
Zea menelaah setiap perkataan mbok ijah dan juga setiap perkataan denish yang selaku mengatakan menjadi nyonya denish membutuhkan keberanian yang lebih.
Zea mencoba turun ke kolam renang berenang di pinggiran kolam berpegangan pada pegangan tangga turun ke kolam.
" Eh,,,eh,, non , naik non ! Jangan di kolam ! Nanti tenggelam lagi."
Teriakan mbok ijah dari kejauhan yang berlari tergopoh gopoh membawa peralatan masak nya.
" Non,,,non,, ayo naik non ! Nanti tuan marah ."
" Hihihi,,,. Nggak apa apa mbok, zea hanya di pinggir kok . Ini pegangan ."
" Zea akan belajar berenang , suami zea menginginkan zea bisa berenang."
Ucap zea sesekali menenggelamkan diri .
Mbok ijah tercengang mendengar ucapan zea yang baru saja menyebut denish sebagai suami nya.
" Tapi non,,,,."
" Tenang ,mbok ! Zea tidak ke tengah ."
"Janji ,,,?"
" Iya."
Meskipun agak khawatir meninggalkan zea sendirian tapi mbok ijah tak dapat berbuat apa apa karena harus memasak untuk mereka.
Zea mencoba belajar berenang meskipun hanya di tepian saja namun sesekali berenang ke tengan kolam meskipun hampir tenggelam .
Zea menyudahi belajar nya merasa lelah setengah hari di kolam renang , berbaring di kursi tersebut hingga ketiduran .
Di kantor angkasa group
Denish yang masih dalam perjalanan melihat berkas yang diberikan vans namun pikiran nya seperti terganggu tak tenang melihat ke arah jalan .
📞 Calling " Paviliun"
📞 :" Halo, selamat pagi ."
📞 :" Mbok ijah , apa nona mu masih berada di kolam renang ?"
📞 :" Iya ,tuan . Non zea masih belajar berenang . Mbok suruh naik tidak mau ,mbok khawatir tenggelam lagi."
📞 :" Tidak ,jangan khawatir ! Awasi saja dari kejauhan !"
📞:" Baik ,tuan."
📞:" Klik."
" Rupanya dia mulai memahami nya ."
Guma denish di dalam hati dengan ekspresi senyum mengembang diwajah nya.
Vans tak sengaja melirik pada kaca spion melihat senyum yang mengembang di sudut bibir denish mengerutkan dahi nya.
" Hah,,, apa nyonya telah membuka mata hati tuan ?"
Gumam vans dalam hati.
Perjalanan dari paviliun ke kantor angkasa group tak memakan waktu yang lama , mobil yang dikendarai mereka berhenti tepat di depan lobby gedung .
__ADS_1
Vans turun terlebih dahulu membukakan pintu tuanya, mengekori nya dari belakang .
" Selamat pagi, tuan ."
" Selamat pagi ,tuan."
Beberapa karyawan tampak menyapa denidh seperti biasanya , denish dengan aura dingin dan tatapan mata yang tajam hanya mengangguk pelan .
Kantor yang di pimpin nya setelah ayah nya meninggal tak terlihat hidup, seperti tak berpenghuni layak nya kantor .
Tak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara tatkala pemimpin mereka berada di kantor karena denish memang tidak menyukai keributan.
Beberapa hari mereka bernafas lega , ketidakhadiran denish membuat mereka setidaknya lebih rileks dan juga tenang .
Namun saat denish ke kantor , suasana berubah kembali seperti berada didalam gua hantu tenang namun mencekam.
" Selamat pagi ,tuan "
Vani sekertaris andalan denish yang memegang kendali ruangan saat denish tak ada membungkukkan badan nya menyapa denish.
" Hem,,,,."
Vani mengekor di belakang vans ketika tuan nya masuk ke dalam ruangan nya .
" Tuan, tuan ramon memberitahu melalui telepon jika beliau tidak bisa hadir dalam meeting pagi ini dan di wakilkan dengan nona sera ."
Ucap vani .
" Hah,,, pria tua penjilat , dia ingin menggunakan putri nya sebagai tumbal ."
Umpat denish .
" Apa dia sudah datang ?"
Vans mengerti apa yang dikatakan denish saat vani memberitahu kalau sera sudah terlebih dahulu datang lebih awal.
" Vans , kau tahu apa yang harus dilakukan ?"
" Baik ,tuan ."
" Vani ,ikut dengan ku !"
Vani hanya mengangguk pelan dan juga membungkukkan badan nya saat akan keluar mengikuti vans.
Denish teringat dengan istri nya , saat ini tengah belajar berenang . Denish pergi meninggalkan ruangan nya begitu saja tanpa bicara sedikit pun . Entah apa yang merasuki jiwa nya , hingga membuatnya absen berada di kantor akhir akhir ini .
Denish memberitahu vans melalui pesan singkat dan juga sopir kalau ia akan kembali ke paviliun.
Namun niat kembali ke paviliun di urungkan nya ketika tanpa sengaja denish melihat sosok yang sangat di kenal keluar dari gedung kantor menaiki taksi yang mungkin telah di pesan nya.
Denish sengaja mengikuti kemana orang itu pergi meskipun sebenar nya tak ada gunanya ataupun tak ada untung nya namun denish hanya memerlukan beberapa bukti yang bisa memperkuat posisi nya.
Tak berapa lama taksi itu berhenti tepat di sebuah hotel yang tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil bisa dikatakan hotel berbintang tiga.
Seorang perempuan tiba tiba datang memeluk nya lelaki itu dan juga sempat berciuman meskipun di tempat umum .
" Dasar ,,tak tahu malu ."
Gumam denish.
Denish sempat mengambil beberapa photo saat mereka berciuman yang kemudian masuk ke dalam hotel tersebut .
__ADS_1
Setelah nya denish menyuruh sopir kembali ke paviliun . Sebuah rekaman telah denish dapat kan meskipun sebenar nya tak harus bersusah payah sendiri . Denish bisa menyuruh orang mekakukan tugas tersebut .
Tak jauh dari jarak menuju paviluan , sebuah mobil hitam yang sama terparkir di sana . Sedikitnya membuat suasana hati denish tak begitu bagus terlihat sangat marah .
Tatapan tajam pada mobil itu tak terelakkan lagi bahkan tangan nya mengepal sangat erat.
" Brengsek ,,, !! Kenapa mobil itu tak juga berpindah ? Kau ingin mencari masalah dengan ku ? "
Gumam denish .
" Dasar bocah ingusan ."
Seperti biasa klakson mobil berbunyi ,mang kasim bergegas membuka gerbang pavilun .
Sedangkan sopir turun ketika mobil teparkir di depan pintu utama , membukakan pintu tuan nya .
Tujuan utama denish adalah kolam renang dimana denish sempat telepon mbok ijah kalau zea masih berada di kolam renang .
Namun ternyata zea tak berada disana , mbok ijah membangunkan zea saat tertidur lelap di kursi kolam renang .
Mbok ijah khawatir zea akan masuk angin ketika masih memakai pakaian basah nya bahkan piyama yang dipakainya sejak semalam .
Tak mendapati keberadaan zea ,denish mengerutkan kening nya mencari keberadaan mbok ijah .
" Loh ,,,,tuan sudah pulang ? Kangen ya ? Istri baru cantik mulus lagi ."
Candaan mbok ijah membuat denish menghela nafas nya .
Sejenak denish tak menjawab pertanyaan mbok ijah bahkan seperti melupakan untuk apa tujuan nya mencari mbok ijah.
" Tuan,,,, tuan. Tuan melamun ? Jangan khawatir non zea baik baik saja ! Ada dikamar sedang mandi ."
Suara mbok ijah membuat nya tersadar dari lamunan nya .
Merasa sedikit malu ketahuan melamun , denish berjalan menuju kamarnya . Tapi tidak diam dikamar nya melainkan ruang kerja nya.
" Benar kata mbok ijah , untuk apa aku pulang ? Bukankah masih banyak pekerjaan di kantor ?"
Gumam denish dalam hati nya setelah duduk di kursi ruang kerja nya.
" Apa aku sudah gila ? Kenapa aku memikirkan gadis itu ?"
" Hah,,,,."
Denish seperti nya terlihat kesal dengan tingkah nya sendiri .
Zea yang tak tampak di kamar ternyata tengah mengguyur badan nya di kamar mandi setelah ketiduran di tepi kolam.
Zea yang tak mengetahui kalau denish sudah kembali hanya mengenakan handuk dan juga melilit handuk kecil dikepala nya agar rambut nya yang basah tak membasahi lantai .
Zea yang hanya melilitkan handuk dibadan nya menutupi setengah dadanya sampai lutut , berjalan santai ke ruang wardrobe mengambil baju yang akan dikenakan nya ke tempat tidur .
Biasa nya zea akan berganti pakaian di ruang ganti tapi mengetahui denish tak ada di rumah , ia melempar pakaian itu ke tempat tidur .
Denish tak sengaja keluar dari ruang kerja nya terkejut , tercengang melihat penampilan zea bahkan tak berkedip memandang tubuh mulus zea . Zea yang masih belum menyadari keberadaan denish berjalan santai mengusap rambut nya yang basah dengan handuk kecil .
Glek,,,glek,,,
Susah payah denish menelan saliva nya dan mungkin juga tengah mengendalikan sesuatu yang lain .
Mata zea tak sengaja mengarah pada pintu yang terbuka sedikit terkejut ketika mendapati denish berdiri disana.
__ADS_1
" Kau,,,,,,,?"
Bersambung 🙏😊