
Hal yang pertama kali dilakukan adalah ke kamar ibunya , mencari tahu tentang semua misteri yang disembunyikan ibunya.
Zea hampir tak percaya ibunya menyembunyikan sesuatu hingga tertutup rapat selama ini.
Rasa sakit akibat menabrak pembatas jalan membuatnya berhenti sampai didepan pintu kamar.
Zea memutuskan untuk berganti pakaian dan juga melihat luka nyeri pada pergelangan kakinya.
" Oh ,,, ternyata memar . Pantesan sakit ."
" Aku harus mengompresnya dulu ."
" Untung sudah minum antibiotik ."
Zea mengambil air hangat melalui dispenser miliknya lalu mengompres kakinya dengan sebuah handuk kecil .
" Aow,,, kalau sakit begini bagaimana besuk bisa kerja ?"
" Hah,,, ."
" Biaya rumah sakit pasti membengkak ."
" Sepertinya aku harus menjual rumah ku ."
Zea sempat berpikir akan menjual rumah yang dibelinya dengan susah payah .
Namun sepertinya zea memilih menjual rumah ini daripada rumahnya untuk memulai hidup baru .
" Aku tak bisa mengandalkan gajiku ditoko. Meskipun kadang lembur tapi semua tak ada apa apa nya dibandingkan biaya rumah sakit ibu ."
" Aku harus bagaimana ? "
" Bagaimana mendapatkan uang yang lumayan dalam sekejap ?"
" Aaaaa,,,,. Kenapa semua ini terjadi padaku ?"
Zea merasa emosional saat takdir berkata lain bahkan kenapa kesedihan dan kesusahan terjadi padanya bahkan hampir tak mengerti kesalahan apa yang dilakukannya .
Setelah agak mendingan , zea membalurkan obat merah disekitar luka yang lecet.
Zea kembali dengan misinya ,mencari tahu penyebab semua kekacauan yang terjadi dalam hidupnya .
Satu persatu zea periksa , lemari , laci meja rias bahkan di bawah tempat tidur .
Zea tak menemukan petunjuk apapun bahkan disetiap sudut ruangan .
" Zea , zea ,,, ayo berpikirlah dengan jernih ! Jangan menyerah !"
Bisikan dalam hatinya kini menghiasi otaknya yang selama ini tak menaruh curiga apapun .
Zea yang kelelahan bahkan matanya sangat lengket tertidur di ranjang tempat tidur ibunya.
Jika biasanya tengah malam ibunya akan datang melihat dan menyelimutinya namun berbeda dengan malam ini , zea tampak meringkuk kedinginan disela sela kipas yang menyala.
Bunyi suara ketukan pintu yang terdengar sangat ricuh membangunkan tidur nyenyak zea. Zea sangat kesal mendengarnya meskipun ternyata hari sudah siang .
Sepertinya zea meninggalkan ponselnya di kamarnya bahkan tak ada jam dinding di kamar ibu .
Zea berpikir sejenak bagaimana ibunya bisa bangun pagi sementara tak ada jam penunjuk waktu dikamar ibunya.
Dengan tertatih tatih zea berjalan menuju kamarnya tak memperdulikan bunyi ketukan pintu di luar rumah .
" Sakit sekali kakiku."
"Bagaimana aku bisa kerja kalau kayak gini ?"
" Tapi ibu butuh biaya ."
Zea mengira tante ira yang mengetuk pintu rumah ketika zea baru selesai mandi dengan rambut basahnya dan sebilah handuk ditangannya menghampiri pintu rumah.
Tok,,,tok,,tok,,,,
Tok,,,tok,,tok,,,,
__ADS_1
Ceklek,,
" Iya tante, zea sudah,,,."
Zea tertegun melihat sosok lain yang membuatnya sedikit gugup bahkan tak menyangka sama sekali .
" Selamat pagi ."
" Kau,,, ? Kenapa ada disini ?"
" Tak menyambutku ."
Bukan jawaban yang diinginkan zea melainkan sebuah rentangan tangan yang dilakukan oleh nico.
Yah, nico sengaja datang ke rumah zea membawa sarapan untuknya .
" Sepertinya kehadiranku tak diinginkan ?"
Ucap nico .
Bukan tak ingin menerima tamu tapi zea sedikit merasa malu menerima tamu dengan pakaian tidur yang dikenakannya.
Zea tak menghiraukan perkataan nico , berjalan menuju kamarnya untuk berganti baju.
" Apa dia marah ?"
Gumam nico namun nico tak terlalu ambil pusing dengan gadis cuek didepannya tersebut.
Nico hanya duduk di ruang tengah sekaligus ruang tamu ,gaya rumah zeayang minimalis terlihat sangat kecil hingga tak mungkin membuat ruang tamu sendiri.
Tak berapa lama , zea keluar dengan pakaian kerjanya meskipun kakinya sangat sakit tak mungkin zea ijin libur.
" Zea , kau mau kemana ?"
" Tentu saja kerja ."
" Dengan kondisi kaki sakit seperti ini ?"
Ucapan zea membuat jiwa kelakiannya tergores pisau menyayat hatinya . Pedih namun tak mengeluarkan darah.
" Aku kan hanya tanya , ketus sekali ."
" Aku semakin tertantang ."
Bisikan nico membuat darah zea seakan berhenti mengalir bahkan zea diam mematung tak bergerak ketika mendengar bisikan tersebut.
Nico yang melihat zea diam mematung memanfaatkan kesempatan dengan mencuri ciuman di pipi nya.
" Kau,,, ."
Zea membelalakkan matanya dengan aksi yang dilakukan oleh nico .
" Morning kiss, sayang ."
" Apaaaaa,,,,,morning kiss ? Memang nya aku siapamu ? Dasar cowok playboy !!"
Dengan tertatih tatih zea mengejar nico yang tengah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan .
" Kau,,? Pacar ku ."
Nico berlari menghindari kejaran zea hingga berhenti duduk di satu kursi yang mengakibatkan zea jatuh menimpanya karena terhalang kakinya yang diluruskannya.
" Aaaaaa,,,,."
Zea jatuh tepat di atas tubuh nico membuat keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya zea sadar atas perbuatannya .
Zea gugup lalu mencoba berdiri dan duduk tepat disamping nico untuk menghindari kegugupannya.
Rasa canggung muncul antara mereka namun cowok sombong dan dingin seperti nico tak seperti apa yang dilihatnya . Dia bahkan mampu mencairkan suasana kegugupan zea .
" Nih , minum ! "
Ucap nico memberikan kotak susu pada zea lalu membuka bungkusan nasi uduk yang di belinya sewaktu dalam perjalanan ke rumah zea.
__ADS_1
Nico memberikan sendok plastik yang diberikan penjual nasi uduk pada zea .
Zea ternganga melihat perlakuan dan sikap nico yang tak seperti biasanya bahkan sangat romantis .
" Sejak kapan nih cowok jadi romantis ? Apa ada yang konslet dari sarafnya?"
Gumam zea dalam hatinya.
" Benar benar tak seperti biasanya ."
Zea masih memandangi nasi uduk yang di berikan nico bergantian dengan wajah nico.
" Makan !"
Ucap nico ketika tak sengaja melirik zea yang sedang bengong menatapnya.
Sadar ketahuan memandangi nico , wajah nya merah merona merasa malu.
" Bagaimana dengan lukamu ?"
Ucap nico di sela sela mereka menyantap nasi uduk yang dibeli nya tadi.
" Masih agak sakit."
" Lalu kenapa kau ingin kerja ?"
" Aku butuh uang ."
" Aku akan membantumu."
Zea terdiam mendengar perkataan nico.
" Kenapa ? Kau tidak yakin aku bisa membantumu ?"
ucap nico.
" Tidak , bukan seperti itu . Aku butuh banyak uang karena ibu dirawat diruang icu ."
Ucap zea menghentikan tanganya yang kini tengah menyendok nasi uduk tersebut.
" Aku tahu."
Jawaban santai nico membuatnya tak percaya bahkan kepala zea mulai dipenuhi pikiran buruk.
" Atas dasar apa kau membantuku ?"
" Karena kau pacarku ."
" Siapa yang bilang aku pacarmu ?"
" Aku ,,,,oh tidak lebih tepatnya kita ."
" Idih ,,, kapan aku bilang ingin jadi pacarmu ?"
Zea masih mengelak tak pernah mengatakan semuanya bahkan tak ingin menjadi pacar seorang playboy.
" Sudah sejak lama , kau butuh bukti ? Ini,,,,dengarkan baik baik !"
Nico menyalakan sebuah rekaman yang ada dilayar ponselnya dimana zea mengakui terpesona dengan nico bahkan ingin menjadi pacarnya.
Zea menundukkan kepala nya merasa malu dengan apa yang di katakannya .
" Tapi itu dulu ,,,."
" Apa bedanya ? Toh aku yang menjagamu selama ini ."
Deg,,,,
Detak jantung zea berdegup kencang bahkan tak beraturan ketika mendengar perkataan nico .
" Apaaa ,,,, jadi orang yang selama ini menjagaku ketika aku pulang malam adalah dia ?"
Bersambung 😊🙏
__ADS_1