Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Salad buah


__ADS_3

"Sayang sekali kalau dibuang. Aku simpan saja."


Ucap pelayan yang membawa kotak salad ke belakang.


Bibi ha kembali membuat salad untuk nyonya mudanya, merasa khawatir terjadi sesuatu dengan zea. Selesai dengan pekerjaannya, bibi ke lantai atas menuju kamar zea yang berada lantai atas.


Tit... tit... tit.


Ceklek...


" Bibi..., kau rupanya."


" Ada apa nyonya? Apa anda merasa tidak sehat? Bibi akan memanggil dokter."


"Siapa yang tidak sehat, ha? Apa cucu menantu tidak sehat?"


Sebuah suara yang sangat dikenal keduanya membuat dua orang itu menoleh ke arah sumber suara. Yah, nenek salamah yang datang dan masuk ke kamar zea sedikit membuat zea tersentak mengalihkan pandangannya pada sebuah gedung tua di belakang kediaman keluarga angkasa.


"Tidak ada, nek. Bibi ha hanya khawatir dengan zea karena hanya makan sedikit."


Ucap zea menuntun nenek salamah duduk di sofa panjang di kamar denish yang terbilang cukup luas.


"Iya, benar. Ha patut mengkhawatirkanmu seperti nenek juga sama, kenapa kau hanya makan sedikit? Apa makanannya tidak enak? Atau kau tidak menyukainya?"


Ucap nenek salamah menggenggam tangan zea.


"Katakan pada ha jika kau menyukai makanan lain!"


"Tidak, nek. Zea bukan seorang yang merepotkan."


"Tapi nak... ."


"Nek, zea baik- baik saja. Lagipula jika zea terlalu gemuk nanti bukan tidak mungkin suami zea akan mencari wanita lain."


Bisikan zea yang sedikit lirih namun terdengar oleh bibi ha dan juga ibu mirna terperanga dibuatnya bahkan ketiga orang itu saling pandang satu sama lain tersenyum setelahnya.


"Hahahaha...., jadi kau takut denish mencari wanita lain?"


Zea mengangguk pelan meskipun itu bukan satu alasan yang sebenarnya namun untuk menutupi rumah tangganya, zea terpaksa mengiyakan perkataan nenek salamah.


"Hahahaha...., kau dengar itu mirna! Pasangan ini benar- benar saling mencintai."


" Kenapa tak segera memberi nenek cicit? Pasti akan sangat menyenangkan mendengar tangisan bayi lagi di rumah ini."


Ucapan nenek salamah sedikitnya membuat zea terperanga lalu mengalihkan pandangannya pada bibi ha dan juga ibu murni.


"Apa nenek sangat menginginkannya?"


"Tentu saja. Siapa yang bisa di harapkan selain kau? Tidak mungkin menyuruh vania hamil, dia belum menikah dan juga alergi dengan pria. Raka..., pria muda itu lebih suka berkelana dengan pekerjaannya. Bagaimana menyuruhnya menikah? Dia anti tinggal di rumah ini."


Ucap nenek salamah.


"Baiklah, zea akan membicarakannya dengan denish. Mungkin bisa mengatur waktu untuk bulan madu misalnya, bagaimana apa nenek senang?"


" Haa..., benarkah?"


" Tentu saja. Zeavelia tidak pernah ingkar janji."


" Hahahaha...., kalian dengar itu? Sebentar lagi kita akan disibukan dengan suara bayi menangis."

__ADS_1


Nenek salamah terharu dengan ucapan zeavelia dan juga sangat membuat hatinya senang.


"Murni..., ayo kita pergi! Aku ingin mengunjungi kakakmu."


" Baiklah, bu."


"Ha..., jaga baik- baik cucu menantu!"


" Baik, nyonya."


Nenek salamah pergi bersama murni yang selalu setia memapahnya, entah sejak kapan salamah dekat dengan murni bahkan kini sangat menyayanginya apalagi setelah danu meninggalkannya untuk selamanya.


"Apa ada sesuatu yang membuat nyonya muda risau?"


" Tidak, bi. Tidak ada apa pun, hanya.... apa sesuatu telah terjadi di rumah ini? Nenek terlihat senang."


" Nyonya besar berhenti tersenyum bahkan tertawa setelah tuan danu pergi untuk selamanya, nyonya muda."


"Tuan danu...?"


" Iya, ayah dari tuan muda denish yang merupakan putra dari nyonya besar."


"Oh..., begitu rupanya."


"Sepertinya nyonya muda pembawa keberuntungan. Baru berapa hari nyonya muda tinggal disini, nyonya besar tersenyum bahkan tertawa lepas saat bersama nyonya muda."


" Benarkah? Pasti sangat sulit menerima kepergian putranya hingga dia bersikap demikian. Apa tak ada penghibur lainnya?"


"Nyonya besar sangat tertutup, nyonya muda. Nyonya muda adalah orang kedua yang bisa membuat nyonya besar tertawa kembali."


"Maksudnya?"


" Oh..., begitu rupanya."


Zea baru mengerti alasan dibalik sikap cuek bahkan sikap diamnya nenek salamah.


"Bibi..., apa aku boleh menanyakan sesuatu?"


" Tentu saja, nyonya. Silahkan."


" Apa bangunan belakang itu masih berfungsi?"


Deg....


Bibi ha tersentak mendengar pertanyaan zea yang mungkin membuat sedikit kecurigaan padanya namun juga menaruh kekhawatiran pada nyonya mudanya.


" Apa bibi keberatan menjawabnya? Sudahlah, lupakan saja! Terima kasih untuk saladnya, aku akan ke ruang baca di sebelah ruang kerja denish."


"Baik, nyonya. Silahkan. Apa nyonya membutuhkan sesuatu?"


" Tidak, terima kasih bi. Bibi sudah menyediakan cemilan di dalam kulkas."


"Bibi akan ke bawah."


Setelah berpamitan dengan zea, bibi ha turun ke lantai bawah melanjutkan pekerjaannya dan juga mungkin memeriksa pekerjaan pekayan lain.


"Apa nyonya menemukan sesuatu? Atau mendengar sesuatu? Jangan sampai nyonya ke tempat itu, terlalu berbahaya disana.''


Gumam bibi ha di dalam hatinya.

__ADS_1


Di dalam perjalanan ke kantor group angkasa, rupanya vania terjebak macet karena sebuah kecelakaan yang ternyata menghadangnya.


"Sialan..., Kenapa harus terjadi di jam seperti ini sih?"


"Aaa..., bisa terlambat aku kalau begini dan gajiku...? Aa....,tidak."


Vania menoleh ke arah belakang melalui kaca spionnya, merasa tidak ada kendaraan satu pun vania memundurkan mobilnya sedikit lalu memutar balik akan mengambil jalan lain agar cepat sampai ke kantor. Tapi sayangnya, sebuah kendaraan roda dua hampir saja membuatnya menabrak sebuah pohon jika vania tak memiliki kemampuan yang profesional.


"Aaaa.... ."


Vania terkejut sedikit berteriak atas kemunculan sepeda motor yang secara tiba- tiba dan juga terlihat mengebut.


Brukk....


Sebuah sepeda motor yang berusaha menghindar akhirnya menabrak pembatas jalan dan sedikit terpental ke arah trotoar.


"Aaa..., brengsek."


Baik vania maupun pengemudi motor tersebut berjalan saling mendekat satu sama lain.


"Hei..., kau. Kau membuat mobilku lecet bahkan penyok bagian depan nya."


Vania tersulut emosi ketika keluar dari mobilnya dan melihat sedikit penyok di bagian depan.


"Kau....,kau juga hampir membuatku mati."


"Kau harus mengganti rugi kerusakan mobilku."


Ucap vania.


" Apaa...., ganti rugi? Yang ada kau harus mengganti motorku. Enak saja, sejak kapan roda dua harus mengganti kerusakan rida empat."


" Aku tidak mau tahu, jika tidak kau akan menyesal. Kau harus ingat mobilku terdapat cctv kamera siapa yang menyebabkan kecelakaan. Dan kau mengendara dalam keadaan mengebut."


Seorang pemuda mengeryitkan dahinya saat mendengar penjelasan vania. Ingin tidak percaya namun ternyata yang dikatakan vania benar adanya kalau dia sedang mengebut karena terburu- buru.


" Tidak. Aku tidak melakukannya, kau yang sedang mengebut."


" Baiklah jika kau masih tidak mau mengaku. Aku akan mengirimkan video itu ke ponselmu."


Vania melihat jam besar yang ada di seberang jalan sebuah toko membuatnya berlari kembali masuk ke dalam mobilnya.


" Awas kau!!"


" Aku tidak takut."


Vania mengemudikan mobilnya karena tengah di kejar waktu saat melihat jam mulai bergerak mendekati kata terlambat karena tak ingin gajinya di potong. Sedangkan pemuda itu menatap tajam pada vania hingga mobil sport milik vania menghilang dari pandangannya.


Pemuda itu berjalan mendekati motornya yang sedikit penyok dan juga lecet dibagian depan, lalu memeriksa keadaan motor tersebut.


" Dasar gadis aneh. Awas kalau ketemu denganmu lagi, aku akan meminta ganti rugi si hitam."


" Tapi..., bagaimana dia tahu aku sedang mengebut? Apa jangan- jangan yang dikatakan nya itu benar?"


" Hah..., benar atau tidak aku tidak peduli."


Yah, pemuda itu kembali melanjutkan perjalanannya setelah berhenti sesaat karena terjebak sebuah insiden kecil. Nico perlu mengakui kehebatan gadis itu yang mahir mengendarai mobil sportnya juga menghindar dalam keadaan terdesak.


Bersambung 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2