Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Mabuk segelas wine


__ADS_3

"Tante, kak denish sudah menikah? Kenapa tak ada pesta?"


" Bagaimana cara mendekatinya kalau kak denish sudah menikah?"


" Jauh- jauh raina pulang dapat tangan kosong."


Gumam raina dikamarnya.


" Tante kan tahu, kalau raina suka dengan kak denish sejak lama."


" Heh raina, kau tidak boleh seperti itu. Kita belum mencobanya. Lagipula aku yakin papa akan menyetujuinya, asal- usulmu jelas dari keluarga kaya juga dan terpandang."


Sinta menguatkan raina yang lesu dengan keadaan di kediaman angkasa.


"Kita masih ada waktu merebut denish dari gadis itu, raina."


"Tante benar, masih ada kesempatan."


" Aku yakin, papa menyetujui hubunganmu dengan denish. Tidurlah! Besuk pagi kita mulai dengan rencana kita."


" Okay, good night tante."


" Good night, sayang."


Sinta dengan wajah berbinar keluar dari kamar yang ditempati raina dilantai bawah. Setiap tamu keluarga yang menginap tidak diperkenankan tidur dilantai atas. Meskipun ada kamar yang kosong. Setelahnya sinta kembali ke kamarnya yang ada dilantai atas.


Vania room.


"Wah, kakak benar- benar hebat. Pulang bawa istri."


" Sepertinya aku harus berguru pada kakak."


" Istrinya juga cantik."


"Seperti dari kaum terpelajar."


"Lebih baik cari seperti kakak ipar, tak ada keributan dalam rumah tangga dan campur tangan dari mertua."


" Tapi siapa yang mau denganku jika mama mementingkan derajat?"


" Hah, malang sekali nasibmu vania."


"Lebih baik aku tidur, kalau tidak besuk bisa terlambat ke kantor."


Vania memutuskan mandi terlebih dahulu dan juga menjalankan rutinitas seperti biasanya. Beberapa menit ia lalui, saatnya menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Denish room.


Zea terpaksa mandi meskipun pintu kaca putih akan memperlihatkan tubuhnya namun ia tak kehilangan akal menutup pintu dengan handuk.


Samar- samar denish tersenyum melihat tingkah istrinya, meskipun sebagai lelaki normal denish akan tergiur dengan kemolekan tubuh zea namun sesuai janjinya denish akan lebih dahulu membuatnya jatuh cinta padanya.


Zea mengambil piyama tidurnya lalu menyiapkan keperluan denish.


" Apa dikamar ini tak ada dispenser? Bagaimana kalau tengah malam haus?"


Gumamnya lirih.


" Tentu saja ada sayang."


Jawaban denish hampir saja membuatnya terkejut dan menjatuhkan handuk ditangannya jika denish tak segera mengambil dan menariknya lebih dekat lagi.


"Kau ingin melihatnya?"


Zea mengangguk pelan menghindari hal lain yang akan dilakukan denish segera mengalihkan pandangannya.


Denish menyentuh pinggang zea untuk mengikuti langkahnya sejajae dengan nya, sampai disebuah disebuah ruangan khusus yakni mini dapur dan juga mini bar.


" Hah..., kenapa ada mini dapur? Kau ingin masak sendiri disini?"


Ucap zea melepaskan tangan denish yang mengait erat di pinggangnya.


"Menurutmu?"


" Tidak. Jangan- jangan kau suka minum?"

__ADS_1


"Hahaha..., sesekali. Seorang pebisnis akan sering meminum ini, sayang."


Ucap denish menuang sedikit wine ke dalam dua gelas wine dan memberikannya pada zea.


" Tidak. Aku tidak mau minum itu pasti memabukkan."


" Cobalah! Memberi sedikit kehangatan."


" Ya, baiklah."


Zea memicingkan sebelah matanya tak ingin di anggap remeh oleh denish, mengambil gelas wine yang disodorkan denish padanya.


"Enak."


"Aku belum pernah merasakan jenis ini sebelumnya."


Zea menuang kembali botol wine yang semula dipegang denish.


Denish meninggalkan zea tak menoleh kembali apa yang tengah dilakukan istrinya, iaberjalan lurus ke kamar mandi.


" Hem, sepertinya langit tampak indah."


Zea membawa gelas wine ke balkon dimana tampak beberapa bintang menghiasi angkasa menjadi daya tarik sendiri untuk zea.


"Eh..., kenapa minumnya habis? Tapi aku malas mengambilnya."


" Biarlah."


Zea duduk diam di kursi menatap jauh ke langit yang menampakkan beberapa kerlip cahaya meskipun hanya sebuah titik titik kecil.


Beberapa saat denish kembali tak menemukan dimana zea berada, hanya botol wine kosong di minibar.


" Hah..., apa zea menghabiskannya?"


" Dasar gadis aneh."


" Kemana dia? Jangan- jangan keluar kamar lagi?"


"Bisa gawat kalau dia bicara sembarangan."


Melewati sebuah pintu yang terbuka ke arah balkon, denish setengah berlari menuju pintu tersebut.


Yang ada di otaknya hanya kekhawatiran zea akan terjun ke bawah dari pagar balkon kamarnya yang kebetulan terbuka.


" Zea..., sayang."


" Ah..., syukurlah kau ada disini."


" Sudah puas memandang langitnya? Ayo kita masuk!"


" Eh..., siapa kau? Kenapa tampan sekali?"


" Aku...? Tentu saja suamimu."


" Hah..., suamiku? Aku sudah menikah?"


Denish menganggukkan kepalanya lalu menggendong istrinya kembali masuk ke dalam kamar mengunci rapat pintu balkon.


" Hah... kenapa aku jadi pikun? Aku memiliki suami setampan dirimu. Apa kau mencintaiku?"


Denish mengangguk pelan lalu menggelengkan kepalanya paham jalau zea tengah mabuk atas setengah botol wine yang diminum nya sendiri.


" Kau mabuk rupanya."


"Tidak, aku tidak mabuk. Aku hanya tidak ingat bagaimana bisa menikah denganmu? Hidupku sangat sederhana, tinggal bersama ibuku."


" Sudahlah, tidurlah! Akan membuatmu lebih baik."


" Tidak, sebelum kau mengatakannya?"


Dengan gerak cepat zea berada diatas tubuh denish.


" Karena aku mencintaimu."


" Benarkah? Tapi apa aku mencintaimu?"

__ADS_1


" Tentu saja, kau sangat mencintaiku."


" Aa..., terima kasih suamiku. Muach... ."


Zea mencium kilas bibir denish, tak sampai disitu saja zea bahkan semakin berani membalas ciuman denish yang menahan tengkuknya.


Denish tak kuasa menahan gejolak api asmara yang dikobarkan zea dalam keadaan mabuk. Tak ingin hilang kendali, denish hanya memberikan sedikit tanda merah dibeberapa bagian tubuhnya lalu menidurkan zea disampingnya.


" Kau membuat juniorku terbangun."


Denish kembali lagi ke kamar mandi mandi air dingin menjinakkan kembali junior yang tegang akibat ulah zea.


Meskipun sebenarnya denish bisa mengambil kesempatan tersebut, namun denish tak ingin membuat zea kecewa apalagi ia telah berjanji menunggunya sampai jatuh cinta padanya.


Gadis itu terlelap setelah kekhilafannya meminum setengah botol wine. Dan juga menggoda suaminya sendiri.


Denish kembali setelah berhasil dengan misinya, berbaring memeluk gadisnya ke dalam dekapannya.


Pagi- pagi sekali denish terbangun mendapat telepon seseorang yang entah siapa peneleponnya berani mengganggu kenyamanan tidur denish.


Denish meletakkan kepala zea perlahan dibatas bantal, meninggalkannya saat sedang terlelap.


Denish bergegas turun ke bawah mencari keberadaan bibi ha setelah menelepon vans untuk menjemputnya di pagi buta seperti itu.


" Bi..., bibi ha."


" Iya, tuan muda. Tuan muda sudah bangun?"


" Bi, zea masih terlelap. Tolong berikan sup hangat untuknya! Semalam mabuk minum segelas wine."


" Baik, tuan muda."


" Bawakan sarapan ke kamarnya! Oh ya, ajak dia mengelilingi setiap detil rumah ini."


" Baik, tuan muda.


" Terima kasih bi."


" Iya, tuan."


" A... ."


Bibi ha yang semula ingin mengatakan sesuatu pada denish menahan nya, melihat denish terburu- buru. Namun langkah denish terhenti melihat bibi ha yang ingin mengatakan sesuatu.


" Ada apa bi? Apa ada masalah?"


" Tidak, tuan. Tak ada masalah sama sekali, bibi hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan tuan muda."


" Bibi berharap, tuan muda menemukan kebahagiaan dengan nyonya muda."


" Terima kasih bibi."


" Apa tuan mencintainya? Jangan katakan pada bibi kalau nyonya hanya pelampiasan?"


" Tidak, bi. Aku sangat menyukainya, bahkan dia mampu membuat jantungku berdebar- debar."


Ucap denish menggenggam tangan bibi ha.


"Apa nyonya telah mengalahkan nona rayna?"


" Hahaha..., apa bibi tak percaya padaku?"


"Syukurlah. Bibi ikut senang mendengarnya."


" Tolong jaga zea untukku, bi!"


" Dengan senang hati tuan muda."


" Katakan padanya aku akan datang siang nanti!"


" Baik, tuan muda."


Denish pergi setelah menitipkan zea pada bibi ha, setelah melihat bayangan vans yang akan masuk ke dalam rumah.


Bibi ha tersenyum mendengar pengakuan denish, rupanya kebahagiaan tengah dirasakannya setelah sekian lama.

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2