
"Ingin masak apa?"
"Entahlah?"
"Eit..., tunggu tunggu tunggu. Apa dia sedang mempermainkanku?"
"Merayuku dengan memberikan ponsel dan juga wallet berisi kartu- kartu penting."
"Atau hanya untuk memanfaatkan ku?"
''Hah..., entahlah? Ikuti saja slur skenarionya, menolak pun aku tak kuasa."
Zea tak lantas turun ke lantai satu tapi kembali melihat isi kamarnya yang lengkap penuh dengan barang- barang kesukaan nya. Bahkan rak- rak buku yang berisi dominan buku- buku kesukaan nya.
Zea menarik sebuah buku lalu membacanya di lantai bagian sudut ruang perpustakaan tersebut. Halaman demi halaman buku dibukanya secara perlahan hingga sampai ke sebuah halaman yang terselip sebuah photo.
"Hah ..., photo. Siapa gadis cantik ini? Apa dia mantan pacarnya? Atau tunangan nya?"
"Cantik, anggun, sexy, bahkan terlihat menawan meskipun sedang berpose santai."
Gumam zea.
"Aku kalah anggun dengan nya."
Setelah zea memperagakan pose seorang gadis di dalam photo yang ditemukan nya. Zea mengangkat kedua bahunya dan tanpa sepengetahuan zea, seseorang tersenyum dengan tingkah polah zea.
"Kira- kira siapa dia ya?"
"Hem..., entahlah?"
"Siapa pun dia, aku tidak peduli"
Gumam zea menutup buku tersebut lalu berjalan menyuduri perpustakaan mini tersebut.
Tanpa sengaja, zea melihat sebuah buku unik namun setelah melihat nya mengerucutkan bibirnya kembali meletakkan buku tersebut. Zea merasa penasaran tentang buku yang berjudul tentang kehamilan tersebut, kembali mengambil buku tersebut lalu membawanya ke kamarnya.
Zea merasa sedikit lelah saat duduk dilantai membaca beberapa buku dan juga berkeliling ruang perpustakaan maupun ruang kerja denish. Zea duduk di tepi ranjang lalu mengubah posisi bersandar pada kepala ranjang. Membuka satu per satu per lembar dari buku tersebut, sejenak zea bergidik ngeri saat membaca bagian penting dari seorang perempuan.
Merasa penasaran yang berkelanjutan, zea melanjutkan membaca buku tersebut tanpa sengaja tersenyum saat sampai pada bagian pembuahan sel telur dan terjadinya kehamilan.
"Hah..., jadi begini terjadinya kehamilan. Kenapa dulu aku tak ambil jurusan kedokteran?"
"Pasti menyenangkan."
"Apalagi saat janin mulai bergerak, hihihi..., sangat menggelikan."
"Hah..., tapi sayangnya aku menikah secara terpaksa tanpa cinta juga. Jadi..., bagaimana mungkin memiliki seorang bayi?"
"Jangan- jangan setelah hamil pria dingin itu akan meninggalkan ku."
"Entahlah? Siapa yang tahu? Aku hanya menginginkan seseorang yang mencintaiku dengan segala kekurangan ku."
Zea terlelap setelah membaca beberapa lembar dari buku tersebut. Seseorang tersenyum dengan wajah tenang meskipun sedang mengadakan rapat.
Ceklek...
"Nyonya..., Oh... rupanya nyonya ketiduran."
Bibi ha melihat zea tertidur memeluk buku lalu mengambilnya. Senyum lebar terpancar diwajah bibi ha ketika melihat buku yang dipeluk zea.
"Rupanya nyonya sudah siap melahirkan penerus keluarga angkasa."
Gumam bibi ha meletakkan buku tersebut pada nakas disamping tempat tidur mereka. Lalu meninggalkan kamar zea yang semula ingin bertanya tentang menu yang akan dimasak untuk tuan mudanya.
"Bibi sangat senang."
Bibi ha berniat menyiapkan makan siang untuk tuan mudanya ketika melihat zea tertidur pulas.
Bibi ha di bantu dengan chef dan juga beberapa pelayan dapur memasak untuk bekal makan siang denish seperti yang diperintahkan nya pada zea. Meskipun bukan tugasnya namun melihat zea yang tengah beristirahat, tak tega membangunkan nya memilih untuk membantu zea.
Bibi ha meletakkan kotak bekal makanan dengan beberapa menu dan juga buah maupun snack penutup di mini bar dapur setelah selesai memasaknya. Ia pergi ke lantai atas membersihkan kamar yang belum di jamah para pekerja.
Seseorang mengambil kotak tersebut lalu membukanya, namun tak berapa lama orang tersebut mengembalikan nya ke tempat semula. Senyum mengembang terpancar diwajah orang tersebut setelah berhasil perfi dari tempat tersebut.
__ADS_1
Sinta yang turun dari kamarnya ingin mengambil sesuatu di lemari pendingin, wanita itu tanpa sengaja menoleh pada sebuah kotak bekal makan dan juga perlengkapan lain nya di atas minibar. Tanpa bertanya terlebih dahulu, sinta mengambil semuanya membawanya ke kamarnya yang terletak dilantai atas.
Sementara zea yang tiba- tiba terbangun merasa sedikit gugup melihat jam dinding, mengingat pesan bibi ha kalau denish ingin makan siang bersamanya meskipun di kantor. Dan yang paling membuatnya sedikit repot ingin masakan dari tangan nya.
Zea sedikit berlari turun ke lantai satu hingga tak menjawab sapaan beberapa pelayan yang dilewatinya seperti biasanya.
" Ada apa dengan nyonya?"
"Iya, benar."
" Tak seperti biasanya."
" Mungkin nyonya sedang terburu- buru."
" Sudahlah, ayo kita lanjutkan pekerjaan kita."
Ucap beberapa pelayan yang terlibat sedikit obrolan pasca melihat zea berlarian menuruni anak tangga.
Beruntung zea melihat beberapa bahan sayuran ada di dalam kulkas juga beberapa daging dan jenis seafood. Zea memang sengaja tak memanggil pelayan dapur maupun chef keluarga angkasa, tak ingin merepotkan mereka karena melihat dapur tampak sepi mungkin jam istirahat mereka.
Selesai menyiapkan bahan masakan dengan cepat zea memasak makanan yang akan dibawanya ke kantor denish lalu meletakkan ke dalam kotak bekal makanan. Zea juga menyiapkan jus buah juga beberapa buah- buahan sebagai penutup makan. Zea hampir melupakan desert yang ingin dibuatnya, melihat jam dinding yang terus bergerak tak mungkin zea membuat desert yang lebih baik selain puding.
Mengambil beberapa buah dan juga beberapa lembar roti tawar dan juga beberwpa biskuit coklat, zea membuat desert sederhaba sejauh yang dia tahu. Zea memang jarang memasak namun juga bukan orang yang tak pandai memasak. Karena penyakit nurma yang sering kambuh membuat zea tak jarang memasak sendiri bahkan untuk dibawanya ke rumah sakit.
"Nyonya muda..., apa yang anda lakukan? Kenapa tidak memanggil kami?"
Ucap salah seorang pelayan dapur yang kebetulan melihat zea sedang membuat puding.
"Aku sedang memasak sedikit makanan dan juga membuat sedikit kekacauan dapur kalian. Hihihi..., kalian sedang istirahat mana mungkin aku memanggil kalian. Lagi pula hanya sedikit kok."
Ucap zea tang sedikit terkekeh geli melihat wajah sedikit takut pelayan tersebut.
"Tapi nyonya..., nyonya bisa."
"Tidak, aku terbiasa tidak merepotkan orang lain. Jangan takut dimarahi suamiku atau mungkin bibi ha ketua pelayan kalian, katakan pada mereka kalau aku ingin memasak sendiri."
Ucap zea yang mengerti dengan kegelisahan pelayan tersebut khawatir dengan hukuman yang mungkin akan diberikan oleh bibi ha maupun suaminya.
"Tidak ada tapi- tapian, tolong bereskan kekacauan dapur. Terima kasih."
Zea tersenyum meminta tolong pada pelayan tersebut yang ternyata ingin memberitahu sesuatu namun zea tak memberinya kesempatan.
"Baik, nyonya."
Zea menghilang dari dapur membawa bekal makan siang denish dan juga beberapa pelengkap lain nya ke lantai atas ke kamarnya.
"Yah..., padahal aku ingin memberitahu kalau ketua ha sudah memasak untuk tuan."
Gumam nya lirih disela- sela membereskan dapur.
Zea harus mandi kedua kalinya setelah memasak, tak ingin badan nya bau asap saat ke kantor denish. Dengan pakaian santai namun terkesan elegan kaos putih serupa midi dress dan juga jeans celana pendek berwarna biru langit serta belt yang dipakainya sebagai aksesoris. Make up natural, rambut panjang yang tergera dwnhan hiasan bando dikepalanya menambah kesederhanaan zea. Zea tak memakai highheel maupun sandal mewah lain nya melainkan sepatu sneaker kesukaan nya.
Setelah siap dengan perlengkapan nya, zea keluar membawa bag berisi bekal makan siang denish, dan juga tas slempang berisi wallet dan juga ponsel yang diberikan denish.
Ceklek...
"Nyonya..., nyonya muda sudah siap?"
"Benar, bi. Zea pergi dulu."
"Baiklah, nyonya. Mari bibi antar, sopir sudah menunggu dibawah."
Rupanya bibi ha yang hendak memberitahu zea terkejut ketika melihat zea sudah rapi menenteng paperbag. Karena mengira zea masih terlelap saat membaca buku tentang kehamilan dipelukan nya.
"Terima kasih, bi."
Ternyata benar yang dikatakan bibi ha kalau sopir sudah menunggu zea di depan pintu utama kediaman keluarga angkasa. Sang sopir membawa zea sesuai perintah tuan nya ke kantor gedung angkasa group.
Zea terasa asing dengan pemandangan disepanjang jalan menuju kantor denish, juga merasa sedikit heran dengan beberapa mobil bahkan salah seorang bodyguard yang duduk di depan satu mobil dengan nya. Zea tampak mengerutkan dahinya mencoba berpikir positif tentang orang- orang tersebut.
Tak mau pusing memikirkan semuanya, zea mencoba memejamkan matanya. Namun bayangan yang dilihatnya semakin menghantuinya. Zea akhirnya membuka alam pikiran nya, menerka- nerka kalau keluarga angkasa memang bukan keluarga biasa. Juga tentang posisinya yang tergolong istimewa saat keluar rumah, ada beberapa bodyguard yang mengiringinya.
"Hah..., mungkinkah dia mencintaiku?"
__ADS_1
Gumam zea dalam hati.
"Tidak..., tidak..., tidak. Jangan lengah dengan sikapnya zea!! Siapa tahu ini hanya jebakan."
"Nyonya..., kita sudah sampai."
Ucapan bodyguard tersebut membuyarkan lamunan zea.
"Oh..., baiklah."
Zea turun dari mobil saat bodyguar itu membuka pintu mobil untuknya. Zea berjalan menuju resepsionis bertanya dimana letak kantor denish berada.
"Permisi, nona. Boleh saya tahu dimana letak kantor denish?"
Beberapa resepsionis mengerutkan dahinya saat ada sebuah pertanyaan yang menurut mereka sedikit berbeda.
"Oh..., maksud saya denish angkasa."
Melihat resepsionis yang saling pandang dan zea mengira mungkin ada nama yang sama, jadi zea mengulangi pertanyaan nya.
"Maaf, apa anda sudah membuat janji?"
" Belum."
"Boleh saya saya tahu siapa nama anda?"
"Saya...? Zea."
Zea menunjuk ke arahnya sendiri setelah resepsionis itu menanyakan identitasnya.
"Baiklah, apa saya boleh melihat kartu identitas anda?"
Zea mengerutkan dahinya ketika resrpsionis itu menanyakan kartu identitasnya yang menurutnya agak tidak wajar.
"Untuk apa?"
"Maaf, nona. Sebagai referensi laporan saja."
"Baiklah."
Saat zea hendak mengeluarkan kartu identitasnya mengambil wallet miliknya, seorang wanita muda secara tiba- tiba datang didepan nya.
" Nona, saya ingin bertemu tunangan saya. Apa denish ada ditempat?"
Ucap wanita itu.
Deg...
Detak jantung zea bagai berpacu dengan kuda, berdegup berlari sangat kencang saat mendengar kata tunangan denish di depan nya.
"Maaf, nona. Direktur kami belum mempublikasi pertunangan nya, jadi silahkan membuat janji terlebih dahulu dengan sekertaris beliau."
"Apaa..., apa telingamu tuli? Kau bahkan tak berhak berkata seperti itu. Apa kau ingin dipecat?"
Wanita itu bukan menuruti perkataan resepsionis tersebut, melainkan tersulut emosi atas perkataan resepsionis tersebut. Zea tersentak kaget saat mendengar api kemarahan wanita itu yang semula ingin mengeluarkan kartu identitasnya, memilih diam memperhatikan wanita itu.
"Akan ku pastikan kau mendapat hukuman atas kelancanganmu."
Ucap wanita itu.
"Silahkan, nona. Anda bisa melakukan apapun , saya tidak takut."
Brakkk....
"Kau mengancamku? Tunggu saja, akan ku buktikan ucapanmu."
"Saya tunggu, nona."
"Kau... ."
Kring... kring...
Bersambung🙏😊
__ADS_1