Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Bodyguard zea.


__ADS_3

" Bagaimana mungkin ? Tapi bagaimana jika yang dikatakannya benar ?"


" Kenapa jantungku berdebar debar ?"


" Aaaa,,,, bagaimana ini ?"


Ditengah lamunannya nico menyentuh pelan wajah zea yang lelah dengan semua yang terjadi.


Dengan sigap tangan zea reflek menepisnya namun tangan kekar itu tak mudah di pindahkan meskipun zea bisa beladiri .


" Tenanglah ! Aku akan menjaga mu ."


Ucap nico mengusap pelan wajah zea.


Zea tertegun dengan sikap nico hingga kedua pipinya bersemu merah tersipu malu .


Detak jantung zea semakin kencang berdegup membuatnya semakin gugup bahkan tak bisa mengendalikannya jika saja nico tak menyudahi aksinya.


" Ayo kita berangkat !"


" Ke ,,,,kemana ?"


Zea tampak gugup menjawab ajakan nico pasalnya hari ini akan berangkat bekerja.


" Kemana ?"


Nico memutar kembali tubuhnya menatap zea yang masih duduk diam membisu menatapnya.


" Tentu saja ke rumah sakit ."


" Ke rumah sakit ? Tidak , aku harus bekerja."


Ucap zea kemudian meraih tas ransel milikny lalu ke dapur sebentar membuang sampah bekas mereka sarapan.


" Tidak , aku sudah meminta ijin untuk cuti dua hari kedepan sampai kakimu sembuh ."


" Apaaa,,,, meminta ijin ? Maksudmu pada pemilik toko tempatku bekerja ?"


Zea membelalakkan matanya ketika hendak melangkah ke dapur ."


" Iya ."


" Bagaimana mungkin kau tahu dimana tempat kerjaku ?"


" Hei,,, bukankah aku sudah mengatakannya ? Aku menjagamu semenjak kau menyatakan ingin menjadi kekasihku ?"


Lagi lagi blush on terjadi pada pipi zea . Tak ingin ketahuan jika ia sedang tersipu malu , zea membalikkan badanya berjalan ke arah tujuan nya semula.


" Sayang , aku hanya ingin yang terbaik untuk mu . Hari ini dan seterusnya aku akan menjadi bodyguard mu ."


Ucap nico kemudian .


" Apaaa ,,,, bodyguard ? Ada ada aja ."


Ucap zea berlalu meninggalkan nico sendiri menuju dapur.


Setelah menegak segelas air putih yang bisa menenangkan jiwa dan pikirannya , zea kembali ke ruang tengah . Namun tak mendapati nico berada disana .


" Kemana pergi nya ? "


" Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu ?"


" Bisa kacau semua nya ."


" Aku pasti malu bertemu dengan mereka."

__ADS_1


Ucap zea yang tengah berbicara sendiri setelah tak melihat nico berada di ruang tengah .


" Kau masih melamun ? Ayo cepat ! Aku ada janji dengan dokter ."


" Kalau ada janji dengan dokter kenapa datang kemari ?"


Ucap zea sedikit kesal.


" Karena kau yang akan bertemu dengannya ."


Nico menyentil hidung zea lalu menggenggam tangan gadis mungil itu keluar rumah.


Zea tak bisa berbuat apa apa hanya diam membisu memperhatikan setiap tingkah polah nico tanpa bisa menolak sedikitpun .


Entah mengapa zea yang biasanya bisa tegas kini seakan lemah tak berdaya.


Setelah mengunci pintu , nico memapah zea yang berjalan tertatih tatih menuju mobilnya .


Nico yang biasanya lebih suka mengendarai sepeda motor sportnya harus mengendarai mobil karena kaki zea yang sakit .


Lebih dari memberi kenyamanan pada zea agar tak begitu banya bergerak.


" Waow,,, keren . Ini mobil loe ?"


" Hem , kau masih memanggilku dengan sebutan loe ? "


Zea tercengang dengan jawaban nico , hampir tak mempercayainya.


" Lalu,,, aku panggil apa ? "


" Hem,,,, apa ya ? "


Benar saja , panggilan apa yang harus dikatakan zea padanya.


Ucap nico mengedipkan salah satu matanya.


" Idih,,, tidak ,,,,tidak . Lagi pula kapan kita jadian ? Kau saja tidak menembakku ."


" Oh ,,,jadi kau ingin aku menembakmu secara resmi ?"


Tanpa sengaja zea mengutarakan keinginannya yang ternyata membuatnya terjebak sendiri didalam perkataannya tersebut.


" Tidak,,, tidak ,,,, bukan seperti itu . E,,, a,,, ."


Zea gugup tak mampu menjawab pernyataannya sendiri . Antara bingung dan juga bimbang kini tengah menyelimuti pikiran zea .


" Aduh zea ,,,, kau bikin malu saja . Jiwa barbar mu kenapa tidak bisa hilang sih ?"


Gumam zea dalam hatinya .


" Baiklah , beri aku sedikit waktu menyiapkannya ? Okay ,,, sayang."


Nico yang sudah melajukan mobilnya menuju rumah sakit tersenyum puas dengan jebakan yang ia buat untuk zea .


Zea hanya bisa bernafas panjang sekaki lagi mendengar jawaban dari nico . Entah mengapa zea menginginkan sesuatu yang lebih dari hubungan pertemanan nya di kampus .


Sampai di halaman rumah sakit , dengan sabarnya nico menjadi sandaran untuk zea . Memapahnya secara perlahan menuju salah satu dokter untuk memeriksakan keadaan kaki zea.


" Kau tak ingin naik kursi roda ? "


" Tidak, aku bisa jalan. Lagi pula ini hanya memar , kau terlalu berlebihan . Dikompres sebentar dan juga minum obat pereda nyeri saja sudah beres ."


" Pakai perikasa ke dokter lagi ."


Ucap zea ngedumal dengan bibirnya yang mengerucut semakin membuat nico gemas padanya.

__ADS_1


"Hanya untuk berjaga jaga . Takut terjadi infeksi yang mendalam jadi perlu di periksakan ke dokter."


" Tapi kan ,,, perlu bayar ."


Nico mengerutkan dahinya ,baru menyadari apa yang dikhawatirkan zea ngotot tak ingin ke dokter.


" Hanya itu ?"


Zea mengangguk pelan .


" Hahaha,,,, zea,, zea ,,, ada aku sayang . Kenapa khawatir ? Aku yang menyuruhmu ke dokter jadi aku yang membayar tagihan ."


Ucap nico mengusap pelan rambut di kepala nya.


"Tapi aku tak mau berhutang budi . Kau pasti meminta imbalan ?"


Nico tercengang dengan jawaban zea ,gadis itu ternyata masih polos tak seperti yang ia kira meskipun sudah lulus sarjana.


" Hahaha,,,, tentu saja."


Nico mengedipkan salah satu mata nya semakin senang melihat sikap judes zea padanya.


" Tuh ,,, kan ."


Zea semakin kesal dengan sikap nico padanya.


" Hahaha,,,, zea ,,,, zea ,,, kau polos sekali . Mana ada seorang pacar meminta imbalan ?"


" Malu maluin kaum cowok saja."


Ucap nico yang tetap menggenggam tangan zea.


" Ih,,, malu-malu in , terus mencuri ciuman itu nggak malu malu in ?"


" Kan ciuman untuk kekasih zea."


" Tapi kan bisa bilang dulu ,,,,."


Zea menutup bibirnya dengan kedua tangannya .


" Oh,,, jadi kau ingin aku ijin dulu ? Lalu kalau aku meminta ijin kau akan mengijinkan ?"


Sekali lagi jiwa barbar zea membuatnya sendiri terjebak dalam pernyataannya.


Sedangkan nico tersenyum penuh kemenangan puas dengan kebingungan zea.


" Tidak ,,, bukan begitu ."


" Lalu ,,,?"


Sadar kalau nico telah mempermainkannya , zea berniat mengejarnya ketika nico meninggalkannya sendiri sewaktu sampai di depan dokter praktek yang akan mereka kunjungi.


Brukkk,,,,


" Aoww,,,, ."


Nico berbalik menoleh zea yang jatuh tersungkur di lantai .


" Zeaa,,,,,,."


Nico berlari menghampirinya ketika melihat zea jatuh di lantai .


" Zea,,,,."


Bersambung 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2