
Denish telah kembali dari kamar mandi setelah mengguyur tubuhnya, mengusap- usap kepalanya dengan handuk tak melihat keberadaan istrinya namun hanya melihat sarapan pagi berada di balkon kamar mereka.
"Waow..., perfect wife."
Kedua mata denish melihat ke arah tempat tidur yang mana sudah tertata rapi dam juga bersih.
Ceklek...
"Sayang... ."
"Tuan muda membutuhkan sesuatu? Nyonya muda sedang membantu nyonya mirna menyiapkan sarapan."
"Oh..., tidak bi."
"Baiklah, kalau begitu. Bibi hanya mengantar pesanan nyonya muda."
Bibi ha memberikan sepiring buah pada denish. Denish hanya mengerutkan dahinya lalu mengangkat kedua bahunya.
Bibi ha tersenyum melihat reaksi denish yang terlihat berbeda dari sebelumnya, yang hanya hidup kaku dan dingin seperti ada wajah cerah memancar terang disana.
Zea meninggalkan bu mirna serelah selesai membantunya, ia hampir melupakan sesuatu yakni kemeja kerja suaminya dan juga beberapa benda aksesoris lain nya.
"Hah..., kenapa aku bisa lupa sih?"
Gumam zea.
" Pria dingin itu pasti melototkan matanya tak melihat jas kerja nya."
Dengan berjalan mengendap- endap seperti maling, zea melihat kanan kiri berharap denish masih berada di kamar mandi. Tangan sigap denish menangkap tubuh kecil zea hingga yang empunya terkejut.
"Aaa .. ."
"Mencari suamimu?"
Zea menoleh ke arah denish dengan dahi yang mengkerut seperti memikirkan sesuatu.
"Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia punya indra ke enam?"
Gumam zea dalam hati.
" Apa kau sedang mengagumi ketampanan suamimu?"
"Tidak. Lepaskan aku!"
"Tidak."
Zea harus memutar otak mencari cara agar pria itu mau melepaskannya, jika tidak zea bisa terbuai dalam rayuan licik denish.
"Sayang..., tolong lepaskan tanganmu! Bukan kah aku harus menyiapkan pakaianmu?"
Benar saja, laki- laki sedingin denish yang sekarang berubah genit meskipun hanya pada istrinya melepaskan kedua tangannya saat mendengar kata- kata mesra dari istrinya.
"Sayang...? Good wife. Panggilan yang menyenangkan."
Wajah debish berbinar mendenharvpanggilan sayang zea padanya, lalu mencium pipi istrinya. Zea hanya tersenyum meskipun sedikit jengkel dengan sikap denish menutupi suasana hatinya.
Setelah menyiapkan pakaian kerja denish, zea berjalan ke kamar mandi membersihkan diri. Sementara denish menyantap habis sarapan yang dibuat zea untuknya.
"Hem..., not bad."
Setelahnya denish memakai pakaian yang telah disiapkan oleh zea. Setelah menerima telepon, denish keluar dari kamar dengan terburu- buru.
"Bibi ha..., bibi ha."
"Ya, tuan muda. Tuan muda memerlukan sesuatu?"
"Tidak. Katakan pada nyonya muda untuk memasak makan siang dan mengantarnya ke kantor. Jangan lupa suruh sopir mengantarnya!"
__ADS_1
" Baik, tuan muda."
Bibi ha mengantar denish hingga ke depan pintu utama, sementara seseorang tersenyum simpul tak sengaja mendengar pembicaraan denish dan juga bibi ha.
"Bagus..., aku akan memanfaatkan kesempatan ini."
Gumam orang tersebut yang tak lain adalah raina.
"Perempuan itu pasti akan disalahkan, aa...., ide berlian."
"Raina..., kau sedang apa? kenapa tersenyum sendiri?"
Raina terkejut dengan sebuah suara yang tak lain adalah daryo, suami tantenya.
"Tidak, om. Hanya melihat berita saja."
"Oh... begitu, mari ke ruang makan. Jangan tunggu tantemu! Dia sedikit lama kalau sedang make up."
"Iya, om. Raina tahu kok."
Basa- basi daryo bukan karena raina keponakan istrinya tapi pria hdung belang itu melihat bagian sintal raina yang terlihat padat.
"Pasti isinya kenyal."
Gumam daryo dalam hati, wajah tersenyum pada raina. Sementara raina ikut berjalan mengekori daryo hingga ke ruang makan.
Zea yang telah selesai membersihkan diri tak melihat keberadaan suaminya, dan juga tak mendengar suaranya.
"Pergi saja tidak pamit. Huh..., menyebalkan."
"Eeeh..., sejak kapan aku jadi mempedulikan dia?"
"Entahlah? Hanya wanita bodoh yang tak menyukai suami tampan sepertinya."
Gumam zea.
"wallet? Edisi terbaru dan terbatas, tidak mungkin miliknya yang tertinggal. Ini kan model cewek."
Dengan sangat hati- hati zea membuka satu persatu benda itu yang dimulai dari ponsel mahal edisi terbatas. Mata zea membelalak melotot melihat isi dompet yang terdapat photo pernikahan mereka, juga kartu identitas yang telah berganti nama.
"Zeavelia denish angkasa...? Hem..., secepat kilat menggantinya."
"Kartu black gold?"
"Banyak sekali kartu nya? Pin nya saja tidak tahu?"
Gumam zea mengangkat bahunya.
"Uang tunai...? Sebanyak ini?"
"Untuk apa?"
"Hah..., dasar orang kaya."
"Eh..., seperti terdengar bunyi telepon."
"Jangan- jangan di dalam kotak ini?"
Zea bergegas membuka kotak yang merupakan tempat ponsel limited edition. Lagi- lagi mata zea membelalakkan matanya ketika melihat panggilan telepon tertulis nama 'Sayangku'.
"Sayangku...? Siapa dia?"
"Halo... ."
"Hah..., suara denish. Pria kaku itu.''
Gumam zea dalam hati menutup suara telepon dengan tangan nya.
__ADS_1
"Iya."
"Baiklah."
Sang penelepon menutup telepon nya, sedangkan zea berlanjut membuka isi ponsel tersebut.
"Banyak sekali photo yang ada di galery."
"Hah..., semua photoku?"
"Hah..., kontak hanya ada tiga saja. Sayangku, vans, dan bibi ha."
"Dasar pria dingin."
"Untuk apa aku menghubungi mereka?"
Gumam zea sedikit kesal membanting ponselnya kembali ke ranjang tempat tidur.
Ceklek...
"Nyonya, apa anda ingin sarapan dikamar? Atau ke lantai bawah?"
Bibi ha menghampiri zea yang tengah memoles wajahnya didepan cermin rias.
"Zea sudah sarapan, bi."
"Oh..., begitu. Tuan muda menitip pesan pada bibi, nyonya muda. Beliaubingin nyonya muda memasak makan siang dan datang ke kantor tuan muda."
"Ya..., zea tahu bi. Baru saja denish meneleponku, memberitahu ingin makan siang dengan nya."
"Baiklah, nyonya. Bibi permisi."
"Apa yang bisa bibi siapkan untuk nyonya?"
Ucap bibi ha yang teringat dengan bahan dasar masakan apa yang dibutuhkan zea.
"Tidak, bi. Terima kasih, zea belum memikirkan perihal masakan."
Ucap zea pada bibi ha.
"Baiklah, nyonya. Panggil bibi jika memerlukan sesuatu!!"
"Iya, bi. Terimakasih.''
Bibi ha kembali bekerja setelah keluar dari kamar zea menyampaikan pesan denish padanya.
"Ha..., apa nyonyamu tidak sarapan?"
Sebuah suara sempat mengagetkan bibi ha saat keluar dari kamar denish.
"Nyonya muda sudah sarapan, nyonya besar. Bersama tuan muda.''
Ucap bibi ha.
"Oh..., begitu rupanya. Tuan mu sepertinya telah menemukan cinta yang hilang."
Ucap nenek salamah.
"Benar, nyonya besar. Tuan muda sangat menyukai nyonya muda."
" Syukurlah..., gadis itu membawa perubahan besar pada denish."
" Benar, nyonya besar."
Nenek salamah berlalu pergi ke kamarnya setelah sempat beradu kata dengan bibi ha.
Bersambung🙏😊
__ADS_1