Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Sensasi berbeda


__ADS_3

"Auww... ."


Suara pekikan seperti kesakitan membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara.


Brukk ...


Zea jatuh ke lantai tatkala kakinya tak mampu menopang beban tubuhnya karena satu tangan nya yang semula berpegang pada sebuah rak lemari menyentuh dadanya.


"Sayang... ."


Dokter rama mengeryitkan dahinya mendengar panggilan sayang denish pada zea. Sedangkan denish berlari ke arah sumber suara yakni pekikan istrinya merintih kesakitan.


"Kenapa tidak bilang ingin ke kamar?"


Ucap denish dengan cepat menggendong zea, membawanya ke arah kamar.


"Aku pulang dulu, lain kali ngobrol lagi."


Dokter rama setengah berteriak berdiri meninggalkan paviliun denish.


"Hem."


Jawab denish singkat. Bukan tanpa alasan dokter rama pergi, melainkan jiwa kejombloan nya yang meronta merasa gerah melihat kemesraan pasangan muda-mudi itu.


"Dokter..., aku menunggu hadiah darimu."


"Cih..., kau sudah kaya masih meminta hadiah."


Umpat dokter rama.


"Yah, baiklah. Aku akan segera mengirimkan untuk kalian."


Dokter rama pergi melambaikan tangan nya meskipun tak membalikkan badan nya.


Zea menatap wajah tenang denish yang menggendongnya, deru degup jantungnya semakin berpacu lebih cepat.


"Dia..., jatuh cinta padaku pada pandangan pertama? Apa aku tidak salah dengar? Lalu rayna?"


Gumam zea dalam hati. Entah kenapa hatinya bergetar hebat saat menatapnya lebih dalam. Terasa gejolak panah asmara menusuk tepat di jantungnya.


Denish membaringkan zea secara perlahan di tempat tidur bahkan tanpa sadar kedua tangan zea masih berada di leher denish.


"Sayang, aku tidak akan kemana. Jangan takut!"


Bisik denish ketika melihat zea masih mengalungkan kedua tangan di lehernya. Zea merasa sedikit malu zea terburu- buru melepas kedua tangan nya menunduk malu.


"Sakit?"


Zea mengangguk pelan ketika denish memeriksa kakinya dan juga melirik padanya.


"Tunggu sebentar lagi vans membawa obat penghilang rasa nyeri!"


Zea tak menjawab melainkan hanya menganggukkan kepalanya. Denish yang duduk di tepi ranjang membantu membaringkan zea secara perlahan, namun pandangan nya tertuju pada bibir peach istrinya.


Mengusap perlahan wajah zea yang tampak terlihat malu lalu menyentuh bibir peach yang sudah menjadi candu padanya. Melihat respon zea yang seakan memberikan lampu hijau, denish mulai mengecup pelan bibir itu sebelum memberikan sedikit ******* padanya.


Entah kenapa seakan hatinya telah terbuka, zea merespon setiap ciuman bahkan ******* denish dan juga membalasnya hingga sedikit kesusahan bernafas. Denish tersenyum simpul seakan mendapat durian jatuh, memanfaatkan kesempatan yang ada. Merasa istrinya kehabisan nafas, denish melepaskan ciuman itu menyandarkan keningnya tepat di kening zea mengatur nafas masing- masing.


Denish mulai bergerak menuruni leher jenjang zea, yang selama ini diinginkan nya.


Tok tok tok...

__ADS_1


"Aaaa...., sial. Siapa yang mengganggu?"


Denish sedikit kesal ketika mendengar suara ketukan pintu, tangan nya sedikit memukul kasur tempat tidur lalu beranjak mendekati pintu.


Zea melongo melihat reaksi denish lalu tertawa kecil meskipun tak terdengar. Zea meraba dadanya yang bergetar sangat hebat.


"Seperti inikah namanya menyukai seseorang?"


Gumam zea dalam hati.


"Apa aku telah kalah?"


"Tapi setidaknya menyukai suami sah sendiri tidak masalah."


"Benar kata sania, wajahnya yang teduh dan juga tampan bisa membuat hati meleleh."


"Yah..., meskipun dia agak sombong."


Zea masih bergelayut dalam alam pikiran nya dan juga alam hayalan nya tak menyadari kalau denish telah kembali berada di depan nya.


Rupanya vans mengetuk pintu menyerahkan resep obat yang telah ditebusnya di apotek.


"Sayang, minum obatnya!"


Ucap denish memberikan beberapa butir obat padanya.


"E.. ."


Zea tersadar dari lamunan nya melongo melihat beberapa butir obat ditangan nya. Zea hanya memandangi obat tersebut, selama ini zea memang jarang minum obat karena memang tak bisa meminumnya.


Jika sedang sakit meskipun hanya flu, zea meminta obat sirup daripada butiran obat yang dirasa sangat pahit.


Ucap denish sekali lagi. Namun zea menggeleng dengan cepat memberikan nya kembali pada denish lalu menutup mukutnya. Denish mengerutkan dahinya, melihat sikap zea dan juga butiran obat ditelapak tangan nya.


"Kenapa? Tak ingin minum obat?"


Zea mengangguk dengan cepat.


"Alasan nya?"


"Pahit."


Denish mulai paham kalau zea memang takut dengan hal yang berhubungan dengan medis. Mungkin karena terlalu menyedihkan kisah hidupnya jadi mempunyai sedikit trauma atau karena nurma sering keluar masuk rumah sakit.


Denish kemudian keluar kamar mengambil sendok menghaluskan butir obat yang bisa dihaluskan. Setelahnya kembali ke kamar menghampiri istrinya memberikan obat tetsebut.


Zea mencium bahu pahit obat menggelengkan kepalanya, dengan menghela nafas panjang denish menutup hidung zea lalu secepat kilat meminumkan obat yang telah di halusksn denish ke dalam mulut zea. Denish memberikan air minum padanya, namun saat melihat zea hendak memuntahkan obat tersebut denish kembali mencium bibir ranum yang baru saja di nikmatinya.


Ciuman panas yang berhasil mengeluarkan suara ******* zea juga respon yang sama bahwa yang empunya juga menginginkan lebih.


"Auw..., sakit."


Zea melupakan sakit pada pergelangan kakinya saat hendak memggerakkan nya berujung nyeri yang dirasakan nya.


"Sakit?"


Zea menggangguk pelan mengiyakan pertanyaan denish ketika ia melepaskan cumbuan nya di leher jenjang putih zea.


"Baiklah, kau harus istirahat."


Denish membantu membaringkan kembali zea di tempat tidur, tak ingin istrinya banyak bergerak.

__ADS_1


"Aku akan menagihnya saat kau sudah sembuh."


Bisik denish ketika memeluk bagian tubuh zea. Zea melongo menatap ke langit- langit kamar merasa sedikit cemas dan juga jantung yang berdebar- debar.


"Menagihnya? Apa itu berarti meminta haknya?"


Gumam zea dalam hati.


"Malam pertama?"


"Bagaimana rasanya? Sakit?"


"Aaa..., tidak."


Zea masih bergelayut di alam hayalan nya beberapa kali mengerjapkan kedua matanya, tak sadar kalau denish memangku kepalanya dengan sebelah tangan tengah tersenyum simpul memandangnya.


"Sayang..., kau memikirkan sesuatu?"


Deg...


Detak jantung zea berpacu lebih cepat bahkan sedikit malu. Beberapa pertanyaan muncul begitu saja di benaknya.


"Sejak kapan dia memandangiku?"


"Atau jangan- jangan dia mengetahui aku sedang memikirkan perkataan nya?"


"Aduh..., zea..., zea..., kenapa ceroboh sih? Bisa- bisa besar kepala."


"Tapi apa salahnya memikirkan nya? Dia suami yang resmi menikahiku."


Bukan menjawab pertanyaan denish, zea justru terbang ke alam hayalan nya kembali.


"Aah... ."


Suara sedikit ******* keluar begitu saja dari mulut zea dan segera menutup dengan kedua tangan nya menoleh pada denish yang tengah memainkan jarinya tepat di atas perut zea.


"Disini..., akan tumbuh benih- benih unggulan. Benih yang kuat seperti mama dan papanya juga lucu dan menggemaskan."


Semakin lama jari itu bermain disana, semakin merinding pula bulu kuduk zea juga satu rasa yang sedikit berbeda dari sebelum nya.


Mungkinkah karena ada bumbu- bumbu cinta? Seperti memberi sedikit sensasi berbeda bahkan sangat membuat jantung berdegup tak karuan.


Zea menarik jari jemari denish menyuruhnya diam serta menatap kedua manik mata denish yang saat ini juga tengah menatapnya.


"Aku ingin tidur."


"Bukankah aku menyuruhmu tidur? Kemapa tak tidur? Melamun? Atau mengingat seseorang?"


Zea menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu yang berhasil mengelabuhi denish.


"Sakit. Nyut- nyutan seperti ditusuk jarum."


Dengan cepat denish bangun dari tempat tidur seperti ingin mengambil sesuatu.


"Hah..., beruntung dia tak mengetahuinya."


Gumam zea lirih bernafas lega mengusap pelan dadanya.


Denish kembali membawa sebuah baskom yang berisi kompres meredakan rasa nyeri yang saat ini di alami zea.


Bersambung🙏😊

__ADS_1


__ADS_2