
" Kau,,,,?"
" Untuk apa kau datang kemari ?"
Zea menutup mulut nya menjauh dari denish yang semakin mendekati nya bahkan duduk di tepi ranjang .
Zea menggeser tubuh nya menjauh dari pria gila itu dan juga dari drakula yang menggigit bibir nya.
" Kemarilah ! "
Ucap denish mengulurkan tangan nya namun zea menggeleng gelengkan kepala nya .
" Kemarilah atau aku,,,,."
Belum sempat melanjutkan perkataan nya , zea sudah bergerak mendekati denish . Duduk persis dihadapan nya .
" Aaaak,,,."
Dengan mata terkesima zea menatap denish yang menyuapi nya dengan tangan nya sendiri .
Dengan telaten denish menyuapi zea meskipun zea agak sedikit heran namun semua juga salah nya yang menggigit bibir nya dengan sengaja.
" Tanda tangani ini !"
" Apa ini ?"
Zea meraih beberapa lembar kertas yang disodorkan denish membaca nya dengan seksama.
" Dokumen pengajuan pernikahan . Apa maksudnya ?"
" Yah , kau harus menikah dengan ku ."
Ucap denish berdiri membawa mangkok bubur yang telah habis.
" Menikah dengan mu ? Tidak ,,tidak,, tidak . Aku tidak mau menikah muda lagi pula darah ku bisa mendidih jika harus berdebat dengan mu setiap hari."
Gumam zea.
" Terserah , waktu mu tidak banyak hanya dua hari . Jika teman mu tak menyerahkan pelaku asli nya ,aku bisa membuat temanmu membusuk di penjara ."
" Pilihan mu hanya dua , menikah atau teman mu masuk penjara seumur hidup nya ."
Ucap denish dengan bengis menatap tajam zea sebelum meninggalkan kamar zea.
Bagai petir menyambar disiang hari meskipun hari sudah gelap ,zea tak percaya apa yang baru saja didengar nya .
" Apa pria itu sudah gila ?"
" Menikah ? Bagaimana mungkin aku menikah dengan nya ?"
" Bisa mati stroke ."
" Aaa,,,, tidak ,,,tidak,,,tidak,,,. Tapi bagaimana dengan sania ?"
" Apa aku akan membiarkan nya di penjara ?"
" Aduhh,,,, kenapa jadi seperti ini sih ?"
" Bu, setelah kau pergi kenapa banyak sekali masalah yang menghampiri ku ?"
Gumam zea .
Hingga larut malam perasaan yang tidak menentu membuatnya sedikit gelisah hingga sulit memejamkan mata nya .
Entah apa yang direncanakan denish hingga tiba tiba menginginkan seorang gadis yatim piatu yang tak punya apa apa menjadi istri nya .
Yah, semua bukan tanpa alasan namun karena nenek nya menginginkan nya segera menikah dan memberi cicit untuk nya.
Namun bagaimana denish bisa berpikir menikahi gadis yang tidak dicintai nya ? Hanya denish yang paham dan mengerti apa yang diinginkan nya .
"Apa aku sudah gila ? Bagaimana mungkin aku menikah dengan gadis ingusan itu ?"
Gumam denish.
"Setidaknya aku punya cara menghindar dari segala bentuk perjodohan orang tua itu."
Ucap denish .
Baik zea maupun denish tak bisa memejamkan mata nya hingga zea keluar dari kamar nya berjalan ke arah kolam dimana ada kursi panjang yang memang digunakan untuk berjemur setelah berenang .
Zea memandang jauh ke langit lepas ada beberapa bintang yang menyinari bumi menghiasi indahnya angkasa.
__ADS_1
" Aku tidak boleh egois, sania berhak bahagia ."
Gumam zea yang merasa tak kuat menyangga kelopak mata nya hingga tertidur pulas .
Di sisi lain denish yang juga keluar dari kamar nya berjalan mengelilingi kolam renang , denish akan berenang meskipun tengah makan saat tak bisa memejamkan mata nya .
Saat akan sampai di kursi biasa digunakannya berjemur setelah berenang , denish melihat sosok orang yang mengira vans namun setelah melihat nya dalam jarak dekat denish sedikit terkejut dengan sosok yang tengah tertidur pulas disana.
" Kau,,? Kenapa tidur disini ?"
" Apa dia tidak tahu udara malam tak baik untuk kesehatan nya ?"
Ucap denish menoel noel pipi nya .
" Hei,,, bangun ! Bangun !"
Denish mencoba membangunkan zea nsmun tak mendapat tanggapan dari zea melainkan menarik tangan yang semula menoel noel pipi zea.
Secara perlahan denish melepaskan tangan zea , memandangi wajah cantik yang sedikit tirus terlihat sangat menawan . Apalagi saat tidur seperti ini terlihat begitu tenang namun saat mata nya terbuka lebar bibir mungil nya tak kan berhenti berbicara seperti kereta api.
Denish mengusap pelan wajah lembut itu menyentuh pelan bibir mungil yang beberapa hari ini berani berdebat dengan seorang denish angkasa.
" Kau orang pertama yang berani berdebat dengan ku ."
" Entah mengapa di dekat mu tak ada rasa kemarahan sedikit pun ."
" Apa aku menyukai mu ? Tidak. Bagaimana mungkin aku menyukai gadis seperti mu ?"
Masih tidak percaya dengan apa yang dirasakan nya , secara mengejutkan dan tiba tiba denish ikut berbaring disamping zea merengkuhnya ke dalam pelukan nya .
Mang kasim terkejut melihat dua sosok hitam yang tak jauh berada di tepi kolam berlari menghampiri mbok ijah yang tengah memasak di dapur .
" Hah,,,hah,,,hah."
Dengan tersengal sengal , mang kasim menegak segelas air hingga habis.
" Ada apa pak ? Seperti baru melihat hantu saja ."
Ucap mbok ijah .
" Memang melihat hantu ."
Ucap mbok ijah menggeleng gelengkan kepala nya .
" Benar ,buk. Sosok hitam di kursi tepi kolam renang ."
" Ah ,,, masa' sih pak ? Ibu nggak percaya."
" Ayo kalau tidak percaya kita lihat sekarang !"
Ucap mang kasim menarik tangan mbok ijah .
" Tapi pak ,,,, masakan ibu gimana ?"
" Matiin dulu kompor nya. "
" Ada apa mbok ?"
Vans datang di sela sela perdebatan mbok ijah dan mang kasim.
" Ini den , kata mamang nglihat hantu di tepi kolam ."
" Hantu ,,,? Ada ada saja mamang ."
" Eh,,, beneran atuh den."
Ucap mang kasim.
Keduanya baik vans maupun mbok ijah sana sama tidak percaya , mengikuti mang kasim membuktikan kebenaran nya .
Sampai di tepi kolam mereka berjalan mengendap endap agar tak membuat suara hingga hantu itu hilang dari pandangan . Setelah semakin dekat mereka terkejut melihat hantu tersebut ternyata denish dan zea yang tidur saling berpelukan .
" Tu,,,,."
Ketika mang kasim akan mengeluarkan suaranya karena keterkejutan nya, mbok ijah menutup mulut nya terlebih dahulu .
Lalu berjalan pelan pelan meninggalkan mereka yang masih terlelap , vans sempat mengambil beberapa photo mengabadikan moment bahagia nya .
" So sweet ,,, akhir nya mereka bersatu dan sebentar lagi akan menikah ."
Ucap mbok ijah memegang kedua tangan nya sendiri .
__ADS_1
" Tapi ,,,,kenapa mereka tidur disana ?"
Gumam mbok ijah .
" Entahlah ."
Baik mang kasim maupun vans menjawab serempak .
" Aku tidak pernah melihat tuan seperti ini. "
Ucap vans.
" Doakan den ! Agar mereka segera menikah daripada ingat non rayna terus ."
Ucap mbok ijah .
" Iya,mbok."
" Non zea juga cantik , baik juga ,mandiri dan bisa masak pula.Cocok untuk tuan ."
Ucap mbok ijah .
" Dan juga seorang sarjana ."
Gumam vans dalam hati.
Mereka bertiga terlihat bahagia melihat kedekatan denish dan zea yang semakin lengket seperti perangko.
Zea menyapu wajah nya yang terkena sinar matahari , namun seperti nya ada yang berbeda dari tidur nya .
Zea menatap ke langit dimana telah berwarna biru hingga merasa ada yang berbeda dibagian tangan nya . Mata nya melihat sosok yang tak asing yang kini tengah di peluk nya , beberapa kali mengerjapkan mata nya namun masih tetap sama .
" Apaaa,,, aku tidak bermimpi ? Bagaimana mungkin aku tidur dengan nya ? "
" Aaaaa,,,, bagaimana ini ? "
Gumam zea dalam hati .
Zea terjatuh saat akan bangun dari atas tubuh denish yang semalaman di peluknya , memberi kenyamanan semalaman .
" Aaaaaaa,,,,."
Bukkkk,,,
" Aduh,,,, pantat ku ."
Zea berteriak meringis kesakitan terjatuh dari kursi yang ditempati berdua dengan denish.
" Ada apa ?"
Ucap denish.
Namun setelah melihat zea meringis kesakitan memegang pantat nya , denish bangun dari tidur nya menghampiri zea.
" Kau tidak apa apa ?"
Zea tercengang melihat sikap lembut denish yang biasanya sadis terhadapnya.
" Pantatku sakit."
" Aaaa,,,, .Turunkan ! Kau sedang mencari kesempatan dalam kesempitan ?"
Ucapan sadis zea sebenar nya membuat denish kesal tapi entah mengapa gadis ini tak membuatnya marah sedikit pun .
" Siapa yang memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan ? Aku hanya ingin membantu mu ."
" Kau ,,,. Bagaimana mungkin aku tidur di atas mu ? Aku masih ingat semalaman aku sendirian disini ."
" Aku membangunkan mu tapi tidak bangun dan kau menarik tangan ku."
" Tidak , aku tidak mungkin menarik tangan mu. Menyentuh saja aku tidak mau ."
Bibir mungil tapi pedas saat berbicara mampu memprovokasi denish berubah sedikit geram.
" Turunkan aku !"
Denish menatap tajam zea yang meronta minta turun dari gendongan nya.
Byurrrrrr,,,,
Bersambung 😊🙏
__ADS_1