bahkan membuat nya geram telah menjadi istri nya .
Gadis itu tidur meringkuk seperti kedinginan tanpa selimut yang menyelimutinya.
"Kau tampak seperti anak kecil ."
Ucap denish mengusap pelan wajah zea yang tertutupi sebagian rambut panjang nya.
Denish tak banyak berkata memilih mengguyur badan nya dengan air panas dan juga memakai piyama yang ada di lemari tersebut.
Denish memang memiliki pakaian di sana meskipun sedang ditempati zea namun pakaian tersebut tersusun rapi bersebelahan dengan baju baju zea yang beberapa saat yang lalu di beli oleh asisten denish .
Denish tidur di sebelah zea menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukan nya . Entah sejak kapan sikap dingin denish melunak ketika melihat wajah tenang zea yang tertidur pulas.
Kehangatan yang diberikan denish menambah kenyamanan zea hingga gadis itu tak bangun meskipun tengah malam .
Zea merasa nyaman namun sepertinya merasa ada sedikit beban di pinggang nya saat menggeliat beberapa kali .
" Euggghhh,,,,,."
" Berat sekali selimut nya."
Tanpa membuka matanya , zea menarik beban yang ada di pinggang nya .
" Eh,,, apa ini ? Seperti tangan ?"
Zea meraba tangan itu secara perlahan semakin lama semakin yakin kalau beban itu sebuah tangan .
" Iya benar. Ini tangan ."
Zea membuka kedua mata nya melihat ke bawah dimana tangan itu berada tepat di pinggang nya .
" Hah,,, tangan siapa ini ? Jangan jangan hantu ."
Zea dalam posisi miring membelakangi tangan tersebut secara perlahan menggerakkan tubuhnya melihat siapa pemilik tangan tersebut.
" Hah,,,."
Zea menutup mulut nya dengan kedua tangan nya saat melihat denish ada disamping nya dengan mata yang masih terpejam.
" Kenapa dia ada disini ? Jadi semalam aku tidak bermimpi ? "
Gumam zea dalam hati.
" Aduh,,,, zea ,,,,zea. bagaimana kau bisa tidur dikamar nya ?"
" Tidak. Ini kamar yang ku tempati , jadi dia yang tidur disini ."
Zea menutup mulut nya dengan kedua tangang nya lalu memindahkan tangan denish yang melingkar di pinggang nya meletakannya secara perlahan ditubuh denish sendiri .
__ADS_1
Dan berusaha bangun dari tempat tidur secara perlahan lahan agar tak membangunkan denish. Namun saat kedua kaki nya hendak turun dari ranjang , tangan kekar denish menarik tubuh zea hingga kembali ke tempat tidur.
" Aaaa,,, aaa,,."
"Masih pagi , tidur lagi."
" Ta,,, ta,,,tapi,,,."
" Sstss,,, diam !"
Denish semakin mengeratkan pelukan nya hingga tak dapat membuat zea bergerak lagi .
Zea hanya menghela nafas panjang nya tak bisa membantah sedikit pun , bagaimana pun juga laki laki tersebut sudah secara resmi menjadi suami nya .
Meskipun pernikahan nya terjadi karena paksaan ingin menyelamatkan sania namun zea harus menerima kenyataan yang ada.
" Zea, bersiaplah kita akan belajar berenang !"
Ucap denish yang masih memejamkan matanya.
" Berenang,,,,? Tidak ."
" Tidak ada kata bantahan atau pun menolak keputusan ku. "
" Tidak."
" Nyonya denish angkasa , aku tidak menginginkan penolakan dari mu."
Ucap denish yang bangun seketika menatap tajam pada zea.
" Tapi,,, aku takut."
" Bukankah sudah ku katakan , menyandang nama nyonya denish angkasa memerlukan keberanian dan otak yang cerdas ."
" Kau yang memaksaku menjadi nyonya denish angkasa bukan aku . Aku bahkan tidak menginginkan nya ."
Mendengar jawaban jutek zea ,denish tersulut emosi seketika mengangkat tubuh mungil zea seperti mengangkat karung beras .
" Aaa,,,, turunkan aku ! Kau tidak bisa memaksa ku ."
" Cepat turunkan !"
Ceklek,
" Tuan , tu,,,haaa,,,,,."
Mbok ijah terkejut ketika melihat denish mengangkat zea yang terus meronta minta denish menurunkan nya.
" Mbok ,,, tolongin zea ! "
" Turunkan aku ! Cepat turunkan !"
" Mbok bawa sarapan ke kolam renang ."
" Baik ,tuan."
Denish berjalan terburu buru ke arah kolam renang setelah meminta mbok ijah membawakan sarapan mereka.
Byurrrr,,,,
" Aaaa,,,,aaa ,,,tolong ,,,tolong ."
" Aku tidak akan menolong mu . Berusaha lah sendiri ! Seperti metode yang ku ajarkan kemarin ."
Ucap denish setelah menceburkan zea ke dalam kolam renang , sementara denish duduk di tepi kolam berbaring di kursi jemur.
" Aa,,,,aaa,,,, Tolong ! Tolong !!."
Dari kejauhan tampak mbok ijah membawa sarapan untuk sepasang pengantin baru tersebut .
Sementara zea masih berteriak minta tolong dan juga berusaha agar tidak tenggelam.
" Tuan , ini sarapan nya."
" Tuan , tolongin non zea . Nggak kasihan hampir tenggelem seperti itu ?"
" Tenang saja, mbok ! Dia pasti berusaha sendiri."
" Tapi tuan,,,,tuh,,, tu kan tenggelam ."
__ADS_1
Denish meletakkan gelas kopi yang dipegang nya , terburu buru melompat ke kolam renang menarik zea ke tepi kolam renang .
" Kau sudah gila ya ? Kenapa tak berusaha ?"
" Huk,,,,huk,,,,huk huk,,, "
" Non ,,, non,,,."
Mbok ijah menghampiri zea membawa sebuah handuk untuk nya .
Denish menggendong zea ,membawanya dan membaringkan nya pada kursi jemur yang ada disana.
"Minum ,non !"
" Terima kasih ,mbok ."
Dalam waktu yang sama vans datang menghampiri denish yang berada di kolam renang .
" Tuan , ada meeting dengan tuan ramon pagi ini ."
Ucap vans .
"Baiklah ."
Denish menghampiri zea yang tengah berbaring di sana ,meskipun sedang marah atas kebodohan nya tapi gadis itu telah menjadi istri nya.
" Aku akan ke kantor ."
Ucap denish mengusap wajah zea.
"Mbok , jaga nona baik baik !"
" Baik ,tuan."
Denish yang mengambil handuk disamping nya berjalan meninggalkan zea bersama mbok ijah .
" Hah,,, hanya seperti itu pamitan nya ? Tidak ada romantis nya ? "
Gumam zea lirih namun sempat terdengar oleh denish.
" Cium kening atau pipi , ini sama sekali tidak ."
Ucap zea.
" Hihihi,,,,."
Mbok ijah hanya terkekeh geli mendengar perkataan zea .
'' Kenapa mbok ijah tertawa ?"
" Habis non lucu . Tuan muda memang seperti itu ,non."
" Maksud mbok ?"
" Dulu tuan muda sangat periang namun setelah non rayna meninggalkan nya tepat di hari pertunangan nya , tuan muda berubah menjadi pendiam apalagi sejak tuan besar meninggal ."
" Tuan muda seperti kehilangan arah dan menjadi seperti ini. Nah , ini tugas non zea meluluhkan hati tuan yang sudah mengeras."
" Zea ,,,? Idih ogah ."
Zea menunjuk diri nya sendiri lalu menggelengkan kepala nya.
" Eh,,, tidak boleh begitu ,non. Tuan muda sebenar nya sangat baik , perhatian , apalagi non sudah menjadi istri nya sudah menjadi kewajiban non mendampingi tuan."
Deg,,
Detak jantung zea berdegup kencang saat mbok ijah mengingatkan kewajiban nya sebagai seorang istri .
" Yasudah non, mbok mau ke dapur dulu ."
" Iya ,mbok "
" Eh,,, tapi non nggak boleh nyebur ya ! Nanti tenggelam , mbok nggak bisa berenang . Mang kasim sedang belanja ."
" Iya ,mbok ."
Zea hanya mengangguk pelan.
Mbok ijah tampak sedikit khawatir dengan zea yang memilih tinggal di tepi kolam .
__ADS_1
Bersambung 😊🙏