Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Periksa


__ADS_3

" Zea,,,,."


Suara seseorang mengagetkan zea, pasalnya zea tahu dan kenal suara tersebut adalah suara yang sangat familiar bahkan sangat dikenali zea.


Nico membantu nya berdiri namun seseorang memanggilnya juga bergegas membantunya dari arah sisi lain nico.


" Zea , kau kenapa ? "


" Rizal ,,, . Ah ,,tidak apa apa hanya luka memar di bagian pergelangan kaki."


Ucap zea.


" Luka ,,,? Kenapa bisa terjadi ?"


Ucap rizal memegang kedua tangan zea yang membuat sedikit cemburu pada nico hingga menatap tajam rizal meskipun ia tak menyadarinya.


" Aku mengalami kecelakaan semalam ."


" Hah,,, kenapa kau tidak meneleponku ? Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu ?"


Ucapan rizal membuat zea sedikit tercengang bahkan membuatnya sedikit rasa gugup pada dirinya sendiri terlebih ada nico disampingnya saat ini.


" Aduh,,,, bagaimana ini ? Apa yang harus ku lakukan ? "


Gumam zea dalam hatinya.


" Kenapa aku selalu dihadapkan pada situasi sulit seperti ini ?"


Masih terbang ke alam lamunannya zea mencoba mencari celah agar terlepas dari keduanya.


" Zea,,,, zea,,, kenapa diam saja ?"


Rizal semakin khawatir dengan sikap siam zea.


" Maaf , zea harus periksa ke dokter terlebih dahulu ."


Nico menyela perkataan rizal mengatakan zea harus melakukan pemeriksaan .


" Zea , siapa dia ?"


" Aduh, gawat .Bagaimana aku menjelaskan semua nya ?"


Gumam zea dalam hatinya.


"Dia,,, dia,,, teman kampus ku ."


Nico menatap tajam mata zea yang tak memberitahu siapa dia sebenarnya.


" Oh ,,, teman kampus ."


Rizal masih bernafas lega setelah mendengar pengakuan zea.


" Kenalkan , aku rizal teman sma zea."


Rizal tersenyum mengulurkan tangan nya pada nico dengan sangat terpaksa nico menjabat uluran tangan rizal.


" Nico."


" Maaf , aku harus membawa zea bertemu dengan dokter karena kami sudah ada janji ."


" Benarkah ,zea ?"


Zea mengangguk pelan mengiyakan perkataan nico yang menyatakan mereka akan bertemu dengan dokter yang nerupakan teman nico.


" Yah, sayang sekali . Nenek ada jadwal terapi, aku tak bisa nenemanimu zea. Tapi lain kali aku akan menemanimu , baiklah aku harus pergi. Jangan lupa hubungi aku setelah result dokter keluar !"


Zea hanya tersenyum mengangguk pelan melambaikan tangannya pada rizal .


Ruang Dokter yang ingin di temui ada di depan mata , nico memberikan jadwal janji pada perawat sesuai nomor antrian .Sedangkan zea memilih untuk duduk di bangku ruang tunggu , berlama kama berdiri dengan kondisi kakinya yang cidera membuat rasa linu semakin menyerang .

__ADS_1


Nico tersenyum menghampiri yang terlihat meringis kesakitan terlalu lama berdiri .


" Dasar keras kepala."


Gumam nico.


" Ini ,,, minumlah !"


Zea melongo ketika nico memberinya bitol air mineral .


" Bagaimana mungkin orang ini mempersiapkan segalanya ? Sampai air mineral ada di dalam tas nya ."


Gumam ane dalam hati nya.


" Kenapa ? Tidak mau ? Masih ingat cowok tadi ?"


Zea menggelengkan kepalanya lalu meraih botol mineral dari tangan nico.


" Siapa cowok tadi mantan pacar loe ? "


Zea terperanga mendengar perkataan nico bukan hanya itu saja , zea bahkan terbatuk batuk.


" Huk,,,, huk,,,."


" Huk,,, huk,,,."


" Zea ,,,, zea , begitu saja tersedak. Minum !"


Nico menepuk pelan tengkuk zea .


Setelah beberapa saat zea bernafas lega dan juga normal kembali , zea menatap tajam nico yang tengah memainkan ponselnya.


" Kalau tanya jangan yang aneh aneh. "


" Aku kan hanya tanya , bukan aneh aneh . Wajar jika aku sebagai pacarmu bertanya seperti itu."


Perdebatan kecil tampak mewarnai mereka berdua ketika menunggu antrian jadwal periksa.


" Lupa atau pura pura lupa sayang ?"


Wajah nico mulai bergerak maju mendekati zea hingga zea pun terpaksa mundur menghindari nya tak ingin terjadi sesuatu yang lebih.


" Aduh,,, mau apa dia sebenarnya ? Tolong selamatkanlah aku !"


Gumam zea dalam hatinya.


" Atas nama Zeavelia."


Panggilan suster menyebut namanya membuatnya sedikit bernafas lega bahkan selamat dari tatapan tajam mata nico.


" Iya,,,."


Zea mengangkat salah satu tangannya lalu mencoba berdiri meskipun agak sakit .


Nico membantunya bediri sebagai pegangan tangan zea lalu memapahnya meskipun zea menolak genggaman tangan nico lebih kuat dari tenaganya.


" Silahkan duduk !"


Perawat mempersilahkan mereka berdua duduk menunggu dokter yang berada di wastafel mencuci tangannya.


" Jadi ,,, apa keluhannya nona ?"


" Nico,,, . Kau ,,, dan dia ?"


Dokter praktek tersebut terkejut melihat orang yang berada di depannya bahkan zea memandang bergantian antara dokter dan nico.


" Iya , dokter . Apa kabar ? "


" Lama tak bersua , semakin ada kemajuan ."

__ADS_1


Ucap nico mengulurkan tangannya.


" Ah ,,, bisa aja . Kau yang ada kemajuan ."


Dokter tersebut sedikit melirik pada zea yang juga tengah memandangi mereka .


" So, ada keluhan apa ? Tumben datang kemari ."


Ucap dokter radit .


Yah, dokter radit adalah teman nico semasa sekolah menengah atas dulu. Mereka sebenarnya kuliah di kampus yang sama dengan zea maupun nico namun berbeda jurusan .


Dokter radit praktek menggantikan ayahnya untuk sementara waktu karena sang ayah sedang dalam acara seminar di kota lain .


" Bukan saya dok tapi zea , semalam menabrak pembatas jalan . Kakinya sedikit memar takut terjadi apa apa."


Dokter radit tercengang dengan perkataan nico , teman sma nya itu sama sekali tak pernah menunjukkan perhatiannya pada seorang gadis.


Sedangkan suster yang menemani membantu praktek dokter radit mempersilahkan zea untuk berbaring di tempat ysng disediakan untuk diperiksa lebih lanjut.


" Dokter ,,,, dokter,,,."


Perawat yang mendampingi dokter radit memanggilnya berulang kali hingga tersadar dari lamunannya .


" I,, iya suster , ada apa ?"


" Dokter melamun ya ? Nona zea sudah siap di periksa ."


Suster tersenyum melihat kegugupan dokter radit yang ketahuan sedang melamun.


" Ah suster bisa aja."


Dokter radit bangun dari tempat duduknya kalu nenghampiri zea yang sudah berbaring di tempat pemeriksaan.


" Auwww,,, sakit dokter ."


Zea meringis kesakitan ketika dokter tersebut mencoba menggerakkan kaki zea.


" Nico, sepertinya zea harus melakukan rontgen kaki. Semoga saja tak ada tulang yang patah dan hanya gangguan degeneratif keseleo saja."


Ucap dokter radit .


" Aku akan membuat pemgantar untuk melakukan rontgen ."


Ucap dokter radit yang kemudian memberi sebuah catatan atau bisa dibilang rujukan pada zea.


" Pelan - pelan nona."


Suster jaga membantunya turun dari ranjang pemeriksaan ke kursi roda yang ada di ruangan tersebut.


" Terima kasih suster."


" Sama sama nona .


" Baiklah , ini . Setelah hasilnya keluar bawa segera kesini !"


Dokter radit memberi surat rujukan untuk melakukan ronsen kaki zea pada nico.


" Baiklah ,dokter."


Nico sedikit terkejut mendengar penjelasan dokter radit, memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi pada zea.


Gadis itu tak kan sanggup bertahan jika kemungkinan buruk terjadi padanya .


" Kami permisi dokter."


" Baiklah."


Nico mengambil alih kursi roda yang di dorong oleh suster , lalu berpamitan pada dokter radit ke ruang rontgen.

__ADS_1


Bersambung 😊🙏


__ADS_2