Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
hampir saja copot.


__ADS_3

" Berhenti!"


Ketiga nya menoleh ke arah sumber suara dimana zea berteriak menghentikan perebutan mereka.


" Kenapa kalian saling berebut?"


Zea mengambil piring tersebut dari tangan ketiga nya .


Denish, vans maupun mbok ijah terperanga melihat zea yang pergi begitu saja membawa cemilan nya .


" Sayang....."


Denish tak sadar berteriak memanggil zea dengan panggilan sayang nya.


"Ciee..., sayang? Kenapa nggak di kejar, tuan?"


Mbok ijah berperan sebagai kompor yang mengompori denish.


" Nanti keburu pergi sayangnya."


Tanpa sadar denish mengangguk pelan lalu berjalan mengejar zea yang membawa piring cemilannya.


Denish secara tiba-tiba menggendong zea yang hampir saja membuatnya menjatuhkan piring, karena keterkejutannya.


" A..., aaa....."


Denish menggendong zea tanpa bisa memberikan perlawanan karena tengah memegang piring ditangannya.


Mbok ijah dan vans tercengang melihatnya hampir tak mempercayai pandangan mata nya. Denish yang punya sifat dan watak dingin tergolong cuek tak peduli, berubah romantis bak sepasang kekasih.


Zea hanya tercengang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun memegang kuat piring ditangannya, saat denish menggendongnya ke kamar mereka.


" Waow...., apa aden melihatnya?"


" Iya, mbok. Aku melihat perubahan tuan muda."


"So sweet."


" Idih...., mbok. Seperti tahu apa artinya so sweet."


Gumam vans pada mbok ijah.


" Hihihihi .... Mbok hanya ikut ikutan yang lagi trending di tv, den."


Vans menghela nafas panjangnya melihat tingkah laku majikannya.


Denish membaringkan tubuh zea ditempat tidur hingga membuat zea bergidik ngeri dengan tatapan tajam serigalanya.


" Kau mau apa?"


Tubuh denish yang cenderung condong ke depan, membuat zea bergidik ngeri dan juga terpaksa menjatuhkan kepalanya ke bantal.


" Aku mau apa?"


Ucap denish dengan mata tajamnya menatap zea yang sedikit gemetar ketakutan.


" Ini...."


Zea menutup kedua matanya saat kepala denish semakin mendekatinya, dan ternyata denish mengambil piring yang dipegang zea.


Zea terkejut membuka matanya, merasa ada tarikan ditangannya. Denish menarik piring tersebut lalu berlalu meninggalkan zea yang tercengang menatap aksinya.


" Hah..., cuma ingin cemilan saja pakai acara gendong ke kamar."


Gumam zea.


" Kirai in mau itu, jantungku hampir saja copot."


Ucap zea mengusap pelan dadanya yang hampir saja meledak.


Zea memilih tidur ditempat tidur setelah mengatur nafasnya dan juga detak jantungnya yang berdegup kencang.


Denish sedikit menyunggingkan senyumnya saat mendengar ocehan zea terhadapnya.


Entah mengapa denish suka mengamati zea melalui layar ponselnya ataupun layar tv yang menampilkan seluruh cctv di paviliun tersebut.


Wajah lelah zea yang belajar berenang pagi tadi, terlihat damai dan juga tenang.


" Vans, kau sudah selesai memeriksa berkas-berkas perusahaan ramon?"


" Bukankah tuan yang memeriksanya?"


" Apa kau melihat aku memeriksanya? Berkas itu ada padamu?"


"Lalu ..., siapa yang memeriksanya kalau bukan tuan?"


"Atau mungkin nyonya?"


" Apaa ...? Gadis itu memeriksa berkas berkas kantor? Apa otakmu sudah tidak waras? Berikan berkasnya!"


" Ini...., tuan."


Denish mengambil berkas dari tangan vans yang terlihat linglung menelaah perkataan tuannya.


Vans sama sekali tak percaya kalau zea yang telah memeriksa berkas tersebut.

__ADS_1


Tak mau ambil pusing, vans memilih berada diserambi samping dimana udara segar menyapanya bahkan terlihat begitu damai saat melihat pohon-pohon terawat dan rapi.


Denish sedikit mengerutkan dahinya saat mendengar vans tidak memeriksa berkas tersebut justru bertanya padanya.


Rasa penasaran muncul dibenaknya, benarkah apa yang dikatakan vans kalau zea yang telah memeriksa berkas tersebut.


Denish memutar ulang bagian cctv yang menampakkan ruang tengah dimana vans meninggalkan berkas tersebut disamping laptop vans.


" Hah..., jadi benar gadis itu yang memeriksanya?"


Gumam denish.


Denish bangun dari kursinya berjalan menuju kamarnya, melihat zea yang tertidur pulas dari kejauhan.


Denish berniat menghampiri zea yang telah menjadi istrinya namun dering panggilan madul dari ponselnya menghentikannya.


📞Incoming call "Nomor tak dikenal"


" Siapa ini?"


Denish memang tak sembarangan menerima telepon dari siapapun.


Tak berapa lama pemanggil dengan nomor tak dikenal mengirimkan pesan singkat pada denish.


"Wirya...? Untuk apa dia meneleponku?"


" Kenapa tidak menghubungi vans?"


" Darimana laki laki itu mengetahui nomorku?"


" Apaa....? Kau menantangku ke pestamu. Baiklah, kau akan lihat siapa yang akan malu?"


Gumam denish meletakkan kembali ponselnya diatas meja.


Denish mencari keberadaan vans yang saat ini tengah membuka layar laptopnya di serambi samping.


" Vans...."


" Iya, tuan. Apa anda membutuhkan sesuatu?"


" Siapkan gaun dan keperluan nyonya besuk malam!"


"Baik, tuan."


" Jangan lupa panggil mua yang paling terkenal!"


" Baik, tuan."


Vans sedikit mengerutkan dahinya mendengar permintaan denish.


Niat hati ingin membangunkan zea, denish tertegun melihat wajah tenang yang tertidur pulas. Wajah polos dan juga cantik alami natural tanpa riasan apa pun menggoda mata denish menggerakkan tangannya menyentuh wajah gadis yang kini menjadi istrinya.


" Kenapa kamu secantik ini saat tertidur?"


Deg...


Deg...


Semakin lama menatap wajah zea, degup jantung denish semakin kencang tak beraturan. Hingga membuat nafasnya sedikit sesak, sulit untuk bernafas.


Lama menatap wajah zea, denish seakan terbang ke alam hayalannya hingga tak menyadari zea telah membuka matanya mengerjapkan matanya beberapa kali.


" Kau mau apa? Kenapa menatapku dengan tersenyum?"


Ucap zea memicingkan kedua matanya.


" Oh...., aku tahu. Kau sedang berpikiran mesum?"


Ucap zea yang diikuti gerakan tangannya menutup dadanya.


" Kebanyakan nonton drama."


Ucap denish menyentil dahi zea hingga meringis kesakitan.


" Aduh...., sakit."


" Sakit....? Ingin ke rumah sakit? Hanya dalam mimpimu."


Kali ini bukan secara pelan namun tergolong sangat kasar.


" Aaaa...., sakit."


" Kalau sakit bangunlah! Apa kau tak berniat memanjakanku?"


" Memanjakanmu....? Tidak. Untuk apa?"


" Apa kau mengalami amnesia hingga melupakan kewajibanmu?"


" Kewajiban apa? Aku tidak punya kewajiban apapun."


Ucap zea yang saat ini sedang berpindah posisi, semula tidur menjadi duduk.


" Nyonya zeavelia denish angkasa, kau lupa jika sudah menikah?"


" Tidak, memang aku harus apa? Masak, bersih-bersih mbok ijah dan mang kasim. Menyiapkan pakaian kerjamu? Kau jarang ke kantor."

__ADS_1


Ucap zea.


Bibir mengerucut zea mampu menggoda denish hingga tersulut emosi, terlebih dengan jawaban sadis yang membuat ubun ubun denish serasa pecah ditelinga nya.


Dengan sangat cepat dan sigap, denish meraih tubuh mungil zea yang menurutnya sangat proposionsl.


Denish semula mengira zea melakukan diet ketat menjaga bentuk tubuhnya, namun semua dipatahkan zea yang sering membuat cemilan.


"Bergeraklah sesuai irama lagu!"


" Perhatikan langkah kakiku baik baik!"


" Tidak. Aku tidak bisa berdansa."


" Aku akan mengajarimu."


Dengan langkah gusar terbata bata mencoba mengikuti gerak denish, zea yang bergerak lamban terinjak kaki denish.


" Aow...., sakit."


" Hah, terinjak begitu saja sakit. Bagaimana kalau malam pertama?"


Kata kata yang terucap dari bibir denish menggetarkan jiwanya, pikirannya melayang terbang ke angkasa bahkan emosi jiwanya seakan tak terkontrol. Zea menginjak kaki denish dengan keras.


" Aow..., kau sudah gila ya?"


" Iya, aku sudah gila hingga mau menjadi istri dari seorang pria dingin sepertimu."


Ceklek....


Derrr....


Zea keluar dari kamarnya tersulut emosi, entah mengapa zea merasa nyeri di ulu hatinya mendengar denish mengatakan malam pertama.


Sebuah mahkota yang berharga yang seharusnya diberikan pada suami yang dicintainya, berakhir pada seorang penguasa yang kejam sepertinya.


Zea berjalan cepat menuju kolam renang, berjalan menyusuri tepi kolam renang menitikkan air matanya .


" Dasar gadis aneh. Seharusnya kau bahagia menjadi istri pengusaha terkenal sepertiku."


Denish memilih kembali ke ruang kerjanya, namun tingkah zea menyita perhatiannya saat zea menengadahkan kedua tangan nya tampak terlihat jelas dari kaca jendela ruang kerjanya.


" Hah, apa dia sudah gila?"


Gumam denish.


"Untuk apa dia betingkah seperti itu? seperti drama tetanic saja."


Namun saat denish memalingkan tubuhnya, samar samar terlihat zea sengaja menceburkan diri ke kolam renang.


" Oh..., shits."


Denish bergegas berlari ke luar dari ruang kerjanya.


" Ada apa tuan?"


Mbok ijah terkejut melihat tuannya berlari ke arah belakang.


" Ada apa mbok?"


" Entahlah, den. Tuan muda tergesa gesa berlari ke belakang."


Kedua nya mengikuti langkah denish yang ternyata ke kolam renang.


" Non...non."


Mbok ijah terkejut melihat zea yang sudah menceburkan diri ke kolam renang.


Denish melompat ke kolam renang saat melihat zea sudah lepas kontrol akan tenggelam.


Denish membawa tubuh zea ke pinggingkolam di bantu mbok ijah dan vans yang ada disaba membantunya.


" Eling atuh non, kenapa mesti ke kolam renang?"


Denish tak pernah melihat mbok ijah menangis sesenggukkan saat ia tengah melakukan pertolongan pertama.


Beberapa saat zea mengeluarkan air dari mulutnya dan tersedak batuk, denish menggendongnya ke dalam kamarnya.


Meletakkannya di bathup membilasnya tubuhnya sebentar, namun denish merasa ragu-ragu melepas pakaian zea.


" Bagaimana ini? Tidak mungkin aku meminta tolong mbok ijah."


" Mau ditaruh dimana mukaku? Masa, nggak berani buka pakaian istri? Tapi kalau aku buka, aku laki laki normal."


" Sialan..., kenapa kau begitu bodoh?"


" Aah..., nyawanya lebih penting. Lagipula dia sudah resmi menjadi istriku."


Gumam denish.


Melihat tubuh mulus zea, benar saja jiwa kelaki-lakiannya meronta.


Setelahnya denish membaringkan tubuh zea di tempat tidur, menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Disisi lain, dengan telaten mengeringkan rambut zea yang basah sementara zea belum sadarkan diri.


Bersambung😊🙏

__ADS_1


__ADS_2