Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Nasi uduk.


__ADS_3

Zea memilih tidur dikamar nya selepas nico pulang . Zea berpikir akan menginap di tempat tante ira namun zea mengurungkan niatnya karena kakinya yang sakit .


Akhirnya ia tidur di kamarnya sendiri bahkan mengunci pintu kamarnya meskipun sudah mengunci pintu utama .


Rasa takut menyelimuti zea bahkan sulit sekali memejamkan matanya .


" Kenapa susah sekali memejamkan mata ini ?"


" Semua gara gara cowok playboy itu ."


" Bagaimana aku bisa menyebut nya playboy ? Aku bahkan tak melihatnya bergandengan dengan seorang cewek sekalipun. "


" Ia sangat perhatian denganku seperti seorang kekasih ."


" Gara gara mely , aku harus terlibat asmara dengan nya ."


" Bagaimana mungkin dia mendengarnya saat itu ? Padahal sudah lama sekali ."


Pusing memikirkan hal yang beberapa hari terjadi membuatnya tidur dengan sendiri nya.


Zea menggeliat beberapa kali meskipun hari sudah siang tapi enggan membuka matanya . Zea memang dapat cuti beberapa hari hingga kakinya sembuh dari bu dewi pemilik toko .


Zea lebih memilih tidur memulihkan stamina tubuhnya yang beberapa hari terkuras dengan keadaan yang terjadi selama beberapa hari ini.


Beberapa kali nico menelepon ponsel zea namun tak ada jawaban . Nico tahu kalau zea pasti masih tidur terlihat lampu teras yang masih menyala .


" Pasti masih tidur ."


Ketukan pintu beberapa kali tak mendapat jawaban dari zea , nico hanya meletakkan sarapan yang di beli di atas gagang pintu.


💬 love Judes,,


💬 :" Sayang sudah bangun ? sarapan nya di depan pintu."


💬 :" Jangan lupa minum obat !


💬 :" Aku akan menjemputmu jam makan siang."


Setelah mengirim pesan nico memilih kembali ke kantor nya ,meskipun tidak bertemu zea tapi setidaknya ia tahu kalau zea masih tidur .


Rupanya zea tidur hingga siang meskipun tak pernah sekali pun zea bermalas malasan tapi tidak hari ini. Rasa lelah tampaknya menghantui tubuh zea yang tidak sinkron dengan otaknya .


Zea merasa perutnya keroncongan , cacing cacing perut menari nari minta di isi membuat mata nya terbuka . Meskipun sadar ia tak bekerja tapi perutnya juga butuh asupan gizi.


" Aduh , kenapa masih sakit ?"


Zea masih meringis kesakitan pada pergelangan kakinya meskipun tidak seperti kemarin tetapi rasa sakit masih ada di pergelangan kaki nya .


Dengan tertatih tatih zea berjalan keluar kamar mematikan seluruh lampu ternasuk lampu teras depan rumah .


Zea memilih membersihkan diri agar tubuhnya tampak lebih segar . Melihat jam dinding di kamar nya zea menghela nafas panjangnya , pantas saja perutnya sudah merasa lapar ternyata sudah siang.


" Pantas saja perutku lapar , ternyata sudah siang."


Zea meraih ponselnya dari kabel charging terkejut melihat beberapa kali panggilan baik dari mely ,tina maupun nico.


" Banyak sekali panggilan masuk . Aku tidur seperti orang mati tak mendengar nya sama sekali."


" Mely , tina , nico ,,,,."


" Hah,,, rizal ? Ngapain telepon ?"


Zea diam membisu teringat masa yang dulu dimana ibunya rizal bersikeras menjodohkan rizal meskipun zea sudah menjelaskan kalau mereka hanya berteman .


Mungkin terpengaruh dengan orang yang menginginkan rizal hingga mempengaruhi ibunya rizal.


Teringat jelas di mata zea bagaimana orangtua rizal memaki ibunya bahkan menuduhnya seorang yang tidak baik hanya merayu pria dan memanfaatkan nya.


Zea memilih diam tak memberitahu rizal bahkan masih menganggapnya sebagai seorang teman.


💬 Mely


💬 : " Jutek, kemana aja tak nongol nongol ? Sibuk ya ?"

__ADS_1


💬 :"Kangen nih , kapan nobar ?"


💬 :" Ditunggu reply nya !"


Zea tersenyum membaca pesan dari mely sahabat karibnya , memang beberapa hari setelah skripsi zea disibukkan dengan pekerjaan yang didapat nya .


Berbeda dengan mely , orang tua nya kaya tajir melintir bahkan tinggal di luar negeri tak perlu susah payah bekerja. Kehidupan nya yang lebih baik dari zea tak lantas membuatnya sombong tetapi justru saat mengenal zea , mely berubah menjadi penyanyang sesama apalagi orang yang kehidupan nya berada dibawahnya.


💬 Tina.


💬 :" Mbak , gimana kabar nya ? Udah sembuh belum ? Tina kangen sama mbak ."


💬 :" Maaf ya mbak , belum bisa jenguk. Repot sekali di toko.


💬 :" Yang sabar ya mbak . Udah ibu sakit ,mbak kecelakaan lagi ."


💬 :" Cepat sembuh !"


Emotion yang diberikan tina berupa tangan dan sebuah senyuman , membuat zea merasa bahagia jika ia memang tak sendiri lagi bahkan teman teman nya memberi suport pada nya.


💬 Nico


💬 :" Sayang sudah bangun ? sarapan nya di depan pintu."


💬 :" Jangan lupa minum obat !


💬 :" Aku akan menjemputmu jam makan siang."


" Sayang,,,? Sejak kapan jadian dengan nya ? Kenapa selalu memanggilku sayang ?"


Dug ,,,,dug,,,


" Jantungku berdebar kencang . Hah,,, ."


Rasa gugup menyelimuti hati zea bahkan tak mengerti apa yang dirasakan saat ini .


Kepedulian dan perhatian nico seakan membuat dinding pertahanan zea runtuh.


Zea berjalan ke pintu depan dimana nico meletakkan sarapan untuknya di gagang pintu rumah .


" Sejak kapan dia mengetahui aku suka nasi uduk ?"


" Benar benar sulit ditebak ?"


" Atau jangan jangan dia yang selalu membuntuti ku ?"


"Hah,,,,. Sudahlah nanti saja, aku lapar."


Zea membuka bungkusan plastik yang berisi nasi uduk dan juga susu segar yang entah kapan ia menyukai minuman itu .


Zea tak pernah membayangkan akan hidup sesulit ini , dibandingkan dengan teman teman nya yang jauh lebih baik .


Selesai menyantap nasi uduk yang dikirimkan nico , zea berniat membersihkan rumahnya meskipun kaki nya masih sakit . Beberapa hari ibunya dirumah sakit dan ia pun juga sibuk tak sempat membersihkan rumah.


Masih berlanjut dengan acara nya membersihkan rumah , zea juga membersihkan kamar ibunya bahkan melipat baju baju kering yang berserakan di keranjang baju.


Satu demi satu zea bersihkan hingga zea berpikir mengganti sprei yang terlihat kotor dengan sprei yang baru .


Zea berniat mengangkat springbed dari dipan kayu tempat tidur ibu nya , zea ternganga menemukan sebuah amplop coklat di bawah springbed tersebut.


" Apa ini ? Kenapa ada amplop coklat disini ? "


Saat tangan mungilnya meraih tali pengait pada amplop tersebut , sebuah ketukan terdengar dari pintu depan.


Zea membawa amplop tersebut dan meletakkan nya pada meja di ruang tengah.


Tok,, tok,,tok,,,


Tok,,,tok,,,tok,,,,


Ceklek,,,


" Sudah bangun ?"

__ADS_1


Zea ternganga melihat kedatangan nico yang ternyata mengetuk pintu beberapa kali


Zea tak menyangka kalau nico akan menepati perkataan nya datang pada jam makan siang dan juga tampak membawa bungkusan makanan ditangan nya.


Tak mendapat jawaban dari zea , nico berlalu masuk ke dalam rumah bahkan sampai ke ruang dapur.


Zea masih diam membisu melihat perangai nico seperti tuan rumah bahkan tampak begitu mengenal setiap detail ruangan yang ada di rumah zea.


" Masih diam disitu ?"


Sadar dari lamunan nya zea yang masih merasa sakit di pergelangan kaki nya betkalan pincang mendekati nico di ruang tengah yang menuang makanan di dalam beberapa wadah yang nico ambil dari rak piring didapur.


" Sayang,,,,."


Deg,,,


Detak jantung zea berdegup kencang bahkan jantung itu akan melompat jauh dari tempatnya ketika nico memanggilnya sayang.


" Kenapa memanggilku seperti itu ?"


Dengan tertunduk lesu , zea melayangkan protesnya pada nico.


" Apa masih harus dijelaskan ? Bukankah kau kekasih ku ? Bahkan kau yang menembakku dan aku menerimanya."


Lagi lagi zea harus menundukkan kepala nya menahan sedikit rasa malu .


Zea tak bisa berbuat apa apa selain menerima apa yang dikatakan nico meskipun menolak takkan mempengaruhi nico .


" Makan !"


" Aku masih kenyang , baru satu jam yang lalu aku makan nasi uduk ."


" Hah,,, zea jika kau tidak makan bagaimana akan cepat sembuh ?"


Perkataan nico menjadi senjata ampuh penolakan zea bahkan zea kalah telak dengan nya .


" Baiklah , sedikit saja . Aku harus merapikan tempat tidur ibu ."


" Setelah makan ."


Ucap nico.


Zea pasrah menerima paksaan nico , toh dia pun tak bisa menolaknya.


Nico melihat zea tak berselera makan namun ia tak kehabisan akal membuat zea makan lebih banyak.


" Aku akan merapikan tempat tidur ibu ."


" Hem, baiklah."


Nico menyimpan sisa makanan ke dalam kulkas setelah zea meninggalkan nya sendiri.


"Sudah selesai ? "


" He'em."


" Ayo kita pergi !"


" Kemana ?"


" Menengok ibu mu ."


" Tidak, aku tidak ingin kesana."


" Kalau begitu ikut dengan ku ."


" Kemana ?"


" Nanti kau akan tahu ."


Nico tak menjawab pertanyaan zea kemana dia akan membawanya pergi .


Zea hanya menurut apa yang dikatakan nico hanya orang itu yang peduli pada nya.

__ADS_1


Bersambung 😊🙏


__ADS_2