
Kring..., kring...
Wanita itu berhenti berteriak saat mendengar bunyi ponsel zea yang berdering.
"Ya."
"Tidak, aku bahkan belum naik. Masih di lobby resepsionis."
"Baiklah."
Semua orang mendengar ucapan zea menatapnya seolah dengan seribu pertanyaan di kepala mereka. Bahkan mereka saling pandang termasuk wanita sexy yang berdiri didepan nya tersebut. Zea tersenyum mengangkat bahunya meninggalkan tempat itu memilih duduk di ruang tunggu.
Perdebatan hebat masih berlangsung setelah zea meninggalkan tempat itu bahkan menjadi satu momok tontonan antara orang- orang yang lewat lalu lalang disekitarnya.
"Jadi ini..., kejutan yang ingin diberikan padaku."
"Dasar pria hidung belang."
"Sudah punya istri masih mencari yang lain."
"Apa aku kurang cantik? Sexy? Atau kurang berpendidikan?"
"Mungkin karena aku bukan orang kaya bisa seenak jidat mempermainkan ku."
Gumam zea dalam hati di sela- sela menonton pertunjukan di depan nya.
"Nyonya muda..., anda sudah datang? Kenapa tidak menelepon saya?"
"Ah..., iya. Aku lupa."
"Mari nyonya muda, saya antar ke ruangan tuan muda."
Ucap vans yang tak lain adalah asisten pribadi denish.
"Baiklah."
Ketika zea beranjak meninggalkan lobby, sesaat teringat dengan wanita yang mengaku sebagai tunangan denish.
"Vans."
"Iya, nyonya muda. Anda memerlukan sesuatu?"
"Tidak. Tapi..., apa tuan mu mempunyai tunangan lain selain aku istri sahnya?"
Vans mengerutkan dahinya ketika mendengar pertanyaan zea.
"Maksud nyonya muda?"
"Wanita itu mengaku sebagai tunangan tuan mudamu."
Zea berhenti melangkah membalikkan badan nya menunjuk pada wanita cantik yang masih beradu debat dengan resepsionis, sedangkan vans mengikuti kemana arah telunjuk zea mengarah.
"Hahaha..., nyonya muda jangan terlalu percaya pada orang asing!"
"Tuan muda tidak pernah mengenal wanita setelah penghianatan nona rayna."
"Rayna...? Maksudmu raina keponakan tante sinta?"
"Bukan, nyonya muda. Nona rayna teman masa kecil yang telah bertunangan dengan tuan muda, namun melarikan diri bersama sahabat tuan muda."
Ucap vans.
"Oh..., lalu setelah itu?"
Merasa penasaran dengan cerita masa lalu denish dan juga beberapa orang kepercayaan denish yang hanya sedikit menceritakan masa lalu denish.
"Nyonya muda penasaran? Kenapa tidak tanya langsung pada tuan muda?"
"Tidak. Kau sendiri tahu pria dingin itu akan melototkan kedua matanya jika aku tanya masa lalu itu."
"Hahahaha...., nyonya terlalu berlebihan. Itu hanya perasaan nyonya saja, karena nyonya belum terlalu mengenal tuan muda."
Ucapan vans membuat zea mengerutkan dahinya.
"Cobalah sedikit membuka hati mengenal tuan muda, nyonya! Tuan muda tidak mungkin sembarangan memilih atau menjatuhkan pilihan jika tidak punya rasa di dalam nya."
Deg...
__ADS_1
Detak jantung zea berdegup kencang ketika mendengar pernyataan vans, entah mengapa hati zea berdebar- debar bahkan mungkin ada sedikit rasa kebahagiaan di dalamnya namun juga rasa kesal ketika mengingat wanita cantik itu mengatakan bahwa ia adalah tunangan denish.
"Silahkan, nyonya muda!! Tuan muda sudah menunggu anda."
" Terima kasih, vans."
"Sama- sama, nyonya."
Ceklek...
"Sayang... , kena...? Vans..., dimana nyonyamu?"
Rupanya denish tak sabar menunggu kedatangan zea mengira yang membuka pintu adalah zeavelia, istri yang baru beberapa pekan ia nikahi.
Vans tersenyum melihat reaksi denish, tanpa menjawab pertanyaan nya hanya menunggu zea masuk ke dalam ruangan tersebut.
Zea sedikit gugup masuk ke ruang kerja denish yang ternyata seorang direktur utama di perusahaan tersebut. Senyum mengembang terpancar di wajah denish hingga ia meninggalkan kursi kebesaran nya menyambut istri kecilnya.
"Sayang..., kenapa lama sekali?"
"Kenapa tidak meneleponku atau vans?"
Zea hanya diam tanpa bereaksi apapun, duduk di sofa mengikuti denish.
"Apa terjadi sesuatu dibawah?"
Zea menggeleng pelan.
"Karyawanku melecehkanmu? Aku akan memecat mereka."
"Tidak."
"Lalu...?"
Zea tak mampu menjawab pertanyaan denish lebih tepatnya tak mau menjawabnya. Atau bahkan masih tersimpan rasa kesal dihatinya. Tunggu dulu, sepertinya hati zea bergetar atau tekah goyah dengan cerita vans padanya.
"Vans, apa terjadi sesuatu?"
Saat vans hendak menutup pintu ruang kerja atasan nya, denish menoleh ke arahnya menanyakan perihal apa yang terjadi dilantai bawah. Vans mendekati denish membisikkan sesuatu padanya, tak ingin membuat hsti nyonya mudanya break dengan pengakuan seorang wanita saat di lobby tadi.
"Sayang..., ada apa?"
"Tidak. Makanlah! Aku membuat makanan sederhana untukmu, entah kau menyukai atau tidak?"
Ucap zea menyadari atau menutupi sikap diam nya saat mendengar beberapa pertanyaan suaminya.
"Kelihatan nya enak."
"Entahlah?"
Jawab zea mengangkat kedua bahunya. Terlihat jelas rasa kesal diwajah maupun wajah zea, kesempatan langka untuk mengetahui perasaan istrinya.
"Kenapa? Marah? Kesal? Atau cemburu?"
"Hah..., pertanyaan yang tidak masuk akal."
" Masuk akal karena sikap kesalmu."
"Tidak, untuk apa aku kesal?"
"Benarkah?"
"Hem."
Zea mulai mengambil beberapa lauk- pauk ke dalam piring yang sengaja dibawanya dari rumah.
"Makanlah! Tidak enak jika sudah dingin."
"Tidak. Jika tidak dengan tanganmu."
Zea mengerutkan dahinya menghela nafas panjang melihat sikap manja sang suami.
"Manja."
Gumam zea lirih tapi terdengar hingga ke telinga denish.
"Manja dengan istri sendiri."
__ADS_1
Ucap denish tersenyum menerima suapan dari tangan zea.
"Dengan istri...? Tapi diluar masih mencari yang lain."
Gumam zea.
"Katanya tidak cemburu? Kenapa menggerutu?"
"Siapa yang menggerutu?"
"Aaaa..., hampir saja tumpah."
Denish menarik tubuh zea yang semuka duduk di sandaran tangan sofa ke dalam pangkuan nya.
"Cemburumu sangat ku nantikan."
Bisik denish menarik tengkuk zea memberi sedikit ciuman bahkan ******* pada bibir peach yang sudah menjadi candunya.
Zea yang semula menolak tak kuasa menerima sikap manis bahkan romantis denish padanya bahkan sedikit sentuhan pada bagian tertentu.
Zea dengan cepat mendorong tubuh denish saat mengingat mereka berada dikantor.
"Jangan katakan bibirmu menolaknya?"
"Tidak. Tapi ini kantor."
Akhirnya zea mengakui untuk tak menolak perasaan yang saat ini tengah bergulir di dalam lubuk hatinya.
"Hahahaha..., memangnya kenapa? Kantor milikku sendiri."
"Ih..., dasar sombong. Makanlah sendiri!! Aku ingin ke toilet."
Zea mengerucutkan bibirnya mendengar sikap sombong denish, memberikan piring makan siang nya, lalu beranjak bangun mencari keberadaan toilet.
Setelah mengitari ruangan denish tapi tak menemukan keberadaan toilet, zea menghampiri denish kembali.
"Dimana toiletnya? Ruangan sebagus ini tak ada toilet."
"Sepertinya istriku melupakan sesuatu? Kenapa tidak ada kata sayang?"
"Hihihi..., sayang dimana toiletnya?"
Dengan sedikit menghela nafas panjang dan sedikit kekehan, zea mulai bersikap pura- pura romantis padanya. Laki- laki itu tak kan mudah dikelabuhi kecuali dengan kata- kata romantis yang harus diucapkan nya.
Denish meletakkan piring makan di aras meja lalu berjalan ke ruang istirahatnya yang memiliki tempat tidur bahkan toilet dan juga perlengkapan lain nya.
"Waow...., kamar rahasia."
"Ya, tempat istirahat saat jam istirahat."
"Halah..., tidak mungkin. Pasti untuk desuatu hal yang lain."
Gumam zea.
"O...ya? Apa kau mulai mencintaiku?"
"Huh..., tidak sana sekali."
"O... ya? Hahahaha..., kita akan buktikan."
Zea semakin tak mengerti apa yang dimaksud denish, namun wajahnya berubah cemas tarkala denish bergerak maju hingga membuatnya terpojok.
"Kau menyukai kejutan yang ku berikan?"
Bisik denish dengan senyum devilnya.
"Kejutan? Jadi wanita itu kejutan mu?"
"Wanita?"
"Iya, seorang wanita sexy yang mengaku sebagai tunangan mu."
"Hahahaha..., aku menyukai rasa cemburumu."
Denish melangkah maju melanjutkan ciuman part dua saat mendengar zea mengungkapkan rasa cemburunya. Bahkan laki- laki itu semakin bringas saat berada di dalam kamar pribadinya.
Bersambung🙏😊
__ADS_1