
Beberapa kali zea mencoba menelepon tante ira namun tak ada jawaban sama sekali .
Zea semula berpikir mungkin hanya menelepon karena ibunya pasti yang menyuruh tante ira. Zea belum sempat membelikan ponsel baru karena ponsel yang lama di jual oleh ibunya.
Zea melanjutkan pekerjaannya menata barang dan juga sesekali berada di kasir melayani pembeli yang akan membayar barang yang mereka beli.
Setelah beberapa waktu menunggu tak juga ada jawaban dari tante ira , zea mulai gelisah merasa khawatir terjadi sesuatu dengan ibunya.
Ibunya yang rentan dengan penyakit lamanya membuat sedikit cemas bila penyakitnya kambuh.
" Kenapa tidak menelepon lagi ? ponsel tante ira mati . Kebiasaan nih tante tak mencargher handphone nya."
" Mudah mudahan tak terjadi sesuatu dengan ibu ."
" Tapi perasaanku tidak enak ."
Zea berulangkali mengusap pelan dadanya yang seperti ada luka sayatan pisau.
Terasa nyeri tapi tak tahu apa yang dirasakan sebenarnya.
" Mbak zea, kenapa ? Ada masalah ?"
Tina hampir saja mengagetkannya tiba tiba muncul dari belakangnya.
" Tidak ,tin. Hanya perasaanku tidak enak , hatiku sejak tadi berdebar kencang seperti akan terjadi sesuatu."
Zea menghela nafas panjangnya mencoba untuk tetap tenang.
" Cieee ,,,akan ketemu jodoh kali, mbak."
Tina masih sempat meledekku disaat seperti ini memang dia suka bercanda mengurangi rasa cemas zea.
" Bisa aja kamu tin."
" Apa terjadi sesuatu dengan ibu ? coba telepon mbak zea !"
Ucap tina.
"Entahlah ,tin. Bagaimana mau menghubunginya ponselnya saja dijual ?"
Zea menghela nafas kasar nya menjelaskannya pada tina. Tina yang beberapa minggu menjdi partner kerja , teman sekaligus teman curhatnya.
"Haaa,,, dijual ?"
Tina menepuk jidatnya sendiri.
" Tante yang waktu itu mengantar ibu ,mbak ."
" Tadi sempat telepon beberapa kali sewaktu aku di gudang dan aku juga mencoba telepon balik tapi ponselnya tidak aktif."
Ucap zea.
" Tak ada tetangga lain mbak ?"
" Tak ada, tin. Mana ada yang mau bergaul dengan kami ? Hanya tante ira yang selalu membela kami dari cemo'ohan para tetangga."
" Buktinya tina mau bersahabat dengan mbak."
Tina tersenyum menunjukkan giginya mencoba menghibur zea .
" Beda ,tin. Maklumlah , mereka mengira ibu seorang yang tidak benar dan aku seorang anak haram . Semenjak umur lima tahun ibu sudah bekerja sendiri menghidupi kami."
__ADS_1
Tina tak percaya dengan apa yang di dengarnya . Semula ia mengira kehidupannya sangat memprihatinkan ternyata ada yang lebih dari itu .
" Aku tak pernah tahu dimana ayahku berada, pernah satu ketika aku bertanya pada ibuku tapi bujan jawaban yang diberikan tapi kemarahan dari ibu bahkan aku sempat di usir saat itu."
Ucap zea bercerita tentang masa mudanya.
" Apaaaa,,,, di usir ? Hah,,,, aku tak percaya ibu tega melakukannya."
Tina terbelalak terkejut mendengar cerita zea.
" Dari saat itu aku tak pernah lagi bertanya siapa ayahku ? Dimana dia ? Bahkan aku menutup telinga dan mata dari gunjingan tetangga maupun teman sekolahku."
" Makanya aku tidak punya tetangga yang baik padaku ,tin ."
" Ya ampun, segitunya orang menilai keburukan orang lain tapi tak melihat keburukan sendiri ."
Tina mengusap dadanya , ada sedikit nyeri di dadanya yang kini tengah ia rasakan .
" Lalu bagaimana mbak ? nggak ada yang bisa dihubungin. Atau mbak ijin aja nengokin ibu sebentar mbak ? Kan rumah mbak nggak begitu jauh ."
Ucapan tina ada benarnya , tapi zea merasa sungkan pada pemilik toko karena ia belum lama bekerja.
" Biarlah ,tin. Nunggu tante nelepon saja , palingan ibu yang bawel tentang rantang yang di kirimkan ."
" Hihihi,,,, ibu ada ada saja."
Tina sedikit terkekeh dengan ucapan zea.
Zea memilih menunggu tante ira menghubunginya daripada harus pulang yang nantinya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Di sela sela kesibukannya , zea menyempatkan mengirim pesan pada tante ira. Alih alih mendapat jawaban , justru pesan tak terkirim .
Zea hanya mampu menghela nafas panjangnya dan berharap tidak terjadi sesuatu dengan ibunya maupun tante ira.
Kedua nya memang sering membuat zea khawatir bahkan sering membuat zea marah ketika mereka menggunakan cara kotor mengelabuhi zea pada hari ulangtahunnya.
" Mudah mudahan tidak terjadi sesuatu dengan tante dan ibu."
Gumam zea dalam hatinya .
Sementara di rumah nurma.
Ira baru pulang dari pasar terkejut mendengar bunyi suara jatuhnya benda benda pecah belah di rumah nurma bergegas menghampirinya .
" Nur,,,, nurma,,,, nur,,,."
Tak ada jawaban dari dalam membuat hati ira tak tenang lalu mencoba membuka handle pintu masuk ke dalam rumah .
Ira merasa khawatir terjadi sesuatu dengan nurma karena bunyi pecahan sesuatu dari dalam rumah nurma.
Benar saja, kekhawatiran ira pun terjadi . Ira terkejut melihat ira yang hampir pingsan memegang dadanya jatuh bersimpuh ke lantai.
" Astaga nurrrr,,,,, apa yang terjadi dengan mu ?"
Tak pikir panjang , ira berlari pulang ke rumahnya mengambil mobil tua yang dimilikinya .
Ia bergegas dan sangat terburu buru membawa nurma yang masih bisa berjalan memapahnya hingga ke mobil .
" Apa yang terjadi denganmu nur ?"
" Kenapa seperti ini ?"
__ADS_1
" Aku harus nenguhubungi zea ?"
π Calling " Zea "
" Kenapa tak di angkat ?"
" Ayo lah zea , angkat telepon nya !"
" Apa zea sedang sibuk ? Yasudah , aku akan menghubunginya nanti sewaktu di rumah sakit."
Ira melajukan mobilnya sangat kencang melihat nurma yang terus menerus memegang bagian dadanya.
" Nur, bertahanlah ! Sebentar lagi sampai ."
Tak berapa lama mereka sampai dirumah sakit , nurma mendapat pertolongan pertama di instalasi gawat darurat .
Ira nencoba menguhungi zea melalui ponselnya tapi sayang nya charger baterai handphone nya menipis dan mati .
Semula ira akan meminjam telepon rumah sakit tapi ia tak ingat nomor handphone zea yang tersimpan di kontak ponselnya.
Beberapa dokter yang masuk menangani nurna membuatnya sedikit khawatir hingga melupakan ponselnya yang tak ada daya sama sekali .
Ira berjalan mondar mandir kesana kesini seperti sedang kebingungan .
Sadar jika ia lupa menghubungi zea , ira melihat kembali ke layar ponselnya yang mati tak ada daya lalu menepuk jidatnya sendiri.
Ira berlari ke ruang penjagaan meminjam kabel charger untuk mengisi daya ponselnya .
Setelah beberapa saat kemudian, ira menekan tombol on off menyalakan kembali ponselnya .
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghubungi zea namun terhalang karena salah satu dokter memanggilnya untuk dimintai keterangan.
Ira kembali mengingat akan menghubungi zea bergegas berlari ke ruang jaga suster.
π Calling " Zea."
π Incoming call " Tante ira ."
" Mbak zea , ada telepon ."
Suara teriakan tina melengking keras membuat zea bergegas menghampiri ponselnya yang sedang mengisi daya.
π :" Halo tante , tante dimana ? Kenapa ponselnya mati ? Tante baik baik saja kan ? Ibu ,,,?"
π :" Zea , cepat ke rumah sakit IBUNDA ! Ibumu masuk rumah sakit ."
π :" Apaaa,,,, ibu masuk rumah sakit . Baiklah ,,, zea akan segera kesana ."
π :" Klik."
Zea memutus sambungan telepon bergegas ke ruang pemilik toko yang kebetulan ada disana , meminta ijin untuk ke rumah sakit .
" Ada apa mbak ?"
" Ibu ku masuk kerumah sakit ,tin. Aku pergi dulu ya ."
" Iya mbak . Hati hati dijalan !"
Tanpa menjawab peryataan tina , zea melajukan motornya dengan kecepatan tinggi setelah mendengar ibunya masuk rumah sakit.
Bersambungππ
__ADS_1