
" Aku tak kan melalukan lebih dari ini, sebelum kau sendiri yang memintanya."
Bisikan denish mampu menggetarkan jiwa zea dan mampu membuatnya tertegun menatap kepergian denish yang hilang dibalik pintu kamar mandi.
" Hah..., memintanya? Apa-apaan pria ini?"
" Bagaimana mungkin seorang wanita memintanya?"
" Apa aku seagresif itu harus memintanya?"
" Kenapa jantungku berdegup kencang? Ciuman itu?"
" Tidak..., tidak..., tidak. Bangun zea! ini hanya sebuah mimpi."
Gumam zea yang menyentuh bibirnya sendiri.
Zea yang terlihat sudah membaik dan segar Membuka tirai korden dan juga merapikan tempat tidurnya.
" Hah..., kenapa tak pakai underware? apa mbok ijah lupa? Atau sengaja?"
Zea berada di ruang ganti mengambil baju dan juga underware.
" Tapi jika dia memang melakukannya, pasti pertahananku sudah jebol sejak semalam."
" Hihihi..., ternyata kau peduli padaku."
" Tentu saja, bagaimana mungkin aku membiarkan istriku sakit?"
Deg...
Suara itu, zea berbalik mencari arah sumber suara yang sangat dikenalinya.
Zea mendekap baju yang berada ditangannya, sadar jika ia tak memakai underware.
" Kau tak ingin membantu suamimu memakai pakaian? Menjalankan tugas sebagai istri misalnya."
Ucap denish yang meraih underware kemudian memakainya, zea menutup mstanya dengan satu tangannya.
" Kenapa memakainya disini? Mengotori mata suciku."
" Apaa...mata sucimu? Hahaha..., ayolah sayang! come on! lets try to live with our marriage."
" Apa salahnya aku memakai pakaian di depan istriku?"
Zea hanya mampu menghela nafas panjang, pada kenyataannya memang benar apa yang dikatakan denish.
Secara resmi telah menyandang starus sebagai nyonya denish angkasa tak memungkinkan ruang gerak bebas untuk zea.
" Sayang..., kau sedang melamun?"
" Sampai kapan kau akan diam membisu ditempatmu, sedangkan aku harus segera ke kantor."
" Kau bisa menyuruh mbok ijah menyiapkan pakaianmu."
Ucap zea memalingkan badannya hendak berlalu meninggalkan denish disana.
" Untuk apa aku menyuruh mbok ijah kalau aku punya istri? Kau tak malu diledek mbok ijah tak menjalankan tugasmu sebagai istri."
Bisik denish.
Benar juga apa kata denish, tapi untuk apa menuruti perintahnya kalau berawal dari keterpaksaan.
" Tapi kita menikah karena terpaksa."
Ucap zea dengan nada setengah berteriak, tak ingin kalah dalam perdebatan mereka.
__ADS_1
Denish menatap tajam zea yang tak ingin mengalah sama sekali, sedikit tersulut emosi denish meraih pinggang zea hingga membuatnya terkejut menjatuhkan pakaiannya.
" Menurutmu terpaksa? Tapi aku menginginkanya."
Zea tercengang mendengar ucapan denish, hampir tak mempercayainya.
" Jangan pernah mencoba kabur dariku! Sampai ke ujung dunia pun aku tak kan melepaskanmu. Bahkan bersembunyi di lubang semut pun akan ku cari, kau mengerti!"
Zea bergidik ngeri menatap tatapan iblis yang terpancar melalui sorot matanya.
"Kau mengerti, sayang!"
Zea gugup menganggukkan kepalanya, tak pernah sekalipun zea melihat sosok denish yang seperti ini.
" Aku sudah terlambat, pilih pakaian untukku!"
" Baiklah, tapi turunkan aku!"
Zea memilih mengalah untuk kali pertama, tak ada alasan menolak permintaan denish bahkan bulu kuduknya masih berdiri ngeri melihat sorot mata yang terlihat kejam dimata denish.
Zea tak menemukan stelan jas selain warna hitam, bahkan kemeja juga polos warna putih tak menemukan warna lainnya.
" Kenapa warna hitam semua? Dan kemeja warna putih? Akan cepat kotor jika bekerja seharian."
Gumam zea lirih namun terdengar oleh denish.
Zea mengambil dasi berwana merah maron yang sedikit gelap, entah mengapa akan cocok dipadukan dengan jas hitam.
Dengan telaten zea memakaikan kemeja denish yang terlebih dahulu memakai parfum mewah, entah parfum apa yang digunakannya. Tidak menyengat dihidung namun menagih ingin mencium wangi tersebut.
Sepertinya zea menyukai wangi parfum denish, hingga beberapa kali mendekat ke tubuh denish.
" Wangi, tidak menyengat tapi terasa segar dan memberikan candu yang menciumnya."
Gumam zea.
Bisikan denish mampu membuat gadis itu pertama kali menundukkan wajahnya tersipu malu.
" Turunkan sedikit lehernya! Aku tidak sampai."
Ucap zea pada denish yang akan memasangkan dasi untuknya.
Denish tak mengikuti perintahnya begitu saja, tetapi mengangkat zea berdiri disebuah kursi sofa yang ada diruangan tersebut.
" A..., aa."
Sedikit terhentak, zea mengeluarkan sedikit teriakannya.
Zea mulai memasangkan dasi tersebut, namun tangan jahil denish menyusup disela-sela tubuh mungil zea. Gemuruh dada zea bergejolak, degup jantung zea berdebar debar.
Semakin lama semakin terasa panas hawa tubuh zea, mencoba menahan setiap sentuhan jari jemari denish hingga tangan itu menyusup dibalik daster piyama yang dikenakan zea.
" Maaf, tanganmu membuatku tak bisa konsentrasi memasang dasi."
Ucap zea menahan kedua tangan denish yang entah sejak kapan pria itu mulai bersikap lembut padanya bahkan sangat jahil.
" Apa hubungan nya tanganku dengan memasang dasi?"
Pertanyaan menjebak yang tak bisa terjawab oleh zea, hingga menghela nafas panjangnya.
"Tapi...."
" Atau kau menginginkannya? Mintalah jika kau ingin!"
Bisikan denish tentu saja membuat zea sedikit marah dan kesal.
__ADS_1
" Pasang!"
Zea melanjutkan memasang dasi namun lagi lagi denish sengaja meremas tubuh bagian belakang tanpa halangan apa pun .
Satu tangan sengaja menyentuh bagian intim zea, sedikitnya membuat zea sedikit mendesah lalu menahan tangan denish.
" Stop it!"
" Ada apa? Kau menginginkan lebih?"
Bisik denish.
" Ini baru permulaan."
Ucap denish.
" Tak inginkah membuatkan sarapan untukku?"
" Bagaimana membuat sarapan dengan baju seperti ini?"
Ucap zea.
" Baiklah, alasanmu bisa diterima tapi tidak untuk lain waktu."
Denish yang telah siap dengan stelan jas kerja miliknya, membalikkan badannya.
" Kemarilah!"
Zea menghela nafas panjang berjalan menghampiri denish yang berada di ujung pintu.
Saat zea mulai mendekat, denish melingkarkan tangan kekarnya disela sela pinggangnya. Menarik tubuh zea lebih dekat lagi hingga tak ada jarak antara mereka.
Satu tangan memeluk pinggul satu tangan menahan tengkuk zea, denish mencium bibir peach yang menggodanya.
Memberi sedikit ******* dan sesapan, mengusap bibir itu lalu mencium pucuk kening zea.
" Begini yang dibilang romantis? Bersiaplah untuk nanti malam! Aku akan mengenalkanmu sebagai nyonya denish angkasa."
Ucap denish kembali mencium kilas bibir zea.
" O ya..., panggil aku sayang! Ingat ya, sayang!"
Zea masih diam membisu dalam keterkejutannya secepat kilat menganggukkan kepalanya.
" Bye, sayang."
Setelah denish benar benar menghilang dibalik pintu kamarnya, zea duduk terkulai lemas dilantai.
Mengatur deru nafasnya yang tersengal sengal dan juga detak jantungnya yang saat ini akan melompat dari tempatnya.
" Apa-apaan pria itu? Kenapa berubah seperti ini? Ia tak lagi bersikap dingin."
" Tapi tangannya sangat jahil. Lama lama aku bisa kalah kalau diserang seperti ini."
" Bagaimana tidak, dia selalu mengatasnamakan sebagai nyonya denish angkasa?"
" Hah, apa yang harus ku lakukan?"
Sejak kapan pria itu berubah mesum seperti itu? Bagaimana mungkin zea yang pemberani terkalahkan? Kenapa zea diam saja saat pria itu sewenang wenang terhadapnya?
Entahlah? zea hanya tak bisa menolak sebagai istrinya, juga tak bisa berbuat apa apa. Disisi lain ada sedikit kenyamanan, tetapi juga sedikit keterpaksaan.
Zea harus mulai beradaptasi dengan dunianya, tak mungkin harus terpuruk menerima kenyataan yang ada. Tapi bagaimana kalau semua hanya palsu, orang terkaya dan terpandang menikah dengan gadis biasa sepertinya.
Hah..., lagi lagi zea harus memikirkan nasibnya secara seksama. Menerima kenyataan yang ada baik buruknya, seperti yang telah ia lakukan sampai saat ini.
__ADS_1
Bersambung😊🙏