
Rizal hanya melambaikan tangannya dan tersenyum saat zea pergi pamit ke toko tempatnya bekerja.
Tanpa disadari rizal meraba jantungnya yang berdegup kencang ketika zea menghilang dari pandangan matanya.
" Zea,,, zea ,,,, kau masih sama seperti yang dulu."
" Bahkan jantungku juga sama seperti dulu , seakan ingin melompat keluar dari tempatnya ketika menatapmu ."
" Memegang tangan mu saja butuh kekuatan yang luar biasa."
" Apa kau tahu aku memendam ini beberapa tahun ?"
" Aku berharap bisa menggapaimu ."
Gumam rizal dalam hati lalu berlalu pergi ke ruang rawat neneknya.
Yah, rizal adalah teman sekolah zea dimana ia selalu mendukung setiap kegiatan zea.
Meskipun semua teman teman menjauhi nya ketika mendengar rumor tak sedap tentang kehidupan zea.
Rizal masih ingat bagaimana caranya berkenalan dengan zea, gadis dingin dan cuek utu sulit sekali didekati orang lain bahkan seorang siswi pun apalagi seorang siswa.
Rizal tersenyum tersipu malu ketika mengingat saat kejadian itu , dimana secara sengaja rizal menabrakkan diri pada zea yang sedang terburu buru hingga zea mencium pipi rizal secara tak sengaja.
Rizal memanfaatkan kejadian itu untuk berteman dengan nya dan saat itu lah sebenarnya rizal memendam rasa padanya namun urung ia katakan .
Zea selalu bilang belum siap untuk pacaran atau sekedar mengenal cowok . Zea lebih mementingkan pendidikan dan karirnya sebagai photomodel . Tak ingin kehilangan kepercayaan zea, rizal memilih untuk tidak mengutarakan niatnya dan lebih memilih menjadi sahabatnya.
Ceklek,,,
Rizal sampai diruang inap neneknya tapi tak menemukan dimana neneknya berada setelah mencari diseluruh ruangan.
Rizal memilih menunggu diruangan khawatir neneknya menjalani pemeriksaan dengan para dokter .
Rizal meraih ponsel yang berada dibalik sakunya memilih membuka galeri yang ternyata berisi penuh photo photo zea .
" Kau semakin cantik saja setelah empat tahun tak bertemu ."
" Semakin lama menatapmu semakin sakit hati ini tak bisa membantumu dan juga tak bisa menggapaimu."
" Zea,,,, zea andai dulu aku tak pergi ikut papa pindah mungkin aku bisa menemanimu hingga saat ini."
" Aku tak boleh menyerah , kau harus menjadi milikku ."
Rizal mulai optimis mendapatkan zea bagaimanapun caranya.
Senyum mengembang di wajah rizal menghiasi kebahagiaan yang kini ia rasakan saat bertemu zea kembali.
" Eh' em,,,,,."
" Eh'em,,,."
Rizal terkejut dengan suara neneknya yang muncul dari balik pintu secara tiba tiba .
__ADS_1
" Eh,,, nenek , darimana ? Kenapa tidak ada ?"
" Nenek sedang melakukan pemeriksaan ? Bagaimana hasilnya ? Kapan nenek boleh pulang ? "
" Zal sudah ingin makan masakan nenek."
Nenek rizal melongo mendengar cucunya mencerca beberapa pertanyaan yang tak pernah sekali ia dengar.
" Eh ,,,, sejak kapan cucu nenek pandai bicara ? Jangankan bertanya kapan pulang , bertanya keadaan nenek saja jarang."
Ucap nenek rizal.
" Benarkah ? Hanya perasaan nenek saja, karena nenek sudah tua jadi pikun . Memangnya siapa yang mengurus nenek selama sakit ?"
Rizal menghela nafas panjangnya tak tahu entah nenek benar benar pikun atau sengaja berkata demikian.
" Mama,,, papa,,, kak romi ? Semua keperluan nenek rizal yang urus."
" Benarkah ? Nenek tahu ."
" Kalau tahu kenapa masih bertanya ?"
" Hihihi,,,, nenek hanya bercanda dengan cucu nenek yang sepertinya memikirkan sesuatu . Nenek panggil berulangkali sama sekali tak menghiraukan nenek ."
Ucap nenek rizal.
Deg,,,
Rizal menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menatap sang nenek yang mana telah duduk kembali bahkan berbaring diranjang kesakitannya.
" Apa aku sedang melamun hingga tak mendengar panggilan nenek ?
" Ah,,,, ini semua gara gara zea yang memenuhi otakku . Bertemu dengannya seakan menjadi kebahagiaan tersendiri tapi juga malapetaka."
Gumam rizal dalam hatinya.
Rizal menghela nafas panjangnya lalu menghampiri neneknya yang sedang berbaring ditempat tidur rumah sakit.
" Memangnya nenek darimana ? Kenapa zal tak mendengar panggilan nenek ?"
Zal masih berpura pura menutupi kesalahannya karena memang ia sedang melamun saat berjalan ke arah kamar ruang inap neneknya.
" Nenek duduk ditaman , entahlah nenek juga tidak tahu . Sepertinya cucu nenek sedang melamun atau sedang jatuh cinta . Dia berjalan dengan senyum yang mengembang menghiasi wajahnya."
Ucap nenek rizal menarik selimut yang dibantu rizal .
Deg,,,,
Hati rizal semakin tak karuan ketika neneknya benar benar mengetahui jika ia sedang melamun.
" Hihihi,,, nenek bisa aja . Mana ada rizal jatuh cinta nek ? "
Ucap rizal mengelak dari perkataan neneknya.
__ADS_1
" Apa tak ada yang menarik hatimu selain gadis yang sering kau bicarakan ? "
Nenek rizal memang menjadi tempat curhat rizal saat dia tengah merindukan zea .
" Tidak, hatiku sudah terkunci untuknya ."
" Hah,,, anak muda sekarang . Nenek ingin istirahat."
Ucap nenek rizal setelah menghela nafas panjangnya.
" Hem,,, baiklah . Padahal zal ingin cerita kalau tadi bertemu dengan zea. "
Zal memang sengaja mengganggu waktu istirahat neneknya karena dokter sendiri berkata penyakit kolesterol neneknya kambuh karena minimnya olahraga yang tidak pernah dilakukannya.
" Apaa,,,, kau bertemu dengannya ? Ceritakan pada nenek , bagaimana ia sekarang ? "
Nenek rizal bangun dari tidurnya setelah mendengar berita rizal bertemu dengan gadis itu.
" Tidak , zal tidak akan cerita. Nenek bilang tadi ingin istirahat jadi zal nunggu nenek bangun."
Jawaban rizal membuat nenek nya tercengang kesal dengan sikap zal yang pergi meninggalkannya memilih duduk di sofa bahkan berbaring disana.
" Zal,,, rizal,,, nenek tidak jadi tidur ."
Nenek rizal turun dari tempat tidurnya mengejar zal sampai ke sofa.
" Kalau begitu kita pergi ke taman ."
" Ke taman lagi ? Tidak, nenek tidak mau . Lebih baik nenek tidur."
Nenek rizal tak bersemangat jika di ajak untuk sekedar jalan ke taman bahkan hanya berjalan saja tak melakukan olahraga.
" Baiklah , jika nenek ingin tidur . Besuk zal akan suruh kak romi datang menggantikan zal. okay ,,,."
Ucap rizal mengedipkan salah satu matanya yang ternyata berhasil membuat neneknya berhenti melangkah.
" Hah,,, kau hanya bisa mengancam saja."
" Tidak , zal ingin ketemu zea jadi biarkan kak romi yang menjaga nenek."
" Kalau begitu ajak bertemu nenek ! Nenek kangen dengannya."
" Tidak akan."
Ucap rizal memiringkan badannya membelakngi neneknya.
" Huh,,, baiklah ,,,baiklah . Ayo kita pergi !"
Nenek rizal mengerucutkan bibirnya menyetujui persyaratan yang diberikan rizal.
Rizal tersenyum mendengar jawaban neneknya lalu bangun dari tidurnya memapah nenek kesayangannya pergi ke taman.
Rizal mulai bercerita bagaimana bertemu kembali dengan zea dan juga menceritakan ibunya zea yang kini terbaring diruang icu . Nenek rizal merasa khawatir dan cemas pada zea, berharap bisa bertemu dengannya untuk sekedar memeluknya memberi kehangatan.
__ADS_1
Bersambung 🙏😊