Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Ciuman kerja


__ADS_3

Zea menuruni anak tangga ke lantai satu, tampak terlihat beberapa anggota keluarga juga berjalan menuju ruang makan. Melewati beberapa pelayan yang sedang bekerja, mereka tersenyum menundukkan kepalanya. Begitu pula dengan zea tersenyum pada mereka.


Raina melihat zea yang masih berdiri tegak bahkan tersenyum pada pelayan membuatnya sedikit mengerutkan dahinya.


" Tidak mungkin. Bagaimana mungkin dia bisa bangun? Tampak sehat seperti tak terjadi sesuatu dengannya."


Gumam raina dalam hati.


" Padahal aku sudah memberikan dosis yang mematikan."


"Aku melihatnya meneguk jus itu hingga habis. Lalu..., kenapa tidak apa- apa?"


" Apa dia kebal obat- obatan? Rasanya tidak mungkin."


Raina berjalan tak melihat arah saat pikirannya masih terbang tinggi melayang ke angkasa, tak sengaja hampir menabrak daryo yang baru saja turun dari lantai atas.


" Aaa.... a."


" Raina, kau sedang melamun?"


Benda sintal menyentuh sebagian lengan daryo sedikitnya membuat daryo bergetar merasakannya.


" Ah... om daryo, maafkan raina om. Raina sedang memikirkan klinik raina."


" Oh..., begitu rupanya. Apa sedang ada masalah? Kau bisa pulang melihatnya, jangan terlalu mempedulikan tantemu. Dia memang seperti itu."


Ucap daryo merangkul bahu raina ke ruang makan.


"Tidak masalah, om. Masalah biasa, lagipula bisa ditinggal. Kebetulan raina mempunyai beberapa pekerja dan dokter yang bekerja sama dengan klinik."


" Oh..., begitu rupanya. Bagus, jika tak mengganggu pekerjaanmu. Tante mu memang sedikit kesepian jadi kau harus memakluminya."


" Iya, om. Raina mengerti."


Beberapa anggota keluarga memang sudah berkumpul lengkap di meja makan. Ada beberapa kursi yang kosong yakni tempat duduk raka yang memang tak pernah tinggal di rumah itu juga untuk beberapa tamu bahkan tempat duduk mendiang orang tua denish.


" Sayang, kau membutuhkan sesuatu?"


" Tidak, semua makanan sudah ada di atas meja."


Ucap zea.


"Bi..., bibi ha."


" Iya, tuan muda. Apa anda membutuhkan sesuatu?"


" Bibi tidak menyuruh pelayan membuat salad buah kesukaan istriku?"


" Sedang disiapkan, tuan."


" Baiklah, terima kasih bi."


Bibi ha menganggukkan kepalanya kembali ke ruang dapur mengambil salad buah kesukaan zea.


" O..., jadi gadis itu menyukai salad buah. Aku bisa memanfaatkan moment ini untuk rencana selanjutnya."


Gumam raina dalam hatinya.


"Cih..., dasar gadis kampung. Tunggu saja, sebentar lagi aku akan menyingkirkanmu."


Gumam sinta dalam hatinya.


Vania maupun rima tak banyak mengeluarkan suara, mereka tak ingin terlalu ikut campur dalam kehidupan denish. Bisa dibilang mencari keamanan dan juga kenyamanan. Rima bisa saja tinggal di luar kediaman angkasa setelah kepergian danu angkasa karena tak ada kewajiban apapun dirumah itu. Namun keluarga angkasa juga mengijinkan rima tinggal disana karena mempunyai keturunan dari keluarga angkasa. Rima tak ingin membuang uang yang bisa digunakan untuk bersosialita dengan teman- temannya, jadi memutuskan memilih tinggal di keluarga angkasa.


Begitu pula vania yang tak ingin kemewahannya dicabut oleh kakaknya memilih pilihan tepat tak ingim ikut campur urusan pribadi kakaknya.


"Kakak ipar, kau makan sedikit sekali. Memangnya kenyang hanya minum susu dan dua lembar roti?"


Bisik vania pada zea.


" Ini sudah lebih dari cukup. Lagi pula masih ada salad buah."


Zea kembali berbisik pada vania.

__ADS_1


" Hah..., salad buah? Oo...., vania tahu. Pasti kakak ipar takut gemuk ya? Ciyee..., yang takut kakak digoda perempuan lain."


" Sstts..., diam!"


Meskipun ucapan vania tak sepenuhnya benar namun melihat suaminya melirik tajam saat zea tersenyum pada vania.


"Sayang, kau menginginkan sesuatu?"


"Tidak, aku sudah kenyang. Aku akan berangkat ke kantor."


" Baiklah."


Zea bangun dari tempat duduknya mengikuti denish yang sedang berdiri lalu menyelipkan tangannya disela- sela tangan denish. Rupanya zea seorang yang berkomitmen melayani suaminya dan juga mengantarkan suaminya meskipun hanya terpaksa menikah paksa dengan denish. Bagi zea sebuah pernikahan adalah sakral dan suci tak ingin ternodai oleh sikap buruk masing- masing pihak.


Sampai di depan pintu utama zea mengantar denish yang mana vans sudah menunggu di depan pintu utama bersama sopir.


"Kau menginginkan sesuatu?"


" Hem, tentu saja."


" Katakan! Aku sedang bahagia pagi ini mendapat sebuah cicilan."


Bisik denish pada zea yang membuat jantung zea berdegup kencang.


"Apa aku boleh bertemu sania?"


" Tidak. Sampai aku menemukan beberapa bodyguard untukmu."


" Huh..., kalau begitu tidak usah."


Zea kesal dengan penolakan denish mencebirkan bibirnya berlalu pergi begitu saja dari hadapan denish, namun tangan kejar denish tak melepaskan tangan zea begitu saja.


"Ciuman kerja, sayang."


Zea mengerutkan dahinya tatkala mendengar permintaan denish tentang ciuman kerja. Entah ciuman apa yang dimaksud denish hingga zea terperanga dibuatnya. Denish menarik pinggang zea untuk lebih dekat lagi lalu mencium pucuk kening zea.


Tangan telunjuk denish menyentuh pipinya sendiri seakan menunjukkan pada zea untuk mencium di tempat itu. Zea menghela nafas panjangnya berjinjit mencium pipi denish meskipun agak canggung namun zea tetap melakukannya.


"Terima kasih, my lovely wife. Baik- baik dirumah."


"Cih..., harusnya aku yang mendapat semuanya. Semua salahmu raina, kenapa kau datang terlambat hingga wanita kampung itu mendahuluimu."


Gumam raina yang mengintip zea di sela- sela korden tinggi ruang tengah.


"Ciee..., romantisnya kakak ipar. Jadi pingin menikah."


" Menikahlah!"


" Hahahaha..., tidak. Aku belum siap."


"Kenapa? Bukankah menyenangkan mendapat perhatian seorang lelaki?"


" May be, but not necesarry for me. Bye..., kakak ipar."


" Bye...., vania. Hati- hati jangan ngebut!"


"Okay."


Vania merasa ada sedikit hal yang berbeda dari kakak iparnya, menoleh lalu tersenyum pada zea kemudian melambaikan tangannya.


Zea berjalan masuk ke dalam rumah, tetapi melupakan salad yang di buatkan pelayan untuknya.


"Nyonya..., nyonya..., salad buahnya nyonya."


Salah seorang pelayan berusaha mengejar zea yang menaiki tangga berjalan menuju kamarnya.


"Bi..., maaf biar saya yang mengantarnya."


Raina tak sengaja mendengar sedikit teriakan pelayan menghampirinya berniat membantu pelayan tersebut.


"Tidak, nona. Saya tidak ingin merepotkan."


" Tidak, bi. Kebetulan aku akan ke atas ke kamar tante sinta."

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu, terima kasih nona."


" Iya."


Entah apa yang direncanakan raina hingga bersedia mengantar salad buah untuk zea. Raina tersenyum memandangi kotak makan yang berisi salad buah yang memang dibuat khusus untuk zea.


"Akhirnya..., kesempatan datang juga."


Dengan senyum senang raina mengantarkan kota tersebut, melirik kanan kiri atas bawah melihat keberadaan orang yang melihatnya. Raina menaburkan sedikit serbuk diatas salad tersebut lalu kembali berjalan menaiki anak tangga menuju kamar zea.


Tok... tok... tok.


Tok... tok... tok.


"Kemana gadis kampung itu? Lama sekali buka pintu."


"Arau jangan- jangan dia tidur?"


"Tidak mungkin. Dia baru saja naik, tidak mungkin tidur secepat itu."


"Aku coba masuk saja."


Gumam raina yang berani memilih pilihannya sendiri. Saat anggota keluarga lain tak berani menyentuh kamar denish, entah jiwa apa yang merasuki raina hingga seberani itu.


Ketika raina mencoba memutar gagang pintu, sebuah suara mengejutkan raina dan hsmpir saja menjatuhkan salad buah yang berada di tangannya.


" Nona raina.... ."


" Aa..., aa..., bibi ha."


" Apa yang anda lakukan di sini nona?"


" Tidak ada satu pun pelayan bahkan anggota keluarga angkasa yang berani ataupun di ijinkan masuk ke dalam kamar tuan muda."


Deg....


Detak jantung raina berdegup kencang mendengar penjelasan bibi ha, seakan ingin melompat dari tempatnya. Rasa gugup dan khawatir mulai menghantui pikiran raina, tak menyangka dia akan bertindak ceroboh seperti itu.


"Aa..., maaf bibi. Aku hanya ingin mengantar ini, ku lihat pelayan tergopoh- gopoh mengejar nona zea."


" Nyonya zea, nona raina."


" Ah..., iya. Nyonya zea yang sudah naik ke atas, karena aku juga akan ke kamar tante sinta jadi sekalian membawakan ini."


"Baiklah, terima kasih nona."


Bibi ha mengambil kotak salad yang disodorkan raina padanya.


"Kalau begitu raina akan ke kamar tante sinta."


" Silahkan ,nona."


Bibi ha mempersilahkan raina ke kamar sinta yang tak jauh dari kamar denish. Setelah gadis itu menghilang, bukan masuk ke dalam kanar denish bibi ha pergi ke lantai bawah membawa kotak salad tersebut.


Bibi ha menaruh curiga atas sikap raina dan juga atas kedatangannya ke rumah ini buksn tidak mungkin punya maksud dan tujuan tertentu. Bibi ha meletakkan kembali kotak salad di meja dapur menyuruh salah seorang pelayan membuangnya.


" Buang salad ini!"


" Tapi ketua..., saya baru saja membuatnya. Apa nyonya muda tidak menyukainya?"


" Tidak. Nyonya muda belum mencicipi, tapi kau memberikan salad ini pada orang yang salah."


"Maksud ketua?"


" Kita harus selalu waspada dan hati- hati setiap kali memberikan makanan pada nyonya muda atau pun tuan muda. Jika terjadi sesuatu bukan tidak mungkin nyawa kita akan melayang."


" Maafkan saya ketua. Saya tidak akan membuat kecerobohan kedua kali."


"Sudahlah. Pergilah bekerja!"


" Baik, ketua."


Bibi ha mengupas beberapa buah, membuat salad dari tangannya sendiri khawatir rains menyampurksn sesuatu pada salad buah yang telah dibuat.

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2