
Di dalam kamar yang terbilang luas, mirna meraih sebuah bingkai photo yang terdapat sebush photo yakni photo danu angkasa.
" Mas, putramu membawa menantu yang sangat cantik."
" Juga membawa keberuntungan."
" Kau tahu? Mirna baru saja melihat tawa lepas ibu yang hilang setelah mas meninggalkan kami."
" Mudah- mudahan ini awal yang baik untuk keluarga kita mas. Meskipun raka tak tinggal disini, tapi mirna yakin raka mengerti kenapa mirna memilih tinggal disini."
Satu titik dua titik airmata menetes jatuh dari sudut kedua mata mirna. Ia bahkan tak menyangka ibu mertua akan luluh dengan gadis kecil yang baru saja ditemuinya bahkan baru dikenalnya.
Orang- orang yang tinggal di kediaman angkasa yang mungkin mempunyai niat buruk pada mirna takkan berani mengusiknya karena mirna sendiri punya wewenang menjaga ibu mertuanya sesuai wasiat danu angkasa.
Sementara suryo yang ternyata ikut melihat istrinya dan juga cucu menantu tengah bercanda, dengan penuh kemarahan pergi begitu saja. Derup langkah yang tergesa- gesa menuju kamarnya, hingga tak sengaja membanting pintu kamarnya.
"Brengsek, gadis itu benar- benar tidak bisa di anggap remeh."
" Dengan mudahnya mengambil hati salamah."
"Sedangkan aku yang menikah dengannya butuh waktu bertahun- tahun melunakkan hati salamah."
" Aku harus mencari cara menjauhkan nya dari salamah, sebelum rencanaku benar- benar kacau."
Suryo merasa tidak tenang setelah apa yang dilihatnya bahkan salamah sangat menyukai gadis yang baru saja ditemuinya.
"Pa... ."
Panggilan seseorang membuyarkan lamunan suryo yang tampak gelisah namun ditutupinya tak ingin terlihat ataupun ketahuan dengan orang lain.
"Ada apa sinta?"
"Tidak. Hanya..., sinta ingin membicarakan sedikit hal dengan papa. Apa papa punya waktu?"
"Baiklah, kau bisa datang ke ruang kerja papa."
"Iya, pa."
Sinta keluar dari kamar mertuanya berjalan ke arah samping kamar tersebut yang mana suryo punya sebuah ruang kerja sendiri.
Tok...tok...tok...tok.
Ceklek...
"Duduklah! Apa yang ingin kau bicarakan dengan papa?"
Tanpa basa basi suryo berbicara langsung pada intinya yang mana beliau memang tidak suka basa- basi.
"Tidak terlalu penting, pa. Hanya..., sinta ingin mengenalkan raina pada papa. Mungkin bisa berjodoh dengan salah satu keluarga angkasa."
Rupanya suryo mengerti arah pembicaraan sinta yakni ingin menjodohkan dengan keluarga angkasa. Namun sepertinya sinta lupa kalau salah seorang putra angkasa telah menikah dan juga salah satunya tidak tinggal di kediaman angkasa.
"Sinta..., apa kau lupa atau sudah pikun? Dengan siapa kau ingin mengenalkan raina? Putra pertama telah menikah dan putra bungsu seperti yang kau ketahui tidak tidak tinggal di rumah ini."
"Ah...a iya ya. Sinta sepertinya sudah pikun pa, hingga melupakan hal itu."
Sinta terpojok dengan pernyataan papa mertuanya dan juga tak bisa berkutik sedikit pun.
"Sayang sekali, padahal keponakan sinta itu menyukai putra pertama keluarga ini. Mungkin mereka tidak berjodoh."
"Apa papa menginginkan sesuatu? Sinta akan buatkan untuk papa."
__ADS_1
Sebelum benar- benar beranjak dari sofa empuk yang sempat didudukinya.
"Tidak, sinta. Terima kasih."
"Baiklah, pa. Sinta akan menemani raina agar tak bosan dirumah ini."
"Pergilah! Lakukan apa yang ingin kau lakukan! Papa tidak melarangmu juga tidak menyuruhmu jika terjadi suatu masalah."
"Baik, pa. Terima kasih. Sinta tidak akan mengecewakan papa."
Sinta tampak tersenyum setelah mendapat satu dukungan dari seseorang yang penting dirumah itu.
Sinta bergegas ke kamar raina, tak sabar memberitahukan kabar gembira yang baru saja dikatakan papa mertuanya. Suryo tampak sedikit menyunggingkan senyum setelah berbincang dengan sinta.
"Tampaknya aku bisa memanfaatkan gadis itu, sebelum aku punya cara menyingkirkan nya."
Gumam suryo yang tanpa sadar terdengar oleh seseorang yang selalu mengawasi gerak- geriknya.
Mirna sudah berada di lantai bawah yakni ruang dapur membantu chef menyiapkan makanan untuk seluruh keluarga yang ada dirumah saat makan siang ataupun makan malam.
Denish memapah nenek salamah ke ruang makan, meskipun jarak rumah dan sebuah taman lumayan cukup jauh namun karena zea dan denish nenek salamah tak merasa kecapekan.
Sesekali zea mencuri pandang pada denish yang begitu lembut pada neneknya bahkan seperti sangat menyayanginya.
" Beruntung sekali dia mempunyai nenek yang sangat menyayanginya, tidak sepertiku. Anak yatim piatu."
" Mendapatkan kasih sayang ibu ternyata bukan ibu kandungku."
Gumam zea di dalam hati.
Tampak dari kejauhan mirna menghampiri mereka tersenyum melihat salamah tampak tertawa riang bersama denish maupun zea.
"Mirna..., untuk apa menyusulku?"
"Tidak. Mereka bisa menjadi kakiku."
"Kaki...? Jangankan kaki, zea akan menjadi sayap untuk nenek."
"Hahaha... ."
Nenek salamah mengeluarkan suaranya hingga terdengar sampai le dalam kediaman angkasa yang begitu megah.
Di ruang makan tampak seluruh anggota keluarga sudah berada di tempat duduk masing- masing. Nenek salamah melihat raina duduk tepat disebelah denish yang mana tempat duduk itu milik savana.
"Nona, seorang tamu seharusnya duduk ditengah."
"Ma, sinta yang menyuruhnya duduk ditempat savana. Lagipula denish pasti tidak keberatan."
"Sepertinya kau melupakan adab, sinta."
Deg...
Bergetar hati sinta saat nenek salamah memberi sebuah peringatan padanya. Selama ini sinta tak pernah berurusan dan mau berurusan dengan nenek salamah.
"Sudalah salamah, biarkan duduk disana."
Salamah memilih membiarkan ucapan suaminya menatap tajam pada sinta.
"Bagaimanapun juga setiap rumah mempunyai aturan keluarga. Dan tamu tetap tamu."
Kedua orang keponakan dan tante saling berpandangan dan juga sempat melirik pada nenek salamah maupun kakek suryo.
__ADS_1
Sinta menenangkan raina menepuk tangannya beberapa kali.
"Sudahlah, nek. Mungkin tante sinta lupa memberitahunya."
Ucap denish.
Denish memang tahu betul sifat sinta yang ingin mendekatkan keponakannya dengannya, memilih membiarkan saja. Denish punya rencana sendiri untuk membuat cemburu istrinya.
"Kak, makan ini. Tante bilang ini kesukaan kakak."
Semua orang terperanga melihat tingkah raina yang semakin menjadi. Denish mengedipkan isyarat melalui matanya saat nenek salamah akan membuka mulutnya.
Sedangkan zea tetap tenang dan biasa saja, tak menunjukkan adanya satu sikap yang berlebihan. Membiarkan gadis itu melayani suaminya juga tak menggubris sama sekali perkataan gadis itu.
"Rupanya gadis itu ingin mencari perhatian denish."
Gumam zea lirih.
"Apa dia menyukainya? Sepertinya tante sinta sengaja menyuruhnya mendekatinya."
"Apapun alasannya, aku tidak peduli."
"Bagus, kalau dia menyukainya bahkan mendekatinya. Dengan begitu aku akan nudah menuntut perpisahan."
"Zea..., zea..., sayang."
Panggilan nenek salamah membuyarkan lamunannya dan hampir saja tersedak gugup mendapat perhatian dari nenek salamah.
"Iya, nek. Nenek menginginkan sesuatu?"
" Tidak, makanlah yang banyak. Semua makanan ini bagus untuk perkembangannya."
"Dan akan menjadi generasi penerus keluarga kita."
"Huk..., huk..., huk."
Bukan hanya raina yang tersedak namun kakek suryo juga merasakan hal yang sama. Sementara zea hanya ternganga dengan ucapan nenek salamah, tak percaya nenek menginginkan keturunan darinya.
"Sayang, benar kata nenek. Kau harus makan yang banyak."
Denish tersenyum menyentuh pelan tangan istrinya dan juga memberikan lauk pauk pada zea. Denish tahu semua perkataan nenek memang ada unsur kesengajaan.
"Kurang ajar. Ternyata gadis itu benar- benar menjadi penghalang langkahku."
Gumam sinta dalam hati.
" Brengsek!! Aku keduluan dengannya. Bagaimana cara mendekati kak denish? Semakin susah saja, tapi jika gadis itu memang hamil aku akan menghilangkan janinnya dengan mudah."
Gumam raina dalam hati.
" Tenang, dokter raina. Tidak percuma aku belajar ilmu kedokteran."
"Ah..., sialan. Aku harus memikirkan cara lain untuk menyingkirkan gadis itu."
Gumam suryo dalam hatinya.
Semua orang masih berkecimpung di dalam pikirannya masing- masing, sedangkan denish menunjukkan kemesraannya pada istrinya. Meskipun agak canggung menerima sikap mesra denish, zea tak dapat berbuat apa- apa selain pasrah menerima.
Makan siang usai, denish memilih pergi ke kantor sedangkan setiap anggota keluarga pergi ke kamarnya masing- masing untuk beristirahat sejenak.
Zea yang selesai membantu bibi ha, juga terlihat menaiki anak tangga ke lantai atas menuju kamarnya. Zea tampak termenung memikirkan yang terjadi, bahkan tampak bingung harus bagaimana.
__ADS_1
Bersambung😊🙏