
" Sayang, kau sudah bangun?"
Zea terperanjat dengan suara denish yang muncul dari balik pintu samping.
Zea tak percaya dinding itu berubah menjadi sebuah pintu, masih ternganga dengan kemunculan denish tak sadar kalau belum mengancingkan piyamanya.
Tak ada perubahan apapun dari sikap dingin denish, namun zea masih belum menyadari kalau denish berjalan menghampirinya.
" Sayang, bibirmu mengeluarkan air liur."
Deg...
Zea terkejut mendengar bisikan denish, tak sadar mengusap bibirnya namun tak merasakan apapun.
Zea mengerutkan dahinya menatap tajam denish yang mempermainkannya.
" Kau terpersona dengan suamimu? Atau sengaja ingin menggodaku?"
" Ih..., narsis. Siapa yang menggodamu?"
" Kancing piyamamu yang terbuka, memperlihatkan belahan dadamu."
" Hah..."
Zea sadar belum mengancingkan bajunya, menoleh ke bawah yang ternyata tangan denish sudah terlebih dahulu memegang satu persatu kancing piyamanya mengancingkannya.
" Aduh..., zea... zea. Mau ditaruh dimana mukamu? Kenapa bisa lupa?"
Zea merutuki kebodohannya sendiri.
" Bersiaplah! Malam ini, aku akan mengajakmu pulang ke rumah utama."
" Rumah utama? Apa maksudmu?"
" Nyonya denish angkasa, apa menurutmu aku tidak mempunyai keluarga?"
" Tidak, bukan seperti itu. Mbok ijah pernah menceritakan keluarga besar angkasa padaku. Apa kita akan tinggal disana?"
Ucap zea.
" Hem, benar sekali."
" Hah..."
" Ada apa? Kau lebih memilih tinggal disini? Dengan bebas bisa bertemu pacarmu?"
" Pacar...? Aku belum pernah pacaran."
Zea memalingkan wajahnya sedikit kesal dengan denish.
" Aku tak pernah mempunyai teman laki-laki, bagaimana mungkin punya pacar?"
Denish sedikit menyunggingkan senyumnya yang tak terlihat oleh zea.
" Bagaimana dengan nico?"
" Nico...? Bagaimana mungkin pria ini mengetahui tentang nico?"
Gumam zea dalam hati.
" Apa dia juga menyelidiki setiap detil kehidupanku?"
" Sayang, kau membenarkan ucapanku?"
Suara denish membuyarkan lamunan nya.
" Nico hanya teman kampus satu jurusan."
Zea tak sadar dengan pertanyaan jebakan denish, menjawab dengan spontan.
" Benarkah? Bagaimana mungkin kalau tak ada hubungan mencari jejakmu sampai disini?"
" Apaa...., nico mencariku sampai di tempat ini? Berarti kemarin itu benar-benar nico?"
Gumam zea dalam hati yang lagi-lagi terkejut mendengar perkataan denish.
" Dia temanku, apa salahnya mencariku? Lagi pula kau menculikku, wajar mencariku yang hilang ditelan bumi."
" Kau tidak mencintainya?"
" Tidak. Lagi pula aku sudah menikah, bagaimana mungkin aku menaruh hati padanya? Sama saja memberi harapan palsu."
__ADS_1
Gumam zea menundukkan kepalanya.
" Hahaha..., benarkah? Kau mencintaiku?"
" Ih..., narsis sekali. Aku tidak mengenalmu, langsung menikah denganmu, itu pun dengan pemaksaan. Bagaimana mungkin aku mencintaimu? Menyukaimu saja tidak."
Zea kesal dengan ucapan denish yang sengaja memojokkannya.
Memilih tak menghiraukan denish, zea berjalan menuju kamar mandi. Namun tangan kekar denish menariknya ke dalam pelukannya.
" Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku."
Zea tercengang mendengar perkataan denish, menatapnya dengan intens hingga tak berkedip sama sekali.
Muach...
Denish melepaskan pelukannya, mencium kilas bibir zea lalu berjalan ke kamar mandi terlebih dahulu. Sementara zea masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Dug dug....
Dug dug....
Detak jantung zea berdegup kencang setelah mendengar ucapan denish. Hampir saja melompat dari tempatnya.
"Apaaa..., dia akan membuatku jatuh cinta? Bagaimana mungkin bisa jika awalnya saja pemaksaan?"
Gumam ane menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
" Eh...,eh. Aaa..., curang. Memanfaatkan kesempatan dalam kelalaian. Zea... zea..., bodoh."
Zea mengumpat kesal dengan kebodohannya.
Zea menghela nafas kasarnya, dan juga terpaksa menunggu denish selesai menggunakan kamar mandi. Meskipun agak lama tetapi zea tampak gelisah berjalan mondar mandir tak tenang setelah menyiapkan baju kerja denish.
Ceklek....
" Sayang, kenapa mondar mandir?"
" Kenapa...? Aku kebelet pipis, pakai nanya lagi."
Ucap zea geram, setengah berlari ke kamar mandi.
" Kau itu curang, harusnya aku yang duluan ke kamar mandi."
Denish tersenyum melihat tingkah zea yang kekanak-kanakan. Menunggu zea yang masih di kamar mandi, denish ke ruang kerjanya memeriksa berkas yang dikirimkan vani melaui emailnya.
Zea keluar dari kamar mandi menggosok-gosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil, menatap heran pada baju yang berada disofa walk in closet mini wardrobe kamar tersebut.
" Hah..., kenapa bajunya masih ada?"
"Apa dia belum berangkat kerja?"
Zea berjalan terburu-buru melihat sudut kamar tak menampakkan keberadaan denish.
" Lalu..., kemana perginya?"
Gumam zea.
" Jangan- jangan ada di meja makan. Gawat!!"
Dengan langkah yang terburu buru, zea mengambil mini dress rumahan dan juga pakaian dalamnya. Bergegas memakainya tanpa menyadari keberadaan denish di sisi pintu ruangan tersebut, zea melepas bathrobenya tak sadar denish berdiri mematung menatap tubuh zea yang polos tanpa sehelai benang pun.
Glek.... glek....
Susah payah denish menelan salivanya, melihat pemandangan indah di depan matanya.
Lelaki mana yang tak bergeming melihat kemolekan tubuh istrinya, apalagi dia seorang lelaki yang normal sudah pasti menerkam mangsanya begitu saja.
Denish mengerutkan keningnya, menghela nafas panjang membiarkan pemandangan itu berlalu begitu saja.
Meskipun pada akhirnya tersenyum melihat istrinya yang terburu buru memakai pakaian tak memperhatikannya hingga terbalik.
Denish bersandar di pintu menyandarkan tubuhnya, menyilangkan kedua tangannya di bilah dadanya.
" Aduh..., terbalik lagi."
Gerutu zea yang kemudian melepas kembali pakaiannya.
Zea mengambil bathrobe dan juga handuk kecilnya berniat meletakkannya di keranjang baju kotor, terngaga melihat denish tersenyum padanya.
" Kau..., sejak kapan ada disini?"
__ADS_1
"Sejak tadi."
Zea mengerutkan keningnya, tak percaya atas apa yang didengarnya.
" Maksudmu?"
" Aduh..., terbalik lagi."
Ucap denish berjalan menghampiri zea yang mematung mendengar ucapan denish.
" Hah..., kau? Sengaja mengintip kan?"
Zea menunjuk wajah denish dengan jari telunjukkanya, kesal dengan denish tapi juga setengah malu terhadapnya. Bertelanjang di depanya, meskipun pada dasarnya juga kesalahannya sendiri.
" Hahaha..., ayolah sayang. Kau adalah istrku, tak ada dasar mengintip hanya karena melihatmu berganti pakaian."
Ucap denish.
" Seharusnya aku sudah melihat dan merasakannya dari pertama kali menikah."
Zea ternganga tak percaya sekali lagi mendengar ucapan denish.
Memang benar, sejauh ini zea belum melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.
" Sayang, melamun? Apa kau tahu aku harus ke kantor?"
" Kalau sudah tahu akan ke kantor, kenapa tak segera pakai baju? Bukankah sudah ku siapkan?"
Gerutu zea sadar dari lamunannya.
" Aku menyukai pelayanan istriku, dan tak ada salahnya jika menyuruh istri sendiri."
Ucap denish menengadahkan tangannya.
Zea hanya bisa menghela nafas beratnya, ia bersumpah kalau tidak atas nama pernikahan takkan mungkin sudi melayaninya.
Bagaimana tidak? Semakin hari tingkah denish semakin menjadi bahkan membuatnya harus mengalah jika sudah mengatasnamakan statusnya sebagai seorang istri.
Zea meletakkan handuk dan bathrobenya di sofa, mengambil kemeja yang telah disiapkanya juga stelan jas kerjanya.
"Ah..., kenapa tak memakai celana panjangnya?"
Zea menutup matanya saat melepas bathrobe denish, denish hanya terkekeh geli melihatnya.
Tinggi tubuh zea yang tidak terlalu tinggi juga tak terlalu pendek, harus membuatnya naik di sofa saat memasangkan dasi pada denish.
" Sudah selesai. Aku akan ke dapur membuat kopi."
Ucap zea yang hendak turun dari sofa namun lengan kekar denish menahan tubuh mungilnya.
" Kau melupakan sesuatu."
" Tidak. Tidak ada yang lupa?"
" Kau yakin?"
Zea mengangguk pelan, tetapi denish tersenyum menyentuh pipinya bahkan bibirnya dengan jari telunjuknya.
" Yang benar saja."
" Apa salahnya seorang istri memberikan semangat pada suaminya?"
" Tapi..., apa harus mencium?"
Denish yang tak melepaskan pinggang ramping zea, menariknya agar lebih mendekat meskipun dapat menakan dari zea namun tenaga denish lebih besar dari pada dengannya.
Muach...
Denish mencium kilas bibir zea dan juga pucuk kening zea.
" Morning kiss. Kau akan melakukannya setiap hari dan juga saat aku akan berangkat ke kantor."
Bisik denish.
Menghela nafas panjang, zea menganggukkan kepalanya berjalan ke arah pintu setelah denish menurunkannya.
Zea berjalan keluar kamar, membuatkan secangkir kopi meskipun ada mbok ijah namun zea tak ingin dicap istri durhaka tak memberikan pelayanan yang baik untuk suaminya.
Tak ada cara lain lepas dari denish, selain menerima pernikahan mereka. Zea teringat pesan mendiang ibunya, menikahkah dengan seorang lekaki yang menjadikanmu ratu.
Tapi zea masih belum yakin dengan niat denish sebenarnya, apa benar dia mencintainya? Rasanya tidak mungkin, pernikahan yang didasarkan pemaksaan apalagi zea yakin ada motif tertentu.
__ADS_1
Bersambung😊🙏