
Nenek salamah sedang merapikan tempat tidur denish, menyuruh beberapa pelayan membersihkan setiap sudut ruangan.
" Ma, denish akan pulang?"
Seperti biasanya mirna adalah orang yang paling cerewet pada ibu mertuanya.
Bukan ingin mendapat pujian, hanya sesuai pesan mendiang suaminya untuk selalu menjaga ibunya.
Terkadang istri kedua danu angkasa, rima angkasa merasa iri bahkan tak henti membuat masalah dengan mirna.
" Iya, bersama istrinya."
" Maksud mama? Denish sudah menikah?"
" Benar mirna, kau tidak tahu betapa bahagianya mama mendengar berita ini."
" Jadi berita di media itu benar terjadi?"
Nenek salamah mengangguk pelan tersenyum memegang kedua tangan mirna.
"Syukurlah, ma. Mirna ikut senang mendengarnya."
Mirna ikut membantu merapikan kamar denish meskipun ada bibi ha, namun nenek salamah ingin terjun sendiri melihat kamar denish yang rapi dan bersih.
Dari kejauhan tampak sinta tampak mengawasi para pelayan yang keluar masuk di kamar denish. Kamar yang tak tersentuh siapa pun meskipun kerabat sekalipun, hanya para pelayan yang bertugas membersihkan kamar tersebut.
Denish melarang siapapun masuk kecuali bibi ha dan nenek salamah. Ia tak percaya pada siapapun kecuali pada kedua orang tersebut.
"Heh..., ada apa kau memandangi kamar itu?"
"Tidak, hanya tak seperti biasanya kamar itu terbuka dan dibersihkan."
" Benar juga, mungkin pemiliknya mau pulang."
" Entahlah. Aku tak mempunyai informasi sedikit pun."
"Hah, jangan bilang kau ketinggalan berita?"
" Berita apa?"
" Hahaha..., berarti benar kehilangan berita. Sebaiknya kau banyak lihat sosial media, jangan terlalu kuper!"
" Hah kuper? Kakak ipar yang kuper, aku bahkan sudah berkeliling dunia."
" Hahaha..., bukan itu. Tapi ku dengar denish telah menikah."
" Itu..., kita tidak bisa menerima berita itu begitu saja sebelum ada buktinya."
Ucap sinta.
" Mungkin juga benar, tapi untuk apa kamarnya dibersihkan?"
" Biarlah, yang penting uang bulanan ku lancar."
Ucap rima meninggalkan sinta yang tengah bersandar ditembok memandang kamar denish , semula berbincang dengan sinta adik iparnya.
" Dasar matre."
Sinta memutuskan kembali ke kamarnya setelah rima berlalu meninggalkannya.
Sinta berjalan mondar mandir tak tentu arah memikirkan berita yang tersebar bebas di media, bahkan terlihat sangat kesal.
"Tidak bisa dibiarkan, aku harus selangkah lebih maju."
" Bagaimana mungkin akan menguasai kekayaan keluarga angkasa kalau yang punya wewenang sudah menikah?"
" Tapi setidaknya aku bisa merencanakan sesuatu yang lain."
" Yang penting mereka belum punya anak."
" Saatnya kau datang Raisa."
Senyum senang terpancar jelas diwajah jelas sinta yang sengaja merencanakan sesuatu yang lain.
Sementara rima yang tak peduli dengan keadaan dirumah megah itu, ia berlalu meninggalkan sinta pergi seperti biasanya setelah masa hukuman ayah mertuanya.
"Eh, siapa yang telepon? Mengganggu saja."
" Hah..., dia? Kenapa meneleponku? Untung saja aku sudah di dalam mobil."
π:" Ya, halo. Ada apa meneleponku?
π:".... ."
π:" Hah, baiklah aku akan datang kesana."
π:" ... ."
__ADS_1
π:" Tunggu saja! Aku sedang dalam perjalanan.
π:"klik."
" Dasar tidak sopan, main tutup begitu saja."
Rima mengendarai mobilnya sendiri melajukan mobilnya sangat kencang, meskipun tak pernah menggunakan sopir namun wanita itu terbiasa adu balap dengan mobil lain.
Tak berapa lama, rima sampai ke sebuah hotel dimana tengah membuat jadwal bertemu dengan seseorang.
Rupanya rima mengetahui dimana si pembuat janji itu memesan kamar untuknya.
Ting tong....
Ting tong...
Ceklek...
"Kau sudah datang?"
Rima belum sempat menjawab sebuah pertanyaan yang terlontar dari orang yang tengah menunggunya, namun telah disambut dengan ciuman hangat dari orang tersebut.
" Aku merindukanmu."
" Sebulan ini benar-benar membuatku gila."
" Hah, bukankah ada istrimu?"
" Tidak, tak sama seperti yang ini."
Ucap pria itu menyentuh bagian intim rima.
" Benarkah? Kalau begitu kenapa tidak bercerai saja?"
" Bercerai? Ide bagus. Tapi tidak akan ku lakukan jika tak bisa memilikimu."
Ucapnya menyentil hidung rima dengan genit dan manjanya.
" Menikah denganmu? Tidak. Aku lebih menyukai seperti ini, uang bulananku akan lancar."
" Hahaha..., kau tahu jawaban nya sama dengan ku."
Pria itu sepertinya sudah tidak sabar mengungkapkan hasratnya, meskipun tangan rima menghadangnya namun tenaganya tak cukup kuat menahan api gejolak yang tengah memburu pria itu.
Rima menerima dengan pasrah setiap sentuhan pria tersebut, hingga bajunya telah berserakan dilantai.
" Kau sangat hebat, sebulan tak bertemu membuatku menginginkan lebih dari ini."
" Apaa...? Tidak..., tidak..., tidak. Aku akan bertemu beberapa teman- teman arisan."
" Tidak. Jika kau tetap pergi aku akan membuat uang bulananmu berhenti mengalir."
" Hah, kau bisa- bisanya mengancamku."
" Kau ingin membuktikannya?"
" Tidak, baiklah. Aku akan tinggal sampai besuk pagi."
"Terimakasih sayangku."
Entah bagaimana jika ada pihak keluarga yang mengetahui hubungan mereka. Sepertinya mereka tak memikirkan apa yang akan terjadi, atau mungkin mungkin mereka mempunyai perlindungan sendiri.
Paviliun.
Zea yang masih berada di kolam renang berlatih merasa lelah saat beberapa kali putaran bahkan memutari kolam renang yang ada di paviliun.
" Non, istirahat dulu! Mbok bawakan jus kesukaan non dan juga cemilan pengisi perut."
'' Iya, mbok. Terima kasih banyak."
" Wah..., non sudah pandai berenang."
" Mbok bisa aja, zea setiap hari belajar mbok."
" Iya ya."
" Non sering- sering datang kemari ya non. Mbok pasti kangen dengan non."
" Hah, jadi beneran denish akan mengajakku pindah dari sini? Sayang sekali, padahal aku sudah nyaman disini."
Gumam zea dalam hatinya.
Zea hanya tersenyum nenganggukkan kepalanya pada mbok ijah, setelahnya mbok ijah meninggalkannya sendiri di kolam renang.
Setelah menyantap beberapa cemilan yang dibawa mbok ijah, zea terlelap di kursi tersebut tanpa terlebih dahulu membersihkan dirinya ataupun menyelimuti tubuhnya dengan handuk.
Muach...
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat tepat di kening ane, tangan kekar denish mengusap pelan pipi mulus zea.
Zea menikmati sentuhan itu meskipun matanya terpejam rapat. Mendapat respon dari zea, denish tersenyum lalu duduk di kursi sebelah zea.
" Cantik sekali, wajah natural tanpa make up. Pantas saja wajahmu selalu berjalan di otakku."
Gumam denish.
Denish kembali mengusap wajah mulus zea, tanpa disadarinya zea memberikan reapon padanya.
" Mbok, zea ngantuk sekali. Biarkan zea tidur sebentar!"
" Beritahu zea kalau denish datang, zea akan memasak untuknya."
Gumam zea lirih disela sela belaian tangan denish yang dikira tangan mbok ijah.
" Aku sudah datang sayang."
Bisik denish tepat ditelinga zea.
" Hah, seperti suara denish."
Gumam zea dalam hatinya di sela- srla tidurnya.
" Masa pulang cepat?"
" Atau jangan- jangan hantu? Masa hantu keluar disianwg bolong seperrti ini?"
" Ah..., tidak. Pasti hanya mimpi."
"Tapi bagaimana jika bukan mimpi?"
Zea yang semula ingin tidur sebentar memghilangkan penat, sengaja membuka matanya melihat keadaan sekitarmya.
" Syukurlah, hanya mimpi."
Ucap zea mengusap pelan dadanya.
" Mimpi...? Mimpi apa?"
Zea tersentak kaget mendengar sebuah suara yang sangat dikenalinya.
"Haaa...., kau? Bagaimana mungkin ada disini? bukankah kau berada dikantor?"
Ucap zea menunjuk dengan jari telunjuknya.
" Apa aku tak boleh berada dirumah? Menyenangkan sekali jika bisa menemanimu berenang."
Mendengar kata berenang yang keluar dari bibir denish, sontak saja zea mengambil handuk menutupi tubuhnya yang hanya berpakaian renang.
" Kenapa? Kau malu? Ayolah sayang, aku ini suamimu."
" Kita berenang sekarang?"
Ucap denish mengedipkan salah satu matanya.
" Hah, baiklah."
Zea akhirmya berenang bersamanya beberapa kali putaran berlomba dengan nya. Meskipun denish lebih unggul tapi tak membuat zea menyerah begitu saja.
Namun menjadi kepuasan tersendiri untuk denish, melihat istrinya semula mengira tak bisa berenang ternyata lebih dari dugaannya. Gadis itu banyak belajar sesuai yang ditekankannya padanya.
" Sayang kemajuanmu sangat pesat, aku tak menyangka sama sekali."
" Aku lelah. Jangan menyuruhku berlomba lagi!"
" Baiklah, kita istirahat dulu."
" Istirahat...? Apa maksudmu istirahat? Jangan bilang kau akan mengajakku berenang lagi?"
Denish tersenyum mengangguk pelan.
" Tidak..., tidak..., tidak. Matahari sudah semakin tinggi, kulitku bisa gosong."
Ucap zea menggerutu kesal naik dari kolam renang.
Denish melihat zea berjalan seperti photomodel, poster tubuhnya yang tidak terlalu kecil maupun gemuk membuat gadis itu menawan.
" Sayang, apa kau akan meninggalkanku begitu saja?"
" Lalu...? Apa aku harus menemanimu? Kau berenang sendiri saja."
Ucap zea setelah menghentikan langkahnya.
Denish semakin tertantang membuatnya jatuh ke dalam pelukannya. Sikap jutek zea menjadi salah satu sebab ketertarikannya.
Bersambungππ
__ADS_1