
Zea menatap ngeri pada denish yang tak berkedip memandangnya. Bukan tanpa alasan, tetapi lebih pada perlindungan diri atas serangan denish yang secara tiba- tiba.
" Perfect wife. Sudah siap?"
Zea mengangguk pelan menerima uluran tangan denish padanya.
Seperti biasanya vans akan mengantar kemana tuannya pergi, orang kepercayaan denish ini memegang kendali penuh meskipun hanya seorang asisten.
Denish pemegang seluruh saham milik keluarga angkasa, tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Hanya beberapa persen saja terbagi untuk orang orang yang ada di kediaman keluarga angkasa.
"Wah..., megah sekali rumahnya."
" Apa kita akan tinggal disini?"
"Hem, untuk beberapa saat."
" Maksudmu?"
" Sampai ada penerus kita disini."
Ucap denish menyentuh pelan perut datar zea yang membuatnya memgerutkan keningnya sendiri tak paham atas ucapannya.
Zea semakin dilema dengan apa yang dikatakan denish padanya. Zea berpikir bagaimana mungkin denish menginginkan keturunan darinya sedangkan mereka menikah dengan keterpaksaan.
Tak mengenal satu sama lain bahkan perbedaan kasta yang terlalu tinggi membuatnya sedikitnya berpikir tentang masa depannya.
Tak mungkin zea berpangku tangan begitu saja, pasti ada celah baginya lepas dari belenggu tuan pemaksa yang kini menjadi suaminya.
"Bagaimana mungkin ada junior kalau tak ada rasa cinta di antara kita?"
" Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku."
" Lalu setelah jatuh cinta kau pergi dengan kemenanganmu?"
" Bicara apa kau ini, sayang? Siapa yang pergi dengan kemenangan? Kau kira aku akan melepaskanmu begitu saja? Jangan pernah berharap dan bermimpi!"
" Sampai mati pun aku tidak akan melepaskanmu. Bahkan jika aku mati pun kau akan tetap menjadi nyonya angkasa, kau mengerti!"
Zea mengangguk pelan merasa ngeri dengan tatapan tajam denish yang seperti mata elang.
"Jadi jangan pernah bermimpi lepas dari nyonya denish angkasa! Bahkan jika kau berusaha berlari dari ku pun, sampai ke lubang semut aku akan mudah menemukanmu."
Entah mengapa bulu kuduk zea merinding mendengarnya, zea yang seperti biasanya selalu menentang keinginan denish tak bergeming sedikitpun.
Zea menggoyang- goyangkan tangan denish setelah melihat kemarahan denish padanya.
" Aku takut, jangan menatapku seperti itu!"
Gumam zea lirih hampir saja menjatuhkan airmata disudut pipinya.
"Maafkan aku sayang."
Denish menggenggam erat tangan zea menyadari apa yang dikatakannya mungkin membuat zea sedikit ketakutan.
" Lain kali kau tak boleh bicara sembarangan. Jangan berpikir untuk meninggalkanku! Kau mengerti!"
Zea mengangguk pelan dengan ucapan denish.
Denish memanfaatkan kesempatan itu meneluk badan mungil zea dan juga mencium kilas bibir zea.
" Mirna, coba kau lihat di depan pintu! Apa denish sudah datang?"
" Belum, bu. Mirna baru saja ke depan."
" Hah, lama sekali mereka."
__ADS_1
"Sabar, bu. Mungkin sebentar lagi akan datang."
Mirna menenangkan ibu mertuanya yang terlihat gelisah.
" Sudahlah salamah, mungkin cucumu tidak akan datang. Bahkan berita itu hanya pengalihan agar kita tak mencari jodoh untuknya."
Ucap suryo menyindir istrinya lalu kembali membaca koran ditangannya.
" Siapa yang akan datang ma? Kenapa hidangan di atas meja banyak sekali? Ada tamu?"
Daryo yang muncul secara tiba- tiba ke ruang tengah, menanyakan perihal hidangan di atas meja makan.
" Benar, ma. Ada tamu ya? Kenapa tak memberitahu sinta? Sinta bisa ikut membantu menyiapkannya."
" Tidak, tidak ada tamu. Denish akan pulang bersama istrinya."
"Istri...? Jadi berita yang tersebar itu benar ma?"
" Halah, paling juga rekayasa."
Kakek suryo sepertinya tak menyukai kebenaran berita itu, bersikap dingin ketika putra keduanya bertanya pada mereka.
" Nek..., apa aku terlambat?"
Ucap seseorang dengan suara tinggi melengking khas seperti suara denish.
" Ah... denish, kau sudah pulang?"
Wajah binar nenek salamah mendongakkan kepalanya, menatap ke arah pintu dimana denish menyapanya.
"Tidak nak, tidak terlambat hanya nenek yang tak sabar menunggumu."
Nenek salamah bergegas berdiri menghampiri denish namun langkahnya terhenti saat melihat denish berdiri seorang diri.
Mata nanar menatap wajah denish penuh rasa kecewa, namun nenek salamah menyembunyikan kekecewaannya. Tetap tersenyum menyambut denish yang pulang dan akan tinggal kembali di kediaman angkasa.
" Hah..., ternyata benar kata papa hanya rekayasa."
Ucap daryo.
" Salamah, kau terlalu mempercayai cucumu hingga tak sadar kalau mengecewakan keluarga."
Ucap kakek suryo meninggalkan mereka diikuti dengan daryo dan istrinya. Sementara mirna masih menemani nenek salamah.
" Bu... ."
Mirna tak sengaja melihat sebuah kepala muncul mengintip dari balik punggung denish.
"Ada apa mirna?"
Mirna tak menjawab pertanyaan ibu mertuanya melainkan menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah denish.
Nenek salamah tertegun melihat sosok kepala seorang gadis yang muncul mengintip dari punggung denish.
"Denish..., dia...?"
Tanpa melanjutkan perkataan nya, nenek salamah berjalan menghampiri denish agar lebih dekat padanya.
" Nak, kau...?"
Bukan menjawab zea kembali menyembunyikan kepalanya di balik punggung denish.
Nenek salamah ikut mengintip seperti yang dilakukan zea.
" Nek, nenek membuatnya takut?"
__ADS_1
Denish membalikkan tubuhnya memeluk zea seakan menyembunyikannya dari nenek salamah.
" Oh... maaf, jika nenek membuatmu takut."
Zea mendorong pelan dada denish yang mendekap dan menyembunyikannya dari nenek yang berada di depannya.
"Nak..., nenek membuatmu takut?"
Ucap nenek salamah secara perlahan mendapat reaksi dari zea meminta denish melepaskan dekapannya.
" Sayang, dia siapa?"
Denish tersenyum melihat wajah zea yang mendongak menatapnya menanyakan identitas orang yang saat ini berada di depannya.
" Sayang, dia nenek salamah. Ibu dari mendiang ayahku."
" Dan ini..., ibu mirna istri ketiga ayah."
"Hai nek, apa zea boleh mencium tangan nenek?"
" Tentu saja sayang."
Nenek salamah merentangkan kedua tangannya memeluk cium zea yang sangat sopan meminta ijin padanya.
" Namamu zea?"
Zea tersenyum mengangguk pelan.
" Nama yang indah."
" Hai ibu..., senang bertemu dengan anda."
" Ibu juga senang bertemu dengan mu, sayang."
Hal yang sama dilakukan oleh mirna memeluk tubuh mungil zea dan mencium kedua pipinya.
" Kau istri denish?"
" Kalau bukan istri denish lalu istri siapa?"
" Siapa tahu kamu membayar gadis bayaran untuk mengelabuhi kami?"
Zea mengerutkan keningnya mendengar perkataan nenek, sementara denish menatap istrinya yang saat ini tengah bingung menatapnya.
Denish merangkul bahu zea lalu menggenggam tangan zea menunjukkan jari zea yang mana sebuah cincin melingkar dijari manis zea.
" Nenek ingat cincin ini? Apa mungkin seorang denish angkasa bermain dengan cincin wasiat mamanya?"
Nenek salamah terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat cincin yang sangat dikenali nenek salamah melingkar dijari manis zea.
" Apa nenek masih kurang yakin? Bagaimana kalau ini?"
Denish juga menunjukkan certificate of marriage milik mereka berdua pada nenek salamah.
Nenek salamah meraih kartu itu membacanya secara seksama, mirna ikut mendekat membaca certificate tersebut.
" Bu, ini asli. Mereka sudah menikah, jadi ibu tak perlu risau lagi."
Ucap mirna menepuk tangan ibu mertuanya.
" Jadi..., gadis ini cucu menantu keluarga angkasa?"
" Siapa cucu menantu keluarga angkasa nek?"
Bersambung😊🙏
__ADS_1