
Samar samar nico yang berada disana melihat bayangan zea yang melewati mobilnya.
" Zea..., zea."
" Zeaaa...."
" Ah... sialan."
Nico mengumpat kesal ketika mobil itu bergerak cepat dan juga zea tak mendengar panggilan nya sama sekali.
Ia pun bergegas masuk ke dalam mobilnya mengemudikan dengan kecepatan tinggi, mencoba mengejar mobil yang terlihat membawa zea.
" Ah..., sial. Lampu merah lagi."
Umpat nico memukul stir kemudinya.
Sayup- sayup zea mendengar panggilan seseorang yang tak begitu asing, menolehnya ke arah belakang namun tak terlihat siapa pun.
" Seperti suara nico. Apa mungkin dia mencariku?"
Gumam zea dalam hati.
" Tapi bagaimana mungkin nico sampai ke tempat ini?"
" Hah, mencariku juga tidak ada guna nya. Aku bukan lagi zea yang dulu, predikat sebagai nyonya telah ku sandang.''
" Bagaimana mungkin bisa kembali seperti dulu? Yang ada akan sangat membahayakan nyawanya."
Zea berkali kali menengok ke belakang menyita perhatian vans yang tak sengaja melirik melalui kaca spion.
" Ada apa nyonya? Apa anda memerlukan sesuatu?"
" Tidak, sepertinya ada seseorang yang memanggil saya."
Jawab zea mengerutkan dahinya.
Vans menutup jendela, menyalakan ac mobil. Mempercepat laju kecepatan mobilnya, vans memang sengaja mengemudikan dengan kecepatan tinggi setelah melihat mobil nico terparkir di ujung jalan paviliun.
Vans khawatir mobil itu akan mengejarnya dan mempersulit laju nya, memutuskan dengan cepat saat kali pertama melihatnya.
" Vans, kita akan kemana?"
" Ke acara pesta rekan kerja tuan muda, nyonya."
" Hah, baiklah. Aku mengerti."
Zea menahan nafasnya meskipun berat, mencoba untul beradaptasi pada dunianya.
" Apa nyonya merasa gugup?"
" Tidak juga."
Zea mempunyai jiwa modeling yang kuat, menghadiri acara seperti ini bukan hal yang tabu baginya.
Vans melupakan sesuatu tentang informasinya bahwasanya nyonya muda dulu seorang photomodel di beberapa majalah.
Perjalanan ke sebuah hotel bintang lima yang disewa wirya mengadakan acara ulang tahunnya menempuh jarak agak jauh dan juga memakan waktu agak lama.
Di sebuah hotel berbintang lima, wirya menyambut para tamu undangan dan juga kolega bisnisnya.
Wirya sengaja mengadakan pesta tersebut untuk membuat saingan bisnisnya merasa sedikit iri padanya.
Mungkin bukan itu saja, pasti ada niat terselubung dengan acara tersebut.
" Halo, tuan denish. Terima kasih atas kehadiran anda dipesta saya."
" Terima kasih juga atas undangannya."
" Silahkan!"
Wirya memberikan segelas wine pada denish bersulang merayakan ulang tahunnya.
Cheers...
" Apa kau tidak membawa pasanganmu?"
Denish mengerutkan dahinya dengan pertanyaan wirya yang secara sengaja untuk mempermalukannya.
"Yah, sayang sekali. Padahal akan ada pesta dansa dan seluruh yang hadir diwajibkan berdansa."
" Apa kau ingin aku mencarikan pasangan untukmu?"
" Ah...., tidak. Siapa yang mau berpasangan dengan bujang lapuk seperti mu?"
" Pasti akan sangat membuatku malu."
__ADS_1
Denish masih bersikap tenang tanpa terprovokasi pada setiap ejekan wirya, saingan bisnisnya.
"Apa kau juga tahu kalau aku juga akan bertunangan? Dengan seorang wanita cantik tentu nya."
" Ah..., baiklah. Aku harap kau tidak akan malu jika nantinya berdansa dengan sesama pria."
" Oh ya..., selamat menikmati pestaku.''
Wirya meninggalkan denish yang tengah meneguk gelas wine, memicingkan matanya menatap kesal pada wirya.
Vans sampai di depan gedung hotel bintang lima, hanya bisa mengantar zea sampai didepan saja. Tamu undangan termasuk tamu exsklusif, tak sembarangan bisa masuk ke dalam pesta tersebut.
" Nyonya, saya hanya bisa mengantar sampai disini. Tamu undangan termasuk tamu exsklusif jadi saya tidak bisa menemani anda ke dalam."
Ucap vans.
" Baiklah, tidak apa-apa. Tapi..., bagaimana kalau mereka bertanya undangan?"
Ucap zea sebelum vans melangkahkan kakinya keluar dari tempat tersebut.
" Sebutkan saja nama tuan, nyonya. Mereka akan membawa anda pada tuan."
" Okay, baiklah. Terima kasih vans."
Vans undur diri membungkukkan badannya meninggalkan yang tak jauh dari penerima tamu.
" Maaf, permisi nona. Bisa anda tunjukkan kartu undangan nya?"
Ucap salah seorang dari mereka.
" Maaf, saya tidak punya kartu undangan."
Langkah zea tertahan oleh dua orang petugas penerima tamu.
" Kalau begitu maafkan kami, nona. Anda tidak boleh masuk ke dalam."
" Tapi ..."
Zea diam sejenak mengingat ucapan vans untuk menyebutkan nama denish jika bermasalah dengan mereka.
" Apa anda bisa memanggil tuan denish angkasa untuk keluar sebentar jika aku tidak diperkenankan masuk ke dalam?"
Kedua penerima tamu itu saling berpandangan, namun sesuai pesan yang diberikan pemilik acara tak seorang pun diperkenankan masuk tanpa undangan.
" Baiklah, nona. Silahkan tunggu sebentar!"
" Maaf, nona. Siapa nama anda? Kalau tuan denish bertanya kami bisa menjelaskan."
" Nyonya zeavelia denish angkasa."
Deg....
Salah seorang terkejut mendengar pengakuan zea, namun sesuai perintah yang harus dijalankan mereka terpaksa menghadang zea masuk ke dalam.
" Permisi, tuan. Seorang wanita mengaku sebagai nyonya zeavelia denish angkasa ingin bertemu dengan tuan denish."
Ucapnya pada salah seorang penerima tamu pada pengatur acara yang mengerutkan dahinya.
" Apa kau tidak bisa berkerja dengan baik? Bukankah dalam meeting sudah disebutkan, tak ada tamu yang masuk kalau tidak membawa undangan?"
Ucap salah seorang yang tergolong sebagai eo acara tersebut.
" Baiklah, tuan."
Sayup-sayup terdengar perbincangan mereka, denish menghampiri keduanya.
" Maaf, siapa yang anda maksud?"
" Maafkan atas kelalaian kami, tuan denish. Ada sedikit keonaran di depan, silahkan menikmati pesta!"
Ucap eo tersebut.
" Maksudnya?"
" Tidak ada, tuan denish. Silahkan menikmati pesta!"
Salah seorang eo mengalihkan perhatian denish lalu bergegas mengikuti penerima tamu yang berjalan ke depan terlebih dahulu.
Denish tak menjawab perkataan orang tersebut, vans meneleponnya merasa khawatir dengan zea.
๐Incoming call '' Vans."
๐:" Ya, vans. Apa kalian sudah datang?"
๐:" Sudah tuan, sepuluh menit yang lalu saya meninggalkan nyonya didepan penerima tamu."
__ADS_1
๐:" Baiklah, terima kasih vans."
๐:" Iya, tuan."
๐:" klik."
Denish bergegas ke depan sebelum orang orang bawahan itu mengusir zea dari tempat itu.
" Nona, silahkan meninggalkan tempat ini!"
Ucap salah seorang pegawai event organizer didampingi dua penerima tamu.
" Apa suamiku mengatakan pada kalian tak mengenalku?"
" Tidak, nona. Tamu undangan tuan wirya adalah tamu exsklusif, jadi silahkan anda pergi jika tak mempunyai undangan."
" Jadi..., kalian tidak bertemu suamiku? Setidaknya memberitahukannya kalau istrinya menunggu lama disini."
Ucap zea.
Sebuah senyum tersungging di kedua sudut bibir denish yang berada tak jauh dari sana.
" Apa anda tidak punya sopan santun terhadap tamu?"
" Maaf, nona. Tolong jaga bicara anda! Kami Eo terkenal dan sangat profeaional dalam bekerja. Jadi tolong anda jangan menghina kami! Dan silahkan pergi dari sini!"
" Profesional? Saya hanya meminta anda memanggil suami saya karena saya datang kesini atas kehendaknya, jadi kenapa anda tidak membantu saya."
" Anda mengatakan seolah saya ini seorang *******."
" Nona, silahkan anda tinggalkan tempat ini ! Jangan sampai kami memaksa anda!"
" Security, tolong bawa nona ini keluar dari sini!"
" Tunggu."
Semua mata mengalihkan pandangannya pada sosok yang tidak asing dan sangat disegani.
Yah, denish menghentikan security yang akan membawa istrinya dengan tidak hormat.
" Tuan denish, apa anda memerlukan sesuatu?"
Ucap salah seorang karyawan eo.
" Tidak. Hanya..., aku datang menjemput istriku."
Ucap denish.
Semua mata memandang pada gadis cantik yang berada didepan mereka.
" Sayang, kau tidak apa apa?"
" Tidak. Hanya..., mereka tidak mengijinkanku masuk ke dalam."
Ucap zea.
" Tampaknya ada yang bersikap tidak sopan terhadapmu?"
" Maaf, tuan. Kami minta maaf, kami tidak tahu nona adalah istri anda. Maafkan kami tuan."
Ucap karyawan tersebut membungkukkan badannya.
" Aku akan membuat perhitungan dengan pimpinan kalian."
" Ampun, tuan. Ampuni kami, tuan."
" Sayang, sudahlah. Biarkan mereka! semua tak sepenuhnya kesalahan mereka. Kau juga salah meninggalkanku dirumah."
Ucap zea yang berbeda dengan zea saat dirumah, sangat lembut dan juga elegan.
" Baiklah. Untuk kemurahan hati istriku aku biarkan kalian bebas."
" Terima kasih, tuan."
" Ada apa ini?"
Wirya yang tak sengaja mendengar sedikit keributan di luar, menghampiri mereka.
" Tidak ada. Terima kasih atas ketidaksopanan eo mu menyambut istriku."
Deg....
Istri? Jadi denish sudah punya istri? Jadi perjuangannya meluluhkan gadis yang bernama rachel hanya sia-sia?
Wirya tertegun dengan pengakuan denish dan tak menyangka nya sama sekali. Ia tertegun diam membisu tak bergerak sedikit pun, saat denish meninggalkannya tanpa memperkenalkan istrinya.
__ADS_1
Bersambung๐๐